Connect with us
Advertisement

NASIONAL

Wawancara Keuangan Orang Tua Siswa Baru SMA Kolese De Britto: Menyamakan Persepsi, Menguatkan Kolaborasi dengan Murah Hati untuk Pendidikan

DETAIL.ID

Published

on

Romo Rektor Agustinus Sugiyo Pitoyo, SJ "memberikan pemaparan dan penjelasan keuangan subsidi silang pada calon orang tua siswa 2026/2027. (ist)

DETAIL.ID, Yogyakarta – SMA Kolese De Britto Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan wawancara keuangan bagi orang tua calon siswa baru Tahun Ajaran 2026/2027 pada Sabtu–Minggu, 24–25 Januari 2026. Kegiatan ini menjadi salah satu tahapan penting dalam proses penerimaan siswa baru, yang tidak semata bersifat administratif, tetapi juga edukatif dan reflektif dalam semangat pendidikan Kolese De Britto.

Pada prinsipnya, wawancara keuangan bertujuan untuk menyamakan persepsi antara pihak sekolah dan orang tua terkait pembiayaan pendidikan. Kesamaan pemahaman ini diharapkan dapat menjadi dasar yang kuat bagi terbangunnya kerja sama dan kolaborasi yang sehat, terbuka, dan berkelanjutan demi mendukung proses pendampingan serta perkembangan anak secara optimal.

Kegiatan wawancara dibuka dan diawali secara bersama di aula SMA Kolese De Britto dengan pemaparan dari Rektor Kolese De Britto, Romo Agustinus Sugiyo Pitoyo, SJ. Dalam penjelasannya, Romo Pitoyo menegaskan bahwa pembiayaan sekolah tidak dapat dipandang sekadar sebagai kewajiban finansial, melainkan sebagai bentuk partisipasi orang tua dalam misi pendidikan yang dijalankan bersama yayasan dan sekolah. Kerja sama yang dilandasi kepercayaan, keterbukaan, dan semangat kebersamaan menjadi fondasi utama agar proses pendidikan dapat berjalan dengan baik.

Romo Pitoyo juga menjelaskan bahwa sistem pembiayaan di SMA Kolese De Britto menggunakan prinsip “subsidi silang” (solidaritas). Dalam sistem ini, keluarga yang memiliki kemampuan lebih diajak untuk berbagi dari kelebihannya, sementara keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi akan mendapatkan dukungan dan subsidi. Mekanisme ini mencerminkan nilai dasar yang dihidupi oleh Kolese De Britto, yakni “man for and with others”, di mana pendidikan menjadi ruang pembelajaran solidaritas, keadilan sosial, dan kepedulian terhadap sesama.

Terlebih pada tahun 2028, SMA Kolese De Britto akan memperingati Dasa Windu (80 tahun), sebagai momentum berkat Tuhan atas lembaga ini mendidik generasi bangsa. Oleh karena itu, perbaikan dan pengembangan fasilitas sangat diperhatikan untuk menunjang proses dan dinamika pendampingan anak dalam pembelajaran dengan membangun rumah studi di Laboratorium Alam yang terletak di Pambregan, Kadisobo, Turi, Sleman Yogyakarta dan pembangunan ini selesai pada Juni tahun ini.

Kemudian di kampus SMA Kolese De Britto juga akan dibangun Gedung Dasa Windu yang peruntukannya sebagai pengembangan ruang pembelajaran yang memadai. Oleh karena itu pada kesempatan yang baik ini, Romo Pitoyo mengajak dan berharap kepada para calon orang tua siswa 2026/2027 untuk bermurah hati sesuai kemampuan demi terciptanya gedung baru ini.

Selanjutnya, Kepala SMA Kolese De Britto Yogyakarta, R. Arifin Nugroho, S.Si., M.Pd., menyampaikan tentang visi, misi dan program pendampingan yang berlandaskan pada nilai serta spirit Ignatian. Dalam pemaparannya juga disampaikan mengenai kebutuhan pembiayaan sekolah dalam mendukung berbagai program pendidikan.

