Connect with us
Advertisement

ADVERTORIAL

Bupati Fadhil Arief Buka Gebyar Anak dan Orang Tua, Tegaskan Komitmen Cegah Stunting di Batanghari

DETAIL.ID

Published

on

Batanghari – Bupati Batanghari, Muhammad Fadhil Arief menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam upaya pencegahan stunting dan peningkatan kualitas generasi muda melalui kegiatan Gebyar Anak dan Orang Tua Tingkat Kabupaten Batanghari Tahun 2025. Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Bupati dan digelar di Desa Penerokan, Kecamatan Bajubang pada Senin, 19 Januari 2026.

Bupati Fadhil Arief hadir didampingi Ketua Tim Pembina Posyandu Kabupaten Batanghari, Bunda Zulva Fadhil. Acara ini diikuti ratusan peserta yang terdiri dari anak-anak, orang tua, kader Posyandu, tenaga kesehatan, serta unsur pemerintah desa dan kecamatan.

Dalam sambutannya, Bupati Fadhil Arief menjelaskan bahwa penyelenggaraan Gebyar Anak dan Orang Tua memiliki tujuan strategis, yakni menguatkan partisipasi masyarakat, lintas sektor, serta dunia usaha dalam upaya pencegahan masalah gizi pada balita. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Kabupaten Batang Hari dalam mendukung program pencegahan dan penurunan stunting secara terintegrasi.

“Gebyar ini bukan sekadar seremonial. Ini adalah bentuk komitmen bersama untuk mencegah masalah gizi sejak dini, menurunkan angka stunting, serta memastikan anak-anak Batang Hari tumbuh sehat dan berkualitas,” ujar Fadhil Arief.

Menurutnya, kualitas anak dan generasi muda merupakan pondasi utama kemajuan daerah dan bangsa. Karena itu, setiap anak harus diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, baik dari sisi fisik, mental, maupun sosial.

Bupati juga menekankan pentingnya peran keluarga dan lingkungan dalam mendukung tumbuh kembang anak. Orang tua, kata dia, memegang peran sentral dalam membentuk karakter, kesehatan, dan masa depan anak sejak usia dini.

“Anak-anak kita harus disiapkan sejak sekarang agar mampu bersaing di era global. Mereka perlu ruang untuk mengembangkan kreativitas, bakat, dan potensi positif yang dimiliki,” ujarnya.

Melalui Gebyar Anak dan Orang Tua ini, Fadhil Arief berharap anak-anak di Batang Hari dapat menjadikan kegiatan tersebut sebagai ajang untuk mengaktualisasikan diri sesuai dengan dunia mereka. Ia menilai, pendekatan yang menyenangkan dan partisipatif akan lebih efektif dalam menanamkan nilai-nilai kesehatan, kreativitas, dan kepercayaan diri pada anak.

“Kegiatan seperti ini memberi ruang bagi anak-anak untuk mengekspresikan diri, belajar bersosialisasi, dan membangun kepercayaan diri. Ini penting untuk masa depan mereka,” katanya.

Acara Gebyar Anak dan Orang Tua juga dirangkaikan dengan berbagai kegiatan edukatif, pemeriksaan kesehatan balita, serta penampilan kreativitas anak-anak, yang melibatkan peran aktif kader Posyandu dan tenaga kesehatan setempat.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut para Kepala OPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Batanghari, Pimpinan Bank Jambi Cabang Muara Bulian, Camat Bajubang, Kepala Puskesmas Desa Penerokan dan Desa Batin, para Kepala Desa se-Kecamatan Bajubang, Ketua Tim Pembina Posyandu tingkat kecamatan, desa, dan kelurahan, serta tamu undangan lainnya.

Pemerintah Kabupaten Batanghari berharap kegiatan ini dapat menjadi agenda berkelanjutan sebagai bagian dari strategi pembangunan sumber daya manusia, sekaligus memperkuat sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha dalam mewujudkan generasi Batanghari yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.

Advertisement Advertisement

ADVERTORIAL

Jember Jadi Poros Ekonomi Baru, Rp 207 Miliar Mengalir Setiap Bulan ke Desa-desa

DETAIL.ID

Published

on

Bupati Jember dan Kepala BGN diwawancarai media, Kamis (16/4/2026). (Foto: DETAIL/Dyah Kusuma)

DETAIL.ID, Jember – Kabupaten Jember kini tengah bertransformasi menjadi pusat perputaran ekonomi baru di Jawa Timur melalui implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dalam peninjauan langsung pada Kamis, 16 April 2026, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, bersama Bupati Jember, Muhammad Fawait atau Gus Fawait, mengungkap fakta bahwa program ini bukan sekadar urusan piring makan siswa, melainkan sebuah “suntikan” ekonomi yang diproyeksikan mencapai Rp4 triliun per tahun bagi rakyat Jember.

