Connect with us
Advertisement

OPINI

Jangan Baper, Disabilitas Juga Mampu Berkarya!

Published

on

TAK SEORANG pun yang bisa menjamin bahwa dirinya akan selalu baik-baik saja. Siapa pun akan bisa berpotensi menjadi seorang disabilitas. Kapan pun dan di mana pun.

Saya adalah salah satu contohnya. Saya terlahir normal. Pada tahun 1998, saat berusia 14 tahun, saya mengalami kecelakaan. Saya berubah menjadi seorang disabilitas. Saya tak pernah menyangka sama sekali. Apa pun keadaannya, saya harus tabah menerimanya.

Mau contoh lain? Tengoklah kisah Susrial, warga Sebapo, Kabupaten Muarojambi, Jambi ini. Ia adalah seorang pedagang yang mengalami kebutaan pada tahun 2000. Susrial buta akibat panas yang terlalu tinggi. Mata kirinya meletus. Padahal sebelumnya, dia baik-baik saja.

Ada lagi cerita Heru. Kaki kanannya harus diamputasi akibat kecelakaan saat mengendarai mobil menuju lokasi kerja.

Lain hal dengan Heru, yang harus rela diamputasi kaki kanannya karena kecelakaan mobil ketika dalam perjalanan menuju tempat kerja.

Tahukah Anda bahwa seorang disabilitas tidak pernah menyadari bahwa suatu ketika dirinya akan berubah menjadi disabilitas dengan beragam peristiwa. Entah itu kecelakaan atau peristiwa lain.

Apalagi sekarang, penyakit yang paling menghantui negeri kita saat ini, yaitu diabetes. Obatnya belum ditemukan hingga kini. Paramedis selalu memberi solusi agar mengamputasi bagian tubuh agar penyakit tersebut tidak menyebar ke bagian tubuh lain.

[jnews_element_newsticker newsticker_title=”Baca Juga” newsticker_icon=”empty” enable_autoplay=”true” autoplay_delay=”2500″ newsticker_animation=”vertical”]

Terkecuali bagi orang yang terlahir menjadi seorang disabilitas. Tapi orang tua mana pun tak akan pernah menyangka bahwa suatu hari mereka harus menerima bahwa anaknya akan terlahir sebagai anak yang menyandang disabilitas. Hal itu bisa saja terjadi pada siapa pun baik pada kita, anak, orang tua, saudara bahkan teman kita.

Lalu bayangkan jika suatu ketika, Anda mengalami keadaan seperti itu. Tentu berbagai bayangan mengerikan akan terus menghantui Anda.

Hal serupa juga saya alami saat awal mengalaminya. Tangan sebelah kanan saya diamputasi. Saat itu, saya membayangkan masa depan saya akan suram di masa mendatang.

Pikiran itu terlintas begitu saja. Bagaimana saya mampu bertahan dengan kondisi disabilitas? Bagaimana saya bisa bersosialisasi dengan masyarakat? Bagaimana kisah cinta saya besok?

Semua hal yang buruk dan suram terlintas dalam benak saya. Tetapi itu dulu.

Saya berusaha sekuat tenaga untuk tetap bersyukur menerima keadaan ini. Loh kok malah bersyukur? Saya menjadi kuat karena membangun rasa bersyukur. Hanya itu.

Kenapa? Rasa syukur dan ikhlas itulah yang membuat kita menjadi sabar dan lebih jernih dalam memandang keadaan. Ada harapan yang kuat. Hal pertama yang harus disyukuri ialah bersyukur karena kita masih hidup, tidak mati.

Bersyukur karena kita masih diberi kesempatan untuk memberikan manfaat pada kehidupan. Bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa bahwa organ tubuh kita yang hilang tak lagi dimintai pertanggungjawaban di hari akhir kelak. Itu awal yang membuat saya kuat dalam menerima kenyataan saat itu.

[jnews_element_newsticker newsticker_title=”Baca Juga” newsticker_icon=”empty” enable_autoplay=”true” autoplay_delay=”2500″ newsticker_animation=”vertical”]

Dari situ saya mulai mencari jawaban atas semua yang terjadi pada saya. Saya percaya bahwa dengan Tuhan memberikan saya kesempatan tetap hidup, pasti ada rencana indah yang dijanjikan Tuhan untuk saya ke depan.

Lalu setelahnya, saya berusaha menggali potensi yang saya punya. Anda juga harus tahu bagaimana mengembangkan potensi saat Anda menjadi seorang disabilitas. Itu wajib hukumnya.

