OPINI
Solusi Angkutan Batu Bara Hanya Dua: Sabak dan Ruas Jalan
Part 2
DUKUNGAN dan pertanyaan silih berganti datang berbarengan ketika tulisan tentang pemindahan pelabuhan atau terminal khusus batu bara ke Sabak dipublish kemarin.
Rata-rata yang mendukung adalah mereka yang merasakan bagaimana semrawutnya angkutan batu bara di Jambi. Situasi macet, stres, panik hingga mereka berharap solusi apa pun yang penting batu bara tidak mengganggu aktivitas mereka, termasuk ketika ada wacana merelokasi pelabuhan.
Di samping dukungan, ada juga pertanyaan tentang pemindahan itu. Pertanyaannya apakah pemindahan pelabuhan itu tidak menambah titik kemacetan baru?
Mengenai ini saya hanya menjawab: volume angkutan batu bara tak sebanding lagi dengan kapasitas pelabuhan (Tersus) di Talang Duku. Akibatnya, pelayanan bongkar muat batu bara jadi lambat. Dari sisi hilir (stokpile) lamanya waktu bongkar muat menimbulkan kemacetan di kawasan Talang Duku dan sekitarnya.
Bayangkan ada 9.000-12.000 truk setiap hari yang mengantre di sepanjang ruas jalan yang hanya 17,9 kilometer dari Talang Duku, Selincah, Pematang Lumut, Talang Bakung hingga ke Lingkar Selatan.
Jika pemindahan pelabuhan terealisasi ke Sabak, maka akan memperlancar angkutan batu bara di Jambi. Memperkecil peluang kemacetan, memberi ruang yang cukup untuk 5.000- 5.500 truk melintas sepanjang jalan.
Dari mana angka 5.000 itu? Perhitungannya, jarak Jambi ke Sabak via Jembatan Batanghari II kurang lebih 62 kilometer. Jika satu truk berkapasitas 8 ton panjangnya 5,7 meter, maka ruas jalan ini akan mampu menampung kurang lebih 10.000 truk.
Angka ini berdasarkan asumsi satu truk dengan truk lainnya terhitung padat hanya berjarak 5 meter sehingga pengalihan angkutan ke Sabak menampung jumlah truk yang besar, memperlancar dan mengurangi kemacetan.
Selain itu, dengan penerapan skenario pemindahan ini, waktu perjalanan dapat dipersingkat hingga 35 persen, atau menjadi sekitar 261 menit (4 jam 21 menit). Dengan anggapan durasi operasional truk yang sama, yaitu selama 13 jam, dalam 24 jam hari kerja pengangkutan dapat dilakukan sebanyak 2 kali.
Kembali ke soal produksi batu bara. Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat ekspor komoditas batu bara terbesar di dunia dan kini menempati peringkat ketiga di dunia sebagai produsen batu bara terbesar, dengan jumlah produksi pada tahun 2020 mencapai 562,5 juta ton.
Hal ini didukung oleh beberapa daerah sumber batu bara besar di Indonesia, salah satunya adalah Provinsi Jambi. Komoditas batu bara dari Jambi ini termasuk salah satu produsen yang sudah terkenal di mancanegara, seperti Cina, India dan Amerika Serikat.
Kuota produksi batu bara Jambi tahun 2022 ditetapkan 39,8 juta ton. Mengacu pada produksi batu bara Jambi tahun 2020 baru mencapai 11 juta ton. Maka, tak heran kini jumlah armada truk pengangkut meningkat dengan pesat.
Paradoksnya tak ada data yang pasti mengenai jumlah angkutan batu bara di Jambi. Perhitungan kasarnya membandingkan data produksi tahun 2021 yang mencapai 13 juta ton dengan rata-rata kapasitas truk yang 8 ton, butuh 12- 16 ribu unit truk untuk mengangkutnya dari tambang ke pelabuhan.
Tentu saja perusahaan lokal perlu membuat strategi-strategi dalam meningkatkan produksi memenuhi permintaan batu bara yang semakin meningkat. Diimbangi dengan aktivitas produksi yang efektif, di antaranya adalah mengoptimalkan kinerja pengangkutan batu bara tersebut.
