Connect with us
Advertisement

NASIONAL

SMA De Britto Berdialog dengan Para Orang Tua Agar Tangguh dan Kolaboratif

DETAIL.ID

Published

on

Pengantar dari Romo Pitoyo selaku Rektor SMA Kolese De Britto. (ist)

DETAIL.ID, Yogyakarta – SMA Kolese De Britto Yogyakarta kembali menggelar pertemuan orang tua siswa untuk kelas X, XI, dan XII dalam tahun ajaran 2025/2026. Selama tiga hari berturut-turut, mulai 1–3 Oktober 2025 ini dibagi dalam tiga sesi. Dalam pertemuan ini, orang tua diajak masuk dalam ruang refleksi dan dialog mendalam melalui tema besar “Menjadi Orang Tua Tangguh dan Kolaboratif”.

Pertemuan orang tua siswa SMA Kolese De Britto tahun ajaran 2025/2026 diawali dengan pengantar dari Romo Agustinus Sugiyo Pitoyo, SJ, selaku Rektor SMA Kolese De Britto. Dalam pengantarnya, Romo Pitoyo menekankan pentingnya peran keluarga dalam mendampingi anak-anak di masa pertumbuhan dan juga menyampaikan informasi tentang pembangunan sarana prasarana gedung baru untuk rumah studi di laboratorium alam dan juga gedung kelas saat ini.

“Sekolah adalah rumah kedua bagi anak-anak kita, maka terkait sarana prasarana pendukung harus disediakan dengan baik, namun, rumah pertama tetaplah keluarga. Oleh karena itu, kolaborasi antara sekolah dan orang tua menjadi fondasi yang kokoh untuk membentuk pribadi yang tangguh. Tema kita hari ini, Menjadi Orang Tua Tangguh dan Kolaboratif, adalah undangan bagi kita semua untuk terus bersinergi dalam mendampingi putra-putra kita menuju kedewasaan,” kata Romo Pitoyo.

Setelah pengantar, acara dilanjutkan dengan sambutan Kepala Sekolah, Robertus Arifin Nugroho, S.Si., M.Pd. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa pertemuan orang tua bukan sekadar forum informasi, melainkan kesempatan membangun komitmen bersama.

“Pendidikan yang kami jalankan di Kolese De Britto berlandaskan spiritualitas Ignasian, yakni mendidik manusia muda menjadi pribadi yang cerdas, berhati nurani, peduli, dan berkomitmen. Namun, proses ini tidak akan optimal tanpa dukungan orang tua. Dengan kolaborasi, kita bisa menuntun para putra menjadi generasi yang berkarakter, tangguh, dan siap melayani,” ujar Arifin.

Agenda berikutnya adalah penjelasan kurikulum oleh Ibu F. Ratna Dwi Astuti, M.Pd., selaku Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum. Ratna memaparkan arah pembelajaran yang menekankan pada Kurikulum Merdeka, yang memberi ruang kebebasan bertanggung jawab kepada siswa untuk mengembangkan potensi sesuai minat dan bakat.

“Kurikulum Merdeka yang diterapkan di Kolese De Britto sejatinya sejalan dengan semangat pendidikan Yesuit yang memanusiakan manusia muda. Kami tidak hanya menekankan pencapaian akademik, tetapi juga keterampilan hidup, karakter, serta kemampuan reflektif. Kami ingin anak-anak mampu belajar secara kritis, kreatif, sekaligus memiliki empati dalam kehidupannya,” kata Ratna.

Selanjutnya, penjelasan kepamongan disampaikan oleh Romo Hugo Hadibowo, SJ. Ia menekankan bahwa pendidikan di De Britto tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga dalam kehidupan bersama melalui pendampingan pamong.

“Kepamongan adalah wajah khas pendidikan di Kolese De Britto. Kami tidak hanya mendidik dengan kata-kata, melainkan dengan kehadiran dan pendampingan nyata dalam keseharian siswa. Anak-anak didampingi dalam proses belajar, berorganisasi, hingga hidup bersama, agar para putra tumbuh menjadi pribadi yang matang, mandiri, dan penuh tanggung jawab,” ucap Romo Hugo.

