OPINI
Jangan Lupakan Kasus Pembunuhan Keji Terhadap KY, Bocah yang Ditemukan Tewas Dalam Septictank!
Sampai hari ini, kasus pembunuhan bocah berinisial KY (4) yang ditemukan tewas mengenaskan di Septictank di daerah Kelurahan Rawasari, Kecamatan Alam Barajo, Kota Jambi, pada Senin 25 Juli tahun lalu masih juga belum menemui titik terang.
Bulan berganti tahun dan kini hampir 6 bulan sudah semenjak kematian si kecil KY. Publik terus dibuat bertanya-tanya siapa sebenarnya pelaku pembunuhan keji itu. Sementara orangtua korban mengalami duka mendalam, hingga saat ini.
Sebagai perempuan yang berdomisili di daerah Kota Jambi tentu saya sangat resah serta prihatin dengan kasus keji yang menimpa bocah perempuan itu. Terlebih lagi, sudah 6 bulan kasus ini jalan di tempat.
Bukan tanpa sebab, pembunuhan sadis terhadap KY telah menggoreskan ketakutan besar bagi keluarga serta warga di sekitar TKP.
Situasi itu diperparah lagi dengan simpang siur berita yang bermunculan, mulai dari dugaan-dugaan yang mengarah ke ayah korban, tetangga, dan semua yang di anggap mempunyai kemungkinan terlibat oleh pihak berwajib atau Kepolisian.
Minggu lalu, 15 Januari 2023 saya berinisiatif mendatangi rumah orangtua korban. Disana, saya mengetahui bahwa Ayah korban bahkan sempat menjalani proses pemeriksaan, namun mirisnya penyidik diduga sampai mengokang senjata di dekat ayah korban saat proses pemeriksaan.
Mungkin hanya gertakan atau bagian dari strategi dalam pemeriksaan. Ya kita tidak tau pasti, namun itulah yang di ungkapkan ayah korban (KY).
Bayangkan betapa sangat terpukul dia, sudahlah kehilangan putri bungsunya namun dugaan-dugaan kejam mengarah kepadanya, seolah dirinya terlibat dan mengetahui pembunuhan itu.
Namun sampai hari ini, pihak Kepolisian dengan semua sumber dayanya yang telah memeriksa sejumlah orang nampak belum juga mampu menetapkan siapa Tersangka kasus pembunuhan KY.
Meski begitu, bapak korban masih berharap besar agar pelaku Pembunuhan sadis putri bungsunya segera di temukan agar tidak muncul lagi dugaan-dugaan yang menyesatkan.
Sementata itu ibu korban mengatakan jika kini rasa trauma jadi menghantuinya, untuk keluar dari dalam rumah dan melewati tempat-tempat yang di perkirakan menjadi titik terakhir korban terlihat oleh warga saja hingga kini ibu korban tidak sanggup. Tentu itu hal yang wajar dialami oleh orangtua ketika kehilangan anaknya dengan cara yang tak wajar.
Kini kematian KY menjadi pukulan yang teramat besar bagi warga sekitar, sebab pelaku nya masih bebas berkeliaran. Anak- anak dan orangtua disana merasakan ketakutan yang sama. Berdasarkan penuturan dari warga serta anak-anak setempat yang sempat saya tanyai, beberapa orangtua mengatakan sangat takut jika anak nya keluar main di sekitaran tempat itu.
Para orangtua was-was jika anak nya lepas dari pantauan mereka, beberapa anak juga mengatakan takut untuk pergi bermain, takut untuk pergi mengaji setelah peristiwa KY.
Jika kita mengingat kembali dalam kasus ini sudah banyak saksi yang diperiksa oleh polisi, anjing pelacak diturunkan hingga proses reka ulang adegan sudah di lakukan tapi sampai kini tetap saja kasusnya masih gelap pekat, seolah sangat-sangat sulit untuk diselesaikan.
Tentu kasus pembunuhan KY menjadi PR besar bagi instansi kepolisian, pasalnya sejak KY dinyatakan hilang pada tanggal 23-07-2022. Saat itu sebenarnya pihak keluarga sudah langsung melapor ke instansi terkait, namun berdasarkan pernyataan keluarga. Pihak kepolisian berdalih kasus baru bisa diproses setelah 1X24 Jam.
