Connect with us
Advertisement

DAERAH

Jelang Pembukaan Laga Sepakbola Pekan Olahraga Kabupaten, KONI Tebo Melaksanakan Gotong Royong di Sport Centre Tebo

DETAIL.ID

Published

on

DETAIL.ID, Tebo – Ketua Umum KONI Kabupaten Tebo, Mansuardi beserta beberapa pengurus KONI Tebo melaksanakan kegiatan Gotong Royong di Gedung Sport Centre Tebo, Rabu 13 Oktober 2021.

Diketahui, kegiatan tersebut sebagai langkah awal persiapan Pekan Olahraga Kabupaten (PORKAB) Cabang Sepak Bola dalam rangka menyambut peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Tebo ke-22 yang dijadwalkan akan dilaksanakan pada tanggal 18 Oktober 2021 mendatang.

Pantauan media ini di lapangan, sehabis melaksanakan giat gotong royong bersama, Mansuardi menyempatkan waktu untuk meninjau Atlet Askab PSSI Tebo yang melakukan latihan jelang persiapan laga pertandingan yang akan diikuti pada Porkab mendatang.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua 1 KONI Kabupaten Tebo, Syaripudin SE, MM, saat diwawancarai media ini mengakui, saat ini beberapa pertandingan  sudah terlaksana, seperti cabang bulu tangkis, cabang tenis meja, dan cabang tenis lapangan.

“Alhamdulillah kegiatan berjalan dengan aman dan lancar, tinggal cabang  pertandingan Bola Kaki dan cabang Panjat Tebing yang baru akan dilaksanakan,” ungkap Syaripudin.

Lanjut dikatakan Syaripudin, Kegiatan Pekan Olahraga Kabupaten ini merupakan bentuk sinergitas antara Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Tebo dengan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Tebo.

Reporter : Hary Irawan

DAERAH

Buka Universitas Merangin Fest 2026, Sekda Zulhifni Ajak Gen Z Jaga Akar Budaya

DETAIL.ID

Published

on

Ketua Penggerak PKK, Lavita Syukur dan Rektor Universitas Merangin bersama dua penulis Merangin. (DETAIL/Daryanto)

DETAIL.ID, Merangin – Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Merangin, Zulhifni, secara resmi membuka gelaran Universitas Merangin (UM) Fest 2026 yang berlangsung di Aula Kampus Talang Kawo, Kamis, 22 Januari 2026.

Mengusung jargon “Adat Dijunjung, Budayo Kito Jago”, Sekda Zulhifni mengajak milenial Gen Z untuk menjaga akar budaya sebagai warisan luhur.

Dalam sambutannya, Sekda Zulhifni menyampaikan apresiasi tinggi kepada Universitas Merangin atas inisiatif menyelenggarakan kegiatan yang dinilai sangat inspiratif.

Menurutnya, jargon yang dipilih sangat mewakili identitas masyarakat Merangin yang harus diwariskan.

“Universitas Merangin Fest 2026 memiliki tujuan mulia, yakni melestarikan budaya kepada anak muda, khususnya Generasi Z, agar mereka tetap memiliki akar budaya yang kuat di tengah pesatnya perkembangan zaman,” ujar Sekda Zulhifni.

Festival yang berlangsung selama dua hari (21-22 Januari 2026) ini dimeriahkan dengan lomba tari tingkat SD dan SMA.

Sekda menilai pelibatan pelajar merupakan langkah positif dalam membangun kepercayaan diri dan menanamkan karakter berbudaya sejak usia dini.

Selain aspek seni, UM Fest juga menonjolkan jiwa kewirausahaan mahasiswa melalui bazar UMKM.

“Ini tidak hanya mengasah kreativitas mahasiswa, tetapi juga mendorong penguatan ekonomi kreatif dan pemberdayaan masyarakat,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, Sekda Zulhifni juga meluncurkan buku antologi cerpen karya penulis lokal, yakni buku “Betandang” karya Bayu Kumara dan Yanto Bule, serta buku “Surat-surat Sunyi”.

