Connect with us
Advertisement

PERISTIWA

Rela Berperahu 3 Jam, Ini yang Dandim 0416/Bute Lakukan di Dusun Lancar Tiang

Published

on

detail.id/, Tebo – Di tengah pandemi Covid-19, ternyata Dandim 0416/Bute Letkol Inf Arianto Maskare Subagio S.Sos , M.Si, masih sempat untuk memperhatikan pendidikan di wilayah terpencil dan terisolir. Ia rela naik ketek (berperahu) menuju Dusun Lancar Tiang, Desa Tuo Ilir, Kecamatan Tebo Ilir, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi, Sabtu, 21 Agustus 2021. Tujuannya, untuk meletakkan batu pertama pembangunan SD Negeri 153/VII.

Peletakan batu pertama ini dilakukan sebagai tanda dimulainya pembangunan gedung sekolah di dusun tersebut.

Pantauan media ini, sekitar pukul 10.46 WIB, Dandim bersama rombongan menuju Dusun Lancar Tiang melalui pelabuhan Batu Ampar. Sekitar tiga jam perjalanan berperahu, akhirnya rombongan tiba di lokasi yang dituju.

Kedatangan Dandim dan rombongan ini disambut riang oleh perangkat desa dan masyarakat sekitar. Tanpa sungkan Dandim langsung berbaur dan makan bersama di rumah Kadus Lancar Tiang, Yahya. Selanjutnya, rombongan melaksanakan salat Zuhur di Masjid Muhajirin dusun tersebut.

“Terima kasih kepada Kadus Lancar Tiang dan seluruh masyarakat yang telah menyambut kedatangan kami hari ini,” kata Dandim mengawali sambutan saat kegiatan peletakan batu pertama pembangunan gedung SD 153/VII Lancar Tiang.

Dandim berkata, sudah menjadi kewajiban dirinya mengunjungi wilayah teritorial untuk bertatap muka langsung dengan masyarakat. “Mari kita sukseskan pembangunan gedung sekolah ini. Mudah-mudahan berjalan lancar dan aman. Ini demi pendidikan anak-anak kita ke depannya,” ujar Dandim.

Pada kesempatan ini, Dandim juga mengajak masyarakat untuk berjuang memutuskan mata rantai Covid-19. Salah satnya dengan disiplin protokol kesehatan dan melakukan vaksinasi. “Jangan takut divaksin. Ini demi kesehatan kita semua,” katanya.

Sementara, Kabid Pendidikan Dasar Disdikbud Kabupaten Tebo, Hoirul Akmal menggunakan, pembangunan gedung SD 153/VII ini merupakan janji Danramil 426-05/Sungai Bengkal bersama Kapolsek dan Camat Tebo Ilir.

“Alhamdulillah hari ini janji kita terwujud. Dan Alhamdulillah lagi, ini mendapat dukungan penuh dari Pak Dandim,” kata Kabid dan mengucapkan permintaan maaf atas ketidakhadiran Bupati dan Kadisdikbud Tebo.

Ke depannya, lanjut dia, pihaknya akan menempatkan guru PNS. “Murid di sini ada 37 orang, guru ada 5 orang honor 3 orang PNS ada 2 orang, guru yang honor di gaji dari dana BOS. Nanti akan kita tambah lagi guru PNnya,” ujar dia dan berkata, program ke depan, akan dibangun SMP Satu Atap di Dusun Lancar Tiang.

Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan Kabupaten Tebo, Ziadi SP mengatakan, pihaknya pernah bekerja sama dengan Kodim 0416/Bute menggelar kegiatan cetak sawah di Dusun Lancar Tiang. Hal itu dilakukan demi tercukupinya ketersediaan pangan di desa ini.

Meski program cetak sawah saat ini tidak ada lagi, dia berharap kepada masyarakat agar tetap semangat turun ke sawah. “Terima kasih kepada Anggota TNI-Polri yang hadir hari ini. Selama ini pekerjaan saya di-backup oleh anggota TNI,” kata dia.

Diketahui, kegiatan peletakan batu pertama pembangunan SD 153/VII ini dihadiri langsung oleh Pabung Dim 0416/Bute Mayor Inf Toni Wijaya, Kadis Pertanian Kabupaten Tebo Ziadi SP, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tebo yang diwakili Kabid Pendidikan Dasar Hoirul Akmal, S.Pd. MM, Camat Tebo Ilir M Habibi, ST, ME, Danramil 416-05/Sungai Bengkal Kapten Inf Zulkarnain, Kapolsek Tebo Ilir Iptu Winarno SH MA, Kades Tuo Ilir Eli Suhairi, Kepala Puskesmas Ds Teluk Rendah Indra Am.Kep, tokoh masyarakat, tokoh adat dan undangan lain.

