OPINI
Politik Brutal Ala Jokowi
Harus dijelaskan terlebih dahulu bahwa tulisan ini tidak lahir dari pikiran seorang intelektual. Dan jauh, jauh sekali dari semacam buah pikiran kaum bangsawan di dunia pikiran. Itu jika menjadi intelektual harus menafikan aspek emosional. Itu jika menjadi intelektual berarti semata-mata menggunakan rasio. Memandang persoalan dengan dingin tanpa rasa benci tanpa caci maki. Melihat apa yang terjadi dengan ketajaman akal dan jauh dari pelibatan perasaan.
Harus diterangkan pula bahwa tulisan ini tidak bisa dipertanggungjawabkan di hadapan sidang ilmiah. Akan tetapi, tulisan ini berani mengangkat muka di hadapan sidang rasa keadilan. Yang akhir-akhir ini tercoreng, mungkin sengaja dicoreng, atau barangkali bagian dari usaha yang (menurut KMP dan pendukungnya) sistematis dan masif dalam membawa negara ini ke jurang kenistaan.
Jokowi. Nama ini pernah menjadi harapan. Menjadi simbol kesungguhan dari negeri yang sedang berusaha bangkit. Jokowi ibarat udara segar. Aku sendiri bahkan sempat mempercayainya, menilainya berbeda dari pemimpin kebanyakan yang hanya mementingkan pencitraan. Seorang kawan—jurnalis politik—pernah menceritakan bagaimana keseriusan Jokowi dalam bekerja.
Waktu ia masih menjadi Gubernur di Jakarta, ia sampai dini hari memantau pergerakan air di sungai Ciliwung. Ia tidak disertai pengawal atau embel-embel kekuasaan macam pejabat biasanya. Ia hanya bersama sopir yang mungkin merangkap sebagai asisten pribadinya. Seorang wartawan yang mengikuti ke mana pun ia pergi, bahkan disuruh pulang. Si wartawan menolak karena takut dimarahi atasannya.
Dan Jokowi menelepon atasan si wartawan, hanya untuk meminta izin agar ia memperbolehkan bawahannya pulang. Itu Jokowi. Aku pikir dia memiliki kepribadian yang luar biasa. Aku pikir, di zaman sekarang ini, sulit, amat sulit—jika tidak dikatakan mustahil—menemukan pejabat publik seperti dia. Jokowi yang tidak suka mendapat upacara penyambutan, Jokowi yang tidak suka dilayani, hanya mau melayani. Dan semua itu dilakukan dengan tulus (tampaknya begitu). Ia tidak mengundang wartawan saat ia melakukan infeksi lapangan. Bahkan asisten pribadinya tidak tahu apa yang akan dilakukan Jokowi hari ini. Dia hanya masuk ke mobil, berkata pada sopir, “Ayo kita tinjau pasar,” misalnya begitu. Ia datang tanpa iring-iringan. Tanpa kegaduhan pengawal motor. Jokowi hanya datang.
Hal inilah yang membuatku menaruh harapan besar pada Jokowi. Dan bukan hanya aku, tapi juga banyak orang lain–dari banyak kalangan yang sama-sama ingin perubahan–percaya bahwa Jokowi adalah solusi. Jokowi berhasil memberi harapan pada orang-orang yang memiliki tradisi golput. Seorang kawan yang sinis pada politik, yang malas berpanas-panas, pemalas nomor wahid yang lebih baik menahan lapar menunggu tukang nasi goreng lewat daripada pergi ke warteg, mau menempuh perjalanan Depok-Sukabumi hanya untuk memilih Jokowi. Dari forum-forum marxis, aku tahu bahwa banyak penganut marxisme yang mengikuti Pemilu—padahal bagi kaum marxis, pemilu adalah perangkat kaum borjuis untuk mengeruk dan menguasai sumber dan alat produksi.
