Connect with us
Advertisement

DAERAH

Al Haris Si Penjual Koran Itu, Kini Jadi Gubernur Jambi

Published

on

DETAIL.ID, Jambi – Siapa bilang mantan penjual koran atau loper koran tak bisa jadi gubernur? Al Haris buktinya. Al Haris yang Bupati Merangin 2 periode itu, kini menjadi Gubernur Jambi masa jabatan 2021-2024.

Berikut biodata dan perjalanan hidup Al Haris, mantan penjual koran dan juga mantan penjual martabak di Pasar Bangko – Merangin (Jambi)

Anak Petani Sekancing yang Rajin Belajar

Al Haris adalah anak seorang petani di Desa Sekancing, Merangin. Lulus SD tahun 1985, pria kelahiran Sekancing 23 November 1973 ini berniat menyambung sekolah di SMP Negeri, tekadnya baja, semangatnya membara.

Meski ekonomi orang tuanya yang hanya petani dan kurang mampu menopang semangatnya bersekolah, Haris tetap semangat. Putra tertua dari pasangan Zarkawi dan Hj. Zuriah ini mendaftar ke sekolah swasta setempat, SMP PGRI Sekancing yang berjarak sekitar 2 kilometer dari rumahnya. Kepala sekolahnya sewaktu itu adalah Harun.

Al Haris menghabiskan waktu sekolahnya dengan sangat padat. Pagi ikut membantu ayahnya memotong karet di kebun, jam 13.00 baru bersekolah. Selama tiga tahun aktivitas ini dilakukannya tanpa lelah. Dia tahu, suatu saat, kerja kerasnya akan membuahkan hasil. Impiannya untuk menjadi seseorang yang berguna terus melekat di jiwanya.

Al Haris lulus SMP tahun 1988, tahun berikutnya SMP PGRI Sekancing pun ditutup. Haris berniat melanjutkan study ke SMA Negeri. Lagi-lagi semangatnya terhalang biaya. SMA Negeri waktu itu hanya ada di Kota Bangko. Jaraknya sangat jauh dari Sekancing.

Beruntung ayahnya mendukung, maka untuk mendukung sekolahnya, ayahnya menjual sebidang tanah untuk biaya pendaftaran dan membeli baju serta alat tulis. Berbekal uang seadanya. Haris berangkat ke Kota Bangko. Lulusan SMP itu sempat tercenung, ketika tahu bahwa SMA Negeri sudah tutup pendaftaran, dia terpaksa mendaftar ke SMA Swasta, SMA DB Bangko. Lokasinya di salah satu SD dekat kawasan Jam Gento.

Selama SMA, kehidupan sulung dari lima bersaudara ini semakin memprihatinkan. Dia terpaksa bekerja di luar jam pelajaran sekolah, untuk menopang kebutuhan hidup sehari-hari selama tinggal di Bangko. Jadilah profesi pertamanya sebagai karyawan disalah satu toko Kelontong Pasar Bawah, milik ibunda Kanceng (saat ini Kadis Perhubungan Merangin). Selama bekerja, ia digaji dengan beras. Haris memutuskan berhenti.

Dia butuh uang untuk membayar SPP. Makanya usai itu ia melamar di Toko Buku Singgalang Bangko sebagai penjual koran (loper). Nah, dari sinilah dia mulai mengenal dunia media hingga akhirnya suatu saat ia dikenal oleh awak media massa di Jambi.

Pernah Jadi Loper Koran Bangko

Sebagai loper koran, Haris diwajibkan mengambil koran dan majalah di pagi hari sekitar pukul 05.30. saat itu ia menjual koran Singgalang, Sriwijaya Pos, Sentana, Sinar Pagi, Kompas dan beberapa majalah lain. Karena malu kepergok orang kampung yang melihatnya menjual koran. Haris mengenakan topi yang mirip dengan serdadu Jepang (tertutup di bagian samping dan belakang kepala) di bulan pertama menjual koran.

Setelah mengambil koran, pertama-tama ia berjualan di kawasan Pasar Bawah, dari toko-toko emas sampai toko-toko pakaian. Dengan berjalan kaki mengitari Pasar Bawah, Haris menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam, usai itu dia berjalan kaki ke terminal bus di dekat Pasar Baru, di sana dia kembali keluar masuk toko menawarkan koran yang dibawanya. Setelah terjual beberapa eksemplar.