Idealnya pengangkutan batu bara dilakukan dengan bantuan moda transportasi dengan jalur yang berbeda-beda, seperti kapal berkapasitas besar untuk melalui jalur sungai, kereta api untuk perjalanan darat menuju pelabuhan laut dan truk besar untuk membawa batu bara dari area pertambangan ke terminal selanjutnya.
Namun sayang sampai hari ini di Provinsi Jambi, pengangkutan batu bara masih menggunakan jalur darat dan truk yang berkapasitas minimal 8 ton.
Pengangkutan batu bara dari area pertambangan menggunakan truk merupakan salah satu aktivitas yang sulit dikontrol, karena banyaknya variabel-variabel yang berpengaruh dalam perjalanan suatu truk pengangkut batu bara. Salah satunya kepatuhan sopir akan aturan lalu lintas.
Terkait hal ini, angkutan batu bara di Jambi harus ditertibkan dengan aplikasi Smart GPS agar dapat mengetahui waktu tempuh atau waktu yang dilalui oleh setiap truk dalam setiap aktivitas tersebut. Hal ini dapat memudahkan dalam melakukan pemantauan, apakah kinerja kendaraan sudah seoptimal mungkin atau masih terdapat aktivitas-aktivitas yang sia-sia dan dapat dioptimalkan.
Penggunaan Smart GPS Tracker berbasis sistem manajemen armada dapat membantu pemilik kendaraan atau pemilik bisnis pertambangan batu bara dalam mengetahui atau melacak detail aktivitas truk pengangkut batu bara yang dimilikinya, dengan menggunakan variabel aktivitas yang sangat rinci, mulai dari pengangkutan batu bara dari stockpile hingga penurunan barang di pelabuhan.
Selain itu untuk menjawab dinamika persoalan terkait angkutan batu bara ini, pemerintah Provinsi Jambi bisa melakukan langkah- langkah yang tepat dan terukur.
Tepat, karena langsung bisa menjawab masalah kemacetan. Terukur, tidak memiliki keberpihakan kecuali pada kepentingan masyarakat.
Bicara solusi tentu tak ada yang parsial akan angkutan batu bara. Semua solusi harus simultan berjalan bersama-sama. Kecuali Gubernur Jambi berani menghentikan angkutan batu bara sampai ada investor yang siap membangun jalan khusus. Namun, tampaknya solusi itu jauh panggang dari api.
Maka, ketika sikap Gubernur seperti ini kita hanya bisa mengkaji solusi-solusi jangka pendek menjelang pembangunan jalan khusus batu bara (hauling road) oleh PT Putra Bulian Properti rampung.
Menjelang itu selesai, ribuan truk harus diurai dari hulu dan direlokasi pelabuhan di hilir. Selama ini angkutan batu bara hanya mengandalkan satu jalur Tembesi-Talang Duku. Dampaknya kemacetan terjadi dan menyengsarakan.
Jika hulunya sudah dipecah via beberapa jalur, baik darat maupun sungai dan tujuan akhir bukan hanya di sekitar Talang Duku, bisa ke Sabak atau pelabuhan dagang sebagai pelabuhan feeder. Jika ini berjalan angkutan batu bara akan tersebar, tidak terjadi penumpukan dan stagnasi angkutan.
Ke depan pelabuhan feeder ini kita yakini akan berkembang membuka kawasan ekonomi baru, seiring pembukaan Pintu Tol Sengeti – Sabak – Merlung yang bisa didesain mendukung kawasan ekonomi khusus Pelindo Sabak.
Namun mimpi ini lagi-lagi adalah jangka panjang. Jangka pendek dan mendesak hanya ada dua solusi. Pertama, memperluas bahu jalan di Lingkar Selatan dan trayek Bulian, Tempino dan Simpang Kota Baru. Butuh Rp 800 miliar hingga Rp 1,2 triliun jika jalan itu ingin diperluas dua jalur. Soal pemindahan pelabuhan batu bara bagian dari solusi ini.