Karena itulah bagi kaum Marxis hukum pemilu adalah haram. Dan tidak hanya memilih, kaum marxis itu juga bahkan banyak yang menjadi relawan pemenangan Jokowi. Lelaki asal Solo ini berhasil menginspirasi (atau mungkin menipu) banyak orang dari berbagai kalangan untuk bergerak dan mewujudkan perubahan. Indonesia seperti disetrum. Kembali digelorakan politik. Para saksi sejarah masa revolusi, mungkin akan terkenang masa ideologi di zaman Soekarno, mengingat gegap gempita pemilu 2014 yang luar biasa. Gegap gempita itu, karena Jokowi. Antusiasme pemilih meningkat pesat karena orang ini. Entah untuk mendukungnya, atau untuk mengadang jalannya.
Aku ingat tulisan Cak Nun tentang Jokowi di Kompas. Cak Nun melihat fenomena Jokowi sebagai sosok yang mampu membangkitkan kerinduan massal atas keterikatan pada yang purba, yang asal, dan jauh dari kesan modern. Seperti kerinduan manusia untuk kembali kepada rahim ibunya.
Di sana manusia seperti menemukan tempat aman, tempat yang jauh dari kegaduhan dan hingar bingar segala pencitraan politisi mainstream. Jokowi berhasil membangkitkan hasrat itu, dengan gayanya yang sederhana, dengan wajahnya yang seperti kebanyakan rakyat Indonesia, dengan gayanya yang spontan dan jauh dari kesan setingan penyusun strategi kampanye. Jokowi, tak ubahnya Obama yang dengan kharismanya berhasil menyedot simpati rakyat Amerika.
Aku teringat celotehan Sarah Palin ketika bersanding dengan Mc Cain melawan Obama. Dia melihat kerumunan pendukung Obama. Dia merasakan harapan besar kerumunan itu pada Obama. Lalu Palin berkata pada tim suksesnya, “Aku kira kita tidak sedang melawan Nabi.” Dan begitu pun yang mungkin dialami Prabowo sekiranya ada catatan tentang itu. Dia barangkali akan mengatakan hal yang sama terhadap Jokowi lawannya.
Kedatangan Jokowi memang pas dengan keinginan rakyat Indonesia yang sudah jenuh dengan sikap kekanak-kanakan elit politik. Jokowi ibarat fajar yang muncul setelah malam panjang yang gelap. Mungkin karena fajar itulah, ia tampak begitu indah. Tapi karena fajar itu juga ia hanya sebentar. Sebab baru dua minggu menjabat sebagai presiden, Jokowi sudah menunjukkan sinyal ganjil dari langkah-langkah kontroversial yang kemudian kerap ia lakukan.
Pertama, ia membuat Kartu Indonesia Sehat secara tidak transparan. Program yang ia tawarkan saat kampanye, rupanya ingin ia wujudkan secara cepat, tapi tidak mengikuti prosedur kebijakan anggaran yang berlaku di Indonesia. Kartu sehat ia buat tanpa ba-bi-bu. Seperti lahir dari tangan pesulap, kartu itu muncul begitu saja. Muncul hanya dua minggu setelah ia dilantik.
Banyak yang bertanya, dari mana dana pembuatan kartu itu? Ada yang mengatakan dari CSR perusahaan, ada yang mengatakan dari perubahan anggaran 2014. Tapi jika dari CSR perusahaan, apakah itu dibenarkan? Jika dari APBN perubahan, apakah sudah sesuai prosedur dan tidak termasuk penyelewengan? Banyak pemimpin-pemimpin daerah yang dijadikan tersangka korupsi karena anggaran belanja tidak digunakan sesuai APBD yang sudah disepakati dengan DPRD, bahkan dengan kenyataan bahwa uang itu tidak diselewengkan untuk memenuhi kepentingan pribadi dan golongan.
Argumen-argumen bermunculan untuk menutupi kejanggalan itu. Katanya, perubahan nama dari BPJS ke KIS adalah wilayah teknis. Dan itu dibolehkan sesuai keputusan Mahkamah Konstitusi. Hanya saja ada satu pertanyaan yang gagal dijawab oleh Jokowi dan antek-anteknya. Kapan tender kartu itu dilangsungkan? Bukankah tender harus diumumkan minimal selama 30 hari setelah proyek diputuskan? Bukankah uang Negara yang banyak itu, yang digunakan untuk proyek itu, harus melalui tender? Agar pengawasan dan permintaan tanggung jawabnya jelas? Tidak jelas memang berapa uang yang digunakan untuk pengadaan kartu itu. Tapi mengingat luasnya cakupan kartu, patut diduga bahwa bukan lagi Miliar, tapi Triliun. Bayangkan, uang sebanyak itu digunakan dengan gegabah! Jika bukan Presiden yang punya hajat, KPK mungkin langsung sikat.
Blunder kedua adalah Jokowi menaikkan BBM tanpa peduli dengan harga minyak dunia yang sedang turun. Alasannya, pengalihan subsidi. Subsidi untuk minyak terlalu besar dan karena itu sayang jika uang 211,9 triliun itu habis menjadi asap. Mungkin argumen ini bisa diterima. Sehingga menurutku, titik tolak pikiran kritis bukan kenapa BBM naik melainkan kepada pengalihannya. Apa peningkatan di bidang kesehatan, apa peningkatan di bidang pendidikan, di bidang pertanian, dan terutama infrastruktur? Jika poin-poin ini nyata perubahannya, it’s oke. Tapi jika tidak, lagi-lagi Jokowi sedang membuat tiang gantungannya sendiri.
Banyak analisis terkait kenaikan BBM ini (meskipun akhirnya turun lagi). Bahwa dengan menarik subsidi BBM, pemerintah sedang membiarkan Pertamina tersungkur di rumah sendiri di hadapan pengusaha minyak dunia. Pertamina bertarung dengan Shell, Petronas, dan sebagainya. Padahal untuk pertarungan itu BUMN ini belum punya kemampuan cukup. Minyak yang dia jual, masih di bawah standar.
Oleh karena itu, saat harga yang ditetapkan pemerintah tidak jauh-jauh amat dengan produk luar, sudah barang tentu masyarakat lebih memilih barang yang lebih bagus meski uang yang dikeluarkan sedikit lebih banyak. Dan terutama, penaikan BBM ini ibarat membuka terowongan besar, sebesar-besarnya, untuk pengusaha minyak global ikut berjualan di Indonesia. Selama ini mereka tidak bisa (atau sulit) masuk karena minyak Pertamina disubsidi.
Biar produk mereka lebih bagus, tapi jika Pertamina menjual bensin dengan harga yang jauh lebih murah, pengusaha minyak global ini akan kalah juga. Dan puncak dari kegaduhan ini adalah Pertamina kalah saing, bangkrut, lalu dijual ke pengusaha asing. Skenario ini bukan tanpa dasar sejarah. Di masa PDIP berkuasa (Presiden Megawati) berkuasa, Indosat dijual. Dan Jokowi, meski di masa kampanye berhasil meneguhkan diri tidak disetir Mega atau partai pendukungnya, saat ia sudah menjadi presiden, sinyal itu bermunculan tanpa bisa disumbat.
Yang paling kuingat dan kuharapkan dari salah satu program Jokowi untuk membuat “Indonesia Hebat” adalah pemilihan pejabat publik yang dilakukan melalui lelang. Program ini penting, mengingat di sanalah kunci untuk membuat pemerintahan yang sehat. Di masa lalu, pejabat-pejabat ini dibagi-bagi ke partai pendukung, atau orang dekat lingkaran kekuasaan. Jokowi datang dan memprogramkan itu. Tak berlebihan jika kupikir Jokowi adalah si penentang arus, Jokowi adalah jeda yang menghentikan tradisi politik yang tidak beretika.
Tapi belum ada setengah tahun memprogramkan itu. Jokowi mengangkat Prasetyo sebagai Jaksa Agung (20 November 2014). Orang yang tidak memiliki prestasi yang menonjol di kejaksaan. Memang pernah menjadi Jaksa Muda Pidana Umum, tapi biasa-biasa aja. Dan yang lebih menyakiti perasaan, Prasetyo adalah politisi Nasdem, salah satu partai yang menyokong Jokowi habis-habisan lewat media nasional yang dimiliki Ketua Umum Nasdem Surya Paloh. Sulit untuk tidak menduga bahwa pemilihan Jaksa Agung ini adalah titipan. Karena itu juga tak bisa dibantah kenyataan bahwa Jokowi adalah pemimpin biasa, yang disetir, dikendalikan dan boneka.
Tentu saja, sistem demokrasi mau tidak mau memang begitu. “bagi bagi kue” adalah wajar sebab menjadi akibat dari kelaziman lobi-lobi politik yang tidak bisa tidak harus dilakukan. Akan tetapi, di masa lalu, bagi-bagi jatah ini diberikan diam-diam, elegan, dan tidak begitu menyakiti perasaan. Bahkan SBY, yang dinilai gagal dan buruk dalam memerintah, sangat hati-hati dan selektif dalam memilih Jaksa Agung. Di era Jokowi, bagi-bagi kekuasaan itu terkesan brutal dan terang-terangan. Dan parahnya itu dilakukan setelah ia, dengan segala cara, meyakinkan relawan dan simpatisan untuk “tidak akan melakukan bagi-bagi kekuasaan”. Menurutnya, ekses sistem demokrasi itu tidak etis, harus diubah sebab akan memenjara siapa pun yang menduduki posisi tertinggi di pemerintahan. Dan yang paling fatal, bagi-bagi kue itu akan memunculkan berbagai kebijakan yang mengabdi pada partai dan golongan, dan tidak berpihak pada rakyat.
Masalah Jaksa Agung belum reda, tapi kebrutalan seolah mesti jalan terus! Kali ini tentang Kapolri. Proses pemilihan Kapolri yang dilakukan Jokowi tidak transparan dan kuat terkesan pesanan Mega, bukan atas dasar prestasi. Bukan atas dasar integritas si calon. Budi Gunawan, meski Jokowi sudah mendapat peringatan dari PPATK sebab memiliki potensi korup, tetap dicalonkan oleh Jokowi! Orang yang konon berupaya mewujudkan good governanceitu.
Alhasil Jokowi ditampar—mungkin diludahi—oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Sehari setelah nama BG diberikan ke DPR untuk dilakukan fit and proper test, calon tunggal Kapolri usungan Jokowi itu dijadikan tersangka kasus suap oleh KPK. Dan KPK, sekali menjadikan seseorang sebagai tersangka, tidak akan melepas orang itu. Artinya, status itu diberikan kepada siapa pun, selalu dan selalu, setelah KPK menemukan dua bukti kuat. KPK tidak sembarangan. Karena itulah, orang yang menjadi tersangka, seolah sudah pasti akan menjadi terdakwa dan terpidana. Penetapan status tersangka itu mungkin tidak pada momen yang tepat. Mungkin terkesan buru-buru dan kejar tayang hingga diasumsikan memiliki tujuan politis. Akan tetapi, apa yang publik tahu, apa yang publik rasakan terlanjur diketahui dan dirasakan. Rasa kecewa itu bukan alang kepalang. Dan politik selamanya tentang persepsi publik. Jokowi menjadi presiden sekarang pun sejatinya karena persepsi itu.
Saat Jokowi menaikkan BBM ketika harga minyak dunia mengalami penurunan, aku masih memiliki ruang prasangka baik. Mungkin dia melakukan itu benar-benar untuk kemajuan negeri; untuk pendidikan, kesehatan dan infrastruktur. Tapi saat pemilihan orang-orang nomor 1 di kejaksaan dan kepolisian begitu brutal, aku tidak punya lagi ruang itu. Ini jelas tidak benar. Aku telah mendukung dan berharap pada orang yang salah!
*) Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Mataram
OPINI
Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang: Merangkul Zaman dengan Iman, Ilmu, dan Inovasi
Oleh: Taufikkurahman*
DI JANTUNG Kota Padang Panjang yang berhawa sejuk dan kental dengan nuansa intelektual Islam, Pesantren Kauman Muhammadiyah telah berdiri tegak selama puluhan tahun. Institusi yang lahir dari semangat tajdid (pembaruan) Muhammadiyah ini tidak hanya menjadi penjaga tradisi pesantren, tetapi juga pelopor pendidikan integratif. Dalam arus perubahan zaman yang begitu deras, pesantren ini tidak sekadar bertahan; ia aktif menjawab tantangan zaman dengan formula yang khas: memadukan keteguhan akidah dengan kelincahan beradaptasi.
Tantangan yang dihadapi dunia pesantren hari ini multidimensi. Mulai dari pesatnya perkembangan teknologi digital yang mengubah gaya hidup dan cara belajar, maraknya informasi (dan disinformasi) yang membanjiri generasi muda, degradasi nilai-nilai moral, hingga tantangan global seperti krisis lingkungan, intoleransi, dan kesenjangan ekonomi. Di tingkat lokal, pesantren juga dituntut untuk tetap relevan bagi masyarakat sekitarnya dan mampu bersaing dalam ekosistem pendidikan nasional.
Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang menjawab tantangan-tantangan ini bukan dengan menara gading, melainkan dengan langkah-langkah konkret dan strategis:
Integrasi Kurikulum “Double-Helix”: Pesantren merancang kurikulum layaknya untaian DNA “double-helix”, di mana satu untai adalah ilmu-ilmu keislaman murni (Al-Qur’an, Hadits, Fiqh, Akidah Akhlak, Bahasa Arab) dan untai lainnya adalah ilmu pengetahuan umum, sains, teknologi, dan ketrampilan. Keduanya saling melilit dan memperkuat. Pembelajaran kitab kuning tetap berlangsung di pagi hari, sementara di siang dan sore hari, santri didorong menguasai komputer, bahasa asing (selain Arab), sains eksperimen, dan kewirausahaan. Ini adalah jawaban atas tantangan dikotomi agama-sains.
Pesantren Digital, Bukan Sekedar Pengguna: Menghadapi gelombang digitalisasi, pesantren tidak hanya mengajarkan santri menggunakan teknologi, tetapi juga memahami dan menciptakan konten yang bermanfaat. Dibentuknya unit broadcasting, pelatihan desain grafis, coding dasar, dan media sosial management bertujuan melahirkan “dai digital” yang cakap. Literasi digital kritis juga diajarkan untuk membentengi santri dari hoaks dan radikalisme online. Infrastruktur IT yang memadai dengan pengawasan yang proporsional menjadi penyeimbang.
Ekopesantren dan Kemaslahatan: Menjawab tantangan ekologis, pesantren mengembangkan konsep “Ekopesantren”. Program penghijauan, pengelolaan sampah mandiri, bank sampah, pertanian organik di lahan pesantren, dan penghematan energi diterapkan dalam keseharian. Hal ini tidak hanya mengajarkan teori, tetapi praktik langsung menjaga alam sebagai bagian dari iman. Pesantren juga menjadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar melalui koperasi santri, pelatihan UMKM, dan pasar hari raya.
Moderasi Beragama yang Aktif: Di tengah ancaman paham keagamaan yang eksklusif dan intoleran, Pesantren Kauman Muhammadiyah meneguhkan kembali jati dirinya sebagai garda moderasi Islam (Wasathiyah). Melalui dialog internal, seminar lintas agama secara virtual, dan penekanan pada fiqh sosial yang kontekstual, santri dibentuk untuk menjadi muslim yang kaffah, berkemajuan, dan mencintai kedamaian. Pesantren menjadi contoh nyata bahwa keberislaman yang tegas dapat berjalan beriringan dengan sikap menghormati perbedaan.
Kemitraan Global dan Jejaring Alumni: Pesantren membuka diri dengan menjalin kemitraan dengan berbagai pihak: universitas dalam dan luar negeri, lembaga riset, dunia industri, dan NGO. Program pertukaran pelajar, kuliah tamu virtual dengan pakar internasional, dan magang bagi santri tingkat akhir adalah upaya untuk membuka wawasan global santri. Jejaring alumni yang kuat juga dimanfaatkan untuk mentoring karier dan pengembangan proyek sosial.
Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang telah membuktikan bahwa dirinya bukanlah monumen yang diam, melainkan laboratorium hidup (living lab) peradaban Islam. Di dalamnya, berbagai eksperimen positif untuk menjawab tantangan zaman dilakukan. Ia menjadi ruang diiman tradisi dan modernitas tidak berbenturan, tetapi bersinergi.
Dengan pendekatan yang dinamis dan berorientasi pada solusi, pesantren ini tidak hanya mencetak santri yang hafal Al-Qur’an dan kitab, tetapi juga calon ilmuwan, entrepreneur, environmentalis, dan negarawan yang berakhlak mulia. Inilah sumbangsih nyatanya bagi bangsa: melahirkan generasi yang tidak gamang menghadapi perubahan karena berpijak pada iman yang kokoh, dan tidak tertinggal karena berbekal ilmu yang relevan.
Menghadapi masa depan, Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang terus berjalan dengan prinsip: “Mengokohkan yang hak, mengadopsi yang baru untuk kemaslahatan umat dan bangsa.” Inilah cara sebuah pesantren menjawab tantangan zaman: dengan tetap setia pada identitasnya, namun berani berinovasi untuk menyambut hari esok yang lebih baik.
*Penulis merupakan anggota Tim humas Pesantren Kauman Padang Panjang
OPINI
Menuju Satu Abad Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang: Merawat Tradisi, Menyambut Peradaban
Oleh: Taufikkurahman*
1 JANUARI 2025, di tengah gegap gempita perkembangan pendidikan Islam di Indonesia, ada sebuah institusi yang telah berdiri tegak bagai pohon beringin yang akarnya menghunjam dalam, sementara dahannya meraih langit. Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang, yang sebentar lagi akan menginjak usia satu abad (100 tahun), bukan sekadar saksi bisu perjalanan zaman, melainkan pelaku aktif yang terus membentuk dan dibentuk oleh denyut nadi sejarah.
Berdiri pada masa pra-kemerdekaan, tepatnya di awal pergerakan Muhammadiyah di Minangkabau, pesantren ini lahir dari rahim semangat pembaruan (tajdid) yang digagas K.H. Ahmad Dahlan. Di Padang Panjang—sebuah kota yang dikenal sebagai “Serambi Mekkah” dan pusat pendidikan Islam tradisional—kehadiran Pesantren Kauman Muhammadiyah membawa angin segar: integrasi antara ilmu agama yang murni dengan pengetahuan umum yang modern.
Selama hampir seabad, pesantren ini telah menjadi “kawah candradimaka” bagi ribuan santri. Prinsip utamanya adalah memadukan kekuatan tradisi pesantren (seperti penghayatan Al-Qur’an-Hadits, kitab kuning, dan kehidupan berasrama) dengan semangat keilmuan Muhammadiyah yang rasional, terbuka, dan berorientasi pada kemajuan. Pendidikan akhlak al-karimah menjadi fondasi, sementara penguasaan sains, teknologi, dan ketrampilan hidup menjadi instrumen untuk berkontribusi di masyarakat.
Banyak tokoh bangsa, ulama, cendekiawan, dan profesional yang merupakan alumni dari pesantren ini. Mereka adalah bukti nyata bahwa model pendidikan integral yang diusung Pesantren Kauman Muhammadiyah berhasil melahirkan manusia yang tidak hanya “alim dalam agama” tetapi juga “cerdas dalam dunia.”
Menjelang usia satu abad, tantangan yang dihadapi tentu berbeda dengan era pendiriannya. Dunia yang semakin digital, generasi Z dan Alpha yang berpikir cepat, masalah degradasi moral, serta persaingan global, menuntut pesantren untuk terus berinovasi tanpa kehilangan jati diri.
Beberapa langkah strategis menuju abad kedua dapat dirumuskan:
Penguatan Kurikulum Masa Depan: Mengintegrasikan lebih dalam pendidikan digital, kewirausahaan, literasi data, dan keahlian abad 21 ke dalam kurikulum pesantren, tanpa mengesampingkan pendalaman tafsir, fiqh, dan tasawuf.
Internasionalisasi Jejaring: Memperluas kerja sama dengan lembaga pendidikan dan pesantren modern di dalam dan luar negeri untuk pertukaran ilmu, santri, dan guru.
Pelestarian dan Digitalisasi Khazanah: Mendokumentasikan dan mendigitalkan sejarah, karya ulama, serta tradisi keilmuan pesantren sebagai warisan intelektual untuk generasi mendatang.
Peran Sosial-Ekologis: Memperkuat peran pesantren sebagai pusat pemberdayaan masyarakat, pusat kajian isu-isu kontemporer (seperti lingkungan, moderasi beragama, dan kesetaraan), serta penjaga kemaslahatan umat.
Pemodernan Manajemen: Menerapkan tata kelola yang profesional, transparan, dan akuntabel untuk memastikan keberlanjutan dan kemajuan institusi.
Padang Panjang, dengan identitasnya sebagai kota pendidikan, akan semakin bersinar dengan peran Pesantren Kauman Muhammadiyah yang semakin matang di usia seabad. Pesantren ini diharapkan bukan hanya menjadi penjaga tradisi keilmuan Islam, tetapi juga menjadi engine of change, mesin penggerak yang melahirkan inovator-inovator muslim yang berakhlak, berilmu, dan bermanfaat bagi peradaban.
Menuju satu abad, perjalanan Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang adalah perjalanan dari sebuah sejarah menuju sebuah legasi. Legasi tentang bagaimana sebuah lembaga pendidikan Islam bisa tetap relevan, berkontribusi, dan menjadi mercusuar pencerahan dari generasi ke generasi.
Selamat menuju satu abad, Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang. Teruslah mengukir sejarah, menebar manfaat, dan melahirkan generasi yang “Muhammadiyah” dalam semangat, “Pesantren” dalam spiritualitas, dan “Modern” dalam visi peradabannya.
*Penulis merupakan anggota Humas Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang
OPINI
Membongkar Stigma Kolot: Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang dan Terobosan ISTEM
SELAMA ini, pesantren sering kali dilabeli dengan stigma kuno, tertutup, dan hanya fokus pada ilmu agama (tafaqquh fiddin) semata. Gambaran tersebut diperkuat oleh narasi populer yang mencitrakan pesantren sebagai dunia terpisah dari modernitas, dengan kurikulum yang statis dan minim engagement dengan perkembangan sains dan teknologi. Namun, stigma kolot itu kini harus dihapus dari benak kita. Di tengah arus revolusi digital dan tuntutan abad 21, banyak pesantren justru menjadi garda terdepan dalam inovasi pendidikan, menyinergikan keimanan dengan kecanggihan ilmu pengetahuan.
Salah satu bukti nyata transformasi tersebut hadir dari Sumatera Barat. Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang telah melangkah jauh dengan menerapkan pola ISTEM (Islamic Science Technology Engineering and Mathematics), sebuah terobosan yang tidak hanya mematahkan stigma, tetapi juga menawarkan model pendidikan ideal untuk masa depan.
ISTEM bukan sekadar mengajarkan sains dan matematika di lingkungan pesantren. Esensinya terletak pada integrasi. Setiap konsep sains, teknologi, rekayasa, dan matematika dikaitkan dan dijiwai oleh nilai-nilai Islam serta perspektif Al-Qur’an dan Hadis.
Islamic: Menjadi fondasi dan lensa. Sebelum mempelajari teori evolusi, pesantren membahas kehendak Allah dalam penciptaan keragaman hayati (QS. Al-An’am: 95). Saat belajar fisika, dibahas ayat-ayat kauniyah tentang gerak, gravitasi, dan alam semesta.
Science: Diajarkan dengan mendalam untuk membangun logika dan cara berpikir ilmiah (scientific reasoning) yang sejalan dengan perintah Allah untuk meneliti dan memikirkan ciptaan-Nya.
Technology & Engineering: Santri tidak hanya jadi pengguna, tapi juga pencipta. Mereka diajak merancang, memprogram, dan merekayasa solusi untuk masalah sekitar, dengan etika Islam sebagai rambu.
Mathematics: Dipelajari sebagai bahasa universal yang memudahkan pemahaman atas keteraturan (sunatullah) di alam semesta.
Penerapan ISTEM di pesantren ini nyata dalam aktivitas sehari-hari:
Kurikulum Terpadu: Mata pelajaran agama dan sains dirancang saling mendukung. Pelajaran Fiqh tentang Thaharah (bersuci) bisa dikaitkan dengan pelajaran biologi tentang mikroba dan kimia tentang air, atau rekayasa sederhana sistem filtrasi.
Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning): Santri bekerja dalam tim untuk membuat proyek seperti robotik sederhana, aplikasi digital untuk pembelajaran Al-Qur’an, sistem hidroponik untuk ketahanan pangan pesantren, atau analisis data sederhana. Setiap proyek dirancang dengan mempertimbangkan manfaat (maslahah) dan dampaknya bagi umat.
Pemanfaatan Teknologi Digital: Penggunaan platform digital, coding, dan media kreatif menjadi bagian dari proses belajar. Santri didorong menghasilkan konten dakwah yang kreatif dan bernalar, bukan sekadar meneruskan informasi.
Lingkungan Belajar Inspiratif: Pesantren dirancang sebagai tempat yang merangsang kreativitas dan penalaran. Perpustakaan dengan akses jurnal ilmiah, laboratorium dasar, dan ruang diskusi menjadi jantung aktivitas.
Memecahkan Stigma: Dari Kolot Menuju Visioner
Dengan pola ISTEM, Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang secara efektif mematahkan tiga stigma utama:
Stigma “Anti-Sains/Teknologi”: Justru, pesantren ini menjadi hub inovasi sains-teknologi yang berlandaskan akidah. Mereka membuktikan bahwa menjadi religius justru berarti harus menguasai sains untuk memahami kebesaran Allah lebih dalam.
Stigma “Tertutup dari Dunia”: Dengan ISTEM, santri justru diajak secara kritis dan aktif menjawab tantangan global—seperti isu lingkungan, kesehatan, dan digitalisasi—dengan perspektif Islam. Mereka connected dan relevan.
Stigma “Hafalan Semata”: Pendidikan di sini menekankan pemahaman, nalar kritis (critical thinking), kreativitas, dan penyelesaian masalah (problem-solving). Menghafal Al-Qur’an tetap penting, tetapi dilengkapi dengan kemampuan menafsirkan dan mengaplikasikan nilainya dalam konteks kekinian.
Konklusi: Masa Depan Pendidikan Indonesia
Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang dengan ISTEM-nya adalah contoh nyata bahwa pesantren bukanlah masa lalu, melainkan masa depan. Ia merajut dua hal yang sering dianggap bertentangan: keimanan yang kokoh dan penguasaan sains-teknologi yang tangguh.
Model ini menjawab kegelisahan banyak orang tua yang menginginkan anaknya tak hanya pintar agama tetapi juga kompetitif di dunia yang semakin digital. Melalui ISTEM, lahir generasi “ulama-intelek” atau “ilmuwan-ulama”: generasi yang paham agama sekaligus mampu mencipta teknologi, yang santun sekaligus inovatif, yang berdiri di atas tradisi namun matanya tertuju ke masa depan.
Stigma kolot telah usang. Saatnya kita melihat pesantren sebagai pusat peradaban Islam modern, tempat dimana iman dan logika bersinergi, melahirkan pemecah masalah umat yang visioner. Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang telah menyalakan obor itu, dan cahayanya patut disambut oleh dunia pendidikan Indonesia.
*Penulis merupakan anggota Humas Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang

