NASIONAL
Tampil Cantik, Dukung Alam. Inilah Jejak Produk Lokal yang Jadi Harapan Baru bagi Iklim
DETAIL.ID, Jakarta – Peduli akan bumi yang masih terus mengalami krisis, kian banyak perusahaan yang berlomba-lomba untuk menciptakan produk yang semakin ramah terhadap planet ini. Tak terkecuali, produk fashion dan kecantikan lokal.
Berdasarkan data PBB, industri fashion bertanggung jawab atas sekitar delapan hingga 10 persen emisi global, lebih tinggi daripada gabungan antara industri penerbangan dan shipping. Menurut Global Fashion Agenda and Mckinsey, pada 2018 industri fashion di seluruh dunia menghasilkan lebih dari 2 miliar ton emisi gas rumah kaca.
Angka emisi yang fantastis ini menggerakkan industri fashion dan kecantikan untuk berinovasi menghasilkan produk yang ramah terhadap bumi. Sebagian perusahaan di bidang tersebut menciptakan ekonomi restoratif, yang tidak hanya mendorong kesejahteraan komunitas lokal dan masyarakat adat yang hidup di sekitar hutan, melainkan juga memulihkan hutan dan alam sekitarnya.
Dengan kesadaran yang meningkat di industri fashion dan kecantikan, saat ini pilihan produk yang lebih baik untuk lingkungan makin banyak tersedia. Anda bisa tetap tampil glowing dan keren tanpa melukai alam, sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat lokal. Caranya, cobalah produk-produk ini.
PRODUK KECANTIKAN
Sabun Citronella Sigi
Citronella atau sereh wangi tampaknya memang sedang naik daun. Selain dibuat sebagai minyak atsiri untuk aroma terapi, tanaman ini juga bisa digunakan sebagai bahan dasar produk anti-nyamuk, serta produk perawatan kulit dan rambut. Sereh wangi ini pulalah yang dimanfaatkan oleh masyarakat Sigi untuk membuat berbagai produk perawatan kulit.
Sereh wangi ditanam oleh masyarakat sebagai bagian dari penguatan ekonomi lokal program restorasi lahan pasca banjir bandang di Desa Pulu, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi. Gagasan pembuatan sabun citronella yang dipasarkan dengan merek Tumbavani ini lahir dari upaya inovatif dalam mengembangkan produk turunan minyak sereh wangi. “Tanaman sereh wangi dipilih karena memiliki masa panen yang relatif singkat, yaitu setiap empat bulan sekali, sehingga bahan bakunya mudah diperoleh dan berkelanjutan,” kata Nedya Sinintha Maulaning, Ketua Gampiri Interaksi Lestari, yang salah satu fokus kegiatannya adalah sebagai inkubator bisnis lokal.
Proses produksi sabun ini dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Desa Pulu dengan melibatkan orang muda dan ibu rumah tangga di sekitar desa. Mereka mendapatkan pengetahuan dan keterampilan melalui program pendampingan dari Mercy Corps Indonesia. Organisasi non-pemerintah ini telah aktif mendampingi masyarakat sejak masa tanggap darurat (November 2021), hingga program pemulihan pasca bencana berakhir pada tahun 2024. Selain itu, dalam proses bisnisnya usaha tersebut diperkuat dengan program inkubasi yang diikuti selama 8 bulan bersama Gampiri Interaksi Lestari pada 2024.

Mercy Corps, sabun citronella dari sereh wangi. (ist)
“Keamanan produk dijamin melalui penggunaan bahan-bahan alami, seperti minyak sereh wangi dan daun kelor. Kandungan alami tersebut tidak hanya ramah bagi kulit, tetapi juga memberikan nilai tambah berupa aroma segar dan manfaat kesehatan. Dengan begitu, produk ini mampu meningkatkan kepercayaan calon konsumen terhadap keamanan dan kualitas,” kata Nedya.
Skincare inovatif dari alam Kalimantan Barat
Seluruh produk kecantikan serta perawatan kulit dan rambut yang diproduksi oleh Arcia menggunakan bahan dasar alami yang diambil dari tanah Kalimantan Barat. Salah satunya adalah tanaman endemik di daerah tersebut, yaitu tengkawang (Shorea spp.), yang dibuat menjadi mentega untuk bahan dasar produk kecantikan. Di samping itu mereka juga menggunakan minyak kemiri, minyak kelapa murni, dan lidah buaya dalam pembuatan produknya.