Gus Fawait menegaskan bahwa kehadiran MBG adalah jawaban nyata atas lesunya harga komoditas pertanian di tingkat bawah.

Ia mengambil contoh nyata dari para petani jeruk di Semboro yang sebelumnya menjerit karena harga anjlok di angka Rp4.000 per kilogram, namun kini setelah program MBG berjalan dan menyerap hasil panen lokal, harga melonjak stabil di angka Rp10.000 per kilogram.

Gairah ini memicu efek domino positif di mana warga kini kembali berlomba-lomba menggarap lahan mereka, sekaligus menepis isu miring di media sosial mengenai ancaman inflasi berbahaya.

“Sekarang warga di sini nanam jeruk semua,” ucap Gus Fawait sembari tersenyum dengan dampak positif program MBG.

Menurut Gus Fawait, pergerakan uang yang masif ini adalah benteng pertahanan Jember dalam menghadapi potensi krisis ekonomi global.

“Kalau ada krisis di dunia, selama MBG jalan, terutama di Kabupaten Jember, InsyaAllah tidak akan berpengaruh pada perekonomian di Kabupaten Jember,” katanya.

Untuk memastikan keberlanjutan program secara presisi, Pemkab Jember bahkan melibatkan akademisi dari Universitas Airlangga guna memantau dampak ekonomi dan pengentasan kemiskinan di setiap kecamatan secara ilmiah.

Senada dengan hal tersebut, Dadan Hindayana membeberkan angka-angka strategis yang menunjukkan betapa besarnya aliran dana yang masuk ke desa-desa.

Saat ini, Jember telah mengoperasikan 207 unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dari target 400 unit, di mana setiap satu unit mendapatkan kucuran dana sekitar Rp1 miliar setiap bulannya.

Menariknya, 70 persen dari anggaran tersebut atau setara Rp145 miliar per bulan saat ini, diwajibkan untuk belanja bahan baku kepada petani, peternak, dan UMKM setempat.

Ini berarti, uang negara benar-benar “berhenti” dan berputar di tengah masyarakat lokal, bukan terserap ke distributor besar di luar daerah.

“Uang itu berputar di Jember,” ujarnya.

Namun, di balik optimisme ekonomi tersebut, BGN tetap memasang standar disiplin yang sangat tinggi.

Dadan memberikan peringatan keras bahwa pihaknya telah menghentikan operasional 58 unit pelayanan di daerah lain yang dianggap tidak memenuhi standar fasilitas dan SOP.

Pengawasan berlapis dilakukan untuk menjamin kualitas menu harian, bahkan masyarakat diminta ikut berperan aktif sebagai pengawas melalui dokumentasi foto.

“Kami siapkan sistem pengawasan berlapis. Peran serta masyarakat juga penting untuk memantau kualitas menu harian melalui dokumentasi foto,” tutur Dadan.

Continue Reading

ADVERTORIAL

Tekan Gejolak Harga LPG 3 Kg, Bupati Jember Minta Warga Laporkan Pangkalan Nakal

DETAIL.ID

Published

on

Bupati Jember, Muhammad Fawait. (Foto: Dok/Diskominfo Jember)

DETAIL.ID, Jember – Pemerintah Kabupaten Jember melakukan langkah preventif guna menjaga stabilitas harga dan stok LPG 3 kilogram yang sempat memicu keresahan warga di berbagai titik.

Melalui koordinasi intensif dengan Pertamina Patra Niaga, Pemkab Jember memastikan akan mengawal distribusi gas melon tersebut agar tetap tepat sasaran dan sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET).

Bupati Jember, Muhammad Fawait atau Gus Fawait, mengungkapkan bahwa persoalan di lapangan saat ini didominasi oleh praktik penjualan di atas harga resmi yang dilakukan oleh oknum pangkalan.

Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan membiarkan masyarakat kecil dirugikan oleh spekulasi harga yang tidak berdasar.

“Yang membuat resah bukan sekadar stok, tapi harga. Banyak pangkalan menjual di atas HET. Kalau hanya sanksi administratif, itu terlalu ringan,” tutur Gus Fawait.