Suasana pertemuan diaula yang santai dan menarik. (ist)

Suasana pertemuan diaula yang santai dan menarik. (ist)

Arifin menegaskan bahwa dana pendidikan digunakan untuk menunjang program akademik, pendampingan personal anak, kegiatan formasi karakter, pengembangan minat dan bakat, serta berbagai program yang mendukung pertumbuhan anak secara utuh, baik secara intelektual, personal, sosial, maupun spiritual.

Harapan Kepala Sekolah, dengan keterlibatan orang tua dalam memahami dan mendukung pembiayaan sekolah merupakan bagian dari komitmen bersama dalam mendampingi proses tumbuh kembang anak. Pendidikan di Kolese De Britto tidak hanya berfokus pada hasil akademik, tetapi juga pada pembentukan pribadi yang berintegritas, berhati nurani benar, serta memiliki kepekaan sosial.

Setelah sesi pembukaan bersama di aula, kegiatan dilanjutkan dengan wawancara keuangan secara personal. Setiap orang tua calon siswa bertemu dengan dua orang tim wawancara yang terdiri dari perwakilan yayasan dan didampingi oleh guru. Dalam suasana dialogis dan terbuka, orang tua dan pihak sekolah berdiskusi untuk menyamakan persepsi mengenai kemampuan dan kebutuhan pembiayaan pendidikan.

Melalui ruang dialog ini, diharapkan tercipta kesepahaman yang jujur dan saling percaya, sehingga orang tua dan sekolah dapat berjalan bersama dalam mendampingi perkembangan anak. Wawancara keuangan tidak dimaknai sebagai proses seleksi, melainkan sebagai sarana komunikasi dan kolaborasi demi terwujudnya pendidikan yang adil, berkeadilan sosial, dan berpihak pada perkembangan setiap anak.

Melalui kegiatan wawancara keuangan ini, SMA Kolese De Britto Yogyakarta menegaskan komitmennya untuk membangun pendidikan yang inklusif, berkeadilan, dan berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan, sehingga pembiayaan sekolah tidak dikatakan atau disebut mahal, akan tetapi sesuai dengan ekonomi orang tua dan tentunya sangat sesuai dengan pendampingan Pendidikan yang diberikan pada anak.

Dialog pewawancara dengan calon orang tua siswa. (ist)

Dialog pewawancara dengan calon orang tua siswa. (ist)

Pada akhirnya sekolah berharap, dengan terjalinnya kesepahaman dan kolaborasi yang kuat antara orang tua, sekolah, dan yayasan, proses pendidikan anak dapat berlangsung secara optimal demi membentuk generasi muda yang unggul dan berbelarasa demi kemulian Allah yang lebih besar, AMDG. (*)

Advertisement

NASIONAL

A Journey, Kontingen Pesparawi Provinsi Jambi Siap Berkompetisi

DETAIL.ID

Published

on

DETAIL.ID, Jambi – Paduan Suara Kontingen PESPARAWI Provinsi Jambi menggelar konser pra-kompetisi bertajuk “A Journey” sebagai bagian dari persiapan menuju Pesta Paduan Suara Gerejawi Tingkat Nasional ke-14 tahun 2026 di Manokwari, Papua Barat. Konser yang diselenggarakan pada Senin, 1 Juni 2026 di Gedung Pertunjukan Taman Budaya Jambi (TBJ) ini menjadi wadah bagi para anggota untuk menampilkan hasil latihan dan persiapan yang telah dilakukan selama hampir 2 tahun.

Acara dibuka dengan penampilan Paduan Suara Musik Gerejawi Nusantara (MGN) yang membawakan lagu berjudul ‘Bagaikan Sungai Batanghari’ buah karya Slamat Siregar salah satu konduktor muda LPPD Provinsi Jambi yang juga adalah pelatih dan dirigen. Lagu ini dibuat khusus untuk dinyanyikan pada tangkai lomba Musik Gerejawi Nusantara. Persembahan choir acappela ini semakin apik karena juga diiringi oleh tarian penari-penari latar.