“Semua bahan tersebut banyak ditemukan di Kalimantan Barat dan dapat diolah. Skincare Arcia tidak menggunakan campuran bahan kimia sintetis. Karena, pada awalnya masyarakat daerah ini tidak menggunakan skincare seperti sekarang, melainkan langsung mengoleskan bahan baku yang telah diolah secara tradisional pada kulit dan rambut,” kata Yenni Angreni, pendiri Arcia.
Inovasi produk Arcia memiliki sejumlah nilai plus yang ramah bagi alam dan praktis bagi konsumen. Contohnya, kemasan produknya dibuat bisa didaur ulang oleh bank sampah. Di samping itu, sabun dan sampo batangan merupakan produk yang mudah dibawa tanpa takut tumpah, sehingga bisa menghemat anggaran kecantikan. Tak ketinggalan produk kondisioner yang bisa dioleskan di rambut tanpa harus dibilas lagi. Praktis dan hemat air.
Jika Anda masih ragu, Yenni menambahkan, “Konsumen dapat mengecek langsung, apakah bahan yang kami gunakan memang alami. Karena, salah satu komitmen kami adalah menghasilkan produk ramah manusia dan ramah alam.”
Essential oil beraroma Bali
Dengan kemasan premium yang elegan, mungkin orang akan menyangka bahwa produk Foresta merupakan produk impor. Padahal, produk kecantikan berbasis minyak atsiri dengan jenama tersebut dibuat dari bahan alami yang diambil dari hutan Indonesia.
Minyak atsiri Foresta dipasarkan dalam dua bentuk, yaitu minyak atsiri murni untuk kebutuhan aromaterapi dan formulasi lanjutan, dan produk turunan berupa produk kecantikan dan perawatan tubuh. “Pendekatan ini memungkinkan kami menjangkau berbagai segmen pasar, mulai dari konsumen yang menginginkan bahan alami murni hingga mereka yang mencari produk jadi dengan manfaat langsung,” kata Eka Maulana Nugraha Putra, Business Director Conservana, perusahaan yang memproduksi produk Foresta.
Minyak atsiri Foresta dibuat dari tanaman yang dibudidayakan melalui rustic agroforestry system di kawasan hutan yang dikelola oleh masyarakat. Dalam model ini, tanaman atsiri, seperti sereh wangi, nilam, dan palmarosa, ditanam sebagai tanaman sela oleh petani hutan. Selain untuk meningkatkan pendapatan petani, tanaman tersebut juga berperan sebagai pengikat tanah yang sangat efektif, terutama pada kontur perbukitan, sehingga berkontribusi langsung terhadap pencegahan tanah longsor dan peningkatan biodiversitas hutan.
“Minyak atsiri tersebut kemudian diekstraksi secara ramah lingkungan dan diuji kemurniannya melalui laboratorium independen. Untuk produk kecantikan berbasis atsiri, kami bekerja sama dengan formulator profesional yang mengikuti standar keamanan kosmetik nasional dan internasional,“ kata Eka.
Menariknya, seluruh produk Foresta telah tersertifikasi Wildlife Friendly, yang menandakan bahwa praktik produksi telah memenuhi standar internasional dalam melindungi satwa liar, habitat, dan keanekaragaman hayati. Dengan sertifikasi ini, perusahaan menjamin bahwa setiap tetes minyak tidak hanya aman bagi manusia, tapi juga ramah bagi seluruh kehidupan yang berbagi ruang di hutan.
FASHION
Tenun ikat Dayak Iban
Dikenal sebagai tenun yang halus dengan pewarna alam yang cantik, tenun ini melukiskan keragaman, baik dari segi teknik, motif, hingga karakter warna. Hingga kini beberapa teknik tradisional yang masih lestari dan dipraktikkan, seperti teknik sidan, ikat, sungkit, pileh selam, dan pileh amat.
Hardiyanti, peneliti independen Mahakarya Tenun, bercerita, bagi suku Dayak Iban yang tinggal di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, menenun bukan sekadar keterampilan. Ini adalah jalan untuk mengenal dan mengukuhkan jati diri. Dalam setiap helai benang, mereka menemukan warisan leluhur dan kekuatan sebagai perempuan muda Iban yang diberkahi bakat alami menciptakan keindahan.