Bagi SMA De Britto pertemuan ini bukan sekadar agenda rutin tahunan untuk penyampaian informasi akademik dan kepamongan, melainkan juga ruang perjumpaan yang meneguhkan kembali peran strategis orang tua sebagai mitra sekolah dalam mendampingi para putra. Dalam pertemuan ini juga, untuk lebih memberikan bekal pendampingan dan pendampingan dalam keluarga yang berdasarkan semangat Spiritualitas Ignasian, maka menghadirkan tiga narasumber imam Serikat Yesus (SJ). Dalam acara ini membahas pendampingan anak sesuai tahap perkembangan tiap jenjang yang menjadi arah dan tujuan SMA Kolese De Britto terkait; masa adaptasi di kelas X, masa sosialisasi di kelas XI, dan masa internalisasi di kelas XII. Oleh karena itu supaya para orang tua setiap angkatan bisa memahami dan mengerti serta bisa melaksanakan akan pendampingan berjenjang ini secara utuh dan optimal.

Hari Pertama – Examen Conscientiae untuk Orang Tua Kelas X

Suasana penuh kehangatan menyelimuti Aula Kolese De Britto pada 1 Oktober 2025 saat Romo Evodius Sapto Jati Nugroho, SJ menyampaikan materi tentang Examen Conscientiae. Ia mengajak para orang tua kelas X untuk melatih diri dalam refleksi rohani sehari-hari sebagai bekal mendampingi putra-putra mereka yang tengah beradaptasi dengan dunia SMA.

IFFP Kelas X Romo Sapto. (ist)

IFFP Kelas X Romo Sapto. (ist)

“Examen adalah latihan sederhana, namun menyentuh hati. Melalui refleksi, kita diajak menyadari kehadiran Allah dalam hidup sehari-hari. Orang tua yang setia berlatih Examen akan lebih peka dalam memahami anak-anaknya,” kata Romo Sapto.

Materi ini sekaligus menegaskan kembali visi pendidikan Kolese De Britto yang menekankan pembentukan pribadi berhati nurani (conscience). Dengan hati yang jernih, orang tua diharapkan mampu membangun komunikasi yang lebih sehat dan mendukung pertumbuhan putra-putra mereka secara utuh.

Hari Kedua – Formasi Sosial dan Live-in bagi Orang Tua Kelas XI

Pada 2 Oktober 2025, Romo Tiro Angelo Supit-Daenuwy, SJ membawakan materi tentang Formasi Sosial dalam Pendidikan Kolese. Fokusnya adalah pentingnya pengalaman sosial, terutama melalui program Live-in Sosial yang sudah menjadi bagian integral dari tradisi pendidikan di De Britto.

“Anak-anak kita tidak hanya belajar di dalam kelas. Mereka perlu mengalami langsung kehidupan masyarakat, melihat realitas, merasakan keterbatasan, dan belajar solidaritas. Dari situ tumbuh kepedulian yang tulus dan keberanian untuk melayani,” tutur Romo Tiro.

Bagi orang tua kelas XI, materi ini menjadi pengingat bahwa pembentukan kepedulian sosial tidak bisa hanya diserahkan pada sekolah. Orang tua perlu berkolaborasi dengan mendukung, mendorong, dan memberi ruang bagi putra-putra mereka untuk berjumpa dengan realitas sosial yang sesungguhnya.

Hari Ketiga – Diskresi dan Pengambilan Keputusan bagi Orang Tua Kelas XII

Puncak pertemuan berlangsung pada 3 Oktober 2025, di mana Romo Paulus Suparno, SJ memaparkan materi tentang Diskresi (Pengambilan Keputusan). Topik ini dirasa sangat relevan bagi orang tua kelas XII yang anak-anaknya tengah berada pada fase krusial: menentukan arah masa depan, baik studi lanjut maupun pilihan panggilan hidup. Romo Paul mengaitkan diskresi dengan konsep kebebasan sejati dalam pendidikan.