Ketua Panitia Keberangkatan Kontingen, Djokas Siburian menyampaikan bahwa “A Journey” bukan sekadar konser, melainkan representasi dari perjalanan panjang yang penuh proses, latihan, tenaga, dan cerita di balik persiapan menuju Pesta Iman umat Kristus dari seluruh penjuru nusantara yang digelar mulai 18 sampai 29 Juni 2026. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah hadir dan mendukung terselenggaranya konser tersebut.

Konser dibagi menjadi tiga sesi utama. Sesi pertama Michelle Valerie Siahaan dengan lagu ‘Puji Tuhan Selalu’ dan Kathryn Elisa Butarbutar dengan lagu ‘Puji Dia, Haleluya’. Mereka berdua mendapat kepercayaan sebagai peserta Solo Anak usia 7-10 tahun dan 11-14 tahun. Sesi ini ditutup dengan penampilan energik Tim Vokal Grup yang membawakan lagu ‘Pujianku BagiMu’. Tim yang dilatih oleh Steven Siagian ini benar-benar menyajikan pujian yang full colour baik dari sisi aransemen maupun komposisi.

Tidak hanya menampilkan penampilan lagu-lagu lomba saja, konser Journey juga dimeriahkan oleh sejumlah pengisi acara lainnya. Salah satunya adalah penari-penari dari GBI MHCC dan penampilan teatrikal dari Bengkel Sastra Resentra dan Sanggar Cemara by Limaniart. Mereka ikut membuat suasana pujian menjadi semakin hidup dan bermakna.

Pada sesi kedua tampil Paduan Suara Wanita yang dipimpin oleh Tony Tunggul Wirawan Siahaan membawakan lagu ‘Pujilah Tuhan’ dilanjutkan dengan penampilan Boy Simanungkalit dengan ‘Slalu PujiMu’ dan Abigail Parhusip membawakan lagu ‘Ku Mau MemujiMu’. Lagu-lagu tangkai lomba kategori solo ini dinyanyikan dengan gaya seriosa diiringi oleh Putri Simbolon sebagai pianis.

Sesi ketiga ditutup dengan penampilan Paduan Suara Pria dengan dirigen Tony Tunggul Wirawan Siahaan membawakan lagu berjudul ‘Haleluya’. Lagu ini merupakan lagu pilihan terikat yang dinyanyikan di lomba nanti.
Sesi terakhir konser menyajikan 3 lagu, diawali dengan penampilan Paduan Suara Remaja/Pemuda Campuran dengan lagu ‘Petrus’. Slamat Siregar dan tim berhasil membuat emosi penonton masuk dalam lagu karya Z Randall Stroope ini.

Sebelum diakhiri dengan lagu penutup, panitia sepertinya sengaja meletakkan Paduan Suara Dewasa Campuran pada bagian akhir sesi ketiga. Tim yang dikondukteri oleh Hasudungan Tambunan ini membawakan lagu ‘Dies Irae’ karya Michael John Trota. Lagu ini cukup sukses dibawakan ditandai dengan tepuk tangan penuh antusias dari penonton yang berjumlah lebih kurang 300 orang. Sebelum ditutup penonton diberikan ‘bonus’ lagu daerah Jambi ‘Biduk Sayak.’

Melalui konser pra-kompetisi ini, Ketua LPPD Provinsi Jambi, Abraham Tambun menyampaikan bahwa tujuan Konser ini meliputi kesiapan teknis, musikalitas serta membangun kepercayaan diri seluruh anggota kontingen sebelum tampil di ajang Pesparawi Nasional. (*)

Continue Reading

NASIONAL

Tradisi Merayakan Kelulusan Siswa Kelas 12 SMA Kolese De Britto Long March ke Tugu Jogja

DETAIL.ID

Published

on

DETAIL.ID, Yogyakarta – Di tengah riuh tepuk tangan dan tatapan haru para orang tua, Aula SMA Kolese De Britto pada Sabtu, 9 Mei 2026 menjadi saksi sebuah perjalanan panjang yang mencapai titik pengukuhan. Namun, kelulusan di De Britto tahun ini bukan sekadar tentang akhir masa sekolah. Ia menjelma menjadi sebuah perayaan tentang api: api mimpi, pengabdian, dan harapan yang siap dinyalakan ke dunia.