“Karya-karya indah yang dihasilkan menjadi sumber penghidupan, menopang kebutuhan pendidikan dan keperluan pribadi. Lewat tenun, mereka belajar mandiri, membuktikan bahwa pelestarian budaya tak harus tertinggal, melainkan bisa melangkah sejajar dengan harapan dan masa depan,” kata Hardiyanti.
Ia bercerita, para penenun masa kini lebih menggali kekayaan warna dari alam. Dorongan untuk bereksplorasi membawa mereka pada pencarian pigmen alami yang tersembunyi dalam akar, kulit kayu, daun, bunga, hingga buah-buahan yang ada di hutan Kalimantan. “Jika dahulu warna tenun didominasi merah bata, hitam, dan cokelat, kini cakrawala warna mulai melebar, menemukan biru, pink, hijau sage, hingga kuning mustard,” tuturnya.
Pewarna alam yang mereka gunakan menyatu dengan prinsip kelestarian. Pemanenan dilakukan dengan bijak. Kulit kayu diambil berselang-seling agar pohon tetap hidup dan tumbuh. Banyak dari tumbuhan pewarna ini adalah flora liar yang jumlahnya berlimpah, seperti bunga kemunting dan daun putri malu.
AKSESORI
Tas Rajut Noken Khas Papua
Dulu, noken terlihat dalam bentuk yang biasanya serupa. Kini, tas tradisional dari serat kulit kayu khas Papua ini hadir dalam model. Meskipun, Anda juga bisa menemukan koleksi tas rajut noken dengan model yang tradisional. Warnanya pun tak melulu warna asli serat kayu, melainkan bermain dalam spektrum warna yang cerah. Tas yang telah diakui oleh UNESCO sebagai Intangible Cultural Heritage ini bisa digunakan di berbagai kegiatan, mulai dari kuliah hingga pesta.
Naomi Waisimon, co-owner Ki.Basic, menguraikan, brand-nya mengembangkan produk dengan mengangkat cerita dan sumber lokal, sekaligus berbagi tentang budaya dan perjalanan pembuatan koleksi tersebut. “Contohnya, koleksi noken tradisional diberi nama KBO, yang dalam bahasa Namblong berarti noken. Kami sama sekali tidak mengubah bentuk noken itu, tradisional sehingga kami menamainya dengan sebutan asli orang Namblong,” kata Naomi, yang bekerja sama dengan brand dan penjahit lokal di Papua.
Proses pembuatan satu tas noken berkisar antara satu hingga dua minggu, tergantung pada ukurannya. Para mama terlebih dahulu mencari kulit kayu di hutan atau dari pohon mahkota dewa di pekarangannya sendiri, membuatnya menjadi helai-helai ‘benang’ kayu yang siap digunakan, baru kemudian merajutnya dengan cinta dan sukacita.
Menariknya lagi, noken juga awet hingga bertahun-tahun, karena serat kayunya dirajut membentuk kesatuan pola yang kuat. Perawatannya pun tidak sulit, tidak perlu dicuci secara berkala dengan sabun. Naomi memberi tip, jika terdapat noda pada noken, cukup sikat lembut dengan air, kemudian diangin-anginkan.
Dompet Kain Kulit Kayu Sigi
Aksesori fashion dari kulit hewan, sih, sudah biasa. Yang luar biasa adalah aksesori dari kulit kayu. Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) di Sigi, Sulawesi Tengah, berinovasi mengembangkan produk aksesori fashion, seperti tas dan dompet dari kain yang berbahan dasar kulit kayu. Harapannya, kain kulit kayu tidak hanya dikenal sebagai simbol budaya lokal, melainkan sebagai komoditas bernilai ekonomi yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan.
“Sebab, saat ini penggunaan kain kulit kayu masih bersifat sakral dan terbatas pada kegiatan adat atau upacara besar masyarakat setempat. Kain ini belum digunakan secara umum dalam kehidupan sehari-hari” kata Nedya.
Teknik pembuatan kain kulit kayu merupakan pengetahuan warisan turun-temurun masyarakat adat di wilayah dataran tinggi Kulawi. Tradisi ini tidak hanya mencerminkan identitas budaya lokal, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga hutan dan lingkungan secara berkelanjutan.
Nedya bercerita, bahan baku kain kulit kayu diperoleh dari pohon nunu atau pohon ivo yang tumbuh di kawasan hutan adat di Kulawi. Bahan itu kemudian diolah dengan cara direbus, difermentasi, kemudian dipukul-pukul menggunakan alat tradisional bernama ike.
