NASIONAL
Polemik Pengurus PWI Jambi Rangkap Pengurus Parpol, Begini Komentar Berbagai Pihak
detail.id/, Jambi – Wartawan senior ini angkat bicara mengenai larangan pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) merangkap jabatan sebagai pengurus partai politik. Sebelumnya, persoalan ini mengemuka pada pelaksanaan Konferensi Provinsi (Konferprov) PWI Jambi, Sabtu, 6 Agustus 2022.
Saat pagelaran Konferprov itu, Jogi Sirait, seorang peserta peninjau melakukan protes. Ia menolak adanya calon Ketua PWI Daerah Jambi yang menjabat di kepengurusan partai politik. Hal tersebut sesuai dengan Peraturan Dasar/Peraturan Rumah Tangga PWI.
Soal ini, Bersihar Lubis berkata aturan tentang pengurus PWI tidak boleh merangkap jabatan sudah terang benderang. Seluruh anggota PWI harus konsisten karena PD/PRT adalah konstitusi wartawan yang harus dipatuhi.
“Jadi, kalau tidak patuh, berarti tidak patuh dengan konstitusi, ya repotlah,” ujar Wakil Pemred Harian Analisa itu, Sabtu, 13 Agustus 2022.
Menurutnya, Peraturan Dasar PWI dibuat untuk menjaga independensi pengurus. Sebab, jika pengurus PWI tergabung di salah satu partai politik, akan mempengaruhi sikap dan perilaku.
“Maka, harus perlu penelitian akurat. Bagaimana sesungguhnya. Harus dicari status keanggotaan itu seperti apa, tidak ada permainanlah kira-kira,” katanya.
Bebas dari Partai Politik
Bersihar menjelaskan, mestinya PWI ini sebagai alat perjuangan dan harus orang yang berkompeten dan bebas dari partai politik.
Sejak berkarir tahun 1979 menjadi wartawan, Bersihar baru mendengar kasus ini terjadi pertama kali.
“Organisasi tidak pernah salah, yang salah adalah oknum-oknum yang ada di dalamnya. PWI harus dipertahankan. Kalau tidak ada, kan kita juga yang lemah. Tidak ada alat perjuangan,” ujar Bersihar.
Tak lupa, Bersihar berpesan kepada wartawan muda. Katanya, “Jangan sekali- kali menggunakan pena untuk kepentingan tertentu. Sekali memilih profesi wartawan, jangan berharap akan kaya raya. Hidupnya berkecukupan. Sulit memang menjaga independensi.”
Larangan Terlibat Pengurus Parpol Sudah Diatur
Praktisi hukum, Muhammad Syahlan Samosir menyatakan pengurus partai politik tidak boleh merangkap menjadi pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).
Ketua Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Provinsi Jambi ini menyebutkan larangan rangkap jabatan ini telah diatur di Peraturan Dasar PWI. Tidak hanya dilarang merangkap jabatan di partai politik, pengurus PWI juga dilarang menjadi pegawai lembaga pemerintah dan pengurus organisasi yang berafiliasi dengan partai politik.
“Sudah diatur di Peraturan Dasar PWI pasal 26 angka 3,” ujar Syahlan Samosir katanya pada Jumat, 12 Agustus 2022.
Konsekuensi dari aturan ini adalah pengurus partai politik tidak boleh menjadi pengurus PWI. Begitu juga dengan pengurus PWI yang ingin menjadi pengurus partai politik terlebih dahulu harus mundur dari kepengurusan maupun keanggotaan PWI.
Larangan rangkap jabatan juga diatur dalam Kode Perilaku Wartawan PWI. Larangan tersebut dituangkan di pasal 13 angka 5. Bahkan dalam pasal tersebut ditegaskan bahwa mereka yang merangkap jabatan di partai politik akan kehilangan keanggotaan PWI.
Persoalan larangan pengurus PWI merangkap jabatan sebagai pengurus partai politik mencuat saat pelaksanaan Konferensi Provinsi PWI Jambi, Sabtu, 6 Agustus 2022 lalu.
“Iya, saat itu saya melakukan interupsi, mempertanyakan adanya salah seorang calon yang diduga pengurus partai politik,” ujar Jogi Sirait, Sabtu 13 Agustus 2022.