Sempat juga pihak keluarga mengeluh kepada pihak kepolisian karena yang hilang ini bocah berusia 4 tahun, tentu tidak mungkin sanggup pergi jauh.
Tak berhenti disitu, pihak keluarga juga melanjutkan laporan kedua setelah laporan pertama tidak begitu di respon dengan cepat. Bersama beberapa warga, ayah korban pergi namun lagi – lagi respon yang di harapkan mereka dari instansi kaepolisian tetap mengecewakan
pihak kepolisian tidak langsung turun ke lokasi kejadian setelah kurang dari 48 jam Korban Hilang ,baru lah pihak kepolisian turun ke lokasi di tanggal 25-07-2022
Warga setempat tetap melakukan pencarian mulai dari KY dinyatakan hilang di hari Sabtu siang 23 Juli 2022 hingga malam harinya namun hasilnya tetap tidak menemukan titik terang.
Septictank di sekitaran perumahan warga juga sudah di cek dan di obok-obok tapi tidak ditemukan keberadaan korban, hingga di 25 Juli 2022 pihak kepolisian baru turun ke lokasi kejadian dan septictank itu di gali lagi
atas petunjuk seorang anak laki laki berinisial AZ (5) yang atas keterangannya bermain bersama KY sebelum KY hilang.
Setelah penemuan jasad KY di septictank, almarhumah dibawa kerumah sakit untuk di otopsi, namun sempat terjadi perkara kecil disana,
keluarga korban tidak memiliki Uang untuk mengotopsi Jasad KY yang terdapat banyak kejanggalan.
Ayah korban sempat berpasrah diri dengan meminta tidak usah di Otopsi karena tidak sanggup menanggung biayanya. Namun atas dasar kemanusian dan ruhani yang masih berfungsi dengan baik, warga sekitar dan kumpulan Jurnalis Indonesia patungan agar Jenazah Korban bisa di Otopsi.
Disini juga saya sangat menyayangkan peran Instansi yang terlibat juga pemerintah, seharusnya untuk masyarakat kurang mampu negara harus hadir dan menjadi barisan nomor satu untuk hal-hal urgent.
Jangan sampai tindakan untuk mengungkap kebenaran dan fakta dari kasus meninggalkannya KY ini terhalang karena perkara rupiah, tapi untung saja ada warga setempat serta kumpulan Jurnalis Indonesia yang masih memiliki jiwa kemanusian yang tinggi dan berfungsi dengan baik sehingga Otopsi KY tetap bisa dilakukan.
Hasil dari otopsi jenazah korban pun terungkap fakta bahwa pembunuhan ini merupakan pembuhan yang luar biasa kejam, terdapat luka lebam di tubuh KY, kepalanya retak, lehernya patah, ada bagian dalam perutnya yang keluar dari kemaluan dan anusnya robek.
Dokter mengatakan itu diakibatkan kekerasan seksual yang dialami korban, hal ini di ungkapkan oleh ibu korban dengan berlinang air mata.
Banyak pihak yang bersimpati dan menawarkan bantuan kepada pihak keluarga termasuk bantuan yang datang dari pengacara, namun ayah korban mengatakan tidak ada perkembangan yang didengar dari mereka semua.
“Jika bisa nyawaku ditukar agar bisa menyelesaikan kasus yang menimpa putriku maka akan kulakukan.” kata ayah korban emosional.
Keluarga dan warga setempat berharap pelaku segera ditemukan dan dihukum seberat-beratnya agar tidak selalu dibayang bayangi dengan ketakutan dan kecemasan.
Tentu sudah menjadi tugas pihak berwajib memberikan rasa aman bagi masyarakat, sebabaken untuk itu lah Intansi itu ada di negara ini. Jangan sampai harapan dan kepercayaan yang di titipkan masyarakat di Pundak mereka pupus dan tidak bisa dipertanggung jawabkan.
Kini, hampir 6 bulan semenjak peristiwa keji yang menimpa KY. Timbul pertanyaan, siapa korban selanjutnya? Berapa banyak lagi korban yang harus mengalami penderitan serupa seperti yang di alami si kecil KY?
Jika pelaku tidak bisa diungkap dan diproses Hukum, kasih berkeliaran bebas menghirup udara segar di luar sana. Maka kita bisa menilai sensori bagaimana kinerja Aparat Penegak Hukum dalam menegakkan hukum itu sendiri.
Terakhir saya ingin menyampaikan, jangan sampai kasus yang menimpa KY dianggap peristiwa biasa. Ada kejahatan besar yang harus diungkap, demi terciptanya situasi kondusif dan rasa aman bagi keluarga yang ditinggalkan serta masyarakat Jambi dan Keluarga serta publik masih tetap menunggu PR tersebut diselesaikan oleh pihak berwajib.
*Penulis merupakan Mahasiswi Unja Fakultas Hukum semester 8,
Relawan Beranda Perempuan dan aktif di Organisasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia
OPINI
Warisan Buya Hamka di Padang Panjang: Ketika Seorang Penulis Besar Menjadi “Arsitek Jiwa” Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang
Oleh: Taufikkurahman*
DI BALIK gegap gempita modernisasi pendidikan Islam di Indonesia, tersembunyi sebuah permata warisan intelektual yang terpatri dalam dinding-dinding sederhana di Kota Serambi Mekkah, Padang Panjang. Di sinilah, Buya Hamka—seorang sastrawan, ulama, dan pemikir besar—tidak hanya meninggalkan jejak berupa karya tulis, melainkan juga menyelami peran fundamental sebagai mudir (direktur) pertama sekaligus “arsitek jiwa” bagi para santri di Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang.
Padang Panjang di awal abad ke-20 adalah kota pendidikan yang dinamis, tempat pergumulan ide-ide keislaman modern dan tradisi Minangkabau berpadu. Pada tahun 1927, benih pendidikan modern itu ditanam dengan berdirinya Tabligh School di pusat kota Padang Panjang—sebuah sekolah yang menjadi cikal bakal pesantren. Sekolah ini didirikan oleh Muhammadiyah Cabang Padang Panjang sebagai respons terhadap kebutuhan kaderisasi dan dakwah yang sistematis.
Keberadaan sekolah ini memiliki latar geografis yang unik dan historis: ia berdiri di atas lahan yang merupakan lokasi Hotel Merapi di Padang Panjang, sebuah properti yang pada masa itu dimiliki oleh Johanes Paulus Stephanus Rox, seorang tokoh masyarakat. Fakta ini mengungkap dinamika sosial menarik di Padang Panjang masa kolonial, di mana terdapat interaksi dan kemungkinan bentuk dukungan lintas komunitas terhadap pendidikan Islam. Tabligh School inilah yang menjadi embrio dan fondasi fisik awal bagi berdirinya Pesantren Kauman Muhammadiyah.
Kembalinya Hamka ke kota ini pada 1950-an bukan sekadar nostalgia, melainkan sebuah panggilan untuk membentuk institusi yang sudah berdiri puluhan tahun itu. Saat itu, Tabligh School telah melalui perjalanan panjang sejak didirikan pada 1927. Atas kepercayaan dan kebutuhan untuk mentransformasi serta memperkuat visi lembaga, Hamka kembali menjadi pengajar di lembaga ini. Peran ini menempatkannya bukan hanya sebagai figur pengajar, tetapi sebagai pengarah utama visi, kurikulum, dan karakter lembaga yang telah memiliki sejarah nyaris tiga dekade. Dari tangan dinginnyalah, warisan Tabligh School yang telah ada disempurnakan dan diperkaya dengan nilai-nilai yang lebih dalam, sehingga lembaga ini semakin kokoh sebagai pusat pendidikan yang integratif.
Sebagai pemimpin pertama dan “arsitek jiwa,” Hamka mengajarkan bahwa pendidikan agama bukanlah sekadar menghafal teks, melainkan proses memahami diri, masyarakat, dan Tuhan dengan pikiran yang jernih dan hati yang sensitif.