Pengambilannya dilakukan secara terbatas dan berimbang, mengikuti kearifan lokal masyarakat adat setempat untuk menjaga kelestarian hutan. Proses ini memastikan bahwa pemanfaatan sumber daya alam tetap selaras dengan prinsip keberlanjutan.
“Berbagai upaya terus dilakukan, seperti pengembangan produk turunan yang lebih inovatif dan sesuai dengan tren pasar, sehingga dapat menarik minat anak muda untuk turut melestarikan tradisi ini. Pendekatan kolaboratif dan berbasis kewirausahaan sosial menjadi salah satu strategi untuk merangkul masyarakat adat secara lebih efektif,” kata Nedya. (*)
NASIONAL
A Journey, Kontingen Pesparawi Provinsi Jambi Siap Berkompetisi
DETAIL.ID, Jambi – Paduan Suara Kontingen PESPARAWI Provinsi Jambi menggelar konser pra-kompetisi bertajuk “A Journey” sebagai bagian dari persiapan menuju Pesta Paduan Suara Gerejawi Tingkat Nasional ke-14 tahun 2026 di Manokwari, Papua Barat. Konser yang diselenggarakan pada Senin, 1 Juni 2026 di Gedung Pertunjukan Taman Budaya Jambi (TBJ) ini menjadi wadah bagi para anggota untuk menampilkan hasil latihan dan persiapan yang telah dilakukan selama hampir 2 tahun.
Acara dibuka dengan penampilan Paduan Suara Musik Gerejawi Nusantara (MGN) yang membawakan lagu berjudul ‘Bagaikan Sungai Batanghari’ buah karya Slamat Siregar salah satu konduktor muda LPPD Provinsi Jambi yang juga adalah pelatih dan dirigen. Lagu ini dibuat khusus untuk dinyanyikan pada tangkai lomba Musik Gerejawi Nusantara. Persembahan choir acappela ini semakin apik karena juga diiringi oleh tarian penari-penari latar.
Ketua Panitia Keberangkatan Kontingen, Djokas Siburian menyampaikan bahwa “A Journey” bukan sekadar konser, melainkan representasi dari perjalanan panjang yang penuh proses, latihan, tenaga, dan cerita di balik persiapan menuju Pesta Iman umat Kristus dari seluruh penjuru nusantara yang digelar mulai 18 sampai 29 Juni 2026. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah hadir dan mendukung terselenggaranya konser tersebut.
Konser dibagi menjadi tiga sesi utama. Sesi pertama Michelle Valerie Siahaan dengan lagu ‘Puji Tuhan Selalu’ dan Kathryn Elisa Butarbutar dengan lagu ‘Puji Dia, Haleluya’. Mereka berdua mendapat kepercayaan sebagai peserta Solo Anak usia 7-10 tahun dan 11-14 tahun. Sesi ini ditutup dengan penampilan energik Tim Vokal Grup yang membawakan lagu ‘Pujianku BagiMu’. Tim yang dilatih oleh Steven Siagian ini benar-benar menyajikan pujian yang full colour baik dari sisi aransemen maupun komposisi.
Tidak hanya menampilkan penampilan lagu-lagu lomba saja, konser Journey juga dimeriahkan oleh sejumlah pengisi acara lainnya. Salah satunya adalah penari-penari dari GBI MHCC dan penampilan teatrikal dari Bengkel Sastra Resentra dan Sanggar Cemara by Limaniart. Mereka ikut membuat suasana pujian menjadi semakin hidup dan bermakna.
Pada sesi kedua tampil Paduan Suara Wanita yang dipimpin oleh Tony Tunggul Wirawan Siahaan membawakan lagu ‘Pujilah Tuhan’ dilanjutkan dengan penampilan Boy Simanungkalit dengan ‘Slalu PujiMu’ dan Abigail Parhusip membawakan lagu ‘Ku Mau MemujiMu’. Lagu-lagu tangkai lomba kategori solo ini dinyanyikan dengan gaya seriosa diiringi oleh Putri Simbolon sebagai pianis.

Sesi ketiga ditutup dengan penampilan Paduan Suara Pria dengan dirigen Tony Tunggul Wirawan Siahaan membawakan lagu berjudul ‘Haleluya’. Lagu ini merupakan lagu pilihan terikat yang dinyanyikan di lomba nanti.
