Connect with us
Advertisement

PERKARA

Keluarga Tahanan yang Meninggal di Polsek Kumpeh Ilir Desak Polisi Beberkan Hasil Autopsi

Published

on

Winda Mardianti, keluarga korban. (ist)

DETAIL.ID, Jambi – Hingga saat ini pihak keluarga Ragil Alfarizi, tahanan yang tewas di Polsek Kumpeh Ilir masih menunggu kepastian penyebab kematian Ragil. Keluarga korban kini meminta pihak kepolisian membuka hasil autopsi secara transparan.

Kakak Ragil, Winda Mardiati mengungkap belum dibukanya hasil autopsi menambah kecurigaan pihak keluarga terhadap kematian Ragil. Pihak keluarga dari awal menduga korban meninggal dunia karena dianiaya, bukan gantung diri. Dia pun kini menagih janji pihak kepolisian untuk membuka kasus ini secara terang benderang.

“Sesuai janji yang diberikan kepada kami bahwa kasus ini dibuka dan diselesaikan secara terang benderang. Tapi sampai 20 hari, kami menunggu yang ingin disampaikan kepada kami tapi belum juga sampai hari ini,” kata Winda Selasa kemarin, 23 September 2024.

Winda sampai jemput bola menanyakan kepada penyidik terkait perkembangan dan hasil autopsi Ragil. Informasi diperoleh pihak keluarga, hasil autopsi sebenarnya sudah keluar, namun penyidik enggan membuka. Mereka berdalih Kapolda Jambi yang akan menyampaikan langsung ke publik.

“Terakhir kami mendapatkan hasil autopsi itu dikeluarkan itu jemputan bola dari kami. Barulah kami dapat informasi bahwasanya sudah keluar. Tetapi untuk hasilnya pihak kepolisian memberi tahu Kapolda yang akan menyampaikan,” ujarnya.

Kakak kandung Ragil itu pun mengungkap sudah mulai bosan dengan janji-janji kepolisian yang tak kunjung ada kepastian. Sudah hampir sepekan menunggu hasil autopsi adiknya tetapi tak kunjung ada kejelasan.

“Ya kami jadi berasumsi lain, kenapa hasil autopsi itu lama, cuma ingin menyampaikan saja kok perlu waktu si A si B. Kami seperti dioper-oper. Lamanya hasil autopsi itu dugaan kami kuat bahwa ini ada apa-apa,” katanya.

Sementara itu kuasa hukum keluarga korban, Elas Anra Dermawan mengatakan pihaknya juga telah berkoordinasi dengan penyidik Polres Muarojambi mengenai perkembangan kasus kematian Ragil. Akan tetapi pihak keluarga diminta untuk menunggu.

“Sampai hari ini hasil autopsi itu belum tersampaikan kepada keluarga. Harapan kami hasil autopsi itu dulu disampaikan, sehingga dari situ kita bisa mengungkapkan fakta yang sebenarnya. Kami nggak perlu siapa yang menyampaikan, yang perlu kami mengetahui hasil autopsi itu,” kata Elas.

Sementara itu Kapolres Muarojambi AKBP Wahyu Bram saat dikonfirmasi lewat WhatsApp mengenai hasil autopsi belum menjawab pesan yang dikirim.

Sebelumnya, Bram menyebut dua orang anggota Polsek Kumpeh Ilir, Brigadir Y dan P, sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Kedua polisi itu, ditetapkan sebagai tersangka atas pasal perampasan hak/kewajiban seseorang. Kedua polisi itu menangkap Ragil tak sesuai prosedur, tanpa laporan polisi dan surat penangkapan.

Ragil ditangkap pihak kepolisian pada Rabu 4 September 2024. Dia dituduh terlibat dalam kasus pencurian laptop di SD 35 Desa Tanjung. Kurang lebih dua jam pasca penangkapan, Ragil dikabarkan meninggal dunia. Kabar itu menimbulkan reaksi pihak keluarga dan warga yang kemudian menyerang Polsek Kumpeh Ilir sebagaimana di berbagai media massa sebelumnya.