1. Sastra sebagai Jendela Hikmah: Sebagai mudir, Hamka mengintegrasikan kecintaannya pada sastra ke dalam atmosfer pesantren. Ia kerap membawakan kisah-kisah sastra—dari karya sendiri seperti Tenggelamnya Kapal Van der Wijck hingga hikayat klasik—sebagai cermin untuk merefleksikan nilai akhlak, cinta, dan keadilan. Para santri diajak berdialog dengan kompleksitas kehidupan manusia, jauh dari doktrin yang kaku.
2. Tafsir Al-Azhar di Ranah Minang: Pemikiran tafsirnya yang monumental, *Tafsir Al-Azhar*, juga lahir dan diujikan dalam interaksinya dengan dunia pesantren. Gaya penafsirannya yang kontekstual, merangkum sastra, sejarah, dan filsafat, tercermin dalam cara ia membentuk kurikulum dan membuka nalar kritis santri terhadap Al-Qur’an.
3. Keteladanan Kepemimpinan yang Membumi: Sebagai seorang mudir, Hamka hidup sederhana di tengah santri. Ia tidak memimpin dari balik meja, tetapi mengobrol di serambi, mendengarkan keluh kesah, dan memberikan nasihat yang menyentuh langsung persoalan jiwa. Ia menunjukkan bahwa kebesaran seorang pemimpin pendidikan terletak pada kedekatannya dan keteladanannya langsung di tengah murid-muridnya.
Pengaruh Hamka sebagai mudir pertama di Pesantren Kauman Muhammadiyah tidak berhenti pada masa hidupnya. Jejak kepemimpinannya, yang dibangun di atas fondasi sejarah lembaga sejak 1927 di lahan yang bersejarah itu, terus mengalir dalam:
- Semangat Literasi yang Kuat: Pesantren ini melahirkan santri-santri yang mencintai buku dan menulis, mengikuti tradisi sang guru besar dan mudir pertamanya.
- Pemikiran Islam yang Terbuka dan Moderat: Corak Islam yang diajarkan Hamka—yang menolak ekstremisme, menghargai budaya lokal, dan aktif dalam pembangunan bangsa—tetap menjadi fondasi pendidikan di pesantren ini, berakar dari visi yang ia tetapkan sejak awal.
- Spirit Inklusivitas dan Dialog: Lokasi awal sekolah di lahan milik non-Muslim mencerminkan semangat hubungan sosial yang baik, dan Hamka sebagai mudir mengembangkan ini menjadi pendidikan Islam yang percaya diri, terbuka, dan mampu berdialog dengan realitas sosial yang majemuk.
Di era dimana pendidikan yang sering terjebak pada orientasi material dan sertifikasi, warisan Hamka di Padang Panjang mengingatkan kita akan esensi pendidikan sebagai proses memanusiakan. Perannya sebagai mudir pertama dan “arsitek jiwa” menunjukkan bahwa pemimpin pendidikan sejati adalah yang membangun pondasi institusi sekaligus bangunan karakter, akal, dan hati yang kokoh.
Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang, dengan sejarah panjangnya yang bermula dari Tabligh School pada 1927 di atas lahan Hotel Merapi, dan kemudian dipimpin serta dibentuk oleh seorang Hamka, bukan hanya bagian dari memori masa lalu. Ia adalah monumen hidup yang membuktikan bahwa karya terbesar seorang penulis, ulama, dan pemimpin adalah lembaga dan manusia-manusia yang dibentuknya: generasi yang berilmu, berakhlak, dan mampu merawat warisan pemikiran dengan jiwa yang merdeka.
Sebagaimana Hamka pernah menulis, “Hidup ini bukan untuk mencari hidup, tapi untuk memberi arti hidup” Di Padang Panjang, sebagai mudir pertama yang meneruskan estafet lembaga sejak 1927 dari sebuah lahan yang menyimpan cerita inklusivitas, ia telah memberi arti dan bentuk yang lebih dalam—meletakkan batu pertama sebuah transformasi spiritual-intelektual dan menyentuh setiap jiwa yang diasuhnya, yang hingga hari ini terus menyala dalam cahaya ilmu dan kearifan.