Pada fase ini, para siswa tengah berada pada masa krusial untuk menentukan arah masa depan, baik studi lanjut maupun pilihan panggilan hidup. Diskresi dipahami bukan sekadar memilih secara rasional, melainkan proses reflektif yang melibatkan aspek intelektual, emosional, dan spiritual untuk menemukan keputusan yang matang dan bertanggung jawab.

Menurut Romo Paul, diskresi sejati selalu terkait dengan kebebasan dalam pendidikan, yaitu kebebasan yang bertanggung jawab: bebas dari tekanan, prasangka, dan ambisi semu, serta bebas untuk mengembangkan potensi dan mengikuti panggilan hidup. Orang tua didorong untuk menjadi pendamping, bukan pengendali, dengan cara mendengarkan, memberi ruang eksplorasi, memfasilitasi informasi, dan mengarahkan anak agar keputusan yang diambil selaras dengan nilai keluarga serta visi pendidikan Kolese De Britto. Melalui diskresi, anak diajak membuat pilihan yang tidak hanya praktis, tetapi juga bermakna dan memanusiakan, sehingga mampu menapaki jalan hidupnya dengan merdeka, berhati nurani, dan bertanggung jawab. (*)

Advertisement

NASIONAL

Perayaan Kemerdekaan Menuju Masa Depan: De Britto Membuka Perjalanan Dasawindu 2028

DETAIL.ID

Published

on

DETAIL.ID, Yogyakarta – Semangat kemerdekaan, rasa syukur, kebersamaan, dan harapan akan masa depan berpadu dalam rangkaian pembukaan perjalanan Dasawindu SMA Kolese De Britto Yogyakarta menuju 80 tahun pada 2028. Momentum tersebut dirangkai dalam berbagai kegiatan yang berlangsung sejak peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia hingga Open House De Britto, Jumat–Sabtu, 21–22 Agustus 2026.

Rangkaian tersebut tidak sekadar menjadi perayaan seremonial. Di balik upacara, kenduri, Ekaristi, peluncuran logo, peletakan batu pertama, pentas seni, pameran perguruan tinggi, dan Open House, tersimpan satu benang merah: bagaimana sebuah lembaga pendidikan menjaga tradisi sekaligus berani menatap masa depan.

Perjalanan itu sesungguhnya telah dimulai dengan Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Upacara menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak pernah berdiri terpisah dari perjalanan bangsa. Kemerdekaan yang diwariskan para pendahulu membawa tanggung jawab baru bagi generasi muda: mengisinya dengan kompetensi, keberanian, kepedulian, dan kemampuan membaca perubahan zaman.

Semangat kebangsaan itu kemudian menemukan bentuk yang lebih dekat melalui kenduri bersama warga sekitar sekolah. Tradisi sederhana tersebut menjadi ruang perjumpaan antara sekolah dan masyarakat. De Britto tidak hanya hadir sebagai institusi pendidikan di tengah lingkungan, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat di sekitarnya.

Selanjutnya pada 19 Agustus 2026, bertepatan dengan peringatan HUT ke-78 SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Suasana menjadi lebih reflektif dengan Ekaristi HUT ke-78 SMA Kolese De Britto. Dalam perayaan syukur tersebut, perjalanan 78 tahun sekolah ditempatkan bukan hanya sebagai catatan sejarah, melainkan sebagai kesempatan untuk melihat kembali pengalaman, keberhasilan, kekurangan, dan panggilan pendidikan yang terus berkembang. Dari momentum tersebut, sekolah membuka perjalanan menuju Dasawindu 2028 dengan semangat Ex Traditio Ad Futurum, berangkat dari tradisi menuju masa depan.

Suasana kemudian beralih dalam satu penanda penting perjalanan menuju Dasawindu adalah peluncuran logo Dasawindu. Logo tersebut menjadi simbol dimulainya perjalanan tiga tahun menuju usia 80 tahun. Pada saat yang bersamaan penerimaan siswa baru (PSB) tahun ajaran 2027/2028 juga dibuka hingga 2 November. Bagi sekolah, Dasawindu bukan sekadar perayaan angka. Ia menjadi kesempatan untuk membaca kembali tradisi yang telah membentuk De Britto sekaligus memikirkan wajah sekolah pada masa yang akan datang.

