Connect with us
Advertisement

OPINI

Secara Sosial, Pilkada Sudah Selesai

Published

on

Pilkada

RAKYAT telah menentukan pilihannya. Berlalu sudah hingar bingar dan hiruk pikuk Pilkada dalam berbagai aktivitas politik. Sungguhpun bagi sebagian tidak mudah menerima realitas yang ada. Namun silaturahmi tetaplah dijaga.

Hasil Pilkada kali ini bisa dipastikan tidak akan memuaskan bagi semua pihak. Pasti ada pihak yang memiliki suara ‘lebih’ yang sementara unggul sebagai pemenang dan pihak yang ‘kekurangan suara’. Juga akan muncul ketidakpuasan dari pihak yang kalah. Itulah demokrasi.

Dalam sebuah pesta besar seperti Pilkada, pasti banyak pihak yang “berkeringat” dan berjasa memenangkan seorang kandidat. Sudah banyak yang dilakukan tim sukses, pengusung, pendukung, sukarelawan, simpatisan, tim keluarga, tim srikandi, dll dalam memenangkan calonnya. Mereka sangat berjasa, mungkin tidak terbalaskan. Sukses seorang kepala daerah merupakan hasil keringat tim-tim ini. Namun tim-tim ini mestinya mampu menghadapi realitas. Hati boleh panas, kecewa boleh ada, tetapi jangan sampai ‘patah hati’.

Bagi simpatisan yang paslon yang sementara unggul, jangan terlampau ‘euforia’, sengaja komentar ‘ke sana kemari’ hanya untuk ‘memanasi’ pihak tertentu. Tindakan ini tidak elok dalam konteks silaturahmi. Komunikasi harus dilakukan sebagai perekat sosial. Jadikan kemenangan ini sebagai kemenangan bersama.

Dalam sosialisasi calon yang didukung, biasanya terjadi gesekan dengan tim pendukung lain. Tentu, hasil akhir lebih banyak pihak yang kalah ketimbang yang menang. Ketegangan dan gesekan sulit terhindar. Atas nama demi kemenangan pula gesekan-gesekan semakin nyata pada masa kampanye baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Para tim sukses dalam berbagai aktivitas memproklamir calonnya sebagai yang terbaik.

Akibatnya, ramah, sopan, tegur sapa yang awalnya begitu baik dan menjadi ciri khas orang timur, kini berubah menjadi lawan yang bisa memunculkan benci dan amarah yang terpendam. Padahal awalnya dari satu keluarga, satu dusun, satu tempat kerja namun harus ‘berlawanan’ akibat pilihan politik yang berbeda.

Ingatlah bahwa ‘setiap perubahan’ selalu membawa korban, yaitu orang yang gagal menyesuaikan dengan ‘kondisi terbaru’ dan ‘belum mau’ bersilaturahmi. Oleh karena itu, setidaknya ada dua alasan mengapa silaturahmi setelah pilkada mesti dijadikan tradisi. Bisa jadi di antara para kandidat, pengusung, pendukung, tim sukses, sukarelawan, simpatisan sebelumnya adalah mereka yang bersahabat satu sama lain. Tidak mustahil di antara mereka adalah teman, kolega, satu keluarga, satu desa. Pertarungan di Pilkada memaksa mereka berada pada kondisi yang berhadap-hadapan.

Pascapilkada merupakan fasenya bersilaturahmi. Tujuan utama silaturahmi adalah kembali ke kehidupan sebelum Pilkada. Selama pilkada konsentrasi politik berlangsung panjang, masif dan mendebarkan. Silaturahmi diniatkan sebagai perbuatan memulihkan pada keadaan semula akibat suatu kejadian tertentu. Ada kondisi yang berubah akibat pelaksanaan Pilkada.

Dipercaya atau tidak, pilkada menyebabkan mengendurnya ikatan sosial di tengah masyarakat. Semangat kekitaan yang selama ini telah menjadi ikon masyarakat mulai memudar. Kemudian, berubahnya cara kita berkomunikasi. Kita hampir lupa bagaimana berkomunikasi dengan menempatkan ‘lawan’ sebagai pihak yang layak diperlakukan secara bermartabat. Kita sering terjebak pada sesat pikir yang menganggap lawan sebagai musuh yang tidak hanya harus dikalahkan, namun juga harus dipermalukan (detik).