Untungnya, jalan statusnya jalan nasional. Di sinilah bukti kepemimpinan Gubernur melakukan lobi anggaran ke pusat. Kedua, solusinya telah mulai dilakukan, yaitu mengurangi jumlah truk angkutan sesuai kapasitas jalan. Hanya itu butuh konsistensi dan pengawasan yang terus menerus. Konsisten, sesuatu kata yang mulai diragukan publik pada leadership penguasa hari ini.(Bersambung)
*Pengamat
OPINI
Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang: Merangkul Zaman dengan Iman, Ilmu, dan Inovasi
Oleh: Taufikkurahman*
DI JANTUNG Kota Padang Panjang yang berhawa sejuk dan kental dengan nuansa intelektual Islam, Pesantren Kauman Muhammadiyah telah berdiri tegak selama puluhan tahun. Institusi yang lahir dari semangat tajdid (pembaruan) Muhammadiyah ini tidak hanya menjadi penjaga tradisi pesantren, tetapi juga pelopor pendidikan integratif. Dalam arus perubahan zaman yang begitu deras, pesantren ini tidak sekadar bertahan; ia aktif menjawab tantangan zaman dengan formula yang khas: memadukan keteguhan akidah dengan kelincahan beradaptasi.
Tantangan yang dihadapi dunia pesantren hari ini multidimensi. Mulai dari pesatnya perkembangan teknologi digital yang mengubah gaya hidup dan cara belajar, maraknya informasi (dan disinformasi) yang membanjiri generasi muda, degradasi nilai-nilai moral, hingga tantangan global seperti krisis lingkungan, intoleransi, dan kesenjangan ekonomi. Di tingkat lokal, pesantren juga dituntut untuk tetap relevan bagi masyarakat sekitarnya dan mampu bersaing dalam ekosistem pendidikan nasional.
Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang menjawab tantangan-tantangan ini bukan dengan menara gading, melainkan dengan langkah-langkah konkret dan strategis:
Integrasi Kurikulum “Double-Helix”: Pesantren merancang kurikulum layaknya untaian DNA “double-helix”, di mana satu untai adalah ilmu-ilmu keislaman murni (Al-Qur’an, Hadits, Fiqh, Akidah Akhlak, Bahasa Arab) dan untai lainnya adalah ilmu pengetahuan umum, sains, teknologi, dan ketrampilan. Keduanya saling melilit dan memperkuat. Pembelajaran kitab kuning tetap berlangsung di pagi hari, sementara di siang dan sore hari, santri didorong menguasai komputer, bahasa asing (selain Arab), sains eksperimen, dan kewirausahaan. Ini adalah jawaban atas tantangan dikotomi agama-sains.
Pesantren Digital, Bukan Sekedar Pengguna: Menghadapi gelombang digitalisasi, pesantren tidak hanya mengajarkan santri menggunakan teknologi, tetapi juga memahami dan menciptakan konten yang bermanfaat. Dibentuknya unit broadcasting, pelatihan desain grafis, coding dasar, dan media sosial management bertujuan melahirkan “dai digital” yang cakap. Literasi digital kritis juga diajarkan untuk membentengi santri dari hoaks dan radikalisme online. Infrastruktur IT yang memadai dengan pengawasan yang proporsional menjadi penyeimbang.
Ekopesantren dan Kemaslahatan: Menjawab tantangan ekologis, pesantren mengembangkan konsep “Ekopesantren”. Program penghijauan, pengelolaan sampah mandiri, bank sampah, pertanian organik di lahan pesantren, dan penghematan energi diterapkan dalam keseharian. Hal ini tidak hanya mengajarkan teori, tetapi praktik langsung menjaga alam sebagai bagian dari iman. Pesantren juga menjadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar melalui koperasi santri, pelatihan UMKM, dan pasar hari raya.
Moderasi Beragama yang Aktif: Di tengah ancaman paham keagamaan yang eksklusif dan intoleran, Pesantren Kauman Muhammadiyah meneguhkan kembali jati dirinya sebagai garda moderasi Islam (Wasathiyah). Melalui dialog internal, seminar lintas agama secara virtual, dan penekanan pada fiqh sosial yang kontekstual, santri dibentuk untuk menjadi muslim yang kaffah, berkemajuan, dan mencintai kedamaian. Pesantren menjadi contoh nyata bahwa keberislaman yang tegas dapat berjalan beriringan dengan sikap menghormati perbedaan.