Haris berjalan lagi menuju kompleks perkantoran Bupati, SPBU, lalu ke perkantoran di Pematang Kandis. Hari mulai tinggi, keringat Haris bercucuran, rasa lapar menggerogoti perutnya. Karena berjualan koran hanya dapat keuntungan sedikit (kira-kira Rp. 50 sampai Rp. 100 per eksemplar). Haris hanya mampu membeli nasi putih. Lauknya berupa kuah gulai tanpa isi yang dimintanya dari rumah makan. Kondisi ini terus dialaminya selama berjualan koran. Sisa uang yang didapat disimpan untuk membantu orang tuanya di kampung.

Sekitar pukul 12.30, Haris kembali ke rumah, waktu itu dia tinggal di rumah penjaga TK Pertiwi, lokasinya tak berapa jauh dari SMA DB Bangko. Pukul 13.00 Haris mulai bersekolah layaknya anak lain. Saat dikelas tiga. Haris berhenti jadi penjual koran. Dia mulai fokus menjadi tukang ganti oli mobil di Toko Bram Motor. Selama bekerja, dia makan dan tinggal di toko itu, tak beberapa lama, dia pindah lagi ke Toko Edi Sarang Motor sampai akhirnya menyelesaikan ujian Ebtanas di tahun 1991.

Begitu mengantongi ijazah SMA, pemuda gigih ini nekat merantau ke Kota Jambi demi mencari pekerjaan. PT Tanjung Johor Wood Industry (TJWI atau PT Sabak Indah), adalah perusahaan pertama yang diliriknya. Setelah memasukkan lamaran, menunggu beberapa saat, ternyata dia diterima. Tapi sayang, ketika mau mulai bekerja di Sabak, orang tuanya dikampung sakit, mendengar kabar itu Haris bergegas pulang ke Sekancing Bangko, pekerjaan di PT TJWI akhirnya dibatalkan.

Sekembalinya dari kampung, Haris kembali merantau ke Kualatungkal. Di sana ia melamar di pabrik ubur-ubur. Tapi karena dinilainya tidak ada prospek, sebulan kemudian dia berangkat lagi ke Kota Jambi, di Kota Jambi inilah dia memulai karier PNS. Setibanya di Kota Jambi, Haris mendengar kabar penerimaan pegawai di RRI Jambi, secepat kilat dia memasukkan bahan, sewaktu itu yang diterima hanya lulusan SMP. Jadilah pemuda lulusan SMA itu melamar dengan ijazah SMP, dan ternya dia diterima. Tapi SK baru turun 1 tahun kemudian, sambil menunggu SK turun, Haris berangkat lagi ke kota Bangko.

Tiba di Bangko, Haris sempat bingung mau bagaimana untuk bertahan hidup, uang sedikit, pekerjaan belum punya, tempat tinggal juga tidak punya. Dalam hati dia mulai berpikir untuk bekerja, menjelang SK yang akan turun. Tapi, lagi-lagi pemuda banyak akal ini punya solusi. Dengan nekat dan mengabaikan rasa gengsi.

Pernah Pula Jadi Penjual Martabak

Haris bergabung dengan penjual martabak di Pasar Bawah, beruntung Anik dan Halim, dua pedagang martabak asal Padang (Sumatera Barat), menerimanya dengan tangan terbuka, keduanya bahkan mempersilakan Haris tinggal bersama mereka.

Anik dan Halim dengan sabar mengajarinya meracik bumbu, mengaduk tepung, menggoreng, sampai menyajikan martabak yang siap santap. Haris dengan semangat melakukan itu semua dengan pemikiran sederhana, “Kalau Sampai SK PNS di RRI tidak keluar, setidaknya aku bisa melanjutkan hidup dengan berjualan martabak”.

Dia membuang impian muluk-muluk. Dia sadar, sejak dari kecil sampai sekarang kesederhanaan telah menjadi teman akrabnya. Kesederhanaan ini pulalah yang kelak akan dibawanya sampai dia menjadi sosok disegani di Pemerintah Provinsi Jambi.

Tiga bulan berdagang martabak di Pasar Bawah, mereka bertiga pindah ke Pasar Baru, saat itulah Maret 1992, SK di RRI Jambi keluar. Dia dinyatakan diterima dan diangkat sebagai PNS Golongan I sebagai staf teknis dengan job operator studio. Gaji pertama yang diterimanya hanya Rp. 36.000. cukuplah untuk bertahan hidup.

