PERKARA
Kuasa Hukum Junawal: Jawaban Dua Saksi Ahli Tidak Tegas Akibat Tak Baca Seluruh BAP
DETAIL.ID, Tebo – Persidangan kasus Junawal di Pengadilan Negeri Tebo pada Kamis, 7 September 2020 lalu menghadirkan saksi dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) serta dua saksi ahli pidana.
Selain itu dua terdakwa yaitu Junawal dan Eko Pratomo bin Thohirin hadir dalam sidang yang digelar secara virtual tersebut.
Keterangan saksi Ahmad Nurhayat bin Thohirin hanya dibacakan JPU. Sekalipun penasihat hukum Junawal, Christian Panjaitan sempat menolak namun keterangan itu tetap dibolehkan oleh Majelis Hakim.
Dalam persidangan, Junawal menyangkal keterangan saksi Ahmad yang menuduhnya melakukan pembakaran.
Begitu pula terdakwa Eko Pratomo, tetap dalam pendirian bahwa tidak berada di lokasi. Eko membantah semua keterangan tertulis Ahmad bin Nurhayat dalam BAP yang dibacakan oleh JPU.
Dua saksi ahli yang hadir: Prof Mujiyono Wiryotinoyo sebagai saksi ahli bahasa dan DR Ruslan Abdul Gani sebagai saksi ahli pidana.
Mujiyono menegaskan bahwa yang disampaikan bukan hasutan tetapi itu perintah karena Junawal sebagai Ketua Serikat Petani Indonesia (SPI) Tebo.
Sementara Ruslan Abdul Gani saat ditanya apa perbedaan antara menghasut dan memerintah? Ia menjawab, ”beda-beda tipis.”
Lalu Christian Panjaitan, penasihat hukum Junawal dari Indonesia Human Right Commitee For Sosial Justice (IHCS) bertanya pada Ruslan Abdul Gani, apakah pasal 170 dalam KUHP itu memenuhi unsur menghasut? “Sebagian terpenuhi,” jawab Ruslan.
Ketua Majelis Hakim kemudian bertanya pada Ruslan apakah jika hanya sebagian unsur terpenuhi seseorang bisa dikenai Pidana? Ruslan hanya menjawab singkat, “bisa saja.”
Jawaban Ruslan yang tidak tegas, menurut Cristian adalah hal wajar. Kenapa? Christian menilai bahwa saksi ahli pidana mengaku tidak membaca seluruh BAP sehingga tidak menguasai materi sidang kali ini.
“Keterangan saksi Ahmad Nurhayat bin Tohirin yang dibacakan jaksa tanpa dihadirkan secara fisik itu berakibat penasihat hukum tidak bisa mengkonfrontir apakah Ahmad bin Tohirin juga tidak berada di lokasi seperti apa yang disampaikan Eko Pratomo, Jadi, cukup bahwa tidak ada yang melihat Saudara Junawal membakar alat berat tersebut,” ujar Christian.
Azhari, Ketua Biro Polhukam SPI Jambi mengatakan bahwa insiden terbakarnya alat berat PT Lestari Asri Jaya (LAJ) ini berlatar belakang dilanggarnya kesepakatan sebelumnya antara petani SPI Tebo dan PT LAJ.
Sebab, Penggusuran yang dilakukan oleh PT LAJ itu yang memprovokasi warga hingga berakibat dibakarnya alat berat tersebut.
“Wajar jika dua saksi ahli yang dihadirkan tidak memahami konteks persoalan sehingga pernyataan mereka berubah-rubah dan kami yakin Majelis Hakim akan berpihak pada kebenaran dan keadilan terhadap saudara kami Junawal,” ujarnya, Sabtu, 5 September 2020.
PERKARA
Laporan Buruh Sawit Berproses di Polres Tebo, Kuasa Hukum Berharap Profesionalitas Aparat
DETAIL.ID, Jambi – Laporan seorang buruh sawit yakni Eri yang diduga mengalami pengancaman dan perampasan truk bermuatan sawit yang dilakukan oleh Heri dan Rustam dengan membawa beberapa warga, beberapa waktu lalu, kini berproses di Polres Tebo.
Kasat Reskrim Polres Tebo Iptu Rimhot Nainggolan ketika dikonfirmasi menyampaikan bahwa laporan kini sedang diproses. Namun Nainggolan, masih enggan untuk berkomentar lebih lanjut.
“Ini masih kita proses,” ujar Iptu Nainggolan pada Jumat kemarin, 28 November 2025.
Menurut Kasat Reskrim Polres Tebo itu, sejauh ini kasus yang dilaporkan oleh Eri merupakan perkara pengancaman. Soal laporan itu pihak penyidik kepolisian masih mendalami kasusnya.
Disisi lain, kuasa hukum pelapor M Azri berharap agar Polres Tebo mengusut tuntas kasus yang dilaporkan oleh kliennya. Menurutnya dalam hal ini kleinnya telah jelas-jelas mengalami intimidasi, pengancaman, hingga perampasan kendaraan bermuatan TBS yang baru dipanen, atas lahan yang sudah lama dimenangkan lewat jalur peradilan.
“Kita berharap profesionalitas pihak Kepolisian lah, ini jelas. Kita punya alas hak. Kalau mereka memang merasa itu lahan mereka, kenapa enggak digugat dari dulu, yang jelas dasar hukum kami menguasai lahan tersebut adalah putusan pengadilan yang telah inkrah dan sudah dieksekusi sesuai dengan aturan hukum yang berlaku” katanya.
Reporter: Juan Ambarita
PERKARA
Dilaporkan ke Polisi, Amin Lok Klaim Tak Tau Menau Soal Dugaan Perampasan Truk Bermuatan TBS
DETAIL.ID, Jambi – Mantan Dewan Provinsi Jambi, Muhammad Amin alias Amin Lok, sosok yang diduga sebagai dalang dibalik dugaan perampasan kendaraan bermuatan TBS di Desa Kunangan, Tebo Ilir, Kabupaten Tebo beberapa waktu lalu, Kamis, 27 November 2025, membantah keterlibatan dirinya.
Ketika dikonfirmasi, Amin Lok membantah bahwa dirinya yang memerintahkan Heri dan Rustam serta puluhan warga Teluk Rendah Pasar untuk mencegat dan merampas kendaraan bermuatan TBS, yang baru dipanen oleh pihak pemilik lahan.
“Urusan itu saya belom juga tau. Karena saya tak di lapang ikut urusan itu.
Memang ada yang hp saya masalah urusan di kebun, saya sarankan selesaikan lah di lapangan,” kata M Amin yang akrab disapa Amin Lok, lewat WhatsApp, Jumat, 28 November 2025.
Lagi-lagi, dugaan perampasan kendaraan bermuatan TBS yang berujung ditinggalkan oleh para warga di tengah jalan dibantah oleh Amin Lok.
“Tapi cerita itu sampai di polsek mobil itu saya juga tak ngerti,” ujarnya.
Disinggung kembali soal perintah kepada sejumlah warga untuk merampas kendaraan bermuatan TBS itu, Amin Lok bertanya balik. “Bukan, memerintahkan apa,” katanya.
Mantan Anggota DPRD Provinsi Jambi tersebut mengklaim, bahwa para warga yang berada di TKP saat itu merasa punya lahan di wilayah Teluk Rendah Pasar. Ia pun menilai wajar, jika mereka mempertanyakan si pemilik lahan yakni Japar, punya lahan dimana dan beli dari siapa?
Klaim Amin Lok, berlanjut bahwa sebelumnya pernah ada kesepakatan antara sejumlah pihak yang disaksikan oleh Babinsa agar lahan yang sedang kisruh tersebut jangan dipanen sebelum diselesaikan.
“Yang merampas TBS siapa, yang muat TBS merekalah ke mobil. Info supaya jelas penyelesainnya mereka bawa ke polsek tapi mobilnya, masuk angin (mogok) tak jadi, yang ngantar mobil ke Polsek saya tak tau juga,” katanya.
Namun dengan semua klaim Amin Lok, korban yakni Eri sudah bikin laporan resmi di Polres Tebo. Kasus dugaan perampasan disertai intimidasi kini tengah bergulir ditangan Polisi.
Reporter: Juan Ambarita
PERKARA
Sawit Dirampas dari Buruh Panen, Diduga Didalangi Oknum Mantan Dewan Provinsi Jambi
DETAIL.ID, Jambi – Eri, seorang buruh panen sawit di Desa Kunangan, Tebo Ilir, Kabupaten Tebo jadi korban intimidasi dan perampasan Tandan Buah Segar (TBS) sawit hasil panen oleh sejumlah massa yang mengaku warga Desa Teluk Rendah Pasar, diduga atas perintah mantan anggota DPRD Provinsi Jambi pada Senin sore, 24 November 2025.
Padahal ia hanyalah buruh panen yang bekerja atas dasar perintah si pemilik lahan. Tak terima, Eri lantas melaporkan peristiwa tersebut ke Polres Tebo malam harinya yang teregister dengan Nomor: STBPP/226/XI/2025/SPKT/Polres Tebo Polda Jambi.
“Jadi kejadiannya, waktu saya manen di kebun sore itu, dan membawa hasil TBS untuk dijual ke loading sawit. Tiba-tiba saat di pertengahan jalan saya diadang dan dikerumuni massa ada sekitar 40 orang. Ada yang namanya Heri dan Rustam. Mereka nanya, siapa yang nyuruh kamu. Ini kan lahan Teluk Rendah,” ujar Eri.
Di bawah tekanan massa, Eri pun menyampaikan bahwa ia hanya pekerja yang tidak paham masalah surat-surat atau dokumen lahan. Namun salah seorang yang bernama Heri, malah terus-menerus mengintimidasi pelapor.
“Orang tuo ni nak mati, banyak nian cerito, buah ni kami bawa ke Teluk Rendah,” ujar Eri, menirukan perkataan Heri padanya.
Heri dan Rustam, ujungnya diduga merampas hasil panen Eri, berupa 1 unit truk PS berisi TBS dengan cara menyuruh Eri membawa mobil dan mereka giring menuju Teluk Rendah.
Sebelumnya beberapa saat usai mengintimidasi, Rustam menyerahkan handphone yang sudah tersambung dengan seseorang yang mengaku bernama Amin Lok. Sosok yang diduga sebagai otak dari pengerahan massa dan perampasan TBS hasil panen Eri.
Menurut Eri, awalnya Amin Lok mempertanyakan identitas Eri. Mendengar penjelasannya, Amin Lok, kata Eri mengatakan agar kisruh tersebut diselesaikan di lapangan, lantaran dirinya sedang berada di Palembang.
Massa akhirnya menggiring buah beserta kendaraan menuju ke Teluk Rendah. Namun saat posisi di tengah jalan dan kondisi agak ramai, korban memberhentikan mobilnya lalu lari menyelamatkan diri menuju Polres Tebo untuk melaporkan kejadian perampasan tersebut.
Anehnya, pasca Eri melapor ke Polres Tebo, dirinya malah diminta untuk menjemput kembali truk dan TBS yang sudah dirampas tersebut oleh penyidik ke tempat kejadian perkara.
Sementara itu kuasa hukum Eri, yakni Dr. Muhammad Azri, S.H, M.H merasa sangat kecewa dengan kinerja penyidik Polres Tebo. Menurut dia, seharusnya penyidik setelah menerima laporan pengaduan, melakukan investigasi turun ke TKP dan mengamankan mobil yang bermuatan TBS tersebut agar dijadikan barang bukti.
“Karena berdasarkan kronologis dari pelapor jelas, niat terlapor adalah melakukan perampasan dengan niat ingin menguasai hasil panen TBS dari korban, bukan sekadar pidana pengancaman,” ujar Azri.
Kini, menurut Azri, dirinya sedang berkoordinasi dengan pihak korban. Jika kinerja penyidik tidak profesional maka pihaknya akan melaporkan penyidik ke Propam Polda Jambi.
Sampai saat ini kisruh perampasan truk berisi TBS ini masih terus menarik perhatian. Awak media masih berupaya menghimpun informasi lebih lanjut dari berbagai pihak terkait.
Reporter: Juan Ambarita