Kemitraan Global dan Jejaring Alumni: Pesantren membuka diri dengan menjalin kemitraan dengan berbagai pihak: universitas dalam dan luar negeri, lembaga riset, dunia industri, dan NGO. Program pertukaran pelajar, kuliah tamu virtual dengan pakar internasional, dan magang bagi santri tingkat akhir adalah upaya untuk membuka wawasan global santri. Jejaring alumni yang kuat juga dimanfaatkan untuk mentoring karier dan pengembangan proyek sosial.
Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang telah membuktikan bahwa dirinya bukanlah monumen yang diam, melainkan laboratorium hidup (living lab) peradaban Islam. Di dalamnya, berbagai eksperimen positif untuk menjawab tantangan zaman dilakukan. Ia menjadi ruang diiman tradisi dan modernitas tidak berbenturan, tetapi bersinergi.
Dengan pendekatan yang dinamis dan berorientasi pada solusi, pesantren ini tidak hanya mencetak santri yang hafal Al-Qur’an dan kitab, tetapi juga calon ilmuwan, entrepreneur, environmentalis, dan negarawan yang berakhlak mulia. Inilah sumbangsih nyatanya bagi bangsa: melahirkan generasi yang tidak gamang menghadapi perubahan karena berpijak pada iman yang kokoh, dan tidak tertinggal karena berbekal ilmu yang relevan.
Menghadapi masa depan, Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang terus berjalan dengan prinsip: “Mengokohkan yang hak, mengadopsi yang baru untuk kemaslahatan umat dan bangsa.” Inilah cara sebuah pesantren menjawab tantangan zaman: dengan tetap setia pada identitasnya, namun berani berinovasi untuk menyambut hari esok yang lebih baik.
*Penulis merupakan anggota Tim humas Pesantren Kauman Padang Panjang
OPINI
Menuju Satu Abad Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang: Merawat Tradisi, Menyambut Peradaban
Oleh: Taufikkurahman*
1 JANUARI 2025, di tengah gegap gempita perkembangan pendidikan Islam di Indonesia, ada sebuah institusi yang telah berdiri tegak bagai pohon beringin yang akarnya menghunjam dalam, sementara dahannya meraih langit. Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang, yang sebentar lagi akan menginjak usia satu abad (100 tahun), bukan sekadar saksi bisu perjalanan zaman, melainkan pelaku aktif yang terus membentuk dan dibentuk oleh denyut nadi sejarah.
Berdiri pada masa pra-kemerdekaan, tepatnya di awal pergerakan Muhammadiyah di Minangkabau, pesantren ini lahir dari rahim semangat pembaruan (tajdid) yang digagas K.H. Ahmad Dahlan. Di Padang Panjang—sebuah kota yang dikenal sebagai “Serambi Mekkah” dan pusat pendidikan Islam tradisional—kehadiran Pesantren Kauman Muhammadiyah membawa angin segar: integrasi antara ilmu agama yang murni dengan pengetahuan umum yang modern.
Selama hampir seabad, pesantren ini telah menjadi “kawah candradimaka” bagi ribuan santri. Prinsip utamanya adalah memadukan kekuatan tradisi pesantren (seperti penghayatan Al-Qur’an-Hadits, kitab kuning, dan kehidupan berasrama) dengan semangat keilmuan Muhammadiyah yang rasional, terbuka, dan berorientasi pada kemajuan. Pendidikan akhlak al-karimah menjadi fondasi, sementara penguasaan sains, teknologi, dan ketrampilan hidup menjadi instrumen untuk berkontribusi di masyarakat.
Banyak tokoh bangsa, ulama, cendekiawan, dan profesional yang merupakan alumni dari pesantren ini. Mereka adalah bukti nyata bahwa model pendidikan integral yang diusung Pesantren Kauman Muhammadiyah berhasil melahirkan manusia yang tidak hanya “alim dalam agama” tetapi juga “cerdas dalam dunia.”