Sesi terakhir konser menyajikan 3 lagu, diawali dengan penampilan Paduan Suara Remaja/Pemuda Campuran dengan lagu ‘Petrus’. Slamat Siregar dan tim berhasil membuat emosi penonton masuk dalam lagu karya Z Randall Stroope ini.
Sebelum diakhiri dengan lagu penutup, panitia sepertinya sengaja meletakkan Paduan Suara Dewasa Campuran pada bagian akhir sesi ketiga. Tim yang dikondukteri oleh Hasudungan Tambunan ini membawakan lagu ‘Dies Irae’ karya Michael John Trota. Lagu ini cukup sukses dibawakan ditandai dengan tepuk tangan penuh antusias dari penonton yang berjumlah lebih kurang 300 orang. Sebelum ditutup penonton diberikan ‘bonus’ lagu daerah Jambi ‘Biduk Sayak.’
Melalui konser pra-kompetisi ini, Ketua LPPD Provinsi Jambi, Abraham Tambun menyampaikan bahwa tujuan Konser ini meliputi kesiapan teknis, musikalitas serta membangun kepercayaan diri seluruh anggota kontingen sebelum tampil di ajang Pesparawi Nasional. (*)
NASIONAL
Tradisi Merayakan Kelulusan Siswa Kelas 12 SMA Kolese De Britto Long March ke Tugu Jogja
DETAIL.ID, Yogyakarta – Di tengah riuh tepuk tangan dan tatapan haru para orang tua, Aula SMA Kolese De Britto pada Sabtu, 9 Mei 2026 menjadi saksi sebuah perjalanan panjang yang mencapai titik pengukuhan. Namun, kelulusan di De Britto tahun ini bukan sekadar tentang akhir masa sekolah. Ia menjelma menjadi sebuah perayaan tentang api: api mimpi, pengabdian, dan harapan yang siap dinyalakan ke dunia.
Mengusung tema “Tersemai Biji Menjadi Api: Pergilah dan Nyalakanlah Dunia”, pengukuhan siswa kelas XII Tahun Ajaran 2025/2026 terasa begitu hidup sekaligus reflektif. Tema itu terinspirasi dari pesan Santo Ignatius Loyola kepada Fransiskus Xaverius, “Ite, inflammate omnia” (pergilah dan nyalakanlah segalanya). Sebuah ajakan agar para lulusan tidak berhenti menjadi pribadi cerdas, tetapi juga menjadi manusia yang membawa terang bagi sesama.
Suasana khidmat langsung terasa sejak prosesi pembukaan. Iring-iringan memasuki aula diawali cucuk lampah dengan tarian tradisional, disusul pembawa bendera Merah Putih, bendera JB, dan bendera Tut Wuri Handayani. Para pembawa papan kelas kemudian berjalan memasuki aula, diikuti seluruh siswa kelas XII bersama wali kelas masing-masing dan direksi serta ketua pengurus yayasan.
Di balik langkah-langkah itu tersimpan kisah perjuangan selama tiga hingga empat tahun: jatuh bangun belajar, proses menemukan jati diri, hingga tumbuh menjadi pribadi yang lebih matang.
Dalam laporan pendidikan, Robertus Arifin Nugroho menegaskan bahwa pendidikan di De Britto bukan hanya soal akademik. Pendidikan di sekolah ini dirancang sebagai proses formasi manusia seutuhnya. Kelas X menjadi masa adaptasi, kelas XI sebagai masa sosialisasi, dan kelas XII menjadi masa internalisasi nilai hidup melalui berbagai pengalaman seperti LKTD, live in sosial, dan retret.
Nilai-nilai yang selama ini ditanamkan terangkum dalam semangat 1L + 5C: Leadership, Compassion, Competence, Conscience, Commitment, dan Consistency. Nilai-nilai itulah yang diharapkan tetap hidup dalam diri para lulusan ketika mereka melangkah ke dunia yang lebih luas.
Perwakilan pemerintah, R. Hery Subagio, S.E., M.E., selaku Panewu Anom/Sekretaris Camat, menyebut De Britto sebagai sekolah besar dengan sejarah panjang dalam membangun keunggulan akademik sekaligus karakter. Menurutnya, budaya khas De Britto menjadi fondasi penting agar para lulusan mampu berkembang dan mengabdi bagi bangsa dan negara.