*Tim Humas Pesantren Kauman Padang Panjang
OPINI
Dari Buya Hamka hingga Dr. Derliana: 7 Fakta Mengejutkan Pesantren Kauman Muhammadiyah yang Tak Pernah Anda Duga!
Oleh: Taufikkurahman*
PESANTREN Kauman Muhammadiyah Padang Panjang bukan hanya sekadar lembaga pendidikan Islam biasa. Berdiri di jantung kota yang dikenal sebagai “Kota Serambi Mekah” dan pusat pendidikan di Sumatra Barat, pesantren ini menyimpan sejarah panjang dan keunikan yang membedakannya dari pesantren tradisional pada umumnya. Berikut adalah tujuh fakta unik tentang pesantren yang telah melahirkan banyak tokoh penting bagi bangsa ini.
1. Berdiri di Tengah Tekanan Zaman Kolonial Belanda
Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang didirikan pada 5 Desember 1927, di masa ketika Indonesia masih berada dalam cengkeraman pemerintahan kolonial Belanda. Keberanian mendirikan lembaga pendidikan Islam yang modern dan mandiri pada era tersebut adalah sebuah bentuk perlawanan intelektual dan kultural. Pesantren ini hadir sebagai upaya umat Islam untuk membangun sistem pendidikan yang merdeka, tidak bergantung pada model pendidikan kolonial yang sekuler dan membatasi ruang gerak dakwah Islam. Pendiriannya menunjukkan keteguhan hati para tokoh, seperti Buya Hamka, untuk menjaga identitas keislaman dan sekaligus memajukan bangsa di tengah suasana penjajahan.
2. Merupakan Sekolah Para Kader dan Tokoh Perjuangan
Pesantren ini sejak awal didirikan dengan visi yang jelas: mencetak kader-kader pemimpin dan pejuang bagi Muhammadiyah dan bangsa. Sistem pendidikannya dirancang bukan hanya untuk mencerdaskan, tetapi juga membentuk karakter, keberanian, dan komitmen berorganisasi. Banyak alumni yang kemudian menjadi tulang punggung gerakan Muhammadiyah di berbagai daerah di Sumatra Tengah dan bahkan nasional. Jiwa kepeloporan dan aktivisme sosial-keagamaan menjadi ruh yang diwariskan kepada setiap santri, menjadikan pesantren ini lebih dari sekadar sekolah, tetapi sebuah “kawah candradimuka” bagi kaderisasi.
3. “Kawah Candradimuka” bagi Aktivis dan Tokoh Nasional
Pesantren ini dikenal sebagai tempat “pematangan” bagi banyak calon tokoh bangsa. Selain Buya Hamka sebagai pendiri, pesantren ini pernah menjadi tempat belajar dan mengajar para pemikir dan pejuang seperti A.R. Sutan Mansur (tokoh Muhammadiyah), Dahlan Abdullah (diplomat), dan banyak ulama-pejuang lainnya. Suasana intelektual dan semangat pembaruan di Padang Panjang pada era 1920-1930an membuat pesantren ini menjadi tempat diskusi yang dinamis.
4. Buya Hamka Merupakan Kepala Sekolah Pertama di Sini
Fakta yang tak kalah penting adalah bahwa Buya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) yang merupakan ulama, sastrawan terkemuka sekaligus pejuang Indonesia, menjabat sebagai Kepala Sekolah pertama pesantren ini. Pada usia yang masih muda, Hamka sudah memikul tanggung jawab besar untuk memimpin dan membentuk karakter pendidikan di lembaga yang baru berdiri tersebut. Kepemimpinannya di awal-awal masa berdirinya pesantren turut meletakkan dasar-dasan keilmuan, integritas, dan semangat pembaruan yang menjadi ciri khas Pesantren Kauman hingga sekarang.
5. Kurikulum yang Menyeimbangkan Fikih, Tasawuf, dan Akhlak
Meski bercorak pembaruan, kurikulum pesantren tidak mengabaikan warisan tradisi Islam yang mendalam. Kitab-kitab fikih mazhab Syafi’i, tasawuf Imam Al-Ghazali, dan akhlak diajarkan secara intensif di samping ilmu-ilmu umum seperti matematika, sejarah, dan bahasa. Keseimbangan ini bertujuan untuk membentuk santri yang memiliki spiritualitas kuat, berakhlak karimah, sekaligus siap terjun di masyarakat modern.