Mengusung tema “Tersemai Biji Menjadi Api: Pergilah dan Nyalakanlah Dunia”, pengukuhan siswa kelas XII Tahun Ajaran 2025/2026 terasa begitu hidup sekaligus reflektif. Tema itu terinspirasi dari pesan Santo Ignatius Loyola kepada Fransiskus Xaverius, “Ite, inflammate omnia” (pergilah dan nyalakanlah segalanya). Sebuah ajakan agar para lulusan tidak berhenti menjadi pribadi cerdas, tetapi juga menjadi manusia yang membawa terang bagi sesama.

Suasana khidmat langsung terasa sejak prosesi pembukaan. Iring-iringan memasuki aula diawali cucuk lampah dengan tarian tradisional, disusul pembawa bendera Merah Putih, bendera JB, dan bendera Tut Wuri Handayani. Para pembawa papan kelas kemudian berjalan memasuki aula, diikuti seluruh siswa kelas XII bersama wali kelas masing-masing dan direksi serta ketua pengurus yayasan.

Di balik langkah-langkah itu tersimpan kisah perjuangan selama tiga hingga empat tahun: jatuh bangun belajar, proses menemukan jati diri, hingga tumbuh menjadi pribadi yang lebih matang.

Dalam laporan pendidikan, Robertus Arifin Nugroho menegaskan bahwa pendidikan di De Britto bukan hanya soal akademik. Pendidikan di sekolah ini dirancang sebagai proses formasi manusia seutuhnya. Kelas X menjadi masa adaptasi, kelas XI sebagai masa sosialisasi, dan kelas XII menjadi masa internalisasi nilai hidup melalui berbagai pengalaman seperti LKTD, live in sosial, dan retret.

Nilai-nilai yang selama ini ditanamkan terangkum dalam semangat 1L + 5C: Leadership, Compassion, Competence, Conscience, Commitment, dan Consistency. Nilai-nilai itulah yang diharapkan tetap hidup dalam diri para lulusan ketika mereka melangkah ke dunia yang lebih luas.

Perwakilan pemerintah, R. Hery Subagio, S.E., M.E., selaku Panewu Anom/Sekretaris Camat, menyebut De Britto sebagai sekolah besar dengan sejarah panjang dalam membangun keunggulan akademik sekaligus karakter. Menurutnya, budaya khas De Britto menjadi fondasi penting agar para lulusan mampu berkembang dan mengabdi bagi bangsa dan negara.

Sementara itu, sambutan orang tua yang diwakili Ch Tri Merry Viviana Purwiantivi terasa begitu personal dan menyentuh. Ia mengingatkan para siswa agar tidak melupakan tanggung jawab hidup dan terus menghadirkan kebaikan bagi dunia. Sebab pada akhirnya, keberhasilan seseorang tidak diukur hanya dari gelar atau pencapaian, melainkan dari seberapa besar manfaat yang bisa dibagikan kepada sesama.

Pesan serupa juga muncul dari perwakilan siswa, Daniel Edhi Wicaksono. Ia menegaskan bahwa lulusan De Britto diharapkan tetap menghidupi semangat man for and with others, hadir, berjalan, dan berjuang bersama sesama demi kehidupan yang lebih manusiawi.

Ketua Pengurus Yayasan, Romo Agustinus Sugiyo Pitoyo, SJ menambahkan bahwa kepandaian tanpa kepedulian akan kehilangan makna. Menurutnya, kecerdasan sejati justru menemukan nilainya ketika digunakan untuk melayani dan memperjuangkan sesama.