Sementara itu, sambutan orang tua yang diwakili Ch Tri Merry Viviana Purwiantivi terasa begitu personal dan menyentuh. Ia mengingatkan para siswa agar tidak melupakan tanggung jawab hidup dan terus menghadirkan kebaikan bagi dunia. Sebab pada akhirnya, keberhasilan seseorang tidak diukur hanya dari gelar atau pencapaian, melainkan dari seberapa besar manfaat yang bisa dibagikan kepada sesama.
Pesan serupa juga muncul dari perwakilan siswa, Daniel Edhi Wicaksono. Ia menegaskan bahwa lulusan De Britto diharapkan tetap menghidupi semangat man for and with others, hadir, berjalan, dan berjuang bersama sesama demi kehidupan yang lebih manusiawi.
Ketua Pengurus Yayasan, Romo Agustinus Sugiyo Pitoyo, SJ menambahkan bahwa kepandaian tanpa kepedulian akan kehilangan makna. Menurutnya, kecerdasan sejati justru menemukan nilainya ketika digunakan untuk melayani dan memperjuangkan sesama.
Kebanggaan atas kelulusan 100 persen siswa kelas XII juga disampaikan Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Kepala Dinas Pendidikan, Mustadi, S.Sos., M.M. Ia berharap para lulusan De Britto terus berkembang sesuai potensi masing-masing dan mampu menjadi pribadi yang berguna bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Momen paling unik sekaligus membekas hadir setelah acara resmi selesai. Para orang tua kelas XII ini mengadakan bantingan untuk perayaan syukuran, ramah tamah makan bersama seluruh yang hadir dalam acara pengukuhan di halaman sekolah.
Setelah itu, sekitar pukul 15.00 WIB, para siswa melaksanakan long march menuju Tugu Yogyakarta. Bukan sekadar konvoi perayaan kelulusan, perjalanan itu diisi dengan aksi bakti sosial membagikan sekitar 200 paket sembako kepada tukang becak, juru parkir, dan keluarga prasejahtera yang mereka jumpai di sepanjang perjalanan. Paket-paket tersebut merupakan hasil gotong royong para siswa dan orang tua.

Di situlah kelulusan De Britto menemukan maknanya yang paling nyata: bersyukur dengan berbagi. Perjalanan menuju Tugu juga menjadi simbol keberagaman para siswa. Mereka datang dari berbagai penjuru Nusantara, hidup bersama di Yogyakarta, lalu bertumbuh dalam satu rumah bernama De Britto.
“De Britto itu Indonesia mini,” ujar salah satu orang tua. “Ketika mereka berjalan menuju Tugu, itu menjadi ungkapan syukur bahwa mereka diterima, berkembang, dan menemukan diri mereka di Jogja.” Sesampainya di Tugu, para siswa menyanyikan Mars De Britto, lalu kembali ke sekolah. Sederhana, tetapi penuh makna, “Jogja Pancen Istimewa” dan “De Britto, Bertumbuh untuk Berbagi”.
Pengukuhan ini sekaligus menjadi penanda bahwa para lulusan kini resmi menjadi bagian dari Ikatan Alumni Kolese De Britto melalui penyematan pin alumni oleh presiden alumni. Sebuah simbol bahwa relasi mereka dengan almamater tidak berhenti setelah kelulusan. Sebab bagi De Britto, kelulusan bukan tentang selesai belajar. Kelulusan adalah saat benih-benih yang telah lama dirawat mulai berubah menjadi api-api yang diharapkan mampu menghangatkan, menerangi, dan menyalakan dunia. (*)
NASIONAL
Kolaborasi Teater SMA De Britto dan Pangudi Luhur: “Menimba Makna di Sumur Tanpa Dasar”
DETAIL.ID, Yogyakarta – Semangat kolaborasi, refleksi, dan pembentukan karakter generasi muda akan mewarnai panggung seni di Taman Budaya Yogyakarta pada Rabu, 13 Mei 2026 pukul 19.00 WIB. SMA Kolese De Britto bersama SMA Pangudi Luhur Yogyakarta menghadirkan pementasan teater kolaboratif bertajuk “Sumur Tanpa Dasar”, sebuah karya klasik dari Arifin C. Noer yang sarat makna sosial dan kemanusiaan.
Dalam pementasan teater ini, juga akan didukung dan dimeriahkan oleh penampilan-penampilan dari sekolah-sekolah SMP Feeder yang menunjukkan performance kekhasan serta keunggulan masing-masing.
Pementasan ini tidak sekadar menjadi ajang pertunjukan seni, melainkan ruang pembelajaran hidup yang dialogis dan reflektif bagi para murid SMA Kolese De Britto dan SMA Pangudi Luhur sendiri maupun SMP Feeder. Kehadiran SMP Feeder akan menambah semarak dengan penampilan pembuka, dalam merayakan kreativitas dan semangat berkesenian generasi muda.
Sebagai sekolah Katolik yang dikelola oleh para imam Jesuit, SMA Kolese De Britto berpegang pada semangat Ad Maiorem Dei Gloriam (demi kemuliaan Tuhan yang lebih besar). Visi sekolah ini adalah membentuk pemimpin pengabdi yang Pancasilais, dengan pendekatan pendidikan yang utuh melalui pedagogi Ignatian. Dalam konteks ini, teater menjadi salah satu sarana penting untuk membentuk karakter murid yang reflektif, kritis, dan berbelarasa.
Sementara itu, SMA Pangudi Luhur Yogyakarta dikenal sebagai institusi pendidikan Katolik yang menekankan nilai humanisme Kristiani. Sekolah berkomitmen untuk membentuk pribadi yang beriman, berintegritas, berbudaya, peduli terhadap keutuhan alam ciptaan dan tanggap terhadap kebutuhan zaman. Melalui kegiatan teater, para murid diajak tidak hanya mengasah kreativitas, tetapi juga memahami realitas kehidupan secara lebih mendalam dan manusiawi.
Kolaborasi kedua sekolah ini lahir dari kesadaran bahwa pendidikan di era modern tidak dapat berjalan secara terpisah. Di tengah derasnya arus digitalisasi dan budaya instan, teater hadir sebagai ruang kontemplatif yang mengajak generasi muda untuk berhenti sejenak, mendengarkan, dan merenungkan makna hidup.
Lakon “Sumur Tanpa Dasar” dipilih karena relevansinya yang kuat dengan kondisi kehidupan masa kini. Karya ini mengangkat tema-tema tentang kekuasaan, keserakahan, manipulasi, serta kehampaan eksistensial manusia. Melalui simbol “sumur tanpa dasar”, penonton diajak menyelami sisi terdalam kemanusiaan, tentang ambisi yang tak pernah usai dan pencarian makna yang kerap berujung pada kekosongan batin.
Dalam penggarapannya, pementasan ini tidak hanya menampilkan kritik sosial, tetapi juga menghadirkan pengalaman reflektif yang menyentuh kesadaran personal penonton. Pendekatan artistik yang digunakan menonjolkan kontras antara realitas luar dan pergulatan batin manusia, sehingga pesan yang disampaikan tidak berhenti pada alur cerita, melainkan menggugah perenungan yang lebih dalam.
Seluruh proses kreatif melibatkan murid dari kedua sekolah yang tergabung dalam ekstrakurikuler teater. Mereka menjalani rangkaian latihan intensif, mulai dari perencanaan produksi, pengelolaan waktu, hingga eksplorasi karakter. Proses ini didampingi oleh guru pembimbing serta praktisi teater berpengalaman, menjadikannya sebagai pengalaman belajar yang konkret dan bermakna.
Melalui kolaborasi ini, para murid tidak hanya belajar tentang seni peran, tetapi juga mengembangkan kemampuan bekerja sama, kepemimpinan, tanggung jawab, serta penghargaan terhadap keberagaman. Pementasan ini menjadi bukti bahwa pendidikan seni dapat menjadi medium efektif dalam membentuk karakter generasi muda yang utuh.
Lebih dari itu, pertunjukan ini diharapkan mampu menjadi ruang refleksi bagi masyarakat luas. Penonton diajak untuk melihat kembali realitas kehidupan tentang ambisi, kepemilikan, dan kehampaan, yang sering kali tersembunyi di balik kemapanan yang tampak.
Pementasan teater kolaboratif ini menjadi simbol bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga melalui pengalaman nyata yang hidup, dialogis, dan transformatif. Dengan semangat kebersamaan dan pencarian makna, SMA Kolese De Britto dan SMA Pangudi Luhur Yogyakarta menghadirkan sebuah karya yang tidak hanya layak ditonton, tetapi juga direnungkan. (*)