“Ini bukti nyata karya sastra dari imajinasi penulis kita. Semoga memberi warna pada kesusastraan di Jambi dan mewujudkan mimpi kita menjadikan Merangin sebagai Kota Literasi,” ucap Zulhifni.

Sebagai bentuk apresiasi, Pemerintah Kabupaten Merangin memberikan penghargaan kepada tiga pelaku seni berdedikasi, yaitu Febra Muyu Ari, Wiko Antoni, dan Bayu Kumara.

Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya Ketua TP PKK Kabupaten Merangin, Lavita Mudahar Syukur, Asisten III Setda Hennizor, Plt. Kadikbud Merangin, Juhendri, Rektor Universitas Merangin, Yosi Elfisa, beserta jajaran wakil rektor, Ketua Dewan Kesenian Merangin, Asraf Almutawir Ketua KNPI, Andi Putra dan Kasat Binmas Polres Merangin, Karto.

Acara diakhiri dengan penyerahan piagam penghargaan oleh Sekda kepada para pemenang lomba dan pelaku seni, sebagai simbol dukungan penuh pemerintah terhadap keberlanjutan agenda budaya di Kabupaten Merangin.

Berikut para Pemenang LombaTari Kreasi Daerah pada UNMER Fest:

Kategori SD/Sederhana
Juara 1 Moonchild dari SDN 282, dengan penari: 1. Qianna Syafiqa Jila, 2. Naura Nadhifa Putri, 3. Nazila Humaira, 4. Airin Mikaila RTS khaira Shafana.

Juara 2 Ekskul Tari 028 dari SDN 028 dengan penari: 1. Adzikia Ikhwatunnisa, 2. Novita Dewi, 3. Renata Stevani.

Juara 3 Perempuan Dance dari MIN 1 Bangko dengan penari: 1. Assyha Ainaya Rediti, 2. Fatthiya Rahma, 3. Fatimah Azzahra

Kategori SMA/Sederajat
Juara 1 Sanggar SMANel dari SMAN 5 dengan penari: 1. Bias Cinta Jefina, 2. Wahyu Setiawati, 3. Silviani Azzuhra, 4. Fike Zivilia Zahra.

Juara 2 Sanggar SMANDEIArt dari SMAN 8 dengan penari: 1. Istiarani, 2. Intan Wirda Putri, 3. Izzatun Nisak, 4. Bunga Lestari, 5. Aurelda Putri Yulianti.

Juara 3 Smandubel Dance ART dari SMAN 12 dengan penari: 1. Delita Ulfah, 2. Na’afi Rahmawati, 3. Safa Dini Febiani Saskia Lira Ansyari.

Continue Reading

DAERAH

Pesantren “Hybrid” Pertama: Kisah Ijtihad Pendidikan di Ranah Minang

Oleh: Taufikkurahman*

DETAIL.ID

Published

on

DI TENGAH bentang budaya Minangkabau yang teguh memegang adat, di kota kecil yang dijuluki “Serambi Mekkah”-nya Sumatera Barat, tumbuh suatu laboratorium pendidikan Islam yang unik. Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang bukan sekadar tempat mengaji, melainkan sebuah eksperimen besar—sebuah ijtihad atau usaha penalaran mandiri—dalam dunia pendidikan.

Ia adalah sintesis hidup dari dua hal yang kerap dianggap berseberangan: tradisi pesantren yang kokoh dan semangat modernisasi Muhammadiyah yang progresif. Inilah kisah pesantren “hybrid” pertama, yang berani mendobrak dikotomi untuk menjawab tantangan zaman.

Lahir di bawah naungan Muhammadiyah—organisasi yang sejak 1912 gencar membawa pembaruan (tajdid)—Pesantren Kauman justru memilih untuk tidak menanggalkan jubah tradisi. Di sini, para santri masih setia mendalami kitab kuning dengan metode ceramah umum dan baca individual di hadapan guru. Suara lantang membaca nadham (syair berbahasa Arab) masih menggema di waktu fajar, sebuah pemandangan klasik khas pesantren.

Namun, di ruang sebelahnya, santri-santri itu dengan lincah mengoperasikan laptop, merancang presentasi, atau berdiskusi tentang sains dan teknologi. Mereka mengikuti kurikulum nasional di sekolah formal Muhammadiyah yang terintegrasi, mengasah keterampilan wirausaha di koperasi pesantren, dan bahkan terlibat dalam proyek sosial. Inilah “hibridisasi” sejati: bukan pencampuran yang setengah-setengah, tetapi perpaduan organik di mana kedua unsur saling memperkuat. Ijtihad mereka sederhana namun mendalam: tradisi bukanlah beban, melainkan fondasi; modernitas bukan ancaman, melainkan alat.

Keunggulan pesantren hybrid ini terletak pada kurikulumnya yang responsif. Ia tidak mengadopsi model impor secara mentah, tetapi merancang pendekatan yang sensitif terhadap dua konteks utama: nilai Minangkabau dan tuntutan global.

Merangkul Adat dan Syara’: Di tanah matrilineal, pesantren ini dengan cerdas mengintegrasikan pemahaman tentang adat “adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah” (adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Al-Qur’an). Pendidikan gender yang seimbang dan penghormatan pada peran perempuan dalam masyarakat Minang menjadi bagian dari diskusi. Santri diajak untuk tidak melihat agama dan budaya lokal sebagai musuh, tetapi sebagai mitra dialektis.

Melampaui Batas Dinding Pesantren: Santri tidak dikurung dalam menara gading. Mereka dilibatkan dalam khalwat (kontemplasi) sekaligus mu’amalah (interaksi sosial). Mulai dari bimbingan masyarakat sekitar, penyuluhan kesehatan, hingga program pemberdayaan ekonomi, ilmu yang didapat di kelas dan musholla diuji di lapangan. Kemandirian dan jiwa wirausaha—yang juga selaras dengan semangat “alam takambang jadi guru”—ditanamkan melalui unit usaha pesantren.

Metode Belajar yang Membebaskan: Berbeda dengan stereotip pesantren yang kaku, metode di sini partisipatif dan mendorong berpikir kritis (ijtihad). Diskusi hangat tentang tafsir kontemporer, debat masalah sosial, dan penelitian sederhana adalah menu sehari-hari. Laptop dan internet bukan musuh, tetapi gateway untuk mengakses khazanah keilmuan global, sekaligus alat untuk mempresentasikan pemahaman mereka terhadap kitab klasik.

Jalan menjadi pesantren hybrid tidak mulus. Pesantren ini menghadapi skeptisisme dari dua kubu: kalangan tradisionalis yang curiga terhadap “virus modernitas”, dan kalangan modernis yang menganggap tradisi pesantren sebagai masa lalu. Tantangan keuangan, tekanan untuk mengikuti standar nasional yang kadang kaku, dan menjaga keseimbangan di tengah arus perubahan sosial yang deras adalah ujian berkelanjutan.

Namun, keteguhan pada komitmen awal—menjadi jembatan—membuat mereka bertahan. Kunci keberhasilannya adalah kepemimpinan visioner yang memahami kedua dunia, serta komunitas santri dan asatidz yang bangga menjadi bagian dari eksperimen unik ini. Mereka adalah bukti bahwa seorang santri dapat fasih membahas konsep ushul fiqh di pagi hari, dan merancang proposal bisnis digital di sore hari.

Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang mungkin tidak pernah ingin disebut “pertama” atau “terbaik”. Namun, ketidakmauannya untuk dikotakkan justru menjadikannya pelopor. Ia adalah contoh nyata bahwa pendidikan Islam di Indonesia tidak stagnan.