Reporter: Syahrial

PERISTIWA

Jalan Rusak Imbas Proyek Sekolah Rakyat, Warga Mayang Jambi Pasang Poster Protes

DETAIL.ID

Published

on

DETAIL.ID, Jambi – Warga RT 42, Kelurahan Mayang, Kecamatan Alam Barajo, Kota Jambi, mengeluhkan kondisi jalan lingkungan yang rusak dan tak kunjung diperbaiki. Kerusakan akibat aktivitas kendaraan berat selama pengerjaan proyek Sekolah Rakyat itu dikhawatirkan membahayakan keselamatan pengguna jalan.
‎
‎Sebagai bentuk protes, warga memasang poster tuntutan perbaikan jalan pada Minggu, 25 Oktober 2026. Mereka mendesak pemerintah dan pihak terkait segera mengambil tindakan sebelum kerusakan tersebut menimbulkan korban jiwa.
‎
‎”Jalan ini merupakan akses utama warga untuk beraktivitas sehari-hari. Kami meminta pihak kontraktor dan pemerintah segera memperbaikinya. Jangan sampai menunggu ada korban jiwa baru jalan ini diperbaiki,” ujar salah seorang warga.
‎
‎Warga menilai kerusakan jalan terjadi akibat mobilisasi alat berat dan kendaraan pengangkut material selama pengerjaan proyek Sekolah Rakyat. Beban kendaraan yang melampaui kemampuan jalan disebut menjadi salah satu penyebab kerusakan.
‎
‎Saat proyek masih berlangsung, pihak kontraktor disebut sempat menangani bagian jalan yang rusak dengan menyiramkan sisa adukan semen dari truk molen. Namun, upaya tersebut dinilai hanya bersifat sementara.
‎
‎Jalan kembali mengalami kerusakan setelah dilalui kendaraan berbeban berat. Kondisi tersebut membuat warga khawatir, terutama karena jalan itu digunakan setiap hari oleh masyarakat setempat.
‎
‎Adapun pengerjaan proyek Sekolah Rakyat yang berlangsung sejak akhir 2025 lalu hingga September 2026. Meski proyek telah rampung, warga mengeluhkan belum adanya perbaikan jalan yang diduga terdampak aktivitas proyek tersebut.
‎
‎Warga pun mendesak Pemerintah Kota Jambi, Pemerintah Provinsi Jambi, serta pihak kontraktor agar segera menindaklanjuti keluhan tersebut.

Reporter: Juan Ambarita 

Continue Reading

PERISTIWA

Union Busting Mencuat di PT BSS, KSBSI Segera Laporkan ke Polda Jambi

DETAIL.ID

Published

on

DETAIL.ID, Jambi – Para pekerja/buruh di PT Batanghari Sawit Sejahtera (BSS) yang terletak di Desa Lubuk Raman, Maro Sebo, Kabupaten Muarojambi tak terima dengan tindakan sewenang-wenang dari pihak manajemen perusahaan yang diduga mengintimidasi para pekerja.
‎
‎Sikap perusahaan pun bikin para buruh Geram, hingga puluhan buruh yang tergabung dalam Federasi Hukatan KSBSI menggelar aksi mogok kerja pada Selasa 13 Oktober 2026.
‎
‎Koorwil KSBSI Provinsi Jambi, Roida Pane, mengatakan bahwa peristiwa tersebut bermula dari adanya perundingan antara manajemen perusahaan dengan pekerja yang merupakan pengurus komisariat Hukatan KSBSI di PT BSS pada 5 Oktober lalu, terkait dengan briefing pagi.
‎
‎”Jadi dalam perundingan itu, manager mereka emosi dengan menggebrak meja. Kawan kita pengurus yang disana, juga terpancing emosi, digebrak juga meja kan. Manajer ini marah, kupecat kau, katanya. Bubarlah perundingan itu,” ujar Roida Pane, Selasa 13 Oktober 2026.
‎
‎Pasca perundingan yang berujung buntu itu bubar, para pekerja yang mengikuti rapat kemudian kembali bekerja. Namun sore harinya, tanpa pikir panjang manajer PT BSS, Frengki Siregar mengeluarkan surat PHK yang ditujukan kepada Ketua Komisariat Hukatan di PT BSS, yakni Awaludin.
‎
‎”Kalau di surat PHK itu dengan alasan mendesak, mereka (manajemen BSS) mengklaim (pekerja) melakukan intimidasi. Padahal mereka yang mengintimidasi,” kata Roida.
‎
‎Imbas PHK yang dilakukan oleh manajemen perusahaan pada Ketua Komisariat Hukatan, para pekerja yang lain pun kemudian melakukan aksi mogok kerja pada shift malam.
‎
‎Persoalan ini kemudian ditindaklannuti dengan upaya mediasi dari KSBSI Provinsi Jambi lewat surat yang ditujukan kepada manajemen BSS, Disnaker Muarojambi, hingga pihak kepolisian.
‎
‎Namun pihak BSS dikabarkan tidak mau menerima surat dari organisasi buruh tersebut. Para pekerja pun menggelar aksi mogok kerja pada Senin 13 Oktober 2026. Sembari berunjuk rasa di depan gerbang PKS PT BSS.
‎
‎”Orang dinas kemudian mengupayakan perundingan, tapi sampai sore tadi perusahaan tetap tidak mau untuk dilakukan perundingan,” katanya.
‎
‎Koorwil KSBSI Provinsi Jambi itu pun menilai bahwa PT BSS samasekali tidak menghargai keberadaan serikat pekerja, bahkan PT BSS dinilai telah melakukan union busting atau pemberangusan serikat pekerja).
‎
‎”Rabu lusa, kita akan laporkan ini Polda Jambi. Besok kita laporkan ke pengawas ketenagakerjaan,” katanya.
‎
‎Reporter: Juan Ambarita