6. Dr. Derliana, MA: Mudir Perempuan dan Doktor Pertama yang Memimpin Pesantren
Menandai babak baru dalam kepemimpinan, Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang mencatat sejarah dengan diangkatnya Dr. Derliana, M.A. sebagai Mudir (Kepala Pesantren). Beliau adalah pemimpin perempuan pertama sekaligus pemegang gelar doktor pertama yang menjabat posisi tertinggi di pesantren ini. Kepemimpinan beliau mencerminkan kemajuan pesantren dalam mendorong kesetaraan gender dan penguatan kapasitas keilmuan di tingkat pimpinan. Latar belakang akademiknya yang kuat menghadirkan corak kepemimpinan yang visioner, mengintegrasikan tradisi pesantren dengan tuntutan pendidikan modern, sekaligus menjadi inspirasi bagi santriwati.
7. Tetap Mempertahankan Khittah di Tengah Modernisasi
Hampir seabad berdiri, Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang telah melalui berbagai zaman, dari masa penjajahan, revolusi, hingga era digital sekarang. Fakta uniknya adalah pesantren ini berhasil mempertahankan khittah (jalan asal) dan ciri khasnya sebagai pesantren Muhammadiyah yang modern namun tetap saleh. Bangunan-bangunan lama masih terawat dan digunakan, sementara aktivitas pendidikan terus beradaptasi tanpa kehilangan ruh keislaman dan keindonesiaannya.
Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang adalah monumen hidup dari semangat pembaruan Islam yang berakar pada tradisi. Lebih dari sekadar tempat mengaji, ia adalah laboratorium pemikiran dan karakter yang telah memberi kontribusi tak ternilai bagi bangsa. Keunikan sejarah, sistem pendidikan, dan peran sosialnya menjadikannya mutiara berharga dalam khazanah pendidikan Indonesia, khususnya di tanah Minangkabau. Keberadaannya mengingatkan kita bahwa tradisi dan modernitas dapat berjalan beriringan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
*Penulis merupakan anggota Tim Humas Pesantren Kauman Padang Panjang
OPINI
Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang: Fenomena Magnetisme Santri di Ranah Minang
DI TENGAH hiruk-pikuk perkembangan zaman dan beragam pilihan lembaga pendidikan Islam di Indonesia, Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang justru menunjukkan fenomena menarik: terus memancarkan magnet bagi ribuan santri dari berbagai daerah. Tidak hanya ramai, pesantren yang terletak di jantung Kota Padang Panjang ini semakin diminati dari tahun ke tahun. Apa sebenarnya rahasia di balik daya tariknya yang tak pernah pudar?
1. Warisan Sejarah dan Integritas Kelembagaan yang Kokoh
Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang memiliki akar sejarah yang dalam, didirikan pada 1927 oleh Muhammadiyah sebagai bagian dari gerakan pembaruan Islam. Pesantren ini bukan hanya sekadar tempat mengaji, tetapi menjadi saksi bisu perjuangan dakwah dan pendidikan di Minangkabau. Reputasi kelembagaan yang dibangun selama puluhan tahun menciptakan kepercayaan (trust) publik yang kuat. Bagi banyak keluarga, menyekolahkan anak di sini adalah pilihan yang aman dan terpercaya.
2. Harmoni Tradisional dan Modern dalam Kurikulum
Salah satu keunggulan utama pesantren ini adalah kemampuannya menyeimbangkan nilai-nilai tradisi pesantren salaf (seperti pembelajaran kitab kuning, tahfiz Al-Qur’an, dan pembentukan akhlak) dengan kurikulum modern Muhammadiyah yang mengedepankan ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan hidup. Santri tidak hanya mendalami ilmu agama, tetapi juga dibekali dengan kemampuan sains, bahasa asing, dan teknologi informasi. Integrasi ini menjawab kegelisahan orang tua yang ingin anaknya menguasai agama tanpa tertinggal secara akademis.