Haris ditempatkan di pemancar RRI Mendalo, selama bertugas, dia tinggal di rumah orang tua angkat, Basir Manan, sepupu H Samsudin Uban, mantan Bupati Sarko tahun 1970-an. Tiga bulan di Mendalo, dia dipindahtugaskan ke RRI Telanaipura sebagai operator studio. Di sana, sehari-hari dia bertugas mengatur jadwal acara, musik dan kapan penyiar harus bicara saat tayang. Haris mengontrak bedeng di belakang RRI Telanaipura.

Suatu pagi, ketika berjalan di depan RRI, Haris berpapasan dengan Kepala Stasiun (Kepsta) baru pindahan dari RRI Bogor. Di sinilah dia merasakan betapa keberuntungan sangat dekat dengan dirinya yang sederhana. Kepsta itu bertanya kepadanya tentang tempat tinggal, setelah dijawabnya, Kepsta itu menawarkan agar Haris menemaninya tinggal di rumah dinas sampai istrinya yang di Bogor pindah ke Jambi.

Hari-hari Haris di rumah dinas Kepsta diisi dengan tugas memasak nasi, membeli lauk, memasak air panas untuk mandi, menyetrika baju dan menemani Kepsta berangkat ke kantor, ini terus dilakoninya hingga istri Kepsta tiba di Jambi. Rencananya Haris hanya sementara tinggal di sana, tak tahunya, setelah istri Kepsta tiba, dia tetap tinggal di sana sampai akhirnya lulus ASM Jambi.

Ya, ASM Jambi, ketika tahun 1993, Haris yang lulusan SMA DB Bangko itu melanjutkan study di ASM Jambi, jarak antara kantor (Telanaipura) dan Kampus Simpang Kawat) yang lumayan jauh, ditambah uang dikantong yang tipis memaksa Haris kembali berjalan kaki dari kantor-kampus, dan kampus-kantor. Sore hari ketika pukul 15.00. Haris mulai berjalan dari kantornya melalui rute yang sama. PLN-Adhyaksa-Lorong Saudara-Kantor Kelurahan Selamat-ASM Jambi, sepanjang perjalanan, Haris tak pernah membayangkan bahwa suatu saat nanti, dia akan menjadi Lurah di Kantor Kelurahan Selamat yang setiap hari dilaluinya itu.

Tiba di ASM, perkuliahan dimulai pukul 16.00. sekitar pukul 21.00 perkuliahan berakhir. Haris kembali ke rumahnya di Telanaipura untuk beristirahat dengan keletihan yang mendera di kaki (bayangkan berjalan bolak-balik kantor-ASM, ASM-kantor), dan pikirannya (karena harus memikirkan tugas dan materi kuliah).

Dua tahun sebelum lulus, Haris menyunting putri dari Gunung Masurai, gadis desa Muara Madras, Hesnidar (Hesti). Gadis yang telah meruntuhkan hatinya ini dikenalnya dalam suatu acara di Museum Jambi sekitar tahun 1993. Saat itu Hesti adalah Ajudan istri Bupati Merangin Zainul Imron. Sejak pertemuan pertama itulah, Haris bertekad menjadikan Hesti sebagai pendamping hidupnya.

Lagi-lagi Haris harus berjuang, jika dulu berjuang untuk bertahan hidup, kini ia berjuang demi meraih cintanya. Dua tahun sejak pertemuan pertama, tepatnya pada 5 Agustus 1995, dia akhirnya berhasil mempersunting Hesti, dia tidak pernah menyangka bahwa tanggal pernikahannya itu juga sebagai tanggal ulang tahun Kabupaten Merangin, kebetulan yang manis.

Setelah lulus ASM tahun 1998, Haris menghadap Hasan Basri Agus (HBA) yang sewaktu itu menjabat sebagai Kepala Biro Kepegawaian Setda Provinsi Jambi, dan sejak saat itu Haris selalu dekat dengan HBA, HBA sudah dianggap sebagai orang tua, sahabat dan guru baginya, k emana-mana dia selalu diajak, hampir setiap saat HBA membagi pengalaman dan pelajaran berharga tentang birokrasi pemerintahan kepada Haris. Sosok HBA sangat melekat bagi Haris sejak awal pertemuan sampai akhirnya menjadi Kepala Biro Umum Setda Provinsi Jambi.