Continue Reading

PERISTIWA

Pimpinan Ponpes Sabilul Jannah Bantah Dugaan Penganiayaan Santri, Katanya Korban Tak Akui Perbuatannya

DETAIL.ID

Published

on

DETAIL.ID, ‎Jambi – Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Sabilul Jannah, Ahmad Fauzi Al-Barbasy membantah sejumlah informasi terkait dugaan penganiayaan terhadap santri berinisial MP (14) di lingkungan pesantren yang dipimpinnya, Selasa, 13 Oktober 2026.
‎
‎Fauzi mengatakan bahwa, dirinya tidak berada di lokasi saat kejadian berlangsung karena sedang berada di Jawa Timur untuk menghadiri wisuda anaknya. Setelah menerima kabar insiden tersebut, ia mengaku langsung kembali dan memanggil sejumlah santri yang diduga mengetahui peristiwa itu untuk menggali kronologi kejadian.
‎
‎”Setelah saya cek dan mencocokkan keterangan saksi dengan informasi yang beredar, ternyata ada beberapa hal dalam pemberitaan yang menurut saya tidak sesuai,” kata Fauzi.
‎
‎Berdasarkan keterangan saksi yang dihimpunnya, Fauzi menyebut dugaan penganiayaan tersebut dipicu oleh persoalan antara korban dan seorang oknum guru berinisial MD.
‎
‎Ia mengklaim, korban diduga beberapa kali mengintip istri MD melalui lubang pada sekat seng yang memisahkan area kamar mandi santri putra dan putri. Menurutnya, posisi tempat tinggal guru tersebut berdekatan dengan asrama santri putra.
‎
‎Fauzi mengatakan, dugaan tersebut memicu emosi MD, lantaran korban tidak mengakui perbuatannya hingga melakukan pemukulan terhadap korban.
‎
‎”Ketika mengetahui kejadian itu, oknum guru itu spontan emosi dan langsung memukul santri tersebut. Saya juga menanyakan mengapa sampai terjadi pemukulan, dan menurut pengakuannya, saat itu dia lepas kontrol,” ujarnya.
‎
‎Fauzi juga menyebut adanya upaya membawa korban untuk mendapatkan pengobatan setelah kejadian. Namun, menurutnya, Puskesmas Simpang Tuan dalam kondisi tutup, sedangkan di Puskesmas Sengeti korban disebut sempat ditanya apakah ingin berobat.
‎
‎Ia mengakui, korban akhirnya tidak mendapatkan pengobatan medis saat itu dan hanya dibawa ke rumah warga untuk diolesi madu.
‎
‎”Ini juga yang saya sesalkan, kenapa tidak jadi diobati. Saat itu hanya diajak ke rumah warga dan diolesi madu,” katanya.
‎
‎Fauzi juga membantah informasi yang menyebut korban ditahan atau disekap selama 3 hari. Ia menjelaskan, setelah beberapa hari, pihak pesantren lewat seorang santri langsung mengantar korban ke rumah keluarganya.
‎
‎Terkait penanganan perkara tersebut, Fauzi mengaku telah berupaya menemui keluarga korban dan menjenguk korban. Pihak pesantren, kata dia, juga berusaha menyelesaikan persoalan itu secara kekeluargaan.
‎
‎Namun, ia menegaskan bahwa pihaknya tidak bermaksud membenarkan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh oknum guru tersebut.
‎
‎”Saya tidak membela siapa-siapa. Tetapi, yang salah harus bertanggung jawab,” katanya.
‎
‎Di sisi lain, Fauzi menyebut MD juga merasa dirugikan oleh sejumlah informasi yang beredar. Menurutnya, terdapat bagian dari laporan yang dinilai tidak sesuai dengan kejadian berdasarkan versi yang diterimanya. ‎MD pun disebut berencana bakal melapor balik, atas dugaan pencemaran nama baik.

Reporter: Juan Ambarita

Continue Reading
Advertisement
Advertisement Seedbacklink

Dilarang menyalin atau mengambil artikel dan property pada situs