[jnews_element_newsticker newsticker_title=”Baca Juga” newsticker_icon=”empty” enable_autoplay=”true” autoplay_delay=”2500″ newsticker_animation=”vertical”]

Relasi dan komunikasi ‘santun’, tidak lagi mengungkit masalah Pilkada dan berorientasi pada persahabatan harus segera dilaksanakan dengan menggunakan diksi-diksi persahabatan bukan kata-kata euforia berlebihan. Idealnya, pihak ‘pemenang’ mestinya menginisiasi kegiatan ini, sehingga pihak yang kalah tidak kehilangan ‘muka’ dalam komunikasi.

Hegel, filsuf Jerman, melihat gerak sejarah dunia sebagai gerak dialektika. Artinya, satu hal akan melahirkan lawannya sendiri. Di titik inilah, kita membutuhkan silaturahmi. Silaturahmi bisa dimengerti sebagai upaya-upaya untuk menciptakan perdamaian, setelah konflik atau perubahan terjadi. Silaturahmi berusaha untuk mengangkat  dan minimal menetralisir perasaan kalah dari pihak lawan untuk tidak berlarut dalam kesedihan mendalam.

Silaturahmi adalah kebutuhan dasar manusia yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Untuk bisa menerima perubahan, orang perlu melakukan silaturahmi di dua level. Pertama, level pribadi, kita perlu berdamai dengan diri kita sendiri. Kita harus sadar, bahwa kita perlu berubah menyesuaikan diri dengan lingkungan untuk hidup normal dalam keadaan yang baru. 

Kedua, level sosial, kita perlu melakukan silaturahmi dengan pihak-pihak lainnya. Segala rasa benci dan dendam, akibat peristiwa di masa lalu, perlu untuk dipahami dan kemudian dilampaui. Jadikan masa lalu sebagai pelajaran hidup, pembangkit semangat untuk maju. Silaturahmi adalah media untuk melakukan itu, silaturahmi tidak hanya soal perdamaian politik, tetapi jalan menuju kedamaian hati.

Di sini kecerdasan interpersonal diperlukan. Kecerdasan ini adalah kemampuan seseorang untuk menghormati pihak yang kalah. Seseorang yang memiliki kecerdasan interpersonal yang tinggi biasanya mempunyai banyak teman, mudah bergaul, menghargai orang lain. Inti dari kecerdasan interpersonal adalah kerja sama. Kecerdasan ini adalah berkaitan dengan kebolehan memahami perasaan, motivasi, tabiat serta hasrat orang lain. Kecerdasan ini adalah kemahiran bertindak secara berkesan terhadap orang lain secara praktikal (Gardner, 1993).

Kecerdasan ini membantu kita bersosial dengan orang lain dan piawai dalam menenangkan pihak lawan supaya berlapang dada dan tidak terpengaruh dengan peristiwa masa lalu. Kecerdasan ini juga menonjolkan kepribadian yang mengajak pihak lawan untuk turut merasakan kemenangan yang sudah diraih dan mau bekerja sama dan saling membantu.

Boleh berbeda, berbeda pilihan itu sunnatullah. Jangan karena berbeda pilihan, di antara kita jadi sakit hati, tidak tegur sapa, malu kalau ketemu, padahal mereka adalah teman, sahabat, keluarga. Alangkah sempitnya pikiran kita.

Dalam beberapa hari ke depan, kita akan mengetahui secara resmi pemenang Pilkada kali ini. Maka itu, setiap pihak diharapkan bisa menerima hasil yang diperoleh, baik menang ataupun kalah.

Kalah dan menang dalam Pilkada adalah suatu hal yang biasa. Kekalahan dalam Pilkada bukanlah akhir dari dunia. Itulah risiko ikut ‘merasa’ bertanding.

 

*) Penulis adalah Pendidik di Madrasah

OPINI

Mendidik Meneguhkan Karakter Generasi Penerus

DETAIL.ID

Published

on

DI TENGAH derasnya arus globalisasi dan transformasi digital, generasi Z dan Alpha tumbuh dalam dunia yang serba cepat, instan, dan penuh distraksi. Informasi hadir tanpa batas di genggaman, namun ruang untuk merenung justru semakin sempit. Dalam situasi ini, pendidikan tidak lagi dapat dimaknai sekadar sebagai proses transfer ilmu pengetahuan, melainkan sebagai fondasi peradaban yang memanusiakan manusia secara utuh. Pendidikan sejati bukan hanya mencerdaskan akal, tetapi juga menumbuhkan nurani, membentuk karakter, dan mengarahkan manusia pada makna hidup yang lebih luhur. Filsuf pendidikan John Dewey pernah menegaskan, “Education is not preparation for life, education is life itself.” Pendidikan bukan sekadar persiapan hidup, melainkan proses kehidupan itu sendiri yang membentuk keutuhan pribadi manusia.

