DETAIL.ID, Yogyakarta – Semangat kemerdekaan, rasa syukur, kebersamaan, dan harapan akan masa depan berpadu dalam rangkaian pembukaan perjalanan Dasawindu SMA Kolese De Britto Yogyakarta menuju 80 tahun pada 2028. Momentum tersebut dirangkai dalam berbagai kegiatan yang berlangsung sejak peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia hingga Open House De Britto, Jumat–Sabtu, 21–22 Agustus 2026.
Rangkaian tersebut tidak sekadar menjadi perayaan seremonial. Di balik upacara, kenduri, Ekaristi, peluncuran logo, peletakan batu pertama, pentas seni, pameran perguruan tinggi, dan Open House, tersimpan satu benang merah: bagaimana sebuah lembaga pendidikan menjaga tradisi sekaligus berani menatap masa depan.
Perjalanan itu sesungguhnya telah dimulai dengan Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Upacara menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak pernah berdiri terpisah dari perjalanan bangsa. Kemerdekaan yang diwariskan para pendahulu membawa tanggung jawab baru bagi generasi muda: mengisinya dengan kompetensi, keberanian, kepedulian, dan kemampuan membaca perubahan zaman.
Semangat kebangsaan itu kemudian menemukan bentuk yang lebih dekat melalui kenduri bersama warga sekitar sekolah. Tradisi sederhana tersebut menjadi ruang perjumpaan antara sekolah dan masyarakat. De Britto tidak hanya hadir sebagai institusi pendidikan di tengah lingkungan, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat di sekitarnya.
Selanjutnya pada 19 Agustus 2026, bertepatan dengan peringatan HUT ke-78 SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Suasana menjadi lebih reflektif dengan Ekaristi HUT ke-78 SMA Kolese De Britto. Dalam perayaan syukur tersebut, perjalanan 78 tahun sekolah ditempatkan bukan hanya sebagai catatan sejarah, melainkan sebagai kesempatan untuk melihat kembali pengalaman, keberhasilan, kekurangan, dan panggilan pendidikan yang terus berkembang. Dari momentum tersebut, sekolah membuka perjalanan menuju Dasawindu 2028 dengan semangat Ex Traditio Ad Futurum, berangkat dari tradisi menuju masa depan.
Suasana kemudian beralih dalam satu penanda penting perjalanan menuju Dasawindu adalah peluncuran logo Dasawindu. Logo tersebut menjadi simbol dimulainya perjalanan tiga tahun menuju usia 80 tahun. Pada saat yang bersamaan penerimaan siswa baru (PSB) tahun ajaran 2027/2028 juga dibuka hingga 2 November. Bagi sekolah, Dasawindu bukan sekadar perayaan angka. Ia menjadi kesempatan untuk membaca kembali tradisi yang telah membentuk De Britto sekaligus memikirkan wajah sekolah pada masa yang akan datang.
Momentum tersebut semakin nyata melalui peletakan batu pertama pembangunan Gedung Dasawindu di sebelah utara lapangan sepak bola. Gedung tersebut direncanakan menjadi salah satu fasilitas penting bagi perkembangan sekolah, dengan ruang kelas, laboratorium, ruang guru, ruang audiovisual, ruang diskusi, serta berbagai fasilitas pendukung lainnya.
Koordinator Umum Dasawindu SMA Kolese De Britto, Filipus Dimas Darumurti mengatakan, pembangunan tersebut merupakan gagasan yang sebenarnya telah lama direncanakan dan baru mendapatkan momentum untuk direalisasikan menjelang usia 80 tahun. “Gagasan itu sudah sejak lama, tetapi baru direalisasikan pada momen 80 tahun atau Dasawindu ini. Maka, gedung yang akan dibangun di utara lapangan sepak bola itu kami namakan Gedung Dasawindu,” kata Dimas.

Jika gedung menjadi gambaran masa depan dalam bentuk fisik, maka Open House De Britto 2026 menghadirkan gambaran masa depan dalam bentuk yang lebih hidup: anak-anak dan remaja yang datang untuk belajar, mencoba, berkompetisi, berkarya, dan mengenali potensi dirinya.
Hari berikutnya pada, Jumat–Sabtu, 21–22 Agustus 2026, kompleks SMA Kolese De Britto di Jalan Laksda Adisucipto No. 161, Depok, Sleman, Yogyakarta, menjadi ruang perjumpaan bagi siswa, calon siswa, orang tua, guru, perguruan tinggi, lembaga pendidikan, dan masyarakat.
