Connect with us
Advertisement

DAERAH

Dari Layar Tancap Menapak Sinema Dunia

DETAIL.ID

Published

on

Ia lebih suka film realistis ketimbang mengandalkan efek visual. Ia percaya pula film bisa menjadi terapi, bikin orang sehat dan bahagia.

SEUMUR hidup, baru kali ini ia menyaksikan secara langsung Festival de Cannes, salah satu Festival Film terbesar di dunia. Festival film yang sudah berusia 74 tahun itu sempat berjeda di tahun 2020. Tahun ini baru bergulir kembali. Ia berangkat ke Cannes, Prancis pada 10 Juli 2021.

Rendro memulai penerbangan dari Benua Biru pulang ke Indonesia pada 21 Juli 2021. Selama sekitar 18 jam di angkasa, ia mendarat di Jakarta 22 Juli 2021.

Belum hilang penatnya, kabar gembira menghampiri.

Dalam festival itu, filmnya tidak berada di kompetisi utama namun berada di Short Film Corner. Yaitu sebuah wadah berjejaring antar pembuat film pendek Internasional.

Sebenarnya, terselip harap karyanya bisa masuk nominasi dan menang di Festival de Cannes. Ternyata, kabar gembira justru datang dari benua lain.

“Alhamdulillah film pendek yang saya sutradarai, berjudul “Cerita Keluarga” meraih 2 penghargaan dalam ajang Accra Indie Film Festival, di Benua Afrika, Ghana. Film itu mendapat Best Narrative Short Film dan Best Screenplay,” katanya bahagia.

Rendro mengisahkan, semenjak kecil ia suka menonton film. Mulai dari kartun, film klasik, dan film-film modern dengan kecanggihan visual efeknya.

Sejak SD ia sudah membaca komik biografi Walt Disney. Ia tertarik tentang kartun dan gambar yang bisa bergerak dari kumpulan beberapa gambar. Semasa itu ia sangat ingin menjadi pembuat film kartun. Ia membuat flipbook dan membuat gambar-gambar itu seolah hidup.

“Dahulu saya terpukau dengan canggihnya visual efek film aksi luar negeri. Tapi semakin ke sini, ada sedikit pergeseran. Saya lebih suka menonton film realistis tentang kehidupan. Ketika menontonnya membuat kita bisa merenung panjang. Artinya, film itu bisa menjadi titik balik perubahan dalam hidup seseorang,” ujar Rendro kepada detail.id pada Sabtu 31 Juli 2021.

Sejak itu pula, kini ia lebih suka menggarap film-film pendek tentang kehidupan. Tentang beragam hal yang dekat dengan realitas. Ia lebih suka dengan sesuatu yang sederhana namun mengena.

Kisah Masa Sekolah

Sewaktu SMP, ia pernah meminjam ponsel temannya untuk merekam video. Saat itu ia sudah mulai bereksperimen membuat video singkat. Ia rekam temannya lalu ia tekan ‘pause’, kemudian ia ganti objek rekam menjadi sapu. Eksperimen lucu-lucuan itu kian memacu jiwa filmnya.

Sewaktu SMA ia sudah punya peralatan fotografi dan videografi. Setiap saat ia memotret dan merekam.

“Zaman itu pakai handycam dengan resolusi 360p. Itu sudah ‘wah’ waktu itu. Saya merekam apapun, bahkan membalik lensa kamera ke arah wajah sendiri, saat itu belum dikenal istilah vlog. Tapi saya sudah melakukannya,” kata Rendro.

Teman-teman yang mengenalnya tentu tahu aksinya yang nyentrik waktu itu. Ia mulai merekam aktivitas dunia malam, balap liar yang sering berlangsung di depan kantor gubernur. Mulai mewawancarai pramuria. Rasa ingin tahu yang tinggi menuntunnya untuk mengabadikan segala hal.

