Connect with us
Advertisement

OPINI

Siklus Destruktif: Narkoba, Seks Bebas, dan Kualitas Pemimpin Mantan Pecandu Narkoba

Published

on

NARKOBA dan seks bebas merupakan isu kompleks yang melibatkan berbagai faktor psikologis, sosial, dan biologis. Dari sudut pandang psikologis, penggunaan narkoba sering kali dipicu oleh faktor-faktor seperti stres, trauma, atau gangguan mental, yang membuat individu mencari pelarian dari realitas. Ketika berada di bawah pengaruh narkoba, individu cenderung kehilangan kemampuan untuk membuat keputusan rasional, sehingga lebih mudah terjebak dalam perilaku seks bebas yang berisiko.

Secara sosial, lingkungan di mana seseorang berada dapat sangat mempengaruhi perilaku mereka. Dalam banyak kasus, narkoba dan seks bebas saling terkait dengan budaya atau subkultur tertentu yang mendorong perilaku hedonistik. Misalnya, pesta, klub malam, dan komunitas yang terbuka terhadap penggunaan narkoba sering kali menjadi tempat di mana perilaku seksual berisiko berkembang. Tekanan dari teman juga dapat mempengaruhi individu untuk terlibat dalam perilaku tersebut, meskipun mereka menyadari risikonya.

Dari perspektif biologis, penggunaan narkoba dapat mempengaruhi sistem saraf pusat dan neurotransmitter yang mengatur emosi dan perilaku. Narkoba tertentu dapat merangsang pelepasan dopamin, neurotransmitter yang terkait dengan perasaan senang dan reward, sehingga mendorong individu untuk mencari lebih banyak pengalaman yang menyenangkan, termasuk dalam konteks seksual. Akibatnya, individu yang menggunakan narkoba lebih cenderung untuk mengambil risiko dalam hubungan seksual, seperti berhubungan tanpa perlindungan atau dengan banyak pasangan.

Kombinasi dari faktor-faktor psikologis, sosial, dan biologis ini menciptakan suatu siklus di mana narkoba dan seks bebas saling mempengaruhi. Individu yang terlibat dalam perilaku ini berisiko tinggi terhadap berbagai konsekuensi negatif, termasuk penularan penyakit menular seksual, dampak psikologis, serta masalah hubungan sosial.

Hasil penelitian menunjukkan terdapat korelasi antara mengkonsumsi narkoba dengan perilaku seks bebas. Semakin terjerat dalam mengkonsumsi narkoba maka perilaku seks bebas semakin tinggi. Hal ini disebabkan oleh efek narkoba yang menurunkan kontrol diri dan kemampuan pengambilan keputusan, sehingga seseorang lebih cenderung terlibat dalam perilaku berisiko, termasuk seks bebas.

Pengaruh narkoba, terutama yang bersifat depresan dan stimulan, dapat membuat individu kehilangan kesadaran akan norma dan tanggung jawab pribadi. Selain itu, penggunaan narkoba di lingkungan sosial seperti dunia malam juga sering kali menjadi pemicu utama perilaku seks bebas, karena suasana yang mendukung perilaku impulsif dan melupakan konsekuensi jangka panjang, seperti risiko penyakit menular seksual atau dampak psikologis. Kombinasi antara penurunan inhibisi, euforia sementara, dan tekanan sosial memperbesar kemungkinan seseorang terjebak dalam siklus perilaku destruktif ini, yang pada akhirnya berdampak negatif pada kesehatan fisik, mental, dan hubungan sosial.

Dr. Seth Kalichman, seorang psikolog klinis dan profesor di University of Connecticut, yang telah mempelajari hubungan antara penggunaan zat, perilaku seksual berisiko, dan infeksi HIV. Kalichman juga meneliti tentang efek penggunaan narkoba terhadap pengambilan keputusan dalam konteks perilaku seksual. Dalam penelitiannya, Kalichman menemukan bahwa penggunaan zat seperti alkohol, kokain, dan methamphetamine dapat secara signifikan mengganggu kemampuan seseorang untuk membuat keputusan rasional, terutama dalam situasi yang melibatkan risiko kesehatan, seperti hubungan seksual tanpa pengaman.