Reporter: Juan Ambarita

Advertisement Advertisement

PERKARA

‎Disetujui Kejagung, 2 Perkara di Jambi Ini Diselesaikan Lewat RJ

DETAIL.ID

Published

on

DETAIL.ID, Jambi – Kejaksaan Agung Republik Indonesia menyetujui penghentian penuntutan terhadap 2 perkara tindak pidana umum yang diajukan oleh Kejaksaan Tinggi Jambi melalui mekanisme keadilan restoratif (restorative justice). Persetujuan tersebut diberikan dalam ekspose yang digelar pada Rabu, 18 Februari 2026.

‎Persetujuan disampaikan oleh Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum (Jampidum) Prof Dr Asep Nana Mulyana kepada Kepala Kejaksaan Tinggi Jambi Sugeng Hariadi, SH.MH melalui Zoom Meeting. Kegiatan tersebut turut didampingi oleh Asisten Tindak Pidana Umum (Aspidum) serta Para Kajari se-Wilayah Kejati Jambi, Kepala Seksi Bidang Pidum di lingkungan Kejati Jambi dan Kasi Pidum se-Wilayah Kejati Jambi.

‎Dalam kesempatan itu, Kajati Jambi menyetujui dua permohonan penghentian penuntutan yang diajukan oleh Cabang Kejaksaan Negeri Batanghari di Muara Tembesi dan Kejaksaan Negeri Merangin.

‎Adapun rincian perkara yang disetujui melalui mekanisme keadilan restoratif sebagai berikut:

  1. Perkara dari Cabang Kejari Batanghari di Muara Tembesi atas nama tersangka Ari Saputra Bin Ali Zamza yang disangka melakukan tindak pidana pencurian sebagaimana diatur dalam Pasal 476 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP.
  2. Perkara dari Kejari Merangin atas nama anak Radit Egiansyah Bin Edi Firdaus yang disangka melakukan tindak pidana penyalahgunaan narkotika sebagaimana diatur dalam Pasal 127 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika jo Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana jo Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana jo Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

Kajati Jambi, Sugeng Hariadi, S.H., M.H., menegaskan bahwa persetujuan penghentian penuntutan melalui mekanisme keadilan restoratif merupakan wujud nyata kehadiran negara di tengah masyarakat.

‎“Pelaksanaan keadilan restoratif pada esensinya adalah upaya memulihkan keadaan dan menjaga harmonisasi yang dituangkan dalam bentuk kesepakatan. Dengan berlakunya undang-undang yang baru, segera lakukan koordinasi dengan Pengadilan Negeri untuk memperoleh penetapan,” kata Kajati Jambi.

‎Pelaksanaan penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif wajib memenuhi ketentuan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang KUHAP, khususnya Bab IV mengenai Mekanisme Keadilan Restoratif Pasal 79 sampai dengan Pasal 88.

‎Sinergi antarpenegak hukum dan lembaga terkait menjadi kunci dalam memastikan pelaksanaan pidana dan Restorative Justice  termasuk pidana kerja sosial, berjalan terukur dan efektif, dengan memperhatikan kesiapan sarana, mekanisme pembinaan dan pengawasan, serta pemenuhan hak dan kewajiban para pihak.

‎Dengan persetujuan ini, Kejati Jambi menegaskan komitmennya dalam mengimplementasikan pendekatan hukum yang humanis, berkeadilan, dan adaptif di era baru KUHP dan KUHAP. (*)

Continue Reading

PERKARA

Waka I DPRD Jambi Gugat Mantan Adik Ipar Terkait Sengketa Lahan, Ivan Wirata: Ini Hak Saya Menggugat

DETAIL.ID

Published

on

DETAIL.ID, Muarojambi – Sengketa lahan seluas 242.590 meter persegi atau sekitar 24,259 hektare di RT 09 Km 35 (Pal 2), Desa Bukit Baling, Kecamatan Sekernan, bergulir ke pengadilan. Ivan Wirata bersama Karyani Ahmad mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum (PMH) ke Pengadilan Negeri Sengeti.

Berdasarkan data Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP), perkara tersebut teregister dengan Nomor 71/Pdt.G/2025/PN Snt pada 22 Desember 2025. Ivan dan Karyani menggugat Sri Wulandari serta Sri Mulyati sebagai tergugat. Kepala Desa Bukit Baling dan Kepala Kantor ATR/BPN Muarojambi turut dicantumkan sebagai turut tergugat.