Ia sempat mengkritisi kondisi teman-temannya yang menyalahgunakan telepon genggamnya. Alat komunikasi yang semakin canggih itu cuma dipakai untuk bermain game dan saling berkirim film tak senonoh. Ia pernah mengajak teman-temannya menonton film serius, pemenang Festival Film Indonesia dan pemenang Oscar untuk medium belajar.

“Saya buat video parodi pendek mengajak teman-teman. Saya senang berbagi video parodi karya sendiri. Waktu itu zamannya saling kirim file lewat bluetooth,” tutur pemuda kelahiran 5 Oktober 1993 itu.

Puncak karyanya sewaktu SMA ialah pemutaran film dokumenter tentang SMA-nya. Beberapa potret dan rekaman aktivitas selama sekolah ia kumpulkan. Ia rekam aktivitas belajar, aktivitas ekstrakurikuler, bahkan kenakalan anak sekolah pada waktu itu. Kabur dari sekolah hingga merokok pun ada di film pendek dokumenter itu.

Namun sayang, ketika hendak ditayangkan, pihak guru mengetahui ada beberapa bagian memuat kenakalan remaja saat itu film hampir tidak tayang. Setelah berdialog, disepakati bahwa film pendek dokumenter itu boleh ditayangkan dengan syarat bagian yang tidak diperbolehkan itu dipotong.

Gerak cepat, dengan menggunakan windows moviemaker yang saat itu cukup memakan waktu untuk rendering, ia memotong bagian tersebut. Film dokumenter itu jadi bisa tayang. Tapi, lagi-lagi ada masalah. Karena kendala teknis, suaranya tidak keluar.

“Film itu jadi film bisu yang berwarna. Tapi tetap seru. Sewaktu muncul tulisan ‘semoga semua anak kelas 3 lulus semua’, semua hadirin di acara perpisahan itu mengamini ramai-ramai. Begitu juga ketika muncul tulisan ‘semoga kelas 1 dan 2 semua naik kelas’ Semua penonton mengamini juga. Ini jadi kepuasan tersendiri,” kata Rendro sembari tertawa kecil mengingat kejadian waktu itu.

Kuliah Hingga Menang Berbagai Festival

Masa ia mengenyam bangku SMP, pemutaran video masih menggunakan VCD. Ketika SMA sudah mulai berubah menjadi DVD. Ia rutin menyewa VCD dan DVD original film-film terbaru. Kadang ia menonton bersama keluarga, kadang ia ajak teman-teman untuk menonton.

Selulusnya dari SMAN 11 Kota Jambi, ia langsung mendaftar kuliah di Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (FFTV IKJ).

Sambil kuliah ia juga bekerja freelance. Ia menggarap beberapa proyek video iklan, video korporasi bahkan sekadar jadi videografer pernikahan. Ia jalani pula walau berproses menjadi kru film. Baginya, itu menjadi bagian perjalanan untuk tumbuh dan berproses.

“Ada proyek untuk mencari pemasukan. Tapi ada yang memang saya garap untuk menuangkan ide-ide dan passion saya dalam film. Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, saya lebih suka film realistis. Walaupun tidak menutup kemungkinan membuat film-film yang lebih menantang di kemudian hari,” katanya.

Bersama dengan teman-teman kuliahnya, ia membentuk komunitas produksi dan diskusi film. Di kontrakan bersama teman-temannya di Kwitang, Jakarta Pusat, mereka membuat komunitas Beragam Film. Di sana mereka saling berbagi dan mengasah kemampuan masing-masing.

“Sekarang, kawan-kawan di komunitas itu ada yang masih menggeluti dunia film, ada yang sudah pindah haluan. Saya memilih konsisten, meski menyusuri jalan sunyi. Merintis sebagai sutradara film independen dan membuat film-film pendek, barulah nanti membuat film panjang,” ujarnya.

Rendro sudah mengumpulkan beragam penghargaan sejak kuliah. Film-film pendek yang ia garap, ia ikutkan dalam festival film tingkat nasional dan internasional.

Film pendek berjudul “Bocah Kebon” tahun 2014 meraih OfficialSelection dalam ajang Balinale International Film Festival 2015 di Bali dan OfficialSelection dalam ajang JogjaNetpac Asian Film Festival 2015.