Dahulu saya melakukan hal yang sama. Terus menerus saya mengidentifikasi diri dengan cara mencari tahu lebih dalam siapa saya, di mana saya, apa yang saya punya dan apa yang akan saya lakukan dengan semua hal tersebut.

Dari itu semua, saya menyadari bahwa saya tak punya apa-apa. Saya hanya seorang yatim piatu yang tidak pernah mengenyam bangku kuliah. Satu hal yang saya tahu adalah saya punya keinginan untuk tampil dan belajar serta terus belajar.

Saya tinggal di Kota Jambi dan punya beberapa orang teman. Saya bertekad harus terus mengasah kemampuan dengan terus menambah teman dan mengembangkan jaringan, sehingga dapat membuka kesempatan yang lebih besar.

Lalu bagaimana bila Anda harus berhadapan dengan banyak orang dalam berkarya dan berkreativitas? Menurut saya, seorang disabilitas jangan takut untuk memulai dan berbuat. Tanamkan keyakinan pada target yang kita tuju. Jangan baper (bawa perasaan). Terbukalah terhadap masukan dari orang lain.

Sederhananya, dengarkan kritikan dan masukan orang tanpa melihat ekspresinya pada kita. Saya sendiri melakukan itu dengan konsisten. Dengan impian yang terus saya gantungkan setinggi langit. Sedikit pun saya tak gentar. Saya yakin.

Cibiran itu soal biasa. Diskriminasi itu bumbu untuk penikmat karya. Saya sudah kenyang.
Bahkan saya pernah dilarang tampil di sebuah televisi dengan alasan “kecacatan” yang dianggap dapat mengurangi selera penonton dan menurunkan rating. Itu kan gila! Saya tak patah semangat. Ujung-ujungnya, saya tetap ngotot tampil dan membayarnya dengan memberikan hiburan yang terbaik.

Jika ada orang yang berkata “di balik kekurangan pasti ada kelebihan” justru saya sendiri menganggap bahwa kekurangan itu adalah sebuah kelebihan. Buktinya, kekurangan fisik saya justru membuat saya lebih cepat dikenal dalam sebuah perkumpulan. Secara tidak sengaja pula telah terbangun personal branding yang melekat pada diri saya. Tanpa perlu repot-repot membentuk karakter yang khas.

[jnews_element_newsticker newsticker_title=”Baca Juga” newsticker_icon=”empty” enable_autoplay=”true” autoplay_delay=”2500″ newsticker_animation=”vertical”]

Contoh berikutnya adalah bermain gitar. Rasanya mustahil, seorang disabilitas seperti saya dengan amputan tangan kanan mampu bermain gitar. Saya menjawabnya dengan membuat gelang khusus sebagai alat bantu untuk bermain gitar.

Alhasil, tangan saya yang sebelumnya dianggap hanya sepotong daging yang tak bermanfaat, berubah menjadi perhatian positif bagi banyak orang. Tidak jarang mengundang decak kagum penonton.

Beranjak dari itu, maka lahirlah berbagai karya-karya musik saya. Menang di berbagai lomba. Dimintai tolong untuk menjadi penata musik. Dari situ pula tercipta puluhan lagu. Saya pun pernah melukis hanya dengan abu rokok dan ampas kopi. Bukan karena sensasi, namun saat itu memang saya tidak mampu untuk membeli cat. Hanya demi memenuhi hasrat untuk melukis dan hal itu ternyata berbuah positif. Banyak orderan dan jadi perhatian para pewarta.

Andai suatu ketika Anda menjadi disabilitas. Hal yang juga perlu Anda ketahui ialah seringnya kehadiran kita (disabilitas) hanya untuk dikasihani. Bagi seorang disabilitas hal itu sama sekali tidaklah berdampak baik. Saya sendiri menjawab persoalan tersebut dengan berkarya, menambah jam belajar. Kebetulan saja, saya menggeluti dunia kesenian.

Saya berjaga ketika orang-orang tengah terlelap. Saya belajar mengembangkan diri agar dapat menghindari rasa kasihan orang lain. Saya bergaul tanpa pandang bulu. Semuanya saya jalani demi mencari pengalaman sosial. Saya yakin itu semua bermanfaat di masa mendatang.

Kemudian saya mengambil kesempatan dan peran lebih awal. Saya berusaha membantu lebih dulu sebelum orang lain membantu kita.

Ini memang logika terbalik, tapi itu yang mungkin bisa mencerahkan pandangan umum mengenai disabilitas. Mungkin itu juga motivasi bagi saya yang seorang disabilitas untuk terus mengembangkan diri dan mengukir karya.

Teruslah bermimpi, karena mimpi itu juga milik disabilitas. Kerja keras pun milik disabilitas. Gagasan, kreativitas, harapan, dan keberhasilan, pengabdian, itu semua berhak untuk dimiliki seorang penyandang disabilitas. Dengan menjadi manajer bagi diri sendiri dan tanpa bergantung banyak kepada orang lain, bukan tak mungkin, Anda seorang disabilitas akan siap menghadapi kehidupan ini. Siap dalam berbagai hal, termasuk siap dalam menghadapi pandemi Covid-19 yang kini terus mendera kita.

Anda juga mesti tahu bahwa seorang disabilitas butuh berbagi. Berbagi kepada semua orang, khususnya kepada disabilitas juga. Bagikan dan abdikan sebagian hidupmu untuk disabilitas yang lain. Barangkali saja, Tuhan memberi pertanda padamu. Bahwa kecacatanmu itu adalah jalan agar dapat mengabdi pada bangsa dan agama lewat pengabdianmu kepada disabilitas.

Pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa proses gradasi spiritual, sosial dan emosi akan membentuk seorang disabilitas. Bahwa tentang seorang disabilitas harus mampu bersaing, saya kira tidaklah demikian. Seorang disabilitas hanya butuh kesempatan yang sama agar dapat mengembangkan diri dan mengukir karya.

*Ketua NPC Muarojambi dan seniman sekaligus petani, tinggal di Jambi

 

[jnews_element_newsticker newsticker_title=”Baca Juga” newsticker_icon=”empty” enable_autoplay=”true” autoplay_delay=”2500″ newsticker_animation=”vertical”]

OPINI

Anak Bukan Angka

Oleh: Chr. Danang Wahyu P, S.Or., M.M*

DETAIL.ID

Published

on

PERGANTIAN kepemimpinan di Badan Gizi Nasional (BGN) 2 Juni 2026 semestinya tidak dibaca sekadar sebagai peristiwa administratif atau rotasi kekuasaan birokrasi. Ia sesungguhnya menghadirkan pertanyaan yang jauh lebih mendasar, ketika bangsa ini terus cemas terhadap rendahnya capaian akademik siswa, terutama hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 pada mata pelajaran Matematika, apakah negara sungguh telah menata fondasi paling dasar dari proses belajar itu sendiri?

Kita terlalu lama memandang pendidikan dari permukaan, nilai rendah segera direspons dengan evaluasi kurikulum, pelatihan guru, revisi metode pembelajaran, bahkan wacana peningkatan disiplin belajar. Semua tampak logis, namun sering kali kita lupa bahwa pendidikan bukan hanya urusan kepala, melainkan juga tubuh. Anak tidak belajar hanya dengan buku dan papan tulis, tetapi juga dengan energi, kesehatan, ketenangan batin, dan rasa aman.

Di titik inilah perubahan struktural di BGN menjadi relevan dan bahkan strategis. Sebagai lembaga yang dibentuk melalui Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2024 untuk menjalankan agenda pemenuhan gizi nasional, pergantian kepemimpinan seharusnya tidak berhenti pada perubahan figur atau tata kelola. Melainkan dipertaruhkan jauh lebih besar, arah moral kebijakan negara tentang bagaimana bangsa ini memandang anak-anaknya.

Sebab rendahnya nilai Matematika dalam TKA 2026 sesungguhnya menyimpan ironi yang menyakitkan. Kita menuntut kemampuan berpikir logis, konsentrasi, dan daya analitis tinggi dari siswa, tetapi pada saat yang sama masih ada anak-anak yang datang ke sekolah dengan sarapan seadanya, tubuh yang kurang bertenaga, atau bahkan tanpa makan sama sekali.

Kita ingin hasil belajar unggul, tetapi kadang abai pada syarat biologis yang memungkinkan proses belajar berlangsung. Bukankah ini kontradiksi yang selama ini terlalu normal untuk dipertanyakan? Hal ini menjadi pertanyaan yang menggelitik untuk diperhatikan.

Dalam banyak diskusi publik, program MBG terus diperdebatkan dan selalu menjadi pergunjingan publik. Ada yang memuji sebagai investasi masa depan bangsa, ada pula yang mencurigainya sebagai kebijakan populis penuh risiko pemborosan, kritik tentu penting, bahkan wajib. Maka program sebesar ini harus diawasi dengan ketat; transparansi anggaran, kualitas pangan, distribusi, keamanan makanan, hingga potensi politisasi harus menjadi perhatian serius, karena tidak ada kebijakan yang boleh kebal kritik.

Namun kritik yang sehat juga menuntut kejujuran berpikir, mengapa? tidak semua persoalan pendidikan dapat selesai hanya dengan memperbaiki kurikulum. Tidak semua kegagalan belajar dapat dibebankan kepada guru atau siswa. Ada realitas biologis yang sering kita abaikan, otak belajar membutuhkan tubuh yang ditopang dengan baik.
Pemikiran Ki Hajar Dewantara terasa amat relevan bahwa, pendidikan adalah proses menuntun tumbuhnya manusia secara utuh. Kata “menuntun” penting digaris bawahi. Menuntun berarti menciptakan kondisi yang memungkinkan pertumbuhan, bukan sekadar menagih hasil. Dalam semangat Tut Wuri Handayani, negara seharusnya hadir bukan hanya saat mengukur capaian, tetapi juga ketika memastikan anak memiliki daya untuk bertumbuh.

Karena itu, pergantian kepemimpinan BGN seharusnya dibaca sebagai momentum refleksi besar. Pemimpin baru tidak cukup hanya memperbaiki sistem distribusi makanan atau meningkatkan target serapan program. Melainkan yang lebih mendesak adalah membangun paradigma baru; gizi bukan program tambahan pendidikan, melainkan fondasi pendidikan itu sendiri.

Di sinilah pemikiran Driyarkara menjadi sangat tajam. Pendidikan adalah usaha memanusiakan manusia muda. Artinya, sekolah bukan pabrik nilai, dan anak bukan mesin akademik. Memanusiakan berarti terlebih dahulu mengakui kebutuhan paling mendasar manusia; makan, sehat, merasa diperhatikan, dan dihargai martabatnya.

Jika MBG hanya berhenti pada pembagian makanan, maka ia akan menjadi proyek logistik belaka. Tetapi bila dikelola dengan visi pendidikan, ia dapat berubah menjadi ruang pembentukan karakter. Anak belajar disiplin, hidup sehat, rasa syukur, solidaritas sosial, bahkan memahami rantai kehidupan yang menghadirkan makanan di meja mereka; dari petani, pedagang, pengolah pangan, hingga tenaga distribusi.

Mungkin selama ini kita terlalu cepat menyalahkan anak atas rendahnya hasil belajar, terlalu tergesa mengkritik guru, atau terlalu sibuk mengganti kebijakan akademik. Padahal pertanyaan yang lebih jujur justru sederhana, sudahkah kita memastikan anak-anak belajar sebagai manusia yang utuh?

Sebab pendidikan yang besar tidak lahir dari obsesi pada angka semata. Ia tumbuh dari keberanian negara melihat manusia secara utuh. Maka dari itu mungkin, perubahan kepemimpinan di BGN akan menemukan makna sejatinya bila bangsa ini mulai memahami satu kenyataan sederhana namun mendalam, tentang sulit meminta anak berpikir jernih ketika tubuhnya masih berjuang melawan lapar.

*Guru SMA Kolese De Britto Yogyakarta

Continue Reading

OPINI

Merdeka Belajar, Merdeka Berdemokrasi

Oleh: Chr. Danang Wahyu Prasetio, S.Or., M.M*

DETAIL.ID

Published

on

PENDIDIKAN dan demokrasi adalah dua pilar yang saling menghidupi. Tanpa pendidikan yang memerdekakan, demokrasi mudah kehilangan arah; tanpa praktik demokrasi yang sehat, pendidikan kehilangan relevansinya dalam membentuk manusia yang utuh. Dalam konteks Hari Pendidikan 2026 dengan tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, relasi ini menjadi semakin penting untuk ditegaskan kembali. Pendidikan bukan sekadar ruang transfer pengetahuan, melainkan arena pembentukan kesadaran, tanggung jawab, dan partisipasi aktif warga negara.

Hakikat pendidikan sejatinya adalah memerdekakan manusia; membebaskan dari ketidaktahuan sekaligus memberi ruang untuk berkembang sesuai potensi. Gagasan ini sejalan dengan semangat merdeka belajar yang diusung dalam kebijakan pendidikan saat ini. Kurikulum Merdeka berupaya memberikan fleksibilitas agar peserta didik dapat tumbuh sebagai pribadi yang mandiri, kreatif, dan bernalar kritis. Namun, kemerdekaan dalam belajar tidak boleh berhenti pada aspek akademik semata; ia harus menjangkau kesadaran sosial dan politik sebagai bagian dari kedewasaan demokratis.

Pemikiran Ki Hajar Dewantara dan Driyarkara memberikan fondasi filosofis yang kuat. Ki Hajar menekankan keteladanan, penggerakan, dan pemberdayaan melalui ajaran “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.” Sementara itu, Driyarkara melihat pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia muda, sebuah upaya mengangkat martabat manusia agar mampu hidup secara utuh, bebas, dan bertanggung jawab. Kedua pemikiran ini menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga karakter dan kesadaran nilai.

Di sinilah tantangan besar muncul dalam realitas sosial, politik kerap dipersepsikan sebagai sesuatu yang kotor, penuh kepentingan, dan jauh dari nilai-nilai luhur. Pandangan ini melahirkan sikap apatis, bahkan golput, dalam proses demokrasi. Padahal, sikap tersebut justru melemahkan demokrasi itu sendiri. Demokrasi membutuhkan partisipasi aktif, bukan penarikan diri. Ketika warga memilih untuk tidak terlibat, suara yang seharusnya bermakna menjadi hilang, dan ruang publik dikuasai oleh segelintir kepentingan.

Pendidikan memiliki peran strategis untuk mengubah cara pandang ini. Melalui pendidikan yang bermutu dan inklusif, generasi muda dapat dibekali pemahaman politik yang sehat, bukan politik praktis yang sempit, melainkan politik sebagai ruang pengabdian dan perjuangan nilai. Profil Pelajar Pancasila yang menekankan iman, gotong royong, kemandirian, nalar kritis, dan kreativitas sesungguhnya merupakan fondasi kuat bagi lahirnya warga negara yang mampu berpartisipasi dalam demokrasi secara cerdas dan bertanggung jawab.

Namun, upaya ini tidak bisa dilakukan secara parsial. Tema Hari Pendidikan 2026 menekankan pentingnya “partisipasi semesta.” Artinya, pendidikan adalah tanggung jawab bersama: pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat. Sekolah tidak cukup hanya mengajarkan teori; ia harus menjadi ruang praksis nilai, tempat peserta didik mengalami langsung kehidupan demokratis, melalui dialog, musyawarah, dan penghargaan terhadap perbedaan. Keluarga menjadi lingkungan pertama yang menanamkan nilai kejujuran dan tanggung jawab, sementara masyarakat menyediakan ruang aktualisasi yang nyata.

Mengintegrasikan pendidikan karakter dan pendidikan politik memang bukan perkara mudah. Dibutuhkan komitmen, konsistensi, dan profesionalitas dari semua pemangku kepentingan. Namun, kesulitan ini tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti. Justru di tengah kompleksitas zaman, pendidikan harus semakin relevan dan kontekstual. Pendidikan yang bermutu adalah pendidikan yang mampu menjawab tantangan nyata kehidupan, termasuk tantangan demokrasi.

Pada akhirnya, merdeka belajar harus bermuara pada merdeka berdemokrasi. Peserta didik tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki keberanian moral untuk terlibat, berpikir kritis, dan bertindak demi kebaikan bersama. Inilah wujud nyata dari pendidikan yang memanusiakan manusia sekaligus memperkuat demokrasi. Ketika pendidikan mampu melahirkan manusia yang bebas sekaligus bertanggung jawab, maka harapan akan demokrasi yang sehat dan bermartabat bukan lagi sekadar wacana, melainkan kenyataan yang terus tumbuh dalam kehidupan berbangsa.

*Guru SMA Kolese De Britto, Yogyakarta

Continue Reading

OPINI

Marwah yang Tercabut di Kamar Sempit Kekuasaan

Oleh: Nazli*

DETAIL.ID

Published

on

ADA satu kesalahan besar yang terus diulang dalam birokrasi kita: mengira gelar akademik bisa menggantikan karakter. Seolah-olah titel “doktor” adalah tameng moral, padahal dalam praktiknya ia kerap hanya menjadi aksesoris yang rontok pada ujian paling sederhana, kesetiaan, integritas, dan kendali diri.

Pemberitaan tentang sosok “Pak Doktor DK” bukan sekadar kisah memalukan. Ia adalah dakwaan terbuka terhadap cara kekuasaan memilih orang-orang di sekelilingnya.

Mari kita luruskan sejak awal: ini bukan sekadar perselingkuhan. Ini adalah kegagalan etik yang telanjang. Seorang tenaga ahli gubernur bukan figur sembarangan. Ia adalah “otak tambahan” bagi kepala daerah, orang yang dipercaya mengolah kebijakan, membaca arah politik, dan menjaga kehormatan institusi. Ketika figur seperti ini tertangkap dalam situasi yang bahkan standar moral masyarakat awam pun menolaknya, maka yang runtuh bukan hanya reputasi pribadi, melainkan kredibilitas kekuasaan itu sendiri.

Jika moral pribadi saja tak mampu ia kelola, dengan logika apa publik diminta percaya ia mampu mengelola kepentingan rakyat yang lebih luas?

Dalih klasik akan segera muncul: “itu urusan pribadi.” Tidak. Itu argumen yang malas sekaligus berbahaya.

Dalam hukum administrasi dan etika jabatan publik, ada prinsip sederhana: pejabat tidak pernah benar-benar berada di ruang privat. Ia membawa jabatan ke mana pun ia pergi. Bahkan dalam kesunyian kamar indekos, ia tetap representasi institusi.

Ketika tindakan privat menabrak norma publik dan terbongkar, maka ia otomatis berubah menjadi isu publik. Bukan karena masyarakat kepo, tetapi karena pejabat telah gagal menjaga batas minimal integritas.

“Doktor” seharusnya mencerminkan kedalaman berpikir dan kematangan etik. Namun kasus ini justru memperlihatkan fenomena yang lebih gelap: gelar akademik menjadi topeng intelektual bagi karakter yang rapuh. Kita terlalu lama memuja gelar, terlalu sedikit menguji integritas.

Akibatnya, birokrasi dipenuhi orang-orang yang tampak cerdas di atas kertas, tetapi kosong dalam disiplin diri. Mereka fasih berbicara tentang tata kelola, namun gagal mengelola hidupnya sendiri.

Dan di titik itu, gelar bukan lagi simbol kehormatan, melainkan alat kamuflase.

Kasus ini tidak boleh berhenti pada individu DK. Fokus utama justru harus diarahkan ke hulu kekuasaan: Siapa yang merekrutnya? Dengan parameter apa ia dinilai layak menjadi tenaga ahli? Apakah integritas pernah menjadi variabel seleksi, atau sekadar catatan kaki yang diabaikan? Karena jika figur dengan cacat etik sejelas ini bisa masuk ke lingkar inti kebijakan, maka ada dua kemungkinan: sistem seleksi gagal, atau memang tidak pernah serius dijalankan. Keduanya sama-sama berbahaya.

Istilah “marwah” dalam konteks ini terasa seperti ironi yang kejam. Marwah bukan slogan. Ia bukan sesuatu yang bisa dipinjam dari jabatan, lalu dipamerkan di ruang publik sambil diam-diam dikhianati di ruang privat.

Marwah adalah konsistensi antara apa yang dikatakan, ditampilkan, dan dilakukan. Dalam kasus ini, marwah tidak sedang diuji. Marwah sudah kalah, bahkan sebelum diuji.

Jika pemerintah daerah hanya merespons dengan sikap setengah hati, diam, menunggu reda, atau sekadar teguran administratif, maka pesan yang dikirim ke publik sangat jelas: integritas bukan prioritas.

Yang dibutuhkan bukan sekadar sanksi. Yang dibutuhkan adalah tindakan tegas yang memulihkan kepercayaan: Evaluasi menyeluruh terhadap seluruh tenaga ahli. Transparansi mekanisme rekrutmen. Standar etik yang benar-benar ditegakkan, bukan sekadar ditulis.
Tanpa itu, kasus ini hanya akan menjadi satu dari sekian banyak skandal yang lewat tanpa pelajaran.

Kita sering takut pada pejabat yang tidak cerdas. Padahal yang lebih berbahaya adalah pejabat yang cerdas tapi tidak berintegritas. Yang satu bisa salah karena tidak tahu.
Yang lain bisa menyimpang dengan sadar.

Kasus “Pak Doktor DK” adalah pengingat keras: kekuasaan tanpa integritas bukan sekadar cacat, ia adalah ancaman. Dan publik berhak menuntut lebih dari sekadar gelar. Mereka berhak atas karakter.

*Budak dusun

Continue Reading
Advertisement
Advertisement Seedbacklink

Dilarang menyalin atau mengambil artikel dan property pada situs