Kata Jogi, juga ada pengurus PWI yang diketahui publik menjadi pengurus partai politik. Bahkan pengurus partai politik tersebut ditunjuk menjadi ketua konferensi PWI Jambi.
“Karena ada pengurus yang jadi pengurus partai politik, ada calon ketua yang diduga pengurus partai politik, saya menyebut bahwa PWI Jambi kepanjangannya berubah menjadi Partai Wartawan Indonesia Jambi,” tuturnya.
Sudah Dimintai Klarifikasi
Ketua Umum PWI Atal Sembiring Depari menepis tudingan Jogi Sirait ada calon Ketua PWI Jambi berstatus pengurus partai politik. Saat menutup Konferensi PWI, Atal S Depari menyebutkan calon tersebut sudah dimintai klarifikasi.
Kata Atal S Depari, dari hasil penelusuran PWI ke KPU dan Pengurus Partai NasDem dan Gerindra, nama yang disebut sebagai pengurus partai tersebut tidak tercantum sebagai anggota maupun pengurus parpol.
Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat, Ilham Bintang mengungkapkan, dari laporan Ketum PWI Pusat mereka sudah mengklarifikasi dan yang bersangkutan sudah tidak menjabat di keanggotaan partai dan namanya tidak tidak terdaftar di Sipol.
"Yang bersangkutan sudah membuktikan, di KPU namanya juga tidak ada," kata Ilham Bintang.
Terkait tudingan PWI Jambi menjadi Partai Wartawan Indonesia, detail.id/ memintai tanggapan Atal S Depari. Namun, beberapa kali pesan WhatsApp yang dikirim DETAIL.ID, Jumat dan Sabtu, 12 -13 Agustus 2022 Atal S Depari tidak dijawab. Panggilan seluler dari wartawan detail.id/ juga tidak direspons.
Reporter: Tim
NASIONAL
Batu Bara Ilegal Didemo di Kementerian ESDM, Geram Desak Pembekuan RKAB BBMM dan Periksa Pasutri AE dan NA
DETAIL.ID, Jambi – Persoalan dugaan tambang batu bara ilegal oleh pasutri AE dan NA di IUP PT Bumi Bara Makmur Mandiri (BBMM), Kotoboyo, Batanghari terus bergulir di ibukota. Terbaru, aliansi Gerakan Rakyat Menggugat (Geram) Jambi, melaporkan persoalan itu ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada Senin, 31 Agustus 2026.
Massa Geram mendesak Kementerian ESDM segera melakukan audit investigasi terkait aktivitas pertambangan batu bara pada IUP PT BBMM. Selain itu mereka juga mendesak Menteri ESDM RI agar segera membekukan RKAB PT BBMM, yang dikabarkan belum lama ini memperoleh persetujuan RKAB.
Sebab RKAB tersebut diduga hendak diperjualbelikan untuk batu bara yang berasal dari tambang-tambang ilegal sebagaimana disebut modus sebelumnya. Hingga, mendesak Dirjen Gakkum Kementerian ESDM untuk segera memeriksa pasutri AE dan NA yang santer dikabarkan sebagai guarantor (penjamin) bisnis gelap batu bara di Provinsi Jambi.
Serta S, yang disebut menggunakan badan usaha bernama PT Kasih Coal Resources (KCR) untuk menyuplai batu bara pada PLN.
”Kami mendesak Menteri ESDM agar segera membekukan RKAB di IUP PT BBMM, karena telah terjadi perampokan sumber daya alam Jambi yang kaya. Yang sebelumnya dilakukan tanpa legalitas,” ujar orator Geram, Ismail.
Berdasarkan investigasi Tim Geram, pasutri AE dan NA — pengusaha tersohor di Provinsi Jambi — diduga melakukan aksi penambangan batu bara secara ilegal pada IUP PT BBMM.
Ativitas penambangan itu disebut berlangsung sejak April hingga awal Agustus 2026. Dalam periode itu, pengangkutan batu bara disebut setidaknya mencapai sekitar 200 hingga 300 unit dump truck per hari. Atau lebih kurang 300.000 ton selama aktivitas.