Momentum tersebut semakin nyata melalui peletakan batu pertama pembangunan Gedung Dasawindu di sebelah utara lapangan sepak bola. Gedung tersebut direncanakan menjadi salah satu fasilitas penting bagi perkembangan sekolah, dengan ruang kelas, laboratorium, ruang guru, ruang audiovisual, ruang diskusi, serta berbagai fasilitas pendukung lainnya.

Koordinator Umum Dasawindu SMA Kolese De Britto, Filipus Dimas Darumurti mengatakan, pembangunan tersebut merupakan gagasan yang sebenarnya telah lama direncanakan dan baru mendapatkan momentum untuk direalisasikan menjelang usia 80 tahun. “Gagasan itu sudah sejak lama, tetapi baru direalisasikan pada momen 80 tahun atau Dasawindu ini. Maka, gedung yang akan dibangun di utara lapangan sepak bola itu kami namakan Gedung Dasawindu,” kata Dimas.

Jika gedung menjadi gambaran masa depan dalam bentuk fisik, maka Open House De Britto 2026 menghadirkan gambaran masa depan dalam bentuk yang lebih hidup: anak-anak dan remaja yang datang untuk belajar, mencoba, berkompetisi, berkarya, dan mengenali potensi dirinya.

Hari berikutnya pada, Jumat–Sabtu, 21–22 Agustus 2026, kompleks SMA Kolese De Britto di Jalan Laksda Adisucipto No. 161, Depok, Sleman, Yogyakarta, menjadi ruang perjumpaan bagi siswa, calon siswa, orang tua, guru, perguruan tinggi, lembaga pendidikan, dan masyarakat.

Melalui Open House, De Britto membuka pintunya lebih lebar. Pengunjung tidak hanya diajak melihat ruang kelas dan fasilitas sekolah, tetapi juga mengalami berbagai aktivitas yang menjadi bagian dari kehidupan pendidikan di De Britto. Lebih dari 30 perguruan tinggi hadir dalam ekspo pendidikan, disertai pameran ekstrakurikuler, talkshow, bazar, berbagai perlombaan, dan Ekspo Lembaga Pendidikan Katolik se-DIY.

Sebanyak 16 lembaga pendidikan Katolik dari jenjang pendidikan dasar hingga menengah turut berpartisipasi. Kehadiran mereka menjadi salah satu wujud konkret semangat kolaborasi yang berkembang melalui Sinode Pendidikan Keuskupan Agung Semarang (KAS) 2023–2024. “Dalam Sinode Pendidikan, salah satunya bagaimana lembaga-lembaga pendidikan Katolik bisa saling berkolaborasi,” kata Dimas.

Kolaborasi itu memperlihatkan bahwa setiap sekolah memiliki kekhasan, program, dan cara masing-masing dalam mendampingi generasi muda. Bagi masyarakat, ekspo tersebut sekaligus membuka ruang untuk mengenal lebih dekat wajah pendidikan Katolik di Yogyakarta.

Semarak Open House juga terasa melalui berbagai kompetisi. Anak-anak TK dan SD mengikuti lomba mewarnai dan menggambar. Para pelajar menunjukkan kemampuan bernyanyi melalui lomba paduan suara, sementara peserta SMP mengikuti Leadership Legacy Challenge yang menempatkan kepemimpinan sebagai bagian penting dari proses belajar.

Pada kompetisi mewarnai TK, juara pertama diraih Alexa Galenka Kurniawati, sedangkan kategori SD dimenangkan Nayanika Alisha. Lomba menggambar SD menempatkan Samantha Ashera Anarya sebagai juara pertama. Dalam lomba paduan suara, SD Kanisius Sengkan menjadi juara pertama jenjang SD dan SMP Maria Immaculata Marsudirini menjadi juara pertama jenjang SMP.

Sementara itu, SMP Kristen Kalam Kudus Yogyakarta menjadi juara pertama Leadership Legacy Challenge, disusul SMP Maria Assumpta dan SMP Kanisius Kalasan. Penghargaan Best Leader diberikan kepada Dominicus Dandy Edwit Wijaya Putra.