Lalu, ada film pendek yang ia garap bersama adiknya, Regan juga bersama kedua orang tuanya. Dalam film pendek berjudul “Film Adalah Hidupku” itu ia merangkap pula sebagai aktor bersama keluarganya. Film pendek itu pun meraih berbagai penghargaan.

Di Malang meraih Film Pendek Fiksi Mahasiswa Terbaik – dalam 11th Malang Film Festival 2015. Ia pun dianugerahi Aktor Terbaik di Lampung Film Festival 2015. Selain itu, “Film Adalah Hidupku” juga meraih Official Selection – Pesta Film Solo 2015 di Solo, Official Selection – UI Film Festival 2015 di Jakarta, Official Selection – Sewon Scereening Film Festival 2015 di Jogjakarta, Official Selection – Festcil 2016 di Surabaya.

Perjalanannya masih panjang. Ia sudah menjajaki langkahnya dalam ajang Festival Film Internasional. Ia berharap industri film Indonesia bisa lebih baik dari segala segi. Baik itu secara kualitas maupun apresiasi berbagai bentuk film.

“Sebaiknya film maupun sinetron mulai berbenah. Mestinya cerita dan drama yang dibuat lebih realistis sehingga lebih dekat dengan kondisi realitas. Selain itu jangan mengabaikan pesan kehidupan dan makna,” katanya.

Ia juga merasa perlu ada perbaikan dalam lembaga sensor film. Rasanya tak perlu menyensor film kartun di televisi secara berlebihan. Hal tersebut justru memicu rasa penasaran anak-anak dan mencarinya dalam dunia maya. Alhasil, mereka malah menemukan hal yang aneh-aneh nantinya.

“Gunakan kemajuan teknologi untuk aktivitas kreatif,” begitu pesannya untuk generasi muda.

Ia menerapkan 3K; Kreatif, Konsep, dan Konsisten. Ketekunan dalam berkarya harus melalui proses yang panjang dan kadang berliku. Dengan begitu, kesuksesan yang dicapai akan terasa manis pada saatnya.

Film pendeknya yang berjudul Guna Guna tahun 2015 pun menembus OfficialSelection – Light of Asia competition, di 10th JogjaNetpac Asian Film Festival 2015, Kemudian di tahun 2016 menjadi OfficialSelection – 5th Ganesha Film Festival di Bandung, OfficialSelection – 4th XXI Short Film Festival 2016, di Jakarta dan Official Selection – Indonesia Raja 2016.

Film pendek terbaru yang disutradarainya Cerita Keluarga juga berkelana ke berbagai Festival Film Internasional di masa pandemi di tahun 2020 dan tahun 2021. Film Pendek Cerita Keluarga telah tayang di berbagai Festival Film Internasional.

Di antaranya, di 12th Austin Asian American Film Festival 2020 di Austin, Amerika Serikat. Kemudian di 40th VGIK International Student Film Festival 2020 di Rusia. VGIK adalah Sekolah Film pertama di dunia dan VGIK International Student Film Festival merupakan salah satu Festival untuk Mahasiswa Film tertua di dunia. Film ini juga mendapatkan penghargaan Best Student Short Film dari 3rd Benin City Film Festival di Nigeria, Afrika. Film Pendek Cerita Keluarga juga telah ditayangkan di puluhan Festival Film Internasional lainnya.

Ingatan masa kecil Rendro melintas deras ketika menapaki tempat kelahirannya. Langkah kakinya perlahan menyusuri kenangan indahnya sewaktu menonton film klasik Indonesia bersama ayah dan ibunya. Sejak saat itu, ia mulai jatuh cinta dengan dunia sinema. Setiap bulan di hamparan lapang Pulau Burung, Indragiri Hilir, Riau itu diputar film layar tancap.