Melalui Open House, De Britto membuka pintunya lebih lebar. Pengunjung tidak hanya diajak melihat ruang kelas dan fasilitas sekolah, tetapi juga mengalami berbagai aktivitas yang menjadi bagian dari kehidupan pendidikan di De Britto. Lebih dari 30 perguruan tinggi hadir dalam ekspo pendidikan, disertai pameran ekstrakurikuler, talkshow, bazar, berbagai perlombaan, dan Ekspo Lembaga Pendidikan Katolik se-DIY.
Sebanyak 16 lembaga pendidikan Katolik dari jenjang pendidikan dasar hingga menengah turut berpartisipasi. Kehadiran mereka menjadi salah satu wujud konkret semangat kolaborasi yang berkembang melalui Sinode Pendidikan Keuskupan Agung Semarang (KAS) 2023–2024. “Dalam Sinode Pendidikan, salah satunya bagaimana lembaga-lembaga pendidikan Katolik bisa saling berkolaborasi,” kata Dimas.
Kolaborasi itu memperlihatkan bahwa setiap sekolah memiliki kekhasan, program, dan cara masing-masing dalam mendampingi generasi muda. Bagi masyarakat, ekspo tersebut sekaligus membuka ruang untuk mengenal lebih dekat wajah pendidikan Katolik di Yogyakarta.
Semarak Open House juga terasa melalui berbagai kompetisi. Anak-anak TK dan SD mengikuti lomba mewarnai dan menggambar. Para pelajar menunjukkan kemampuan bernyanyi melalui lomba paduan suara, sementara peserta SMP mengikuti Leadership Legacy Challenge yang menempatkan kepemimpinan sebagai bagian penting dari proses belajar.
Pada kompetisi mewarnai TK, juara pertama diraih Alexa Galenka Kurniawati, sedangkan kategori SD dimenangkan Nayanika Alisha. Lomba menggambar SD menempatkan Samantha Ashera Anarya sebagai juara pertama. Dalam lomba paduan suara, SD Kanisius Sengkan menjadi juara pertama jenjang SD dan SMP Maria Immaculata Marsudirini menjadi juara pertama jenjang SMP.
Sementara itu, SMP Kristen Kalam Kudus Yogyakarta menjadi juara pertama Leadership Legacy Challenge, disusul SMP Maria Assumpta dan SMP Kanisius Kalasan. Penghargaan Best Leader diberikan kepada Dominicus Dandy Edwit Wijaya Putra.
Di tengah berbagai kegiatan tersebut, pentas Band De Britto menjadi salah satu ruang ekspresi siswa. Musik menjadi bahasa yang menyatukan kegembiraan, kreativitas, dan keberanian tampil. Dari panggung itu terlihat bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung melalui buku dan ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman berkarya dan bekerja bersama.
Pada akhirnya, rangkaian pembukaan Dasawindu dan Open House 2026 memperlihatkan bahwa masa depan tidak pernah lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari sejarah, tradisi, pengalaman, dan keberanian untuk berefleksi.
Karena itu, perjalanan menuju Dasawindu 2028 bukan semata-mata perjalanan menuju usia 80 tahun. Ia merupakan perjalanan untuk bertanya kembali: De Britto hendak menjadi sekolah seperti apa, dan manusia seperti apa yang hendak dibentuknya?
Pertanyaan itu terasa nyata di tengah keramaian Open House. Ada anak-anak yang untuk pertama kalinya memasuki halaman sekolah, orang tua mulai membayangkan pendidikan bagi para putranya, remaja yang mencoba berbagai kegiatan, serta siswa De Britto yang memperkenalkan sekolahnya kepada para pengunjung.
Di situlah makna Dasawindu menemukan bentuknya, bahwa tradisi bukan sesuatu yang hanya disimpan untuk dikenang, melainkan warisan yang harus diolah agar tetap relevan bagi zaman. Masa depan pun bukan sesuatu yang sekadar ditunggu, melainkan sesuatu yang mulai dibangun hari ini.
Dimulai dari upacara kemerdekaan, kenduri bersama warga, Ekaristi syukur, peluncuran logo, peletakan batu pertama Gedung Dasawindu, pentas musik, pameran perguruan tinggi, hingga Open House, SMA Kolese De Britto sedang menapaki satu perjalanan panjang yaitu, merawat apa yang baik dari masa lalu, membaca tantangan zaman, dan menyiapkan generasi yang berani melangkah menuju masa depan. (*)