Kalichman menunjukkan bahwa narkoba mempengaruhi area otak yang mengatur kontrol diri dan kesadaran terhadap konsekuensi jangka panjang. Ketika seseorang berada di bawah pengaruh narkoba, mereka lebih mungkin untuk terlibat dalam hubungan seksual tanpa perlindungan atau dengan banyak pasangan, yang pada akhirnya meningkatkan risiko penularan penyakit menular seksual, termasuk HIV. Penggunaan narkoba ini sering kali dikombinasikan dengan tekanan sosial dan lingkungan, seperti dunia malam, yang mendukung perilaku impulsif dan mengurangi rasa tanggung jawab.

Selain itu, Kalichman juga menemukan bahwa terdapat hubungan erat antara prevalensi HIV dan penggunaan narkoba di beberapa kelompok populasi, terutama di kalangan pengguna narkoba suntik. Penyalahgunaan narkoba bukan hanya memperbesar kemungkinan perilaku seksual berisiko, tetapi juga memperparah dampak kesehatan masyarakat secara keseluruhan, terutama dalam konteks penularan penyakit seperti HIV.

Berdasarkan penelitian Dr. Seth Kalichman, jika seorang pemimpin atau calon pemimpin di suatu daerah adalah pecandu atau mantan pecandu narkoba, hal ini memiliki dampak serius terhadap kepercayaan publik, integritas kepemimpinan, dan kualitas pengambilan keputusan. Dalam konteks kepemimpinan, seorang pemimpin atau calon pemimpin yang merupakan pecandu atau mantan pecandu narkoba menghadapi berbagai tantangan serius yang dapat mempengaruhi efektivitas dan kepercayaan publik terhadapnya. Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Seth Kalichman menunjukkan bahwa penyalahgunaan narkoba dapat mengganggu kemampuan individu untuk mengambil keputusan yang rasional. Ketidakmampuan ini bisa berdampak pada pembuatan kebijakan yang tidak hanya tidak efektif, tetapi juga berpotensi merugikan masyarakat.

Kehilangan kredibilitas adalah salah satu konsekuensi yang tak terhindarkan. Publik cenderung menilai pemimpin melalui perilaku dan moralitasnya, sehingga seorang pemimpin yang memiliki latar belakang sebagai pecandu narkoba dipandang tidak layak untuk memimpin. Ketika masyarakat kehilangan kepercayaan pada pemimpin mereka, hal ini bisa menghambat dukungan yang dibutuhkan untuk menjalankan pemerintahan yang efektif.

Ketidakstabilan emosional dan perilaku impulsif juga menjadi tantangan tersendiri. Pemimpin yang terpengaruh oleh narkoba bisa mengalami perubahan suasana hati yang drastis dan perilaku yang tidak terduga. Ini tidak hanya mempengaruhi kinerjanya, tetapi juga menciptakan suasana kerja yang tidak stabil, berpotensi menimbulkan konflik dengan anggota tim atau masyarakat.

Lebih lanjut, ada potensi untuk eksploitasi dan korupsi. Seorang pemimpin dengan latar belakang penyalahgunaan narkoba bisa rentan terhadap pengaruh luar yang merugikan, seperti tekanan dari individu atau kelompok berkepentingan. Dalam situasi seperti ini, mereka terlibat dalam praktik korupsi atau penyalahgunaan kekuasaan yang pada akhirnya merugikan masyarakat.

Dampak negatif ini juga menjangkau generasi muda. Pemimpin yang adalah mantan pecandu narkoba dapat memberikan contoh yang salah kepada anak-anak dan remaja, seolah-olah penyalahgunaan narkoba dapat diterima. Jika mereka tidak mampu mengubah perilaku atau berkomitmen pada proses rehabilitasi yang sukses, hal ini bisa mengirimkan pesan berbahaya yang merusak harapan masa depan generasi muda.

Selain semua itu, masalah kesehatan mental sering menyertai pecandu narkoba. Gangguan seperti depresi, kecemasan, dan stres pascatrauma dapat mengganggu kemampuan mereka untuk menjalankan tanggung jawab kepemimpinan dengan baik. Ketidakmampuan untuk mengatasi masalah ini bisa menciptakan tantangan tambahan yang berujung pada kinerja yang tidak optimal.

Secara keseluruhan, kehadiran seorang pemimpin atau calon pemimpin yang merupakan pecandu atau mantan pecandu narkoba bisa membawa dampak negatif yang signifikan bagi kepercayaan publik, pengambilan keputusan, dan kesehatan masyarakat. Tantangan yang dihadapi individu tersebut tidak hanya mempengaruhi dirinya, tetapi juga bisa berdampak luas pada stabilitas pemerintahan dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Oleh karena itu, penting untuk mengevaluasi dampak ini dengan cermat dalam konteks kepemimpinan dan pengaruhnya terhadap kebijakan publik serta kesejahteraan masyarakat. Pilihlah pemimpin yang bebas dari narkoba.

*Ketua Forum Masyarakat Peduli Pilkada Jambi (FMP2J)

Advertisement Advertisement

OPINI

Mendidik Meneguhkan Karakter Generasi Penerus

DETAIL.ID

Published

on

DI TENGAH derasnya arus globalisasi dan transformasi digital, generasi Z dan Alpha tumbuh dalam dunia yang serba cepat, instan, dan penuh distraksi. Informasi hadir tanpa batas di genggaman, namun ruang untuk merenung justru semakin sempit. Dalam situasi ini, pendidikan tidak lagi dapat dimaknai sekadar sebagai proses transfer ilmu pengetahuan, melainkan sebagai fondasi peradaban yang memanusiakan manusia secara utuh. Pendidikan sejati bukan hanya mencerdaskan akal, tetapi juga menumbuhkan nurani, membentuk karakter, dan mengarahkan manusia pada makna hidup yang lebih luhur. Filsuf pendidikan John Dewey pernah menegaskan, “Education is not preparation for life, education is life itself.” Pendidikan bukan sekadar persiapan hidup, melainkan proses kehidupan itu sendiri yang membentuk keutuhan pribadi manusia.

Kesadaran ini menjadi semakin relevan ketika kita melihat bahwa kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi atau kekuatan ekonomi, tetapi oleh kualitas karakter generasi penerusnya. Dalam konteks Indonesia, pendidikan berbasis nilai Pancasila dan semangat P4 (Pedoman, Penghayatan, dan Pengamalan Pancasila) menemukan urgensinya kembali. P4 bukan sekadar dokumen historis, melainkan kompas moral kebangsaan yang membimbing generasi muda agar tidak kehilangan arah di tengah krisis nilai, polarisasi sosial, dan budaya pragmatis yang kian menguat. Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang unggul secara teknologi, tetapi juga bangsa yang kokoh secara moral, sosial, dan spiritual.

Menghidupkan kembali pendidikan karakter berbasis Pancasila di sekolah berarti meneguhkan jati diri bangsa di tengah arus global. Kurikulum boleh adaptif terhadap perkembangan zaman digital, tetapi nilai tidak boleh dikompromikan oleh perubahan zaman. Sejalan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara, “Pendidikan adalah tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak.” Artinya, pendidikan harus membimbing, bukan sekadar mengarahkan secara mekanis. Pendidikan yang tercerabut dari akar kebangsaan berisiko melahirkan generasi cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara moral dan identitas.

Dalam perspektif humanis, pendidikan pada hakikatnya adalah proses memanusiakan manusia. Paulo Freire dalam gagasannya tentang pendidikan pembebasan menyatakan bahwa “pendidikan harus menjadi praksis pembebasan, bukan penindasan”. Pendidikan yang memerdekakan tidak mencetak manusia yang patuh secara pasif, tetapi membentuk pribadi yang sadar, kritis, dan reflektif. Generasi Z dan Alpha bukan generasi yang kekurangan informasi, melainkan generasi yang membutuhkan makna. Oleh karena itu, proses belajar tidak boleh berhenti pada hafalan dan capaian akademik semata, tetapi harus menyentuh pengalaman, refleksi, aksi, dan evaluasi. Dari pengalaman lahir refleksi, dari refleksi lahir kesadaran, dan dari kesadaran lahir tindakan yang bernilai.

Hakekatnya, pendidikan karakter yang kuat tidak dapat dilepaskan dari peran guru sebagai ujung tombak pendidikan. Di tengah perubahan zaman, martabat guru menghadapi tantangan yang kompleks. Status profesional dan sertifikasi tidak otomatis menjamin kepercayaan publik jika tidak disertai keteladanan. Aristoteles pernah mengatakan, “Educating the mind without educating the heart is no education at all.” Pernyataan ini menegaskan bahwa pendidikan tanpa pembentukan hati dan karakter hanyalah kecerdasan yang kehilangan arah. Guru tidak cukup hanya menjadi pengajar, tetapi harus menjadi inspirator, fasilitator, dan pemimpin pembelajaran yang humanis.

Karakteristik generasi Z dan Alpha yang adaptif, terbuka, dan melek teknologi menuntut pendekatan pendidikan yang relevan dan bermakna. Mereka hidup dalam budaya digital yang cepat, namun sering kali kurang ruang refleksi dan kedalaman makna. Dalam konteks ini, keteladanan menjadi metode pendidikan karakter yang paling efektif. Murid mungkin lupa teori yang diajarkan, tetapi mereka akan selalu mengingat sikap, nilai, dan integritas gurunya. Seperti yang diungkapkan oleh Albert Schweitzer, “Example is not the main thing in influencing others. It is the only thing”, bahwa teladan bukanlah hal utama dalam memengaruhi orang lain, tetapi teladan adalah satu-satunya hal yang penting.
Lebih jauh, pendidikan sejatinya adalah proses kepemimpinan diri. Prinsip “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani” menegaskan bahwa pendidikan adalah seni mendampingi manusia agar bertumbuh secara otentik. Pendidikan yang humanis akan melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan tanggung jawab moral. Dalam perjalanan pendidikan, baik bagi murid maupun guru, selalu terdapat dimensi batin: proses belajar, berjuang, gagal, dan bangkit kembali merupakan ruang pembentukan kedewasaan diri. Friedrich Nietzsche pernah menulis, “He who has a why to live can bear almost any how.” Pendidikan yang bermakna membantu manusia menemukan “mengapa” dalam hidupnya, bukan sekadar “bagaimana” untuk sukses.

Pada akhirnya, masa depan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan karakter yang ditanamkan hari ini di sekolah. Jika pendidikan hanya berorientasi pada capaian akademik, maka kita mungkin menghasilkan generasi cerdas namun kehilangan arah. Sebaliknya, jika pendidikan berlandaskan nilai Pancasila, humanisme, dan refleksi, maka akan lahir generasi yang berprinsip, berintegritas, dan berbelarasa. Pendidikan bukan sekadar soal apa yang diajarkan, tetapi siapa yang dibentuk. Ketika pendidikan mampu memerdekakan pikiran, menumbuhkan karakter, dan memanusiakan manusia, maka di sanalah pendidikan menjalankan misi sejatinya untuk menjaga martabat manusia sekaligus menyelamatkan peradaban.

*Guru SMA Kolese De Britto Yogyakarta

Continue Reading

OPINI

Jakarta “Tenggelam” Lagi: Mengapa Banjir Subuh Terus Berulang?

DETAIL.ID

Published

on

JAKARTA – Bagi warga Jakarta, suara hujan di dini hari dalam sepekan terakhir bukan lagi pengantar tidur, melainkan alarm peringatan akan lumpuhnya aktivitas kota. Fenomena hujan yang konsisten turun pada waktu subuh hingga pagi hari ini memang bukan kebetulan. Merujuk pada analisis BMKG, dinamika atmosfer yang sangat aktif di wilayah barat Indonesia memicu penumpukan uap air yang tumpah tepat saat warga memulai kesibukan.

Memasuki Jumat siang (23/1/2026), situasi ini mencapai titik kritis. Data terbaru dari pusat informasi kebencanaan menunjukkan eskalasi genangan yang sangat cepat; dari yang semula hanya beberapa titik, kini meluas hingga merendam 143 RT dan memutus akses di 16 ruas jalan protokol utama. Dampaknya signifikan, urat nadi trDocansportasi ibu kota lumpuh akibat banyak kendaraan terjebak di jalur utama yang tidak lagi bisa ditembus.

Kondisi paling mengkhawatirkan terpantau di kawasan Rawa Buaya, Jakarta Barat. Melansir keterangan resmi BPBD DKI Jakarta, ketinggian air di wilayah tersebut telah menyentuh 150 sentimeter. Operasi evakuasi besar-besaran pun terus dilakukan petugas gabungan menggunakan perahu karet untuk menyelamatkan warga yang terisolasi di dalam rumah. Hingga saat ini, laporan lapangan mencatat sedikitnya 387 jiwa telah mengungsi ke posko darurat karena hunian mereka tidak lagi layak ditinggali.

Pertanyaan besarnya adalah: sampai kapan kondisi ini akan bertahan? Proyeksi cuaca memperingatkan bahwa puncak musim hujan diprediksi masih akan berlangsung hingga akhir Februari atau awal Maret 2026. Artinya, ancaman banjir masih akan menjadi risiko harian warga setidaknya untuk sebulan ke depan.

Krisis ini kembali menegaskan bahwa banjir Jakarta bukan sekadar masalah air kiriman, melainkan belum optimalnya sistem drainase kota dalam menampung curah hujan lokal yang ekstrem. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa pembenahan infrastruktur kita masih berkejaran dengan intensitas perubahan iklim dan penurunan muka tanah yang kian nyata.

Sudah saatnya kebijakan publik tidak hanya fokus pada solusi jangka pendek seperti pengerahan pompa atau evakuasi darurat. Diperlukan keberanian untuk mengevaluasi total tata ruang dan mempercepat integrasi sistem kendali air secara menyeluruh. Selama hujan masih dianggap sebagai “kejutan” tahunan, banjir akan terus menjadi identitas pahit yang melekat pada wajah ibu kota.

Puteri Nazwa Layla, Mass Communication Student, Binus University.

Continue Reading

OPINI

Hidup Terasa Mulia Dimulai dari Hormati Guru

DETAIL.ID

Published

on

GURUKU pahlawanku, guruku orangtua keduaku. Kata itu pengingat peristiwa yang pernah aku alami tahun 1990 sampai 2000an, ketika dunia pendidikan masih tegak lurus dengan adab dan etika. Hubungan guru, siswa, dan orang tua masih dijiwai oleh rasa hormat. Jauh berbeda dari sekarang.

Suatu siang, aku pulang sekolah dengan wajah kusam. Saat mau masuk rumah, bertemu Papa sedang menjahit di mesin jahit.

“Pa, aku dipukul guru. Pa, rambut aku dipotong guru,” aku sambil menangis.

Sejenak Papa berhenti, matanya sedikit melotot seolah mencari jawaban. Tanpa menunjukkan kemarahan, hanya bertanya tanpa tahu kesalahanku, “Pakai apa dia pukul?”

“Pakai mistar, Pa,” jawabku. Papa kemudian berdiri.

Aku pikir Papa pasti membela diriku dan besok akan datang ke sekolah. Tanpa banyak bicara, Papa langsung mengambil mistar di dekatnya, membuat hatiku bertanya.

Bukan membela aku sebagai anak dari darah dagingnya, justru memukul lebih keras dari guruku. Lalu mengambil gunting membotaki rambut. Aku menyesal sudah memberitahunya. Ternyata jauh lebih menyakitkan.

Peristiwa itu terpatri dalam ingatan hingga sekarang. Setelah puluhan tahun berlalu dan aku telah memiliki keluarga sendiri. Bukan sebagai kenangan pahit, tapi sebagai kenangan indah

Seorang guru tak akan mau mengambil tindakan seperti memukul atau memotong rambut muridnya jika bukan karena murid tersebut telah melanggar aturan dengan sengaja dan mengabaikan peringatan.

Istilah guru sebagai orang tua kedua bukan sekadar omong kosong. Mereka tak hanya memberi ilmu pengetahuan dari buku pelajaran, tapi juga membentuk adab, etika, dan kedisiplinan, menjadi pondasi bagi masa depan.

Lihatlah sekeliling kita yang sekarang menjadi pegawai sukses di berbagai perusahaan, tentara menjaga keutuhan negara, anggota polisi yang melindungi keamanan masyarakat, dokter serta insinyur.

Semua itu karena siapa? kalau bukan karena otak dan hati diasah dengan penuh kesabaran oleh para bapak dan ibu guru yang tak pernah mengenal lelah.

Bapak dan ibu kita di rumah memang mencintai sepenuh hati. Tapi mereka tak akan mungkin mampu mengajarkan semua dibutuhkan untuk menghadapi dunia luar, mulai dari kemampuan berpikir kritis, kerja sama tim, hingga nilai-nilai kehidupan seperti kejujuran, tanggung jawab, dan rasa empati terhadap sesama.

Asal tahu saja, menjadi guru tak segampang dibayangkan. Mereka datang ke sekolah sejak jam 7 pagi bahkan lebih awal, hanya untuk mempersiapkan materi pembelajaran. Terkadang harus mengoreksi tugas dan ujian, pulang pun malam.

Waktu berharga dihabiskan bukan untuk anak di rumah. Melainkan untuk anak-anak orang yang baru dikenal.

Harapan mereka sama persis dengan harapan bapak dan ibu di rumah, agar tumbuh menjadi orang berguna bagi diri sendiri, keluarga, dan negara.

Ketika menjadi orang dihormati, gubernur sekalipun, dia tak akan pernah meminta sedikit pun imbalan. Dia juga tak akan pernah mengingatkan tentang apa yang telah diajarkan.

Namun, perbedaan zaman sekarang terasa jauh berbeda. Aku tak ingin menyalahkan siapa-siapa, tapi aku sebut saja sebagai “untul-untul” atau sakit kepala.

Begitu bodoh jika orangtua melihat anaknya mendapat hukuman maupun teguran dari guru, otak mereka langsung bereaksi kotor tanpa mengetahui kesalahan sebenarnya.

Ada lagi, menjadikan guru sebagai musuh dengan melaporkan ke aparat penegak hukum. Lebih parah, ada murid keroyok gurunya.

“Kalau kau benar-benar mampu mengajarkan semua hal yang dibutuhkan anakmu sendiri, mulai dari matematika, bahasa, ilmu pengetahuan, hingga kedisiplinan dan nilai-nilai hidup, sebaiknya kau ajarkan saja anakmu di rumah.”

Jasa guru tak bisa digantikan. Coba bayangkan ketika guru hanya fokus pada mata pelajaran saja, tanpa ada sentuhan kasih sayang. Pasti ilmu diberikan terasa hampa.

Untuk seluruh guru yang membaca tulisan ini, tetap kobarkan tugas muliamu. Jangan lelah untuk mencetak generasi penerus bangsa. Hanya Allah SWT, Tuhan Maha Esa, yang mampu membalas semua kebaikan dan pengorbanan kalian. Hai para murid-murid, cintailah gurumu!

*warga Provinsi Jambi

Continue Reading
Advertisement Seedbacklink
Advertisement Seedbacklink

Dilarang menyalin atau mengambil artikel dan property pada situs