Selain penambangan yang diduga dilakukan tanpa RKAB sejak beberapa bulan lalu. Geram juga menyoroti penggunaan dokumen milik perusahaan lain atau yang mereka sebut sebagai modus dokumen terbang.
Dimana batu bara yang berasal dari lokasi IUP PT Bumi Bara Makmur Mandiri (BBMM) disebut menggunakan sejumlah dokumen perusahaan lain sebagai modus untuk terlihat seolah-olah legal. Macam dokumen dari IUP Tambang PT Asia Multi Investama (AMI) dan PT Daya Bambu Sejahtera (DBS), hingga Delivery Order (DO) milik PT Kurnia Alam Investama (KAI) serta surat jalan PT Anugerah Muda Berkarya (AMB).
Untuk diangkut menuju sejumlah stockpile dan jetty di kawasan Talang Duku, Kabupaten Muarojambi. Lalu batu bara ilegal itu diperdagangkan oleh PT Kasih Coal Resources, badan usaha yang disebut-sebut digunakan oleh Satria dalam memasok batu bara ke PLN.
Investigasi Tim Geram menunjukkan terdapat dugaan ketidaksesuaian antara volume produksi riil perusahaan pemilik dokumen dengan volume batu bara yang diduga beredar dan dikapalkan.
”Kami meminta kepada Menteri ESDM untuk menindak, untuk mencabut RKAB PT BBMM yang jelas-jelas menyalahi aturan,” ujar, Hafizi Alatas, orator Geram lainnya.
Geram menilai bahwa Kementerian ESDM tidak melihat atau mengabaikan fakta rill di lapangan sebelum pemberian atau persetujuan izin.
Sementara itu pihak Kementerian ESDM menyampaikan bahwa laporan aliansi Geram diterima, untuk kemudian diteruskan pada Ditjen Gakkum Kementerian ESDM.
”Kami terima, kami teliti nanti oleh pimpinan didisposisi pada Ditjen Gakum Kementerian ESDM,” katanya.
Reporter: Juan Ambarita
NASIONAL
Urban Social Forum 12 Hadir di De Britto: Membayangkan Kota yang Lebih Manusiawi
DETAIL.ID, Yogyakarta – Kota bukan sekadar kumpulan gedung, jalan, kendaraan, dan ruang-ruang ekonomi. Kota adalah tempat manusia bertemu, berinteraksi, menyampaikan suara, sekaligus memperjuangkan kehidupan yang lebih layak. Dari kesadaran itulah Urban Social Forum (USF) 12 kembali digelar dengan membawa semangat “Another City is Possible!” di SMA Kolese De Britto Yogyakarta, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Urban Social Forum merupakan ruang publik yang terbuka dan inklusif untuk mempertemukan berbagai gagasan alternatif, pengalaman, pengetahuan, dan jejaring masyarakat. Forum ini menjadi ruang bersama untuk membicarakan berbagai persoalan perkotaan sekaligus membayangkan kemungkinan-kemungkinan baru tentang kota yang lebih manusiawi, adil, berkelanjutan, dan demokratis.
Sejak pagi, peserta mulai berdatangan ke kompleks SMA Kolese De Britto untuk mengikuti rangkaian kegiatan. Agenda diawali dengan registrasi pada pukul 08.00–09.00, kemudian dilanjutkan dengan pembukaan dan pertunjukan Gangsa Kukila. Setelah itu, peserta diajak masuk ke pleno pembuka bertajuk “Raumum: Menyulam Ruang Publik dan Praktik Kewargaan di Kota.”
Tidak berhenti pada diskusi di ruang-ruang formal, USF 12 menghadirkan beragam bentuk perjumpaan. Peserta dapat mengikuti Petak Rembuk 1: Youth in Policy dan Petak Rembuk 2: Obrolan Pinggir Jalan, serta berbagai aktivasi liminal seperti Simulasi Kursi Roda dan Play(ce)grounding. Ragam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa berbicara tentang kota tidak cukup dilakukan dari satu perspektif. Kota perlu dilihat dari pengalaman berbagai kelompok yang hidup dan beraktivitas di dalamnya.
Berbagai isu aktual perkotaan kemudian dibicarakan melalui sejumlah panel dan lokakarya. Tema-temanya sangat beragam, mulai dari “Mendidik Siswa, Membentuk Warga,” “Bijak Ber-AI,” “Membangun Pulang yang Teduh,” “Masa Depan Advokasi Anggaran Publik,” “Urun Suara untuk Kota,” hingga “Beyond Sidewalk.” Ada pula pembahasan mengenai taman kota, mobilitas, data, urbanisme Yogyakarta, gaya hidup berkelanjutan, serta suara dan pengalaman kelompok-kelompok yang selama ini mungkin belum cukup terdengar dalam pengambilan keputusan kota.

Diskusi panel membicarakan tentang AI
Menariknya, USF 12 juga menyediakan ruang bagi peserta untuk belajar melalui lokakarya. Beberapa di antaranya adalah Kota Jiwa Bersuara, Merancang Skema Guna Ulang Acara, Cities of Unequal Steps, Trotoarian, Bioskop Kota Kita, dan Workshop Zine Zan Zun. Format lokakarya membuat peserta tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga dapat mengalami, berdiskusi, menciptakan, dan menemukan cara pandang baru terhadap persoalan kota.
Ruang perjumpaan juga diperluas melalui booth komunitas, aktivasi liminal, dan instalasi yang tersebar di berbagai titik selama pukul 09.00 hingga 18.00. Dengan demikian, keseluruhan kompleks sekolah tidak hanya menjadi tempat penyelenggaraan acara, tetapi berubah menjadi ruang publik sementara tempat berbagai komunitas, gagasan, dan pengalaman saling berjumpa.
USF 12 juga menghadirkan sejumlah pertunjukan sebagai bagian dari rangkaian acara. Setelah pembukaan, peserta disuguhi pertunjukan 1948 Collective, kemudian dilanjutkan dengan pleno penutup dan pertunjukan Majelis Lidah Berduri. Kehadiran seni dalam forum ini memperlihatkan bahwa membicarakan kota tidak selalu harus melalui bahasa akademik atau kebijakan. Seni juga dapat menjadi cara untuk membaca, mengkritik, dan merasakan kembali kehidupan perkotaan.
Yang membuat forum ini semakin penting adalah keterbukaannya bagi siapa saja. USF 12 dirancang sebagai ruang yang inklusif, bahkan menyediakan juru bahasa isyarat, sehingga percakapan mengenai masa depan kota dapat melibatkan lebih banyak warga.
Dari De Britto, Yogyakarta seolah kembali diingatkan bahwa kota yang baik tidak hanya dibangun dengan infrastruktur, tetapi juga dengan kehadiran warga yang berani bersuara, berdialog, dan terlibat. Kota yang demokratis lahir ketika masyarakat memiliki ruang untuk menyampaikan pengalaman dan gagasan, sementara para pengambil keputusan bersedia mendengarkan.
Pada akhirnya, pesan “Another City is Possible!” bukan sekadar slogan. Ia adalah ajakan untuk percaya bahwa kota dapat berubah ketika warga mau membayangkan kemungkinan yang berbeda dan kemudian bersama-sama mengusahakannya.
Sebab, kota yang lebih manusiawi tidak lahir dari satu orang atau satu kelompok. Ia tumbuh dari perjumpaan, percakapan, keberanian untuk berbeda, dan kesediaan untuk berjalan bersama. Dari Yogyakarta, USF 12 mengajak kita percaya: kota lain itu mungkin, dan perubahan itu dapat dimulai dari ruang tempat kita bertemu hari ini. (*)
NASIONAL
Perayaan Kemerdekaan Menuju Masa Depan: De Britto Membuka Perjalanan Dasawindu 2028
DETAIL.ID, Yogyakarta – Semangat kemerdekaan, rasa syukur, kebersamaan, dan harapan akan masa depan berpadu dalam rangkaian pembukaan perjalanan Dasawindu SMA Kolese De Britto Yogyakarta menuju 80 tahun pada 2028. Momentum tersebut dirangkai dalam berbagai kegiatan yang berlangsung sejak peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia hingga Open House De Britto, Jumat–Sabtu, 21–22 Agustus 2026.
Rangkaian tersebut tidak sekadar menjadi perayaan seremonial. Di balik upacara, kenduri, Ekaristi, peluncuran logo, peletakan batu pertama, pentas seni, pameran perguruan tinggi, dan Open House, tersimpan satu benang merah: bagaimana sebuah lembaga pendidikan menjaga tradisi sekaligus berani menatap masa depan.
Perjalanan itu sesungguhnya telah dimulai dengan Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Upacara menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak pernah berdiri terpisah dari perjalanan bangsa. Kemerdekaan yang diwariskan para pendahulu membawa tanggung jawab baru bagi generasi muda: mengisinya dengan kompetensi, keberanian, kepedulian, dan kemampuan membaca perubahan zaman.
Semangat kebangsaan itu kemudian menemukan bentuk yang lebih dekat melalui kenduri bersama warga sekitar sekolah. Tradisi sederhana tersebut menjadi ruang perjumpaan antara sekolah dan masyarakat. De Britto tidak hanya hadir sebagai institusi pendidikan di tengah lingkungan, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat di sekitarnya.
Selanjutnya pada 19 Agustus 2026, bertepatan dengan peringatan HUT ke-78 SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Suasana menjadi lebih reflektif dengan Ekaristi HUT ke-78 SMA Kolese De Britto. Dalam perayaan syukur tersebut, perjalanan 78 tahun sekolah ditempatkan bukan hanya sebagai catatan sejarah, melainkan sebagai kesempatan untuk melihat kembali pengalaman, keberhasilan, kekurangan, dan panggilan pendidikan yang terus berkembang. Dari momentum tersebut, sekolah membuka perjalanan menuju Dasawindu 2028 dengan semangat Ex Traditio Ad Futurum, berangkat dari tradisi menuju masa depan.
Suasana kemudian beralih dalam satu penanda penting perjalanan menuju Dasawindu adalah peluncuran logo Dasawindu. Logo tersebut menjadi simbol dimulainya perjalanan tiga tahun menuju usia 80 tahun. Pada saat yang bersamaan penerimaan siswa baru (PSB) tahun ajaran 2027/2028 juga dibuka hingga 2 November. Bagi sekolah, Dasawindu bukan sekadar perayaan angka. Ia menjadi kesempatan untuk membaca kembali tradisi yang telah membentuk De Britto sekaligus memikirkan wajah sekolah pada masa yang akan datang.
Momentum tersebut semakin nyata melalui peletakan batu pertama pembangunan Gedung Dasawindu di sebelah utara lapangan sepak bola. Gedung tersebut direncanakan menjadi salah satu fasilitas penting bagi perkembangan sekolah, dengan ruang kelas, laboratorium, ruang guru, ruang audiovisual, ruang diskusi, serta berbagai fasilitas pendukung lainnya.
Koordinator Umum Dasawindu SMA Kolese De Britto, Filipus Dimas Darumurti mengatakan, pembangunan tersebut merupakan gagasan yang sebenarnya telah lama direncanakan dan baru mendapatkan momentum untuk direalisasikan menjelang usia 80 tahun. “Gagasan itu sudah sejak lama, tetapi baru direalisasikan pada momen 80 tahun atau Dasawindu ini. Maka, gedung yang akan dibangun di utara lapangan sepak bola itu kami namakan Gedung Dasawindu,” kata Dimas.

Jika gedung menjadi gambaran masa depan dalam bentuk fisik, maka Open House De Britto 2026 menghadirkan gambaran masa depan dalam bentuk yang lebih hidup: anak-anak dan remaja yang datang untuk belajar, mencoba, berkompetisi, berkarya, dan mengenali potensi dirinya.
Hari berikutnya pada, Jumat–Sabtu, 21–22 Agustus 2026, kompleks SMA Kolese De Britto di Jalan Laksda Adisucipto No. 161, Depok, Sleman, Yogyakarta, menjadi ruang perjumpaan bagi siswa, calon siswa, orang tua, guru, perguruan tinggi, lembaga pendidikan, dan masyarakat.
Melalui Open House, De Britto membuka pintunya lebih lebar. Pengunjung tidak hanya diajak melihat ruang kelas dan fasilitas sekolah, tetapi juga mengalami berbagai aktivitas yang menjadi bagian dari kehidupan pendidikan di De Britto. Lebih dari 30 perguruan tinggi hadir dalam ekspo pendidikan, disertai pameran ekstrakurikuler, talkshow, bazar, berbagai perlombaan, dan Ekspo Lembaga Pendidikan Katolik se-DIY.