Menjelang usia satu abad, tantangan yang dihadapi tentu berbeda dengan era pendiriannya. Dunia yang semakin digital, generasi Z dan Alpha yang berpikir cepat, masalah degradasi moral, serta persaingan global, menuntut pesantren untuk terus berinovasi tanpa kehilangan jati diri.
Beberapa langkah strategis menuju abad kedua dapat dirumuskan:
Penguatan Kurikulum Masa Depan: Mengintegrasikan lebih dalam pendidikan digital, kewirausahaan, literasi data, dan keahlian abad 21 ke dalam kurikulum pesantren, tanpa mengesampingkan pendalaman tafsir, fiqh, dan tasawuf.
Internasionalisasi Jejaring: Memperluas kerja sama dengan lembaga pendidikan dan pesantren modern di dalam dan luar negeri untuk pertukaran ilmu, santri, dan guru.
Pelestarian dan Digitalisasi Khazanah: Mendokumentasikan dan mendigitalkan sejarah, karya ulama, serta tradisi keilmuan pesantren sebagai warisan intelektual untuk generasi mendatang.
Peran Sosial-Ekologis: Memperkuat peran pesantren sebagai pusat pemberdayaan masyarakat, pusat kajian isu-isu kontemporer (seperti lingkungan, moderasi beragama, dan kesetaraan), serta penjaga kemaslahatan umat.
Pemodernan Manajemen: Menerapkan tata kelola yang profesional, transparan, dan akuntabel untuk memastikan keberlanjutan dan kemajuan institusi.
Padang Panjang, dengan identitasnya sebagai kota pendidikan, akan semakin bersinar dengan peran Pesantren Kauman Muhammadiyah yang semakin matang di usia seabad. Pesantren ini diharapkan bukan hanya menjadi penjaga tradisi keilmuan Islam, tetapi juga menjadi engine of change, mesin penggerak yang melahirkan inovator-inovator muslim yang berakhlak, berilmu, dan bermanfaat bagi peradaban.
Menuju satu abad, perjalanan Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang adalah perjalanan dari sebuah sejarah menuju sebuah legasi. Legasi tentang bagaimana sebuah lembaga pendidikan Islam bisa tetap relevan, berkontribusi, dan menjadi mercusuar pencerahan dari generasi ke generasi.
Selamat menuju satu abad, Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang. Teruslah mengukir sejarah, menebar manfaat, dan melahirkan generasi yang “Muhammadiyah” dalam semangat, “Pesantren” dalam spiritualitas, dan “Modern” dalam visi peradabannya.
*Penulis merupakan anggota Humas Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang
OPINI
Membongkar Stigma Kolot: Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang dan Terobosan ISTEM
SELAMA ini, pesantren sering kali dilabeli dengan stigma kuno, tertutup, dan hanya fokus pada ilmu agama (tafaqquh fiddin) semata. Gambaran tersebut diperkuat oleh narasi populer yang mencitrakan pesantren sebagai dunia terpisah dari modernitas, dengan kurikulum yang statis dan minim engagement dengan perkembangan sains dan teknologi. Namun, stigma kolot itu kini harus dihapus dari benak kita. Di tengah arus revolusi digital dan tuntutan abad 21, banyak pesantren justru menjadi garda terdepan dalam inovasi pendidikan, menyinergikan keimanan dengan kecanggihan ilmu pengetahuan.
Salah satu bukti nyata transformasi tersebut hadir dari Sumatera Barat. Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang telah melangkah jauh dengan menerapkan pola ISTEM (Islamic Science Technology Engineering and Mathematics), sebuah terobosan yang tidak hanya mematahkan stigma, tetapi juga menawarkan model pendidikan ideal untuk masa depan.
ISTEM bukan sekadar mengajarkan sains dan matematika di lingkungan pesantren. Esensinya terletak pada integrasi. Setiap konsep sains, teknologi, rekayasa, dan matematika dikaitkan dan dijiwai oleh nilai-nilai Islam serta perspektif Al-Qur’an dan Hadis.
Islamic: Menjadi fondasi dan lensa. Sebelum mempelajari teori evolusi, pesantren membahas kehendak Allah dalam penciptaan keragaman hayati (QS. Al-An’am: 95). Saat belajar fisika, dibahas ayat-ayat kauniyah tentang gerak, gravitasi, dan alam semesta.