Di tengah berbagai kegiatan tersebut, pentas Band De Britto menjadi salah satu ruang ekspresi siswa. Musik menjadi bahasa yang menyatukan kegembiraan, kreativitas, dan keberanian tampil. Dari panggung itu terlihat bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung melalui buku dan ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman berkarya dan bekerja bersama.

Pada akhirnya, rangkaian pembukaan Dasawindu dan Open House 2026 memperlihatkan bahwa masa depan tidak pernah lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari sejarah, tradisi, pengalaman, dan keberanian untuk berefleksi.

Karena itu, perjalanan menuju Dasawindu 2028 bukan semata-mata perjalanan menuju usia 80 tahun. Ia merupakan perjalanan untuk bertanya kembali: De Britto hendak menjadi sekolah seperti apa, dan manusia seperti apa yang hendak dibentuknya?

Pertanyaan itu terasa nyata di tengah keramaian Open House. Ada anak-anak yang untuk pertama kalinya memasuki halaman sekolah, orang tua mulai membayangkan pendidikan bagi para putranya, remaja yang mencoba berbagai kegiatan, serta siswa De Britto yang memperkenalkan sekolahnya kepada para pengunjung.

Di situlah makna Dasawindu menemukan bentuknya, bahwa tradisi bukan sesuatu yang hanya disimpan untuk dikenang, melainkan warisan yang harus diolah agar tetap relevan bagi zaman. Masa depan pun bukan sesuatu yang sekadar ditunggu, melainkan sesuatu yang mulai dibangun hari ini.

Dimulai dari upacara kemerdekaan, kenduri bersama warga, Ekaristi syukur, peluncuran logo, peletakan batu pertama Gedung Dasawindu, pentas musik, pameran perguruan tinggi, hingga Open House, SMA Kolese De Britto sedang menapaki satu perjalanan panjang yaitu, merawat apa yang baik dari masa lalu, membaca tantangan zaman, dan menyiapkan generasi yang berani melangkah menuju masa depan. (*)

Continue Reading

NASIONAL

SMA Kolese De Britto Buka Penerimaan Siswa Baru 2027/2028, Menandai 78 Tahun Perjalanan Pendidikan dan Langkah Menuju Dasawindu 2028

DETAIL.ID

Published

on

DETAIL.ID, Yogyakarta – Bertepatan dengan peringatan HUT ke-78 SMA Kolese De Britto Yogyakarta, sekolah yang berdiri sejak 19 Agustus 1948 ini secara resmi membuka Penerimaan Siswa Baru (PSB) Tahun Ajaran 2027/2028. Pembukaan PSB menjadi bagian penting dari momentum ulang tahun sekolah sekaligus menandai dimulainya langkah baru menuju Dasawindu 2028, sebuah tonggak delapan dasawarsa perjalanan pendidikan SMA Kolese De Britto.

Momentum ini bukan sekadar pembukaan penerimaan siswa baru. Lebih dari itu, penerimaan siswa baru menjadi pintu masuk bagi generasi muda yang ingin mengalami pendidikan khas De Britto: pendidikan yang memadukan kemampuan akademik, pembentukan karakter, kepemimpinan, kebebasan yang bertanggung jawab, serta kepedulian terhadap sesama.

Sejak berdiri pada 19 Agustus 1948 di bawah asuhan Ordo Jesuit, De Britto memiliki tradisi panjang dalam mendidik kaum muda menjadi pribadi yang berkarakter. Dalam proses penerimaan siswa baru ini menegaskan bahwa pendidikan di De Britto tidak berhenti pada pencapaian akademis, tetapi juga memberi ruang luas bagi proses formasi nonakademis yang membantu siswa bertumbuh menjadi seorang pemimpin.

Karena itu, menjadi bagian dari De Britto berarti memasuki sebuah proses pendidikan yang mengajak siswa berani belajar dan berani tumbuh bersama. Proses tersebut diwujudkan melalui berbagai pengalaman pembentukan, mulai dari Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Latihan Kepanduan Tingkat Dasar (LKTD), Studi Ekskursi, Live-in Sosial, Orientasi Profesi hingga Retret. Setiap pengalaman dirancang agar siswa tidak hanya mengetahui sesuatu, tetapi juga mengalami, merefleksikan, dan menemukan makna dari proses pertumbuhannya.