Sebanyak 16 lembaga pendidikan Katolik dari jenjang pendidikan dasar hingga menengah turut berpartisipasi. Kehadiran mereka menjadi salah satu wujud konkret semangat kolaborasi yang berkembang melalui Sinode Pendidikan Keuskupan Agung Semarang (KAS) 2023–2024. “Dalam Sinode Pendidikan, salah satunya bagaimana lembaga-lembaga pendidikan Katolik bisa saling berkolaborasi,” kata Dimas.
Kolaborasi itu memperlihatkan bahwa setiap sekolah memiliki kekhasan, program, dan cara masing-masing dalam mendampingi generasi muda. Bagi masyarakat, ekspo tersebut sekaligus membuka ruang untuk mengenal lebih dekat wajah pendidikan Katolik di Yogyakarta.
Semarak Open House juga terasa melalui berbagai kompetisi. Anak-anak TK dan SD mengikuti lomba mewarnai dan menggambar. Para pelajar menunjukkan kemampuan bernyanyi melalui lomba paduan suara, sementara peserta SMP mengikuti Leadership Legacy Challenge yang menempatkan kepemimpinan sebagai bagian penting dari proses belajar.
Pada kompetisi mewarnai TK, juara pertama diraih Alexa Galenka Kurniawati, sedangkan kategori SD dimenangkan Nayanika Alisha. Lomba menggambar SD menempatkan Samantha Ashera Anarya sebagai juara pertama. Dalam lomba paduan suara, SD Kanisius Sengkan menjadi juara pertama jenjang SD dan SMP Maria Immaculata Marsudirini menjadi juara pertama jenjang SMP.
Sementara itu, SMP Kristen Kalam Kudus Yogyakarta menjadi juara pertama Leadership Legacy Challenge, disusul SMP Maria Assumpta dan SMP Kanisius Kalasan. Penghargaan Best Leader diberikan kepada Dominicus Dandy Edwit Wijaya Putra.
Di tengah berbagai kegiatan tersebut, pentas Band De Britto menjadi salah satu ruang ekspresi siswa. Musik menjadi bahasa yang menyatukan kegembiraan, kreativitas, dan keberanian tampil. Dari panggung itu terlihat bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung melalui buku dan ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman berkarya dan bekerja bersama.
Pada akhirnya, rangkaian pembukaan Dasawindu dan Open House 2026 memperlihatkan bahwa masa depan tidak pernah lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari sejarah, tradisi, pengalaman, dan keberanian untuk berefleksi.
Karena itu, perjalanan menuju Dasawindu 2028 bukan semata-mata perjalanan menuju usia 80 tahun. Ia merupakan perjalanan untuk bertanya kembali: De Britto hendak menjadi sekolah seperti apa, dan manusia seperti apa yang hendak dibentuknya?
Pertanyaan itu terasa nyata di tengah keramaian Open House. Ada anak-anak yang untuk pertama kalinya memasuki halaman sekolah, orang tua mulai membayangkan pendidikan bagi para putranya, remaja yang mencoba berbagai kegiatan, serta siswa De Britto yang memperkenalkan sekolahnya kepada para pengunjung.
Di situlah makna Dasawindu menemukan bentuknya, bahwa tradisi bukan sesuatu yang hanya disimpan untuk dikenang, melainkan warisan yang harus diolah agar tetap relevan bagi zaman. Masa depan pun bukan sesuatu yang sekadar ditunggu, melainkan sesuatu yang mulai dibangun hari ini.
Dimulai dari upacara kemerdekaan, kenduri bersama warga, Ekaristi syukur, peluncuran logo, peletakan batu pertama Gedung Dasawindu, pentas musik, pameran perguruan tinggi, hingga Open House, SMA Kolese De Britto sedang menapaki satu perjalanan panjang yaitu, merawat apa yang baik dari masa lalu, membaca tantangan zaman, dan menyiapkan generasi yang berani melangkah menuju masa depan. (*)