Kebanggaan atas kelulusan 100 persen siswa kelas XII juga disampaikan Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Kepala Dinas Pendidikan, Mustadi, S.Sos., M.M. Ia berharap para lulusan De Britto terus berkembang sesuai potensi masing-masing dan mampu menjadi pribadi yang berguna bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Momen paling unik sekaligus membekas hadir setelah acara resmi selesai. Para orang tua kelas XII ini mengadakan bantingan untuk perayaan syukuran, ramah tamah makan bersama seluruh yang hadir dalam acara pengukuhan di halaman sekolah.

Setelah itu, sekitar pukul 15.00 WIB, para siswa melaksanakan long march menuju Tugu Yogyakarta. Bukan sekadar konvoi perayaan kelulusan, perjalanan itu diisi dengan aksi bakti sosial membagikan sekitar 200 paket sembako kepada tukang becak, juru parkir, dan keluarga prasejahtera yang mereka jumpai di sepanjang perjalanan. Paket-paket tersebut merupakan hasil gotong royong para siswa dan orang tua.

Di situlah kelulusan De Britto menemukan maknanya yang paling nyata: bersyukur dengan berbagi. Perjalanan menuju Tugu juga menjadi simbol keberagaman para siswa. Mereka datang dari berbagai penjuru Nusantara, hidup bersama di Yogyakarta, lalu bertumbuh dalam satu rumah bernama De Britto.

“De Britto itu Indonesia mini,” ujar salah satu orang tua. “Ketika mereka berjalan menuju Tugu, itu menjadi ungkapan syukur bahwa mereka diterima, berkembang, dan menemukan diri mereka di Jogja.” Sesampainya di Tugu, para siswa menyanyikan Mars De Britto, lalu kembali ke sekolah. Sederhana, tetapi penuh makna, “Jogja Pancen Istimewa” dan “De Britto, Bertumbuh untuk Berbagi”.

Pengukuhan ini sekaligus menjadi penanda bahwa para lulusan kini resmi menjadi bagian dari Ikatan Alumni Kolese De Britto melalui penyematan pin alumni oleh presiden alumni. Sebuah simbol bahwa relasi mereka dengan almamater tidak berhenti setelah kelulusan. Sebab bagi De Britto, kelulusan bukan tentang selesai belajar. Kelulusan adalah saat benih-benih yang telah lama dirawat mulai berubah menjadi api-api yang diharapkan mampu menghangatkan, menerangi, dan menyalakan dunia. (*)

Continue Reading

NASIONAL

Kolaborasi Teater SMA De Britto dan Pangudi Luhur: “Menimba Makna di Sumur Tanpa Dasar”

DETAIL.ID

Published

on

DETAIL.ID, Yogyakarta – Semangat kolaborasi, refleksi, dan pembentukan karakter generasi muda akan mewarnai panggung seni di Taman Budaya Yogyakarta pada Rabu, 13 Mei 2026 pukul 19.00 WIB. SMA Kolese De Britto bersama SMA Pangudi Luhur Yogyakarta menghadirkan pementasan teater kolaboratif bertajuk “Sumur Tanpa Dasar”, sebuah karya klasik dari Arifin C. Noer yang sarat makna sosial dan kemanusiaan.

Dalam pementasan teater ini, juga akan didukung dan dimeriahkan oleh penampilan-penampilan dari sekolah-sekolah SMP Feeder yang menunjukkan performance kekhasan serta keunggulan masing-masing.

Pementasan ini tidak sekadar menjadi ajang pertunjukan seni, melainkan ruang pembelajaran hidup yang dialogis dan reflektif bagi para murid SMA Kolese De Britto dan SMA Pangudi Luhur sendiri maupun SMP Feeder. Kehadiran SMP Feeder akan menambah semarak dengan penampilan pembuka, dalam merayakan kreativitas dan semangat berkesenian generasi muda.