Kesadaran ini menjadi semakin relevan ketika kita melihat bahwa kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi atau kekuatan ekonomi, tetapi oleh kualitas karakter generasi penerusnya. Dalam konteks Indonesia, pendidikan berbasis nilai Pancasila dan semangat P4 (Pedoman, Penghayatan, dan Pengamalan Pancasila) menemukan urgensinya kembali. P4 bukan sekadar dokumen historis, melainkan kompas moral kebangsaan yang membimbing generasi muda agar tidak kehilangan arah di tengah krisis nilai, polarisasi sosial, dan budaya pragmatis yang kian menguat. Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang unggul secara teknologi, tetapi juga bangsa yang kokoh secara moral, sosial, dan spiritual.

Menghidupkan kembali pendidikan karakter berbasis Pancasila di sekolah berarti meneguhkan jati diri bangsa di tengah arus global. Kurikulum boleh adaptif terhadap perkembangan zaman digital, tetapi nilai tidak boleh dikompromikan oleh perubahan zaman. Sejalan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara, “Pendidikan adalah tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak.” Artinya, pendidikan harus membimbing, bukan sekadar mengarahkan secara mekanis. Pendidikan yang tercerabut dari akar kebangsaan berisiko melahirkan generasi cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara moral dan identitas.

Dalam perspektif humanis, pendidikan pada hakikatnya adalah proses memanusiakan manusia. Paulo Freire dalam gagasannya tentang pendidikan pembebasan menyatakan bahwa “pendidikan harus menjadi praksis pembebasan, bukan penindasan”. Pendidikan yang memerdekakan tidak mencetak manusia yang patuh secara pasif, tetapi membentuk pribadi yang sadar, kritis, dan reflektif. Generasi Z dan Alpha bukan generasi yang kekurangan informasi, melainkan generasi yang membutuhkan makna. Oleh karena itu, proses belajar tidak boleh berhenti pada hafalan dan capaian akademik semata, tetapi harus menyentuh pengalaman, refleksi, aksi, dan evaluasi. Dari pengalaman lahir refleksi, dari refleksi lahir kesadaran, dan dari kesadaran lahir tindakan yang bernilai.

Hakekatnya, pendidikan karakter yang kuat tidak dapat dilepaskan dari peran guru sebagai ujung tombak pendidikan. Di tengah perubahan zaman, martabat guru menghadapi tantangan yang kompleks. Status profesional dan sertifikasi tidak otomatis menjamin kepercayaan publik jika tidak disertai keteladanan. Aristoteles pernah mengatakan, “Educating the mind without educating the heart is no education at all.” Pernyataan ini menegaskan bahwa pendidikan tanpa pembentukan hati dan karakter hanyalah kecerdasan yang kehilangan arah. Guru tidak cukup hanya menjadi pengajar, tetapi harus menjadi inspirator, fasilitator, dan pemimpin pembelajaran yang humanis.

Karakteristik generasi Z dan Alpha yang adaptif, terbuka, dan melek teknologi menuntut pendekatan pendidikan yang relevan dan bermakna. Mereka hidup dalam budaya digital yang cepat, namun sering kali kurang ruang refleksi dan kedalaman makna. Dalam konteks ini, keteladanan menjadi metode pendidikan karakter yang paling efektif. Murid mungkin lupa teori yang diajarkan, tetapi mereka akan selalu mengingat sikap, nilai, dan integritas gurunya. Seperti yang diungkapkan oleh Albert Schweitzer, “Example is not the main thing in influencing others. It is the only thing”, bahwa teladan bukanlah hal utama dalam memengaruhi orang lain, tetapi teladan adalah satu-satunya hal yang penting.
Lebih jauh, pendidikan sejatinya adalah proses kepemimpinan diri. Prinsip “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani” menegaskan bahwa pendidikan adalah seni mendampingi manusia agar bertumbuh secara otentik. Pendidikan yang humanis akan melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan tanggung jawab moral. Dalam perjalanan pendidikan, baik bagi murid maupun guru, selalu terdapat dimensi batin: proses belajar, berjuang, gagal, dan bangkit kembali merupakan ruang pembentukan kedewasaan diri. Friedrich Nietzsche pernah menulis, “He who has a why to live can bear almost any how.” Pendidikan yang bermakna membantu manusia menemukan “mengapa” dalam hidupnya, bukan sekadar “bagaimana” untuk sukses.

Pada akhirnya, masa depan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan karakter yang ditanamkan hari ini di sekolah. Jika pendidikan hanya berorientasi pada capaian akademik, maka kita mungkin menghasilkan generasi cerdas namun kehilangan arah. Sebaliknya, jika pendidikan berlandaskan nilai Pancasila, humanisme, dan refleksi, maka akan lahir generasi yang berprinsip, berintegritas, dan berbelarasa. Pendidikan bukan sekadar soal apa yang diajarkan, tetapi siapa yang dibentuk. Ketika pendidikan mampu memerdekakan pikiran, menumbuhkan karakter, dan memanusiakan manusia, maka di sanalah pendidikan menjalankan misi sejatinya untuk menjaga martabat manusia sekaligus menyelamatkan peradaban.

*Guru SMA Kolese De Britto Yogyakarta

Continue Reading

OPINI

Jakarta “Tenggelam” Lagi: Mengapa Banjir Subuh Terus Berulang?

DETAIL.ID

Published

on

JAKARTA – Bagi warga Jakarta, suara hujan di dini hari dalam sepekan terakhir bukan lagi pengantar tidur, melainkan alarm peringatan akan lumpuhnya aktivitas kota. Fenomena hujan yang konsisten turun pada waktu subuh hingga pagi hari ini memang bukan kebetulan. Merujuk pada analisis BMKG, dinamika atmosfer yang sangat aktif di wilayah barat Indonesia memicu penumpukan uap air yang tumpah tepat saat warga memulai kesibukan.

Memasuki Jumat siang (23/1/2026), situasi ini mencapai titik kritis. Data terbaru dari pusat informasi kebencanaan menunjukkan eskalasi genangan yang sangat cepat; dari yang semula hanya beberapa titik, kini meluas hingga merendam 143 RT dan memutus akses di 16 ruas jalan protokol utama. Dampaknya signifikan, urat nadi trDocansportasi ibu kota lumpuh akibat banyak kendaraan terjebak di jalur utama yang tidak lagi bisa ditembus.

Kondisi paling mengkhawatirkan terpantau di kawasan Rawa Buaya, Jakarta Barat. Melansir keterangan resmi BPBD DKI Jakarta, ketinggian air di wilayah tersebut telah menyentuh 150 sentimeter. Operasi evakuasi besar-besaran pun terus dilakukan petugas gabungan menggunakan perahu karet untuk menyelamatkan warga yang terisolasi di dalam rumah. Hingga saat ini, laporan lapangan mencatat sedikitnya 387 jiwa telah mengungsi ke posko darurat karena hunian mereka tidak lagi layak ditinggali.

Pertanyaan besarnya adalah: sampai kapan kondisi ini akan bertahan? Proyeksi cuaca memperingatkan bahwa puncak musim hujan diprediksi masih akan berlangsung hingga akhir Februari atau awal Maret 2026. Artinya, ancaman banjir masih akan menjadi risiko harian warga setidaknya untuk sebulan ke depan.

Krisis ini kembali menegaskan bahwa banjir Jakarta bukan sekadar masalah air kiriman, melainkan belum optimalnya sistem drainase kota dalam menampung curah hujan lokal yang ekstrem. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa pembenahan infrastruktur kita masih berkejaran dengan intensitas perubahan iklim dan penurunan muka tanah yang kian nyata.

Sudah saatnya kebijakan publik tidak hanya fokus pada solusi jangka pendek seperti pengerahan pompa atau evakuasi darurat. Diperlukan keberanian untuk mengevaluasi total tata ruang dan mempercepat integrasi sistem kendali air secara menyeluruh. Selama hujan masih dianggap sebagai “kejutan” tahunan, banjir akan terus menjadi identitas pahit yang melekat pada wajah ibu kota.

Puteri Nazwa Layla, Mass Communication Student, Binus University.

Continue Reading

OPINI

Hidup Terasa Mulia Dimulai dari Hormati Guru

DETAIL.ID

Published

on

GURUKU pahlawanku, guruku orangtua keduaku. Kata itu pengingat peristiwa yang pernah aku alami tahun 1990 sampai 2000an, ketika dunia pendidikan masih tegak lurus dengan adab dan etika. Hubungan guru, siswa, dan orang tua masih dijiwai oleh rasa hormat. Jauh berbeda dari sekarang.

Suatu siang, aku pulang sekolah dengan wajah kusam. Saat mau masuk rumah, bertemu Papa sedang menjahit di mesin jahit.

“Pa, aku dipukul guru. Pa, rambut aku dipotong guru,” aku sambil menangis.

Sejenak Papa berhenti, matanya sedikit melotot seolah mencari jawaban. Tanpa menunjukkan kemarahan, hanya bertanya tanpa tahu kesalahanku, “Pakai apa dia pukul?”

“Pakai mistar, Pa,” jawabku. Papa kemudian berdiri.

Aku pikir Papa pasti membela diriku dan besok akan datang ke sekolah. Tanpa banyak bicara, Papa langsung mengambil mistar di dekatnya, membuat hatiku bertanya.

Bukan membela aku sebagai anak dari darah dagingnya, justru memukul lebih keras dari guruku. Lalu mengambil gunting membotaki rambut. Aku menyesal sudah memberitahunya. Ternyata jauh lebih menyakitkan.

Peristiwa itu terpatri dalam ingatan hingga sekarang. Setelah puluhan tahun berlalu dan aku telah memiliki keluarga sendiri. Bukan sebagai kenangan pahit, tapi sebagai kenangan indah

Seorang guru tak akan mau mengambil tindakan seperti memukul atau memotong rambut muridnya jika bukan karena murid tersebut telah melanggar aturan dengan sengaja dan mengabaikan peringatan.

Istilah guru sebagai orang tua kedua bukan sekadar omong kosong. Mereka tak hanya memberi ilmu pengetahuan dari buku pelajaran, tapi juga membentuk adab, etika, dan kedisiplinan, menjadi pondasi bagi masa depan.

Lihatlah sekeliling kita yang sekarang menjadi pegawai sukses di berbagai perusahaan, tentara menjaga keutuhan negara, anggota polisi yang melindungi keamanan masyarakat, dokter serta insinyur.

Semua itu karena siapa? kalau bukan karena otak dan hati diasah dengan penuh kesabaran oleh para bapak dan ibu guru yang tak pernah mengenal lelah.

Bapak dan ibu kita di rumah memang mencintai sepenuh hati. Tapi mereka tak akan mungkin mampu mengajarkan semua dibutuhkan untuk menghadapi dunia luar, mulai dari kemampuan berpikir kritis, kerja sama tim, hingga nilai-nilai kehidupan seperti kejujuran, tanggung jawab, dan rasa empati terhadap sesama.

Asal tahu saja, menjadi guru tak segampang dibayangkan. Mereka datang ke sekolah sejak jam 7 pagi bahkan lebih awal, hanya untuk mempersiapkan materi pembelajaran. Terkadang harus mengoreksi tugas dan ujian, pulang pun malam.

Waktu berharga dihabiskan bukan untuk anak di rumah. Melainkan untuk anak-anak orang yang baru dikenal.

Harapan mereka sama persis dengan harapan bapak dan ibu di rumah, agar tumbuh menjadi orang berguna bagi diri sendiri, keluarga, dan negara.

Ketika menjadi orang dihormati, gubernur sekalipun, dia tak akan pernah meminta sedikit pun imbalan. Dia juga tak akan pernah mengingatkan tentang apa yang telah diajarkan.

Namun, perbedaan zaman sekarang terasa jauh berbeda. Aku tak ingin menyalahkan siapa-siapa, tapi aku sebut saja sebagai “untul-untul” atau sakit kepala.

Begitu bodoh jika orangtua melihat anaknya mendapat hukuman maupun teguran dari guru, otak mereka langsung bereaksi kotor tanpa mengetahui kesalahan sebenarnya.

Ada lagi, menjadikan guru sebagai musuh dengan melaporkan ke aparat penegak hukum. Lebih parah, ada murid keroyok gurunya.

“Kalau kau benar-benar mampu mengajarkan semua hal yang dibutuhkan anakmu sendiri, mulai dari matematika, bahasa, ilmu pengetahuan, hingga kedisiplinan dan nilai-nilai hidup, sebaiknya kau ajarkan saja anakmu di rumah.”

Jasa guru tak bisa digantikan. Coba bayangkan ketika guru hanya fokus pada mata pelajaran saja, tanpa ada sentuhan kasih sayang. Pasti ilmu diberikan terasa hampa.

Untuk seluruh guru yang membaca tulisan ini, tetap kobarkan tugas muliamu. Jangan lelah untuk mencetak generasi penerus bangsa. Hanya Allah SWT, Tuhan Maha Esa, yang mampu membalas semua kebaikan dan pengorbanan kalian. Hai para murid-murid, cintailah gurumu!

*warga Provinsi Jambi

Continue Reading
Advertisement Seedbacklink

Dilarang menyalin atau mengambil artikel dan property pada situs