Ia juga menginstruksikan masyarakat untuk aktif melakukan pengawasan mandiri.

“Kalau ada pangkalan menjual di atas Rp18.000, tolong laporkan. Itu sudah melanggar aturan pemerintah. Kami ingin memastikan harga di pangkalan sesuai ketentuan. Maksimal Rp18.000, tidak boleh lebih,” katanya.

Pihak Pertamina Patra Niaga turut memberikan dukungan penuh terhadap langkah tegas Pemerintah Kabupaten.

Pertamina memastikan tidak akan ragu untuk memutus rantai distribusi pangkalan yang terbukti melakukan pelanggaran berat demi menjaga integritas penyaluran subsidi energi.

“Menjual di atas HET adalah pelanggaran berat. Sanksi terberatnya pemutusan hubungan usaha atau penutupan pangkalan,” ucap Ahad Rahedi dari Pertamina Patra Niaga.

Continue Reading

ADVERTORIAL

Gus Fawait Bidik Pengentaskan Kemiskinan di Kawasan Hutan dan Perkebunan Jember

DETAIL.ID

Published

on

Forum Kompas.com Talks di Universitas Jember, Senin (13/4/2026). (Foto: DETAIL/Dyah Kusuma)

DETAIL.ID, Jember – Bupati Jember, Muhammad Fawait, menetapkan kawasan hutan dan perkebunan sebagai titik kritis penanganan kemiskinan saat menjadi narasumber forum Kompas.com Talks di Universitas Jember, Senin, 13 April 2026.

Forum yang berlangsung di Gedung Soedjarwo itu dihadiri akademisi dan pemangku kepentingan.

Diskusi mengulas persoalan kemiskinan di wilayah lahan produktif yang belum tertangani optimal.

Gus Fawait menyebut kemiskinan di Jember masih menjadi persoalan dalam satu dekade terakhir meski angkanya menunjukkan tren penurunan.

Ia menguraikan, wilayah pinggir hutan dan perkebunan kini menjadi fokus utama intervensi.

“Kemiskinan di kawasan pinggir hutan dan kebun menjadi tantangan utama hari ini,” kata Fawait.

Ia menyampaikan target pengentasan kemiskinan ekstrem pada 2029 dengan mendorong keterlibatan berbagai pihak.

Menurutnya, keberadaan BUMN seperti PTPN dan Perhutani perlu diarahkan untuk mendukung upaya tersebut.

“Harapannya sama, zero kemiskinan ekstrem pada 2029, dan Jember sedang berikhtiar ke arah itu,” ucapnya.

Gus Fawait menilai potensi program hutan sosial dengan luasan puluhan ribu hektare dapat dimanfaatkan untuk menekan kemiskinan ekstrem.

“Jika dikelola tepat, hutan sosial bisa menekan angka kemiskinan ekstrem secara signifikan,” ujarnya.

Ia menjelaskan kategori miskin ekstrem merujuk pada masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan harian.

Ia memperkirakan puluhan ribu kepala keluarga berpotensi keluar dari kategori tersebut melalui intervensi yang tepat.

Gus Fawait juga mengulas perlunya distribusi lahan dan kesempatan kerja di kawasan perkebunan agar berpihak pada masyarakat sekitar.

“Prioritas harus diberikan kepada warga miskin ekstrem di sekitar hutan dan kebun,” ucapnya.

Ia menilai lahan tidur milik perusahaan dapat dimanfaatkan untuk mendorong ekonomi sektor informal, namun pemerintah daerah belum sepenuhnya dilibatkan dalam program kehutanan sosial.

“Kami berharap ada koordinasi kuat agar program tepat sasaran dan berbasis data,” katanya.

Sementara itu, Guru Besar FEB Universitas Jember, Prof Muhammad Zainuri, menilai persoalan utama terletak pada kurangnya kolaborasi antar pihak.

“Program sudah ada, tapi berjalan sendiri-sendiri tanpa koneksi,” ujarnya.

Ia menguraikan pentingnya integrasi kebijakan, digitalisasi data, serta penerapan reward dan punishment agar program berjalan efektif.

Ia juga mengingatkan agar bantuan tidak bersifat karitatif semata, melainkan mendorong pemberdayaan berkelanjutan.

“Kolaborasi yang solid membuka peluang percepatan pengentasan kemiskinan di Jember dalam beberapa tahun ke depan,” tuturnya.

Continue Reading
Advertisement Seedbacklink
Advertisement Seedbacklink

Dilarang menyalin atau mengambil artikel dan property pada situs