3. Lingkungan Pendidikan yang Kondusif dan Berdisiplin
Padang Panjang dikenal sebagai “Kota Serambi Mekah” dengan udara sejuk dan masyarakat yang religius. Pesantren Kauman memanfaatkan lingkungan ini untuk menciptakan atmosfer belajar yang fokus dan minim gangguan. Disiplin yang diterapkan—seperti jadwal harian yang terstruktur, pengawasan ketat, dan penanaman nilai kemandirian—membentuk santri menjadi pribadi yang tangguh dan bertanggung jawab. Bagi banyak orang tua, lingkungan seperti ini dianggap sebagai benteng dari pengaruh negatif zaman sekarang.
4. Jejaring Alumni yang Luas dan Berpengaruh
Pesantren ini telah melahirkan ribuan alumni yang berperan di berbagai sektor: dai, akademisi, profesional, pebisnis, hingga politisi. Jejaring alumni yang kuat tidak hanya membantu santri dalam membangun karier setelah lulus, tetapi juga menjadi testimoni hidup tentang keberhasilan pendidikan pesantren. Kisah sukses para alumni menjadi daya tarik tersendiri bagi calon santri dan orang tua.
5. Metode Pengajaran dan Guru yang Berkualitas
Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang dikenal memiliki ustadz dan guru yang kompeten, banyak di antaranya lulusan perguruan tinggi ternama dalam dan luar negeri. Metode pengajaran yang dinamis—menggabungkan ceramah, diskusi, proyek, dan praktik—membuat proses belajar tidak monoton. Selain itu, pendekatan yang humanis dan perhatian terhadap perkembangan individu santri menciptakan ikatan emosional yang kuat antara pengajar dan santri.
6. Responsif terhadap Perkembangan Zaman
Pesantren ini tidak stagnan. Dalam beberapa tahun terakhir, pengelola terus melakukan inovasi, seperti pengembangan program tahfiz dengan metode modern, kelas keterampilan digital, dan ekstrakurikuler yang relevan (robotik, jurnalistik, bahasa asing). Fasilitas seperti perpustakaan digital, laboratorium, dan asrama yang nyaman juga terus ditingkatkan. Kemampuan beradaptasi ini membuat pesantren tetap relevan bagi generasi milenial dan Gen Z.
7. Reputasi sebagai Pusat Dakwah dan Perubahan Sosial
Sebagai bagian dari Muhammadiyah, pesantren ini tidak hanya fokus pada pendidikan internal, tetapi juga aktif dalam kegiatan dakwah dan pemberdayaan masyarakat. Santri diajak terlibat dalam kegiatan sosial, bakti masyarakat, dan kampanye isu-isu keumatan. Pengalaman ini membentuk karakter kepemimpinan dan kepedulian sosial, nilai yang sangat dicari di era sekarang.
8. Daya Tarik Lokasi Strategis dan Budaya Minang
Padang Panjang merupakan kota pendidikan dengan banyak perguruan tinggi Islam ternama, seperti UIN Imam Bonjol dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN). Lokasi pesantren yang strategis memungkinkan santri melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi dengan mudah. Selain itu, kekayaan budaya Minangkabau yang mengedepankan nilai-nilai islami dan adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, menjadi nilai tambah yang memperkaya wawasan santri.
Fenomena Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang yang terus ramai dan diminati bukanlah kebetulan. Ia adalah hasil dari kombinasi antara integritas sejarah, kurikulum yang seimbang, lingkungan disiplin, dan kemampuan beradaptasi dengan zaman. Pesantren ini berhasil menjawab kebutuhan masyarakat akan pendidikan Islam yang holistik—menghasilkan santri yang tidak hanya alim dalam agama, tetapi juga siap menghadapi tantangan global. Dalam persaingan lembaga pendidikan Islam saat ini, Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang telah membuktikan bahwa tradisi dan modernitas dapat berjalan beriringan, menjadi magnet abadi bagi para pencari ilmu.
*Penulis merupakan anggota Tim Humas Pesantren Kauman Padang Panjang