Warisan terbesarnya adalah paradigma: bahwa kita tidak perlu memilih antara menjadi “kolot” atau “kebablasan”. Bahwa kesalehan tradisional dan kecakapan modern dapat bersenyawa dalam diri seorang muslim. Bahwa ijtihad tidak hanya berlaku untuk masalah fikih, tetapi juga untuk mendesain masa depan pendidikan.

Di lereng Gunung Marapi dan Singgalang, pesantren hybrid ini terus berdiri, merawat warisan nenek moyang sambil menyiapkan anak bangsa untuk dunia yang terus berubah. Ia adalah monumen hidup bahwa di ranah Minang, semangat “duduak surang basampik-sampik, duduak basamo balapang-lapang” (duduk sendiri berdesakan, duduk bersama berlapang-lapang) terejawantahkan dalam harmoni pengetahuan. Di sini, masa lalu dan masa depan tidak berdebat, tetapi berjabat tangan.

*Tim Humas Pesantren Kauman Padang Panjang

Continue Reading

DAERAH

Unik! SPPG Kebonsari Jember Pakai Kostum Power Rangers saat Antar MBG ke Sekolah

DETAIL.ID

Published

on

Anggota SPPG Kebonsari foto bersama anak-anak PAUD, Rabu, 21 Januari 2026. (DETAIL/Dyah)

DETAIL.ID, Jember — Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kebonsari, Jember, mengenakan kostum Power Rangers saat mengantarkan Makanan Bergizi Gratis (MBG) ke sekolah-sekolah di wilayah Jember.

Kegiatan tersebut dilakukan tim SPPG Kebonsari sebagai bagian dari metode distribusi MBG kepada peserta didik di berbagai jenjang pendidikan.

Kostum Power Rangers dikenakan saat petugas mengantarkan makanan ke sekolah.

Kepala SPPG Kebonsari, Agung Indra Permana, menyampaikan alasan penggunaan kostum tersebut untuk menjaga antusiasme siswa saat menerima makanan.

“Alasannya supaya siswa tidak bosan dan siswa semakin semangat dalam menyantap menu yang kita sajikan setiap hari,” katanya pada Rabu, 21 Januari 2026.

Menurut Agung, karakter Power Rangers dipilih karena dekat dengan dunia anak-anak dan identik dengan sosok pahlawan.

“Alhamdulillah siswa sangat positif, sangat senang sekali karena kostum Power Rangers ini kan menggambarkan superhero. Jadi siswa-siswa sangat antusias bahkan sampai mengajak foto bersama,” ujarnya.

Agung menyebut respons serupa juga datang dari tenaga pendidik di sekolah.

“Tidak hanya siswa, guru juga antusias sekali ketika tim kita memakai kostum seperti ini,” ucapnya.

Ia menyatakan penggunaan kostum tersebut baru dilakukan pertama kali dan mendapat respons positif di lapangan.

“Ini kita baru pertama kali memakai kostum. Alhamdulillah respon dari siswa sangat positif. Semoga ke depannya kita bisa terus berinovasi agar program makan bergizi gratis ini dapat benar-benar bermanfaat bagi siswa dan bagi seluruh stakeholder ekonomi yang terlibat dalam MBG ini,” katanya.

Diketahui, SPPG Kebonsari saat ini menyalurkan MBG ke sejumlah sekolah di Jember, mulai dari PAUD hingga SMA.

“Untuk SD kita menyasar SD Kebonsari 2, 3, dan 5. Untuk SMP kita ke SMPN 11 Jember, dan untuk jenjang SMA kita kirim ke SMAN 1 Jember,” tuturnya.

Reporter: Dyah Kusuma

Continue Reading
Advertisement Advertisement
Advertisement ads

Dilarang menyalin atau mengambil artikel dan property pada situs