Sebagai sekolah Katolik yang dikelola oleh para imam Jesuit, SMA Kolese De Britto berpegang pada semangat Ad Maiorem Dei Gloriam (demi kemuliaan Tuhan yang lebih besar). Visi sekolah ini adalah membentuk pemimpin pengabdi yang Pancasilais, dengan pendekatan pendidikan yang utuh melalui pedagogi Ignatian. Dalam konteks ini, teater menjadi salah satu sarana penting untuk membentuk karakter murid yang reflektif, kritis, dan berbelarasa.

Sementara itu, SMA Pangudi Luhur Yogyakarta dikenal sebagai institusi pendidikan Katolik yang menekankan nilai humanisme Kristiani. Sekolah berkomitmen untuk membentuk pribadi yang beriman, berintegritas, berbudaya, peduli terhadap keutuhan alam ciptaan dan tanggap terhadap kebutuhan zaman. Melalui kegiatan teater, para murid diajak tidak hanya mengasah kreativitas, tetapi juga memahami realitas kehidupan secara lebih mendalam dan manusiawi.

Kolaborasi kedua sekolah ini lahir dari kesadaran bahwa pendidikan di era modern tidak dapat berjalan secara terpisah. Di tengah derasnya arus digitalisasi dan budaya instan, teater hadir sebagai ruang kontemplatif yang mengajak generasi muda untuk berhenti sejenak, mendengarkan, dan merenungkan makna hidup.

Lakon “Sumur Tanpa Dasar” dipilih karena relevansinya yang kuat dengan kondisi kehidupan masa kini. Karya ini mengangkat tema-tema tentang kekuasaan, keserakahan, manipulasi, serta kehampaan eksistensial manusia. Melalui simbol “sumur tanpa dasar”, penonton diajak menyelami sisi terdalam kemanusiaan, tentang ambisi yang tak pernah usai dan pencarian makna yang kerap berujung pada kekosongan batin.
Dalam penggarapannya, pementasan ini tidak hanya menampilkan kritik sosial, tetapi juga menghadirkan pengalaman reflektif yang menyentuh kesadaran personal penonton. Pendekatan artistik yang digunakan menonjolkan kontras antara realitas luar dan pergulatan batin manusia, sehingga pesan yang disampaikan tidak berhenti pada alur cerita, melainkan menggugah perenungan yang lebih dalam.

Seluruh proses kreatif melibatkan murid dari kedua sekolah yang tergabung dalam ekstrakurikuler teater. Mereka menjalani rangkaian latihan intensif, mulai dari perencanaan produksi, pengelolaan waktu, hingga eksplorasi karakter. Proses ini didampingi oleh guru pembimbing serta praktisi teater berpengalaman, menjadikannya sebagai pengalaman belajar yang konkret dan bermakna.

Melalui kolaborasi ini, para murid tidak hanya belajar tentang seni peran, tetapi juga mengembangkan kemampuan bekerja sama, kepemimpinan, tanggung jawab, serta penghargaan terhadap keberagaman. Pementasan ini menjadi bukti bahwa pendidikan seni dapat menjadi medium efektif dalam membentuk karakter generasi muda yang utuh.
Lebih dari itu, pertunjukan ini diharapkan mampu menjadi ruang refleksi bagi masyarakat luas. Penonton diajak untuk melihat kembali realitas kehidupan tentang ambisi, kepemilikan, dan kehampaan, yang sering kali tersembunyi di balik kemapanan yang tampak.

Pementasan teater kolaboratif ini menjadi simbol bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga melalui pengalaman nyata yang hidup, dialogis, dan transformatif. Dengan semangat kebersamaan dan pencarian makna, SMA Kolese De Britto dan SMA Pangudi Luhur Yogyakarta menghadirkan sebuah karya yang tidak hanya layak ditonton, tetapi juga direnungkan. (*)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement Seedbacklink

Dilarang menyalin atau mengambil artikel dan property pada situs