DAERAH
Menyambangi Wisata Alam Hutan Bambu Buluh Perindu
detail.id/, Kerinci – Suasana sejuk dan asri langsung terasa saat memasuki kawasan Hutan Bambu Buluh Perindu, di Desa Baru Semerah, Kecamatan Tanah Cogok, Kabupaten Kerinci, Jambi.
Sepanjang jalan menuju lokasi, mata dimanjakan dengan keindahan alam nan menggoda. Bangunan berbahan bambu ikut menghiasi jalan menuju lokasi.
Keberadaan objek wisata Buluh Perindu ini, mengingatkan kita pada Sagano Bamboo Forest, wisata hutan bambu yang sangat populer di Jepang.
Di antara rumpun bambu satu dengan yang lain, membentuk lorong untuk dilewati. Dedaunan tampak lebat di antara batang bambu, hijau dan membuat suasana semakin asri.
Daun-daun yang berguguran di bawah pun menambah keindahan dari tempat ini.
Ketika angin bertiup, daun bambu seolah menari-nari hingga menimbulkan suara gemericik yang khas.
Batang bambu pun ikut bergesekan dengan bunyi yang tak kalah menariknya, yang menciptakan nyanyian alam yang memanjakan gendang telinga.
Berjalan menyusuri jalanan tanah menuju destinasi, sungguh menenangkan hati dan menjernihkan pikiran. Tak heran, pengunjung rela meluangkan waktu untuk sekedar berjalan di sini.
“Kami sengaja datang ke Buluh Perindu, untuk makan siang bersama keluarga,” kata Ati, pengunjung dari Semurup.

Dia mengaku, berwisata ke Buluh Perindu membuat keluarganya betah. “Anak-anak juga nyaman. Meski di luar sedang panas, namun di hutan bambu tetap terasa sejuk,” ujarnya.
Meski belum dibuka secara resmi untuk umum, namun keberadaan hutan bambu Buluh Perindu ini tetap menarik perhatian wisatawan.
Kedatangan wisatawan tidak bisa dibendung. Bumdes Talago Sakti selaku pengelola, tak bisa melarang warga yang datang. Setiap harinya ada ratusan bahkan ribuan pengunjung ke lokasi.
“Kalau Minggu, jumlah pengunjung mencapai ribuan orang,” kata Harlian, Ketua Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Talago Sakti, Rabu, 21 Oktober 2020.
Daya tarik utama dari taman ini ini adalah pepohonan bambunya sendiri. Yang tumbuh rindang dan begitu mempesona. Di setiap sudut terlihat pengunjung yang tengah asyik berswafoto. Sendiri maupun bersama-sama dengan teman atau keluarga. Hijaunya pepohonan bambu menjadi latar belakang yang begitu menarik.
Karena indahnya spot jejeran bambu ini, tidak hanya wisatawan saja yang berfoto. Tapi, pasangan yang akan menikah pun memilih tempat ini sebagai spot foto pra-wedding.
Untuk memanjakan pengunjung yang berswafoto, pihak pengelola menyiapkan baju Jepang lengkap dengan kimono, katana, dan juga payung ala Jepang.
Gerbang dan jembatan di beberapa sudut hutan bambu, juga dibuat dengan konsep Jepang. “Spot Jepang salah satu favorit pengunjung yang ingin berswafoto,” katanya.
Selain spot ala Jepang, di Buluh Perindu juga terdapat beberapa spot menarik lainnya, sepeti jembatan bambu, rumah bambu, dan spot lainnya.
“Pengunjung bisa menyewa hamock, tikar, dan baju Jepang dengan harga murah,” ujar Harlian.

Dalam waktu dekat ini, objek wisata hutan bambu Buluh Perindu ini, akan dilaunching secara resmi. “Kita sedang melakukan proses registrasi ke Dinas Pariwisata Kerinci,” ucapnya.
Di Desa Baru Semerah sendiri, terdapat lebih kurang enam hektar hutan bambu milik masyarakat. Namun sampai saat ini hanya sebagian kecil yang sudah digarap menjadi lokasi wisata.
Sekdes Baru Semerah, Endi, mengatakan rencana ke depan semua hutan bambu ini akan digarap sebagai lokasi wisata.
Sebagian lahan rencananya akan dibangun homestay. “Ada lahan satu hektare yang rencananya akan digunakan membangun penginapan,” ucapnya.
Hanya saja, rencana itu masih terkendala dengan minimnya pendanaan. “Sayangnya anggaran kita terbatas,” katanya.
Untuk pengembangan hutan bambu ini, dia mengharapkan adanya dukungan dari pemerintah, baik Pemerintah Kabupaten Kerinci maupun Provinsi Jambi.
“Kalau di Sumatra, hanya ini satu-satunya wisata hutan bambu. Makanya kami berharap adanya bantuan dari pemerintah dalam pengembangannya,” ujar Endi.
DAERAH
Nostalgia Sarko di HUT Sarolangun ke-27, Bupati M. Syukur: Merangin dan Sarolangun adalah Kakak Adik
DETAIL.ID, Sarolangun – Bupati Merangin, M. Syukur, menghadiri Rapat Paripurna Istimewa memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Sarolangun ke-27 yang digelar di Gedung DPRD Kabupaten Sarolangun, Senin, 12 Oktober 2026.
Acara peringatan yang berlangsung khidmat dan meriah ini turut dihadiri oleh Gubernur Jambi Al Haris, para Bupati/Wali Kota, Ketua DPRD, unsur Forkopimda se-Provinsi Jambi, serta jajaran kepala daerah dari kabupaten/provinsi tetangga dan para tamu undangan lainnya.
Kemeriahan peringatan HUT kali ini makin terasa dengan suguhan berbagai penampilan tari kreasi yang memukau dan mengundang decak kagum para hadirin.
Selain itu, ditayangkan pula kilas balik profile Kabupaten Sarolangun yang menampilkan jajaran prestasi serta geliat kemajuan pembangunan dari tahun ke tahun.
Di sela-sela kegiatan, Bupati Merangin M. Syukur menuturkan bahwa Kabupaten Merangin dan Kabupaten Sarolangun pada dasarnya adalah dua daerah kakak-beradik yang tidak dapat dipisahkan.
“Sebelum mekar, Merangin dan Sarolangun merupakan satu kesatuan dalam Kabupaten Sarko (Sarolangun Bangko) dengan pusat ibu kota di Bangko, yang kini menjadi ibu kota Kabupaten Merangin. Atas dasar sejarah inilah, kedua daerah memiliki ikatan emosional dan historis yang sangat panjang,” ujar M. Syukur.
M. Syukur menambahkan, eratnya jalinan persaudaraan ini dibuktikan dengan banyaknya tokoh masyarakat, tokoh agama, hingga pejabat di Kabupaten Merangin yang berasal dari Sarolangun, begitu pula sebaliknya.
Salah satu bukti eratnya jalinan dan kesinambungan birokrasi kedua daerah tersebut adalah Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sarolangun saat ini, M. Arif.
Sebelum dilantik sebagai Sekda Sarolangun, M. Arif menjabat sebagai Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Merangin.
Tak hanya relasi antar-daerah dan birokrasi, hubungan personal antara Bupati Merangin M. Syukur dan Bupati Sarolangun Hurmin pun terjalin sangat erat.
Keduanya intens berkomunikasi serta sering berdiskusi ringan mengenai percepatan dan strategi pembangunan di wilayah masing-masing.
Menutup penyampaiannya, Bupati M. Syukur menyampaikan ucapan selamat dan doa terbaik untuk Kabupaten Sarolangun.
“Selamat Hari Jadi Kabupaten Sarolangun ke-27. Semoga pembangunan di Kabupaten Sarolangun semakin meningkat, tumbuh pesat, dan maju lebih cepat menuju Sarolangun Maju 2030,” tuturnya. (*)
DAERAH
Bupati H M Syukur: Mari Kita Sukseskan Pilkades Serentak 2026
DETAIL.ID, Merangin – Semua lapisan masyarakat Kabupaten Merangin diminta untuk bersama-sama menyukseskan pelaksanaan pemilihan kepala desa (Pilkades) serentak, yang akan digelar pada Rabu, 25 November 2026 mendatang.
Himbauan tersebut sebagaimana disampaikan Bupati H M Syukur melalui Kadis Kominfo Ahmad Khoiruddin Agung Saputro, menyusul telah terbitnya Keputusan Bupati Merangin nomor 238/DPMD/2026 tentang Tahapan Pilkades Serentak 2026.
“Jadi pada 2026 ini ada sebanyak 24 desa dari 205 desa yang tersebar di 24 kecamatan dalam Kabupaten Merangin, yang akan melaksanakan Pilkades Serentak 2026,”ujar Bupati, Jumat, 9 Oktober 2026.
Dikatakan bupati, dukungan dan partisipasi masyarakat sangat diperlukan pada pelaksanaan Pilkades Serentak 2026, agar pesta demokrasi di tingkat desa tersebut berjalan dengan lancar, aman, tertib dan kondusif.
Seluruh elemen masyarakat diminta bupati untuk berperan aktif menjaga keamanan dan ketertiban, sehingga pelaksanaan Pilkades Serentak 2026 dapat berjalan sukses sesuai tahapan jadwal yang telah ditetapkan.
“Jaga betul persatuan dan kesatuan dan harus saling menghormati satu sama lainnya atas terjadinya perbedaan pilihan, demi terciptanya suasana demokrasi yang baik,” kata Bupati.
Pilkades Serentak 2026 saat ini jelas H M Syukur, sudah memasuki tahapan Pendataan pemilih, yang sudah berlangsung dari tanggal 06 hingga 14 Oktober 2026 mendatang. Masyarakat diminta dapat menyampaikan data dengan baik dan benar.
Melalui pelaksanaan Pilkades Serentak ini, bupati berharap proses demokrasi di tingkat desa itu dapat berlangsung dengan baik dan menghasilkan kades yang mampu menjalankan amanah masyarakat dan mendukung pembangunan desa. (*)
DAERAH
Wamen ATR/Waka BPN: Integrasi Data Hak, Tata Ruang, dan Nilai Tanah Jadi Kunci Tata Kelola Pertanahan
DETAIL.ID, Jakarta – Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/Wakil Kepala Badan Pertanahan Nasional (Wamen ATR/Waka BPN), Ossy Dermawan, menjadi keynote speaker dalam Seminar Nasional Pertanahan yang diselenggarakan oleh Masyarakat Profesi Penilai Indonesia (MAPPI) pada Kamis, 8 Oktober 2026 secara daring. Di kesempatan ini, ia mengingatkan akan pentingnya integrasi data hak atas tanah, tata ruang, dan nilai tanah untuk mendukung penyelesaian berbagai persoalan tata ruang dan wilayah.
“Ketika kita memiliki satu peta tanah, kita mengetahui status haknya, kita mengetahui pemanfaatannya, rencana tata ruangnya, infrastrukturnya, serta informasi mengenai nilai tanahnya secara sama. Inilah yang kita sangat harapkan. Dari One Map menjadi One Parcel, dan kemudian menjadi One Integrated Land Information Ecosystem,” ujar Wamen Ossy dalam seminar bertajuk Peran Penilai dalam Solusi Permasalahan Tata Ruang dan Wilayah, Kesenjangan Data Nilai Tanah, dan Kepentingan One Map Policy.
Menurut Wamen Ossy, integrasi tersebut dibutuhkan karena data hak, ruang, dan nilai tanah masih terlalu sering berjalan dalam sistem dan basis data masing-masing. Padahal, ketiganya bertemu pada bidang tanah yang sama. Kondisi tersebut juga perlu diantisipasi karena nilai tanah dapat berubah ketika terjadi perubahan aksesibilitas, pembangunan infrastruktur, aktivitas ekonomi, maupun tata ruang di suatu wilayah.
“Tanahnya tidak berpindah. Luasnya juga tidak berubah. Tetapi, nilai ekonominya dapat berubah secara drastis karena nilai tanah bukan sekadar angka rupiah per meter persegi. Nilai tanah merupakan hasil interaksi lokasi, aksesibilitas, infrastruktur, tata ruang, aktivitas ekonomi, kepastian hukum, dan lain-lain,” kata Wamen ATR/Waka BPN.
Dalam kondisi tersebut, Wamen Ossy menilai profesi penilai memiliki peran strategis untuk menjelaskan perubahan nilai tanah sekaligus faktor yang mempengaruhinya. Dengan dukungan data yang terintegrasi, informasi nilai tanah tidak hanya digunakan untuk mengetahui besaran nilai suatu bidang, namun juga untuk membaca perkembangan kawasan, melihat dampak pembangunan infrastruktur, dan memahami konsekuensi ekonomi dari suatu keputusan tata ruang.
“Jangan sampai kita memiliki peta hak yang baik, peta tata ruang yang baik, peta nilai tanah yang baik, tapi ketiganya hidup di dunia yang berbeda, terfragmentasi di sana-sini. Ketika ketiganya dapat terhubung, kita tidak hanya akan mengetahui di mana tanah berada, tetapi juga siapa yang memiliki hak, apa yang dapat dilakukan di atasnya, dan bagaimana nilai ekonominya berkembang,” ucap Wamen Ossy.
Dalam seminar yang digelar secara daring ini, turut hadir Direktur Pembinaan dan Pengawasan Profesi Keuangan, Kementerian Keuangan RI, Erawati yang juga menjadi pembuka acara. Kegiatan ini diikuti oleh peserta yang berasal dari sejumlah kementerian/lembaga, Anggota MAPPI dan perwakilan pemerintah daerah. (*)