Dalam petitumnya, penggugat meminta majelis hakim menyatakan mereka sebagai pemilik sah atas objek tanah dimaksud. Mereka juga memohon agar surat pernyataan penguasaan fisik bidang tanah (sporadik) dan peta bidang tanah atas nama tergugat dinyatakan tidak sah demi hukum.

Selain itu, penggugat menuntut ganti rugi immateriil sebesar Rp 1 miliar dan kerugian materiil Rp 225 juta yang diklaim berasal dari kehilangan hasil panen serta biaya operasional dan pemeliharaan lahan. Mereka juga meminta putusan dapat dijalankan terlebih dahulu meskipun ada upaya hukum lanjutan (uitvoerbaar bij voorraad) serta menjatuhkan uang paksa (dwangsom) Rp 1 juta per hari apabila putusan tidak dilaksanakan.

Sidang perdana digelar pada 8 Januari 2026, namun ditunda karena turut tergugat tidak hadir. Pada sidang lanjutan 19 Januari 2026, para pihak dijadwalkan menempuh proses mediasi.

Ivan Wirata yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua I DPRD Provinsi Jambi menyatakan gugatan tersebut diajukan untuk memperjuangkan hak anak-anaknya. Ia menilai kepemilikan harta yang diklaim pihak tergugat merupakan hak bersama yang diperuntukkan bagi anak-anaknya, meski dirinya dan Karyani Ahmad telah berpisah.

‎”Kalau itu hak saya untuk menggugat. Itu untuk anak-anak saya. Harta kami diklaim pihak lain, tentu kami tempuh jalur hukum. Biarlah pengadilan yang membuktikan,” ujar Ivan kepada DETAIL.ID pada Selasa, 17 Februari 2026.

Ivan juga mengaku telah melaporkan persoalan tersebut ke pihak kepolisian, termasuk dugaan penyerobotan dan pencurian hasil sawit di atas lahan yang disengketakan.

Diketahui, penggugat merupakan mantan pasangan suami istri. Sementara kedua tergugat disebut sebagai mantan adik ipar dari pihak penggugat. Proses mediasi akan menjadi tahapan lanjutan sebelum perkara memasuki agenda pembacaan jawaban tergugat.

Reporter: Jogi Sirait

Continue Reading

PERKARA

Bupati Batanghari Gugat Sekda ke PN Muara Bulian

DETAIL.ID

Published

on

‎DETAIL.ID, Batanghari – Bupati Batanghari, Muhammad Fadhil Arief, tercatat mengajukan gugatan perdata terhadap Sekretaris Daerah (Sekda) Batanghari ke Pengadilan Negeri Muara Bulian.

Informasi tersebut berdasarkan data pada Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) PN Muara Bulian. Gugatan terdaftar dengan nomor perkara 9/Pdt.G/2026/PN Mbn dengan klasifikasi Perbuatan Melawan Hukum (PMH).

Dalam data SIPP disebutkan, perkara didaftarkan pada Selasa, 10 Februari 2026, sementara tanggal surat gugatan tercatat pada Senin, 9 Februari 2026. Gugatan diajukan melalui kuasa hukum penggugat, Vernandus Hamonangan.

Tak hanya Sekda sebagai pihak tergugat, dua institusi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Batanghari turut tercantum dalam perkara tersebut, yakni Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Batanghari serta Inspektorat Daerah Batanghari.

Namun demikian, berdasarkan penelusuran di SIPP, rincian materi gugatan maupun petitum belum dapat diakses publik. Informasi yang tersedia baru sebatas identitas para pihak, klasifikasi perkara, serta jadwal persidangan.

Sidang perdana perkara ini dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 24 Februari 2026 pukul 09.00 WIB di PN Muara Bulian.

‎Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak penggugat maupun tergugat terkait pokok perkara yang disengketakan.

Reporter: Juan Ambarita 

Continue Reading
Advertisement Seedbacklink

Dilarang menyalin atau mengambil artikel dan property pada situs