Semangat tersebut juga tercermin dalam lima dimensi pembentukan pribadi yang menjadi bagian penting kehidupan pendidikan De Britto 1L + 5C: Leadership, Competence, Conscience, Compassion, Commitment dan Consistency. Siswa didorong menjadi pribadi yang memiliki kemampuan, terbuka terhadap pengetahuan dan pengalaman baru, memiliki hati nurani yang benar, mampu memperjuangkan keadilan dengan bela rasa, serta setia pada nilai dan komitmen yang diyakininya.

Di bidang pengembangan minat dan bakat, calon siswa juga akan menemukan berbagai pilihan kegiatan. De Britto menyediakan beragam ekstrakurikuler olahraga seperti sepak bola, bola basket, bola voli, bulu tangkis, pencak silat, futsal, hingga Pencinta Alam De Britto (PADEBRI). Di bidang seni tersedia antara lain Teater De Britto, Karawitan Gangsa Kukilo, Chamber, Sinematografi, English Club, Choir, Jurnalistik, Orchestra, dan Sanggar Seni. Sementara itu, bidang minat akademik mencakup Fisika, Matematika, Kimia, Biologi, Ekonomi/Akuntansi, Debat, Teknologi Informasi, dan Robotik.

Pendaftaran Dibuka 19 Agustus hingga 2 November 2026

Seleksi Penerimaan Siswa Baru SMA Kolese De Britto Tahun Ajaran 2027/2028 dibuka mulai Rabu, 19 Agustus 2026 hingga 2 November 2026. Pendaftaran dapat dilakukan secara daring melalui psb.debritto.sch.id.

Berdasarkan informasi penerimaan siswa baru, rangkaian seleksi dilaksanakan dalam beberapa tahap. Tes di SMA De Britto dijadwalkan pada 20–22 November 2026, sedangkan bagi peserta Indonesia timur di wilayah Makassar dan Indonesia barat di Palembang tes dijadwalkan pada 27–29 November 2026. Pengumuman hasil seleksi dijadwalkan pada 14 Desember 2026.

Dalam PSB sejumlah persyaratan dan dokumen yang perlu disiapkan calon peserta, antara lain pas foto, rapor SMP semester 1–4, serta akta kelahiran dan kartu keluarga dalam format PDF. Adapun seleksi penerimaan siswa baru ini meliputi tes; 1). Kognitif, 2). Psikotes, 3). Wawancara, dan 4). Kebugaran Jasmani. Informasi tersebut merupakan bagian dari proses administrasi penerimaan siswa baru.

Pembukaan PSB pada hari ulang tahun sekolah menjadi simbol bahwa setiap perayaan bukan hanya tentang menengok masa lalu, tetapi juga tentang menyiapkan masa depan. 78 tahun De Britto adalah perjalanan yang perlu disyukuri, sekaligus tanggung jawab untuk terus memperbarui diri.

Menuju Dasawindu 2028, De Britto ingin terus menjaga tradisi yang baik sembari berani membaca perubahan zaman. Sebab, tradisi pendidikan tidak dimaksudkan untuk membuat generasi muda tinggal di masa lalu. Tradisi justru menjadi pijakan agar kaum muda mampu melangkah lebih jauh, menghadapi masa depan dengan keberanian, kompetensi, hati nurani, dan kepedulian.

Dengan dibukanya PSB Tahun Ajaran 2027/2028, SMA Kolese De Britto kembali membuka pintu bagi para calon siswa yang ingin berani belajar, berani tumbuh bersama, dan berani mengambil bagian dalam perjalanan pendidikan menuju masa depan. (*)

Continue Reading

NASIONAL

Membanggakan! Achmad Fachri Mubarok Putra Jambi yang Kibarkan Bendera di Istana Merdeka Jakarta

DETAIL.ID

Published

on

Jambi – Nama Achmad Fachri Mubarok ikut menjadi sorotan pada Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, Senin, 17 Agustus 2026.

Pelajar SMKN 1 Kota Jambi itu dipercaya menjalankan tugas penting sebagai Komandan Kelompok 8 Paskibraka Nasional 2026. Ia mendapat tugas sebagai pembentang bendera Merah Putih dalam upacara yang disaksikan langsung Presiden, Wakil Presiden, serta sejumlah tokoh nasional.

Achmad Fachri merupakan putra Jambi yang terpilih menjadi anggota Paskibraka Nasional 2026 setelah mewakili Provinsi Jambi. Kepercayaan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Jambi.

Tugas itu pun berhasil dijalankan Achmad Fachri dengan baik. Sikap tenang dan disiplin yang ditunjukkannya saat bertugas membuat namanya semakin mendapat perhatian.

Namun, di balik keberhasilannya menjadi Paskibraka Nasional, Achmad Fachri ternyata memiliki kemampuan lain yang cukup menarik. Ia mahir berbahasa Arab dan memiliki cita-cita melanjutkan pendidikan ke Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir.

Kemampuan bahasa Arab tersebut sudah dipelajarinya sejak duduk di bangku SMP sederajat. Kemampuannya itu terlihat saat Achmad Fachri diwawancarai salah satu televisi swasta nasional dan menjawab pertanyaan menggunakan bahasa Arab.

Dalam wawancara tersebut, Achmad Fachri menyampaikan keinginannya untuk terus belajar setelah menyelesaikan tugas sebagai Paskibraka Nasional. Ia ingin memanfaatkan pengalaman tersebut sebagai motivasi untuk mengejar cita-citanya melanjutkan kuliah ke Mesir.

“Jadi sedikit sekilas tadi yang dibilang oleh Fahri bahwa habis ini, setelah menjadi petugas Paskibraka Nasional, Fahri ini ingin belajar sungguh-sungguh untuk nanti melanjutkan kuliah di Mesir, Al-Azhar,” ujar reporter SCTV saat menerjemahkan pernyataan Achmad Fachri.

Cita-cita tersebut menunjukkan bahwa bagi Achmad Fachri, menjadi Paskibraka Nasional bukanlah akhir dari perjalanan. Justru, pengalaman berdiri di Istana Merdeka menjadi penyemangat untuk terus belajar dan meraih impian.

Keberhasilan Achmad Fachri menjalankan tugas di Istana Merdeka mendapat apresiasi dari Gubernur Jambi Al Haris dan Ketua DPRD Provinsi Jambi, M Hafiz Fattah.

Al Haris menyebut pencapaian tersebut sebagai sesuatu yang membanggakan. Menurutnya, Achmad Fachri telah menunjukkan bahwa pelajar Jambi mampu tampil dan dipercaya dalam agenda kenegaraan di tingkat nasional.

“Ini luar biasa karena bisa tampil di posisi yang luar biasa, bertugas sebagai pasukan pengibar bendera,” ujar Al Haris.

Al Haris berharap prestasi tersebut dapat menjadi motivasi bagi pelajar dan generasi muda Jambi lainnya untuk terus mengembangkan kemampuan.

“Semoga ini menjadi motivasi bagi anak-anak muda Jambi lainnya untuk terus berprestasi dan mengharumkan nama daerah,” katanya.

Kebanggaan juga disampaikan Ketua DPRD Provinsi Jambi Hafiz Fattah. Ia menilai keberhasilan Achmad Fachri menjalankan tugas di Istana Merdeka menjadi teladan bagi generasi muda di Provinsi Jambi.

“Kami sangat bangga Achmad Fachri Mubarok bertugas dengan lancar dan baik. Ini menjadi semangat dan teladan bagi generasi muda di Provinsi Jambi,” ujar Hafiz Fattah.

Bagi Hafiz, kepercayaan yang diberikan kepada Achmad Fachri menjadi bukti bahwa pelajar Jambi mampu bersaing dan mendapat kepercayaan di tingkat nasional.

“Kami mendoakan ke depannya Achmad Fachri terus menorehkan prestasi positif dan membanggakan Jambi,” katanya. (*)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement Seedbacklink

Dilarang menyalin atau mengambil artikel dan property pada situs