Science: Diajarkan dengan mendalam untuk membangun logika dan cara berpikir ilmiah (scientific reasoning) yang sejalan dengan perintah Allah untuk meneliti dan memikirkan ciptaan-Nya.
Technology & Engineering: Santri tidak hanya jadi pengguna, tapi juga pencipta. Mereka diajak merancang, memprogram, dan merekayasa solusi untuk masalah sekitar, dengan etika Islam sebagai rambu.
Mathematics: Dipelajari sebagai bahasa universal yang memudahkan pemahaman atas keteraturan (sunatullah) di alam semesta.
Penerapan ISTEM di pesantren ini nyata dalam aktivitas sehari-hari:
Kurikulum Terpadu: Mata pelajaran agama dan sains dirancang saling mendukung. Pelajaran Fiqh tentang Thaharah (bersuci) bisa dikaitkan dengan pelajaran biologi tentang mikroba dan kimia tentang air, atau rekayasa sederhana sistem filtrasi.
Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning): Santri bekerja dalam tim untuk membuat proyek seperti robotik sederhana, aplikasi digital untuk pembelajaran Al-Qur’an, sistem hidroponik untuk ketahanan pangan pesantren, atau analisis data sederhana. Setiap proyek dirancang dengan mempertimbangkan manfaat (maslahah) dan dampaknya bagi umat.
Pemanfaatan Teknologi Digital: Penggunaan platform digital, coding, dan media kreatif menjadi bagian dari proses belajar. Santri didorong menghasilkan konten dakwah yang kreatif dan bernalar, bukan sekadar meneruskan informasi.
Lingkungan Belajar Inspiratif: Pesantren dirancang sebagai tempat yang merangsang kreativitas dan penalaran. Perpustakaan dengan akses jurnal ilmiah, laboratorium dasar, dan ruang diskusi menjadi jantung aktivitas.
Memecahkan Stigma: Dari Kolot Menuju Visioner
Dengan pola ISTEM, Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang secara efektif mematahkan tiga stigma utama:
Stigma “Anti-Sains/Teknologi”: Justru, pesantren ini menjadi hub inovasi sains-teknologi yang berlandaskan akidah. Mereka membuktikan bahwa menjadi religius justru berarti harus menguasai sains untuk memahami kebesaran Allah lebih dalam.
Stigma “Tertutup dari Dunia”: Dengan ISTEM, santri justru diajak secara kritis dan aktif menjawab tantangan global—seperti isu lingkungan, kesehatan, dan digitalisasi—dengan perspektif Islam. Mereka connected dan relevan.
Stigma “Hafalan Semata”: Pendidikan di sini menekankan pemahaman, nalar kritis (critical thinking), kreativitas, dan penyelesaian masalah (problem-solving). Menghafal Al-Qur’an tetap penting, tetapi dilengkapi dengan kemampuan menafsirkan dan mengaplikasikan nilainya dalam konteks kekinian.
Konklusi: Masa Depan Pendidikan Indonesia
Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang dengan ISTEM-nya adalah contoh nyata bahwa pesantren bukanlah masa lalu, melainkan masa depan. Ia merajut dua hal yang sering dianggap bertentangan: keimanan yang kokoh dan penguasaan sains-teknologi yang tangguh.
Model ini menjawab kegelisahan banyak orang tua yang menginginkan anaknya tak hanya pintar agama tetapi juga kompetitif di dunia yang semakin digital. Melalui ISTEM, lahir generasi “ulama-intelek” atau “ilmuwan-ulama”: generasi yang paham agama sekaligus mampu mencipta teknologi, yang santun sekaligus inovatif, yang berdiri di atas tradisi namun matanya tertuju ke masa depan.
Stigma kolot telah usang. Saatnya kita melihat pesantren sebagai pusat peradaban Islam modern, tempat dimana iman dan logika bersinergi, melahirkan pemecah masalah umat yang visioner. Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang telah menyalakan obor itu, dan cahayanya patut disambut oleh dunia pendidikan Indonesia.
*Penulis merupakan anggota Humas Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang

