Connect with us
Advertisement

LINGKUNGAN

Sawit Milik Anggota KT Alam Lestari Dirusak WKS, KPA Jambi Kecam dan Kutuk PT WKS

Published

on

detail.id/, Jambi – Tanaman sawit milik Sukur yang merupakan warga Dusun tanjung beringin, dan juga anggota Kelompok Tani Alam Lestari yang juga merupakan anggota dari Serikat Tani Tebo (STT) diduga dirusak oleh oknum sekuriti Wira Karya Sakti (PT WKS) pada Sabtu, 26 Maret 2022 sekira pukul 09.00 WIB.

Awalnya, berdasarkan keterangan Sukur, pada Rabu, 23 Maret lalu salah seorang pengawas panen yang bernama Kris berkunjung ke rumah Sukur di Dusun tanjung beringin, desa lubuk mandarsah kec. Tengah ilir. Kab.tebo. Saat itu, ia menanyakan kepemilikan sawit tersebut.

“Itu sawit saya, kalau mau panen silakan, tapi sawitnya jangan dirusak. Kemudian Kris menjawab, ‘Okelah Pak De kalau gitu,’ kemudian pengawas panen tersebut pulang,” kata Sukur menceritakan pada Senin, 28 Maret 2022.

Dua hari setelahnya, tepatnya pada 26 Maret lalu, Sukur mengunjungi kebun miliknya dengan niat untuk membersihkan sawitnya yang sudah berbuah pasir mengingat juga usia sawitnya sudah 3 tahun lebih dan menyulam tanaman sawit yang mati akibat hama babi.

Sekitar pukul 10.00 WIB, ketika Sukur beristirahat, ia melihat 2 mobil double kabin berhenti di dekat lahan miliknya. Turun dari mobil tersebut 8 orang sekuriti dengan membawa dodos dan parang dan langsung menyiram sawit Sukur dengan solar dan racun.

Menyadari ia hanya sendiri, Sukur lantas bergegas dengan niatan mengambil HP ke rumahnya, namun setelah kembali ke lahan miliknya pihak yang diduga sekuriti PT WKS, sudah pergi.

Sukur kemudian melaporkan kejadian tersebut ke anggota Kelompok Tani Alam Lestari, bahwa tanaman sawitnya telah dirusak oleh orang yang tak bertanggungjawab.

Di hari berikutnya, Minggu, 27 Maret 2022 sekira pukul 09.00 WIB, Sukur pergi menemui seseorang bernama Jadi, untuk bergerak menuju lahannya untuk melihat tanaman sawitnya yang sudah di gusur dan ditimbun tanah dengan menggunakan alat berat perusahaan.

Terdapat 45 batang sawit yang digusur dan ditimbun oleh pihak perusahaan. Tak berselang lama kemudian 5 orang anggota Kelompok Tani Alam Lestari datang ke lokasi penggusuran perusakan tanaman sawit Sukur.

Mereka kemudian bertemu sekuriti PT WKS. Berdasarkan pernyataan sekuriti tersebut, Sukur bersama 5 orang anggota kelompok tani mengatakan bahwa mereka dijanjikan oleh pihak perusahaan jika menginginkan mediasi, maka dilakukan pada Senin 28 Maret 2022.

“Kata orang perusahaan besok pagi saja, hari Senin di lokasi,” ujar Sukur menirukan perkataan pihak WKS.

Sukur serta para anggota kelompok tani menerima baik masukan dari pihak WKS. Namun sayang, kepercayaan masyarakat dipermainkan oleh PT WKS, janji untuk mediasi bersama pihak Sukur pada Senin, 28 Maret 2022 diingkari.

“Pihak perusahaan tidak kunjung datang ke lokasi penggusuran,” ujar Sukur.

Menyikapi persoalan ini, Koordinator Wilayah Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Jambi, Frans Dodi sangat menyayangkan arogansi dari pihak PT WKS.

“Yang pasti kita dari KPA Jambi sangat menyayangkan dan mengutuk tindakan sewenang-wenang dari WKS ya, karena yang jadi kesalahan fatal WKS juga adalah bahwa sawit masyarakat yang digusur itu merupakan lahan yang jadi salah satu lokasi yang sudah ditetapkan menjadi Lokasi Prioritas Reforma Agraria,” kata Koordinator Wilayah KPA Jambi, Frans Dodi pada Senin, 28 Maret 2022.

Lebih lanjut, ia merinci terdapat 3 poin yang jadi tuntutan KPA Jambi menyikapi persoalan yang dialami Kelompok Tani  yang merupakan salah satu anggota Serikat Tani anggota KPA Jambi.

1. Mengecam dan mengutuk tindakan sewenang-wenang WKS di lahan masyarakat yang masuk dalam Lokasi Prioritas Reforma Agraria.
2. Mendesak pemerintah untuk serius dalam mewujudkan Reforma Agraria.
3. Pemerintah, dalam hal ini KLHK harus juga mencabut dan mengevaluasi seluruh perizinan grup Sinarmas karna telah menyalahi mekanisme yang berlaku.

Advertisement

LINGKUNGAN

Pantau Gambut: Karhutla Kian Mengkhawatirkan, Titik Panas Juli Naik 549 Persen

DETAIL.ID

Published

on

DETAIL.ID, Jakarta – Jumlah titik panas di Indonesia melonjak tajam sepanjang Juli 2026. Pantau Gambut mencatat sebanyak 15.067 titik panas, meningkat hingga 549 persen dibandingkan Juni 2026.

‎Lonjakan terbesar terjadi di sejumlah wilayah yang selama ini menjadi kawasan rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

‎Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan jumlah titik panas tertinggi yakni 4874 titik meningkat sekitar 1897 dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara Papua Selatan mencatat 4220 titik naik 457 persen.

‎Kalimantan Tengah juga mengalami peningkatan signifikan. Setelah sepanjang Januari hingga Juni 2026 berada di kisaran 200 titik panas per bulan, jumlahnya melonjak menjadi 2821 titik sepanjang Juli.

‎Pantau Gambut menilai peningkatan tersebut menunjukkan masih lemahnya pengelolaan lahan dan perlindungan masyarakat dari dampak karhutla, khususnya di wilayah yang memiliki ekosistem gambut.

‎Dampak karhutla juga dinilai tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi telah mengancam kesehatan dan aktivitas masyarakat. Kabut asap bahkan disebut telah melintasi batas negara hingga berdampak pada aktivitas sekolah di Malaysia.

‎Kelompok yang paling rentan terhadap dampak asap adalah anak-anak dan perempuan. Perwakilan warga Merauke, Beatrix Gebze mengatakan karhutla di Papua Selatan telah berkembang menjadi ancaman serius bagi perempuan dan anak.

‎”Karhutla di Papua Selatan bukan lagi sekadar krisis ekologis, melainkan ancaman langsung bagi keselamatan perempuan dan anak,” ujar Beatrix.

‎Menurut dia, paparan asap dalam jangka panjang dapat memicu gangguan pernapasan pada anak. Kondisi tersebut semakin berat karena akses terhadap fasilitas kesehatan, air bersih dan pangan masih terbatas di sejumlah wilayah terdampak.

‎Persoalan serupa disoroti Ketua Badan Eksekutif Komunitas Solidaritas Perempuan Mamut Menteng, Irene Natalia Lambung. Ia menilai perempuan adat belum ditempatkan sebagai subjek yang setara dalam kebijakan mitigasi perubahan iklim.

‎Irene juga mempertanyakan belum adanya langkah konkret pemerintah dalam menjalankan Putusan Citizen Law Suit (CLS) Gerakan Anti Asap (GAAS) yang telah dimenangkan warga sejak 2019.

‎”Solusi yang ada sekadar cuci tangan dan membiarkan perempuan menanggung dampak krisis secara mandiri,” katanya.

‎Sementara itu, Juru Kampanye Perkumpulan Rawang, Kartika Lestari menyebut karhutla di Sumatera Selatan telah memperparah ketidakadilan sosial dan gender.

‎Ia mendesak pemerintah memberikan perlindungan khusus, layanan kesehatan serta pemulihan ekonomi bagi perempuan dan anak yang terdampak karhutla.

‎Sementara itu Juru Kampanye Pantau Gambut, Putra Saptian meminta pemerintah tidak lagi mengorbankan perlindungan lingkungan atas nama pembangunan.

‎”Selama perlindungan gambut terus dinegosiasikan, krisis ini akan terus memakan korban,” kata Putra.

‎Putra juga mendesak Menteri Pertanian dan Menteri Kehutanan segera mengevaluasi izin konversi lahan gambut oleh korporasi skala besar.

‎Menurutnya, tata kelola gambut harus diarahkan pada perlindungan ekosistem sekaligus menjamin keselamatan masyarakat, terutama perempuan dan anak.

Reporter: Juan Ambarita

Continue Reading

LINGKUNGAN

Karhutla! Sekber PSDH Desak Evaluasi Tata Kelola Gambut

DETAIL.ID

Published

on

DETAIL.ID, ‎Jambi – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Kabupaten Muarojambi, termasuk di areal Perhutanan Sosial Desa Persiapan Air Merah, Kecamatan Sungai Gelam, mendorong Sekretariat Bersama Pengelolaan Sumber Daya Hutan (Sekber PSDH) Jambi meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola kawasan gambut.

‎Sekber PSDH menilai penanganan karhutla di ekosistem gambut tidak cukup hanya melalui pemadaman. Kondisi hidrologi, perubahan penggunaan lahan, serta pola pemanfaatan kawasan Perhutanan Sosial juga perlu menjadi bagian dari evaluasi.

‎Ketua Sekber PSDH Jambi, Feri Irawan mengatakan pengelolaan gambut harus melihat kondisi kawasan secara utuh berdasarkan Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) dan bentang alam.

‎Menurutnya, persoalan tata air menjadi salah satu faktor penting dalam pencegahan karhutla di kawasan gambut. Gambut yang mengalami pengeringan dinilai lebih rentan terbakar.

‎”Pemadaman penting, tetapi pencegahan harus dimulai dari tata air,” Kata Feri, dalam pernyataan sikap Sekber PSDH Jambi, 13 Agustus 2026.

‎Sekber PSDH juga menyoroti kawasan Perhutanan Sosial yang mengalami perubahan pola pemanfaatan, termasuk berkembang menjadi perkebunan kelapa sawit. Pemerintah diminta memastikan pemanfaatan kawasan tetap sesuai ketentuan dan tidak mengurangi fungsi ekologis gambut.

‎Sekber PSDH memandang evaluasi penanganan karhutla perlu mencakup perubahan tutupan dan penggunaan lahan, pola pemanfaatan Perhutanan Sosial, tinggi muka air tanah, jaringan kanal, kanal blocking, drainase, hingga konektivitas tata air dengan sungai dan badan air alami.

‎Selain itu, kondisi hidrologi antarwilayah dalam satu bentang alam juga perlu diperiksa. Hal ini karena sistem tata air gambut tidak mengikuti batas administrasi, izin maupun konsesi.

‎”Air tidak mengenal batas konsesi, batas izin maupun batas administrasi,” katanya.

‎Sekber PSDH mendorong Kementerian Kehutanan bersama pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait melakukan evaluasi berbasis KHG. Pendekatan tersebut dinilai penting agar pencegahan karhutla tidak dilakukan secara sektoral dan parsial.

‎Setidaknya terdapat 6 langkah yang didorong, yakni evaluasi penyebab dan pola karhutla di areal Perhutanan Sosial, pemeriksaan pola pemanfaatan kawasan termasuk perkebunan kelapa sawit, audit kondisi hidrologi, menjadikan KHG sebagai basis pengelolaan tata air, mengintegrasikan penanganan karhutla dengan pemulihan gambut, serta melibatkan masyarakat dalam pengelolaan dan pengawasan tata air.

‎Sekber PSDH juga menekankan pemadaman tetap harus dilakukan secara cepat dan terkoordinasi. Namun, langkah tersebut harus diikuti dengan pembenahan tata air dan pengawasan penggunaan lahan.

‎”Karhutla harus menjadi momentum untuk melakukan evaluasi, bukan sekadar operasi pemadaman. Gambut adalah satu kesatuan ekologis, sehingga tata kelolanya juga harus berbasis kesatuan hidrologis dan bentang alam,” ujarnya.

Reporter: Juan Ambarita 

Continue Reading

LINGKUNGAN

Sekber PSDH Jambi: Jangan Menunggu Api Membesar

DETAIL.ID

Published

on

DETAIL.ID, Jambi – Sekretariat Bersama Pengelolaan Sumber Daya Hutan (Sekber PSDH) Provinsi Jambi mengingatkan seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memasuki puncak musim kemarau 2026.

‎Sekber PSDH menyebut fenomena El Niño berpotensi memperparah kondisi kering dan meningkatkan risiko karhutla. Berdasarkan prediksi BMKG, puncak musim kemarau 2026 berlangsung pada Agustus hingga September.

‎Data pemantauan satelit Aqua/Terra dan Suomi NPP mencatat 1.463 titik panas (hotspot) di Provinsi Jambi sepanjang Januari-Juni 2026. Sementara luas lahan terbakar hingga semester pertama 2026 mencapai sekitar 137,72 hektare.

‎Hotspot terbanyak tercatat di Tanjungjabung Barat sebanyak 451 titik, Muaro Jambi 339 titik, Sarolangun 199 titik, Merangin 138 titik, Tanjungjabung Timur 99 titik, Tebo 84 titik, Batanghari 71 titik, Bungo 53 titik, Kerinci 21 titik, Kota Jambi 7 titik dan Sungai Penuh 1 titik.

‎Ketua Sekber PSDH Provinsi Jambi, Feri Irawan mengatakan karhutla bukan persoalan satu institusi sehingga membutuhkan sinergi pemerintah, perusahaan, masyarakat dan aparat.

‎”Karhutla bukan persoalan satu institusi. Kunci kita adalah pencegahan, deteksi dini, dan pemadaman sedini mungkin ketika api masih kecil,” ujar Feri, Senin, 10 Agustus 2026.

‎Menurutnya, wilayah gambut seperti Muaro Jambi, Tanjungjabung Barat dan Tanjungjabung Timur perlu mendapat perhatian khusus karena rentan mengalami kekeringan dan kebakaran.

‎Feri juga meminta hotspot yang muncul berulang di lokasi tertentu segera diverifikasi melalui ground check, patroli dan penelusuran sumber api.

‎”Jangan hanya melihat jumlah hotspot. Yang lebih penting adalah seberapa cepat hotspot tersebut diverifikasi di lapangan dan ditindaklanjuti,” katanya.

‎Sementara itu, Ketua Komda Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Provinsi Jambi, Taufik Qurochman, memastikan perusahaan anggota APHI terus memperkuat kesiapsiagaan melalui penambahan personel, peralatan, patroli dan sistem deteksi dini.

‎Pemerintah Provinsi Jambi sendiri telah menyiapkan 81 posko di wilayah rawan karhutla. Sekber PSDH mendorong posko tersebut tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya personel, tetapi juga berfungsi sebagai pusat informasi dan respons cepat.

‎Sekber PSDH juga mengingatkan seluruh pihak untuk belajar dari kondisi karhutla sebelumnya. Luas kebakaran di Jambi tercatat sekitar 1.055 hektare pada 2023 dan meningkat menjadi sekitar 6.797 hektare pada 2024.

‎Menghadapi puncak kemarau 2026, Sekber PSDH menyerukan pemerintah memperkuat koordinasi dan respons terhadap hotspot, dunia usaha memastikan sarana pengendalian karhutla berfungsi optimal, serta masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan jika menemukan asap atau titik api.

‎”Jangan menunggu api membesar. Jangan menunggu asap menyelimuti permukiman. Jangan menunggu bencana menjadi besar baru kita bergerak,” ujarnya. (*)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement Seedbacklink

Dilarang menyalin atau mengambil artikel dan property pada situs