Tahun 1999, Haris mengajukan pindah ke Pemprov Jambi sebagai penatar P4 bagi Pejabat Eselon III di Pemprov. Karena sewaktu kuliah di ASM dia pernah ikut pelatihan P4 tingkat nasional pola 144 jam, dan mendapat SK BP7 Pusat, Haris yang masih golongan II berhak memberikan penataran kepada pegawai Eselon III se-Provinsi Jambi, bermodal SK itulah Haris mengajukan pindah dari RRI ke BP7.

Tapi sayang, tak beberapa lama kemudian BP7 bubar, Haris terkatung-katung ditempatkan di Biro Kepegawaian Setda Provinsi Jambi. Di sini dia sempat disiapkan menjadi Ajudan Wakil Gubernur Jambi Uteng Suryadiatna, tapi tak jadi karena dia melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

Berbekal ijazah Sarjana Muda, Haris mengajukan diri tugas belajar di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Negara Lembaga Administrasi Negara Bandung (STIA-LAN Bandung). Waktu berlalu demikian cepat. Tahun 2001, dia lulus di STIA-LAN Bandung dan kembali ke Jambi dengan tugas sebagai Sekretaris Lurah Selamat Pemkot Jambi.

Nah, saat inilah Haris bernostalgia sambil melihat ke arah jalan depan Kantor Lurah Selamat, masih melekat di ingatannya bagaimana letihnya dia tiap hari berjalan kaki bolak-balik dari kantor-kampus melalui jalan itu.

Tahun 2004, Haris diangkat menjadi Lurah Selamat. Tak beberapa lama dia meraih penghargaan sebagai salah satu Lurah Teladan yang mewakili Kota Jambi, prestasi yang tak pernah dilupakannya sepanjang kariernya sebagai PNS, dia menjabat sebagai lurah hingga tahun 2006.

Di tahun 2006, Haris hijrah ke Sarolangun sebagai Kasubbag Rumah Tangga Pemkab Sarolangun, dua tahun menjabat, Haris dipindahkan lagi sebagai Kepala Bidang Penanaman Modal pada Bappeda Sarolangun, tahun 2008 dia pindah tugas lagi sebagai Sekretaris Dukcapil Pemkab Sarolangun.

Setahun kemudian, 2010 dia ditempatkan sebagai Kabag Rumah Tangga di Biro Umum Setda Provinsi Jambi, lalu di 2011, Haris dipercaya sebagai Kepala Biro Umum Setda Provinsi Jambi hingga akhirnya menjabat Bupati Merangin priode 2013 – 2018 dan 2019-2024.

Di sela-sela kesibukannya sebagai pemimpin masih terus menimba ilmu. Sambil jadi bupati, Haris Si Tukang Martabak itu kuliah pada program Doktor ilmu pemerintahan pada IPDN Jatinagor, masuk tahun 2014 selesai pada tahun 2017 dengan IPK 3,81 predikat pujian.

Kini, pemuda yang pernah berjualan martabak, koran, mengganti oli, operator studio, dipercaya banyak orang untuk memimpin Merangin untuk periode ke 2. Dengan tekad dan modal kerja keras serta mengerti tentang kehidupan di jenjang bawah, Haris berusaha menjadi pelayan rakyat.

Harapannya sederhana, sesederhana hidupnya yang ingin sejahtera meski melalui masa-masa sulit di berbagai tapakan kaki. Menurutnya, “PERJUANGAN ADALAH SESUATU YANG ABADI DIDIRI MANUSIA, DAN KEBERHASILAN HAMPIR SELALU DIRAIH SETELAH PERJUANGAN KERAS”.

Kini, lihatlah, Al Haris Si Penjual Koran itu, sudah menjadi Gubernur Jambi periode 2021-2024. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Bupati Merangin dua periode.

Al Haris menggambarkan kebanyakan hidup kita yang dari nol berjuang menjalani kehidupan hingga mencapai takdir yang Allah tentukan. Al Haris adalah kita, kita adalah Al Haris.

Selamat bertugas Pak Gubernur Al Haris, si Penjual Koran! (*)

DAERAH

Buka Ujian PPAT 2026, Wamen Ossy: Memastikan Layanan Pertanahan dari PPAT yang Kompeten, Profesional dan Berintegritas

DETAIL.ID

Published

on

DETAIL.ID, Cikeas – Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/Wakil Kepala Badan Pertanahan Nasional (Wamen ATR/Waka BPN), Ossy Dermawan, secara resmi membuka Ujian Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) Tahun 2026 pada Senin, 3 Agustus 2026, di Kantor BPSDM Kementerian ATR/BPN, Cikeas, Kabupaten Bogor. Ujian tahun ini diselenggarakan di tiga lokasi, yakni BPSDM Kementerian ATR/BPN; Universitas Al Azhar Indonesia, Jakarta; dan Politeknik Agraria STPN di Sleman, Provinsi D.I. Yogyakarta, dengan total pendaftar sebanyak 7.886 peserta.

“Penyelenggaraan Ujian PPAT merupakan bagian dari upaya Kementerian ATR/BPN untuk memastikan masyarakat memperoleh pelayanan pertanahan dari PPAT yang kompeten, memahami hukum pertanahan, profesional, dan berintegritas. Karena pada akhirnya, kualitas layanan pertanahan tidak hanya ditentukan oleh regulasi yang baik maupun teknologi, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang menjalankannya,” ujar Wamen Ossy.

Dari data pendaftar Ujian PPAT tahun 2026, terdapat 2.929 peserta notaris dan 4.957 peserta non-notaris. Para peserta non-notaris mengikuti ujian ini untuk mengisi kuota 1.743 formasi PPAT yang tersebar di 270 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

“Seleksi melalui materi ujian yang disusun secara komprehensif, mencakup organisasi kementerian, hukum pertanahan, penetapan hak dan pendaftaran tanah, tata cara pembuatan akta, hingga kode etik profesi. Semua ini dirancang untuk memastikan bahwa setiap PPAT nantinya memiliki bekal pengetahuan dan juga profesionalisme yang memadai,” kata Wamen Ossy.

Untuk menjaga dan meningkatkan kualitas profesi PPAT, Kementerian ATR/BPN terus melakukan penyempurnaan regulasi terkait jabatan PPAT sekaligus sistem pembinaan bagi PPAT.

“Penyempurnaan ini diarahkan agar regulasi semakin sesuai dengan perkembangan zaman, memperkuat etika profesi, dan memperjelas hak dan kewajiban PPAT sekaligus memperkuat sistem pembinaan dan pengawasan. Selain itu, Kementerian juga terus mengembangkan sistem penilaian kinerja PPAT bersama IPPAT (Ikatan PPAT) agar lebih objektif dan proporsional,” tutur Wamen Ossy.

Ujian PPAT tahun 2026 akan berlangsung pada tanggal yang berbeda-beda tergantung lokasi penyelenggaraan. Di BPSDM Kementerian ATR/BPN, ujian akan berlangsung pada 3-5 Agustus dan diikuti oleh 2.482 peserta. Kemudian, di Universitas Al-Azhar Indonesia, Jakarta, ujian akan diikuti oleh 2.397 orang pada 11-13 Agustus 2026, sedangkan di Politeknik Agraria STPN, D.I. Yogyakarta diikuti 3.007 orang pada 18-20 Agustus 2026.

Dalam acara Pembukaan Ujian PPAT Tahun 2026 ini, Wamen Ossy turut didampingi oleh Kepala BPSDM, Agustyarsyah; Direktur Pengaturan Pendaftaran Tanah dan Ruang, PPAT dan Mitra Kerja, Ana Anida; serta Ketua Umum IPPAT, Hapendi Harahap. Acara pembukaan juga disaksikan oleh sejumlah jajaran IPPAT Pusat.

Continue Reading

DAERAH

Menteri ATR/Kepala BPN: Pengukuran Terjadwal Sudah Berlaku di 400 Kantor Pertanahan

DETAIL.ID

Published

on

DETAIL.ID, Jakarta – Kantor Pertanahan yang menerapkan Pengukuran Terjadwal jumlahnya terus ditingkatkan. Per 3 Agustus 2026, Pengukuran Terjadwal diterapkan di 400 Kantor Pertanahan di seluruh Indonesia. Penerapan kebijakan ini menjadi bagian dari transformasi pelayanan pertanahan yang diusung Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN).

“Sekarang sudah ada sekitar 400 kantor yang menggunakan Pengukuran Terjadwal. Kalau ada masyarakat datang ke kantor BPN mengajukan permohonan pengukuran tanah, sekarang sudah ada kepastian. Masa tunggunya paling lama tujuh hari,” ujar Menteri ATR/Kepala, Nusron Wahid, dalam konferensi pers, di Aula PTSL Kementerian ATR/BPN, Jakarta, Senin, 3 Agustus 2026.

Dengan layanan Pengukuran Terjadwal, masyarakat dapat mengetahui kepastian kapan petugas ukur akan datang ke lokasi bidang tanah dari awal permohonan diajukan ke Kantor Pertanahan. Setelah pengukuran selesai dilakukan, Peta Bidang Tanah (PBT) harus diselesaikan maksimal dalam waktu lima hari.

Berdasarkan hasil evaluasi, rata-rata masa tunggu layanan pengukuran secara nasional telah berada di bawah target maksimal tujuh hari. Namun, masih terdapat sekitar 10 Kantor Pertanahan yang belum memenuhi target tersebut dan akan diperkuat dengan penambahan sumber daya manusia. Sementara itu, rata-rata durasi penyelesaian hasil pengukuran secara nasional tercatat 6,2 hari dan akan terus didorong agar mencapai target lima hari.

“Target kami masa tunggunya paling lama tujuh hari, sedangkan setelah dikerjakan target penyelesaiannya lima hari. Yang belum memenuhi target akan kami dorong dengan penambahan petugas agar pelayanan semakin baik,” kata Menteri Nusron.

Menteri Nusron menegaskan, transformasi layanan ini bertujuan memberikan kepastian kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan pertanahan. Evaluasi terhadap pelaksanaan pengukuran terjadwal akan dilakukan secara berkala sebagai dasar penyempurnaan kualitas pelayanan di seluruh Kantor Pertanahan.

“Jadi tujuan kami adalah memberikan karpet merah buat rakyat yang mengurus tanah, jangan sampai ada ketidakpastian, pelayanan itu kata kuncinya kepuasan pelanggan,” tutur Menteri Nusron.

Dalam konferensi pers kali ini, Menteri Nusron turut didampingi oleh Direktur Jenderal Penetapan Hak dan Pendaftaran Tanah, Asnaedi; Tenaga Ahli Bidang Komunikasi Publik, Rahmat Sahid; serta Kepala Bagian Pemberitaan, Media dan Hubungan Antar Lembaga, Bagas Agung Wibowo.

Continue Reading

DAERAH

NADI JKN Jadi Solusi Menjaga Status Kepesertaan Tetap Aktif

DETAIL.ID

Published

on

Konferensi pers BPJS Kesehatan di Jakarta, Selasa (4/8/2026). (Foto: Dok/Humas BPJS Kesehatan Cabang Pamekasan)

DETAIL.ID, Jakarta – Tidak sedikit peserta JKN yang memiliki kemauan membayar iuran, namun mengalami kendala menyiapkan dana secara penuh saat jatuh tempo pembayaran iuran.

Kondisi ini terutama dialami oleh peserta segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) yang memiliki penghasilan tidak tetap.

Untuk menjawab tantangan tersebut, BPJS Kesehatan meluncurkan Program NADI JKN (Menabung Demi Iuran JKN) sebagai inovasi untuk membantu peserta menyiapkan dana iuran secara bertahap melalui mekanisme menabung.

Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, mengatakan bahwa NADI JKN merupakan salah satu strategi retensi dan reaktivasi peserta untuk menjaga keberlangsungan perlindungan kesehatan masyarakat sekaligus mendukung peningkatan keaktifan peserta Program JKN.

“Hingga 30 Juni 2026, cakupan kepesertaan JKN telah mencapai 98,60% dari total penduduk Indonesia. Namun demikian, tingkat keaktifan peserta tercatat sebesar 80,25% yang menunjukkan masih terdapat peserta yang belum aktif karena berbagai faktor, termasuk keterlambatan atau ketidakmampuan membayar iuran secara tepat waktu,” ujar Pujo dalam Launching Program NADI JKN di Jakarta, Selasa, 4 Agustus 2026.

Pujo menambahkan, Program NADI JKN adalah sarana bagi peserta untuk mempersiapkan pembayaran iuran secara lebih ringan dan terencana.

Harapannya, semakin banyak peserta yang dapat menjaga status kepesertaan tetap aktif dan memperoleh perlindungan kesehatan secara berkelanjutan.

Melalui Program NADI JKN, peserta dapat menyisihkan dana secara bertahap sesuai kemampuan melalui mitra yang telah bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.

Program ini dikembangkan dalam dua skema layanan, yaitu digital-kolektif dan konvensional-perorangan, sehingga dapat menjangkau berbagai kelompok masyarakat dengan karakteristik yang berbeda.

Pada skema digital-kolektif, peserta mendaftar melalui platform mitra seperti aplikasi digital dan ekosistem komunitas yang telah bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.

Peserta kemudian menabung secara berkala, misalnya harian atau mingguan, melalui fitur yang disediakan mitra.

Ketika dana yang terkumpul telah mencukupi, mitra akan membayarkan iuran JKN peserta melalui virtual account yang terhubung dengan sistem BPJS Kesehatan.

Saat ini, BPJS Kesehatan bekerja sama dengan PT Goto Gojek Tokopedia Tbk dengan target peserta yang bekerja sebagai pengemudi ojek online.

Selanjutnya pada skema konvensional-perorangan, peserta dapat menabung melalui koperasi, BUMDes, atau lembaga masyarakat yang menjadi mitra Program NADI JKN.

Dana yang terkumpul akan digunakan untuk membayarkan iuran JKN peserta pada saat jatuh tempo.

Saat ini, BPJS Kesehatan melakukan ujicoba di lima Kantor Cabang, yakni KC Jakarta Selatan, KC Pangkalpinang, KC Boyolali, KC Banyuwangi, dan KC Parepare, untuk bekerja sama dengan mitra seperti koperasi, BUMDes, atau lembaga masyarakat.

“Ke depan, kami berharap Program NADI JKN dapat diperluas untuk menjangkau lebih banyak segmen peserta. Termasuk perluasan kerja sama dengan berbagai penyedia aplikasi digital yang telah akrab digunakan masyarakat. Kami juga berharap implementasi NADI JKN dapat berjalan sesuai roadmap yang telah disusun, sehingga cakupan wilayah dan manfaat program ini dapat terus berkembang dari tahun ke tahun,” kata Pujo.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia, Ahmad Riza Patria, mengungkapkan dukungannya terhadap Program NADI JKN.

Menurutnya, program ini dapat mendukung target pemerintah dalam memajukan desa maupun daerah-daerah tertinggal di Indonesia melalui perlindungan kesehatan yang dikelola BPJS Kesehatan.

“Inovasi ini sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini, khususnya masyarakat di wilayah pedesaan. Saya berharap baik BUMDes, koperasi desa maupun lembaga masyarakat lain di desa dapat menjadi mitra strategis BPJS Kesehatan dalam menjalankan Program NADI JKN,” ujar Wamendes.

Saat ini, sejumlah kolaborasi telah terjalin antara lain melalui mitra di daerah, di antaranya BUMDes Mandiri Utama Kemuja di Pangkal Pinang, BUMDes Tirta Mandiri dan BUMDes Tumang di Boyolali, PT Pos Indonesia di Banyuwangi, serta Koperasi Desa Merah Putih Mattiro Ade di Parepare.

Dukungan juga datang dari Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad, yang mengajak generasi muda, pekerja informal, dan pelaku UMKM untuk mulai menyisihkan sebagian pendapatannya demi perlindungan kesehatan keluarga.

“Kehadiran program NADI JKN ini merupakan bentuk keseriusan BPJS Kesehatan dalam menghadirkan berbagai terobosan pengelolaan Program JKN yang semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat. Dengan cara ini, masyarakat dapat mempertahankan kepesertaan JKN secara aktif tanpa terbebani pembayaran sekaligus,” ujar Raffi Ahmad yang juga merupakan Duta Kehormatan BPJS Kesehatan.

Sebagai mitra awal implementasi, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk mendukung pengembangan skema NADI JKN melalui ekosistem digital yang dimiliki perusahaan.

Ini merupakan pemanfaatan skema daily deduct engine yang terus dikembangkan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk, sehingga menjadi pilihan bagi pengguna aplikasi.

“Mobilitas para mitra sangat tinggi karena mereka bekerja bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk keluarga. Saat ini, kami laporkan sebanyak 3.147 mitra Gojek di luar desil 1-5 telah bergabung dengan BPJS Kesehatan, sehingga mereka dan seluruh anggota keluarganya mendapatkan perlindungan dari risiko biaya kesehatan yang tidak terduga,” ujar Dyan Shinto Eko Nugroho, Chief of Public Affair PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk.

Continue Reading
Advertisement
Advertisement Seedbacklink

Dilarang menyalin atau mengambil artikel dan property pada situs