Salat di Gereja

Salat di Gereja

“Mas, kain dan sajadah di tempat tidur. Silakan digunakan,” kata suster ketika mengantarkan ke kamar. Kamar retret di Palembang, Sumatra Selatan.

Retret kukenal sebagai tempat sekolah para calon pastor. Biasa dikenal “paroki”.

Sembari menurunkan lambang salib, sang suster kemudian meninggalkanku di kamar.

“Khawatir nanti terganggu,” katanya sambil tersenyum.

Teringat ketika masa-masa menjelang kejatuhan orde baru, retret ataupun paroki sering digunakan untuk pelatihan buruh. Baik tingkat dasar seperti LTC (Latihan Training Center), TFT (Training of Trainer) dan  TFO (Training for Organization). Jenjang pendidikan yang harus ditempuh di kalangan internal SBSI.

LTB dapat diadakan pada tingkat provinsi. TFT untuk regional dan TFO untuk tingkat nasional.

Karena SBSI Jambi baru berdiri, maka pelatihan LTB untuk pengurus SBSI Jambi kemudian ikut LTB yang diadakan oleh SBSI Sumsel di Palembang. Dan teman-teman SBSI Sumsel kemudian menyediakan tempat.

Lalu karena suasana Orde Baru yang masih kuat, LTB tidak mungkin diadakan tempat terbuka. Seperti di hotel.

Tapi tempat-tempat yang memang dapat terlindungi. Ya. Salah satu tempat retret dan paroki adalah tempat favorit yang sering digunakan. Saya sendiri pernah mengikuti pendidikan di retret/paroki di Palembang, Lampung dan Bandung.

[jnews_element_newsticker newsticker_title=”Baca Juga” newsticker_icon=”empty” enable_autoplay=”true” autoplay_delay=”2500″ newsticker_animation=”vertical”]

Sehingga pelatihan di retret/paroki tidak menjadikan beban psikologis. Suasana pelatihan “biasa saja”. Di sela-sela kegiatan seperti siang hari ataupun sore hari, kegiatan kemudian dihentikan. Memberikan kesempatan kepada seluruh peserta untuk salat zuhur (siang) ataupun salat azar (sore).

Lalu, apakah ada upaya untuk “membuat menjadi Nasrani”? Ha-ha-ha-ha.

Lalu dengan saya berada dan kemudian salat di retret/paroki, kemudian agama saya kemudian berpindah?

Hello! Apakah serendah itu penilaian terhadap agama yang saya anut? Apakah semurah itu penilaian sepihak terhadap keyakinan yang sudah lama saya anut.

Berbagai interaksi saya dengan para pastor (biasa dipanggil romo) ataupun pendeta, tidak pernah sama sekali kami membicarakan tentang agama. Sama sekali tidak. Bahkan kami sama sekali bisa tertawa sambil melihat kelucuan yang kami buat.

Interaksi saya dengan Mas Gie (yang kemudian disidangkan di PN Menggala) dan kedatangan Romo Purwanto ke kantor beberapa waktu yang lalu justru menjadi ajang kelucuan. Teringat masa lalu kami.

Kalimat yang paling kuingat adalah “nekat, berani dan kere” justru menertawakan “ketololan kami” mengingat masa-masa itu.

Kisah 1994 – 1997 yang sudah lama terjadi kok masih terjadi lagi.

Tapi sudahlah. Mungkin bangsa Indonesia selalu suka membicarakan persoalan yang sama berulang-ulang. Dan itu, terus terjadi setiap putaran zaman.

 

*pengacara, tinggal di Jambi

 

Exit mobile version