Ditemani ayahnya, ia menyusuri tempat yang kini tak pernah lagi ada layar tancap. Sembari berjalan, ayahnya pun bercerita kenangan yang sama. Dahulu, jika tak ada layar tancap maka film bisa disaksikan melalui televisi. Hanya ada satu televisi yang ditonton ramai-ramai warga sekampung.

Tekad Rendro Aryo bulat untuk menekuni dunia sinema. Ia pun mengutarakan pada sang ayah sewaktu masih SMA. Sempat terjadi perdebatan kecil dengan sang ayah.

“Dahulu Bapak pernah bilang, kenapa tidak jadi dokter saja. Supaya bisa mengobati banyak orang,” kata Rendro ketika berbincang dengan sang ayah, mengulas kembali kenangan masa silam.

“Ya Bapak ingat,” ujar ayahnya.

Ia pun meneruskan. “Aku waktu itu bilang, aku mau menyembuhkan orang sakit tanpa obat.”

Ayahnya mengangguk setuju. Mereka akhirnya sepakat, bahwa melalui film bisa menjadi semacam terapi. Ketika orang lain bisa menonton film lalu bahagia, maka ia akan sehat.

Obrolan ringan mereka di tempat penuh kenangan itu ia abadikan dalam sebuah video yang dipublikasikan melalui Channel Youtube-nya.

Reporter: Febri Firsandi

DAERAH

Model Fiskal Insentif Bikin PAD Jember Tembus Rp 1 Triliun, Tertinggi se-Sekarkijang

DETAIL.ID

Published

on

Bupati Jember, Muhammad Fawait. (Foto: Dok/Diskominfo Jember for DETAIL.ID)

DETAIL.ID, Jember – Bupati Jember, Muhammad Fawait atau Gus Fawait, menyatakan keberhasilan Kabupaten Jember menembus Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Jember berhasil tembus Rp 1,072 Trilliun melalui kebijakan fiskal berbasis insentif dan kerja lintas organisasi perangkat daerah (OPD).

Capaian tersebut menempatkan Jember di peringkat 5 dari 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur dan peringkat 1 se-Karesidenan Besuki (Sekarkijang).

Bupati Jember, Muhammad Fawait atau Gus Fawait, menegaskan peningkatan PAD tidak dilakukan dengan menaikkan tarif pajak dan retribusi.

Pemkab Jember menerapkan skema insentif fiskal berupa penurunan retribusi pasar, penggratisan retribusi parkir, serta pengurangan dan pembebasan pajak tertentu pada momentum strategis.

“Pajak dan retribusi tidak boleh menjadi alat yang mencekik masyarakat. Justru harus kita kelola sebagai instrumen untuk membangun peradaban dan kesejahteraan,” kata Gus Fawait pada Kamis, 22 Januari 2026.

Kebijakan tersebut diklaim berbasis data dan kajian ekonomi, dengan fokus pada pergerakan aktivitas ekonomi dan kepatuhan wajib pajak.

“Setiap kebijakan fiskal yang kami ambil berbasis data dan kajian. Kami hitung dampaknya terhadap aktivitas ekonomi dan kepatuhan wajib pajak. Ketika masyarakat diberi ruang bernapas, ekonomi bergerak, dan PAD justru tumbuh,” ujarnya.

Selain kebijakan fiskal, Pemkab Jember membangun pola kerja terintegrasi lintas OPD penghasil PAD.

“Saya tidak ingin OPD berjalan sendiri-sendiri. Target PAD adalah target bersama. Tidak boleh ada ego sektoral, yang ada adalah kolaborasi,” kata Gus Fawait.

Sementara itu, Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Jember, Achmad Imam Fauzi, menyatakan peningkatan PAD bukan berasal dari kenaikan tarif, tetapi dari perluasan basis penerimaan dan partisipasi masyarakat.

“Kami melihat bahwa insentif fiskal yang diberikan secara terukur justru meningkatkan kepatuhan wajib pajak dan memperluas basis penerimaan. Jadi yang naik bukan tarifnya, tetapi partisipasi dan aktivitas ekonominya,” ujar Achmad Imam Fauzi.

Berikut daftar PAD wilayah Sekarkijang:
1. Jember: Rp1,072 Trilliun
2. Banyuwangi: Rp740,31 Miliar
3. Lumajang: Rp423,55 Miliar
4. Situbondo: Rp316,44 Miliar
5. Bondowoso: Rp300,22 Miliar

Reporter: Dyah Kusuma

Continue Reading

DAERAH

Buka Universitas Merangin Fest 2026, Sekda Zulhifni Ajak Gen Z Jaga Akar Budaya

DETAIL.ID

Published

on

Ketua Penggerak PKK, Lavita Syukur dan Rektor Universitas Merangin bersama dua penulis Merangin. (DETAIL/Daryanto)

DETAIL.ID, Merangin – Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Merangin, Zulhifni, secara resmi membuka gelaran Universitas Merangin (UM) Fest 2026 yang berlangsung di Aula Kampus Talang Kawo, Kamis, 22 Januari 2026.

Mengusung jargon “Adat Dijunjung, Budayo Kito Jago”, Sekda Zulhifni mengajak milenial Gen Z untuk menjaga akar budaya sebagai warisan luhur.

Dalam sambutannya, Sekda Zulhifni menyampaikan apresiasi tinggi kepada Universitas Merangin atas inisiatif menyelenggarakan kegiatan yang dinilai sangat inspiratif.

Menurutnya, jargon yang dipilih sangat mewakili identitas masyarakat Merangin yang harus diwariskan.

“Universitas Merangin Fest 2026 memiliki tujuan mulia, yakni melestarikan budaya kepada anak muda, khususnya Generasi Z, agar mereka tetap memiliki akar budaya yang kuat di tengah pesatnya perkembangan zaman,” ujar Sekda Zulhifni.

Festival yang berlangsung selama dua hari (21-22 Januari 2026) ini dimeriahkan dengan lomba tari tingkat SD dan SMA.

Sekda menilai pelibatan pelajar merupakan langkah positif dalam membangun kepercayaan diri dan menanamkan karakter berbudaya sejak usia dini.

Selain aspek seni, UM Fest juga menonjolkan jiwa kewirausahaan mahasiswa melalui bazar UMKM.

“Ini tidak hanya mengasah kreativitas mahasiswa, tetapi juga mendorong penguatan ekonomi kreatif dan pemberdayaan masyarakat,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, Sekda Zulhifni juga meluncurkan buku antologi cerpen karya penulis lokal, yakni buku “Betandang” karya Bayu Kumara dan Yanto Bule, serta buku “Surat-surat Sunyi”.

“Ini bukti nyata karya sastra dari imajinasi penulis kita. Semoga memberi warna pada kesusastraan di Jambi dan mewujudkan mimpi kita menjadikan Merangin sebagai Kota Literasi,” ucap Zulhifni.

Sebagai bentuk apresiasi, Pemerintah Kabupaten Merangin memberikan penghargaan kepada tiga pelaku seni berdedikasi, yaitu Febra Muyu Ari, Wiko Antoni, dan Bayu Kumara.

Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya Ketua TP PKK Kabupaten Merangin, Lavita Mudahar Syukur, Asisten III Setda Hennizor, Plt. Kadikbud Merangin, Juhendri, Rektor Universitas Merangin, Yosi Elfisa, beserta jajaran wakil rektor, Ketua Dewan Kesenian Merangin, Asraf Almutawir Ketua KNPI, Andi Putra dan Kasat Binmas Polres Merangin, Karto.

Acara diakhiri dengan penyerahan piagam penghargaan oleh Sekda kepada para pemenang lomba dan pelaku seni, sebagai simbol dukungan penuh pemerintah terhadap keberlanjutan agenda budaya di Kabupaten Merangin.

Berikut para Pemenang LombaTari Kreasi Daerah pada UNMER Fest:

Kategori SD/Sederhana
Juara 1 Moonchild dari SDN 282, dengan penari: 1. Qianna Syafiqa Jila, 2. Naura Nadhifa Putri, 3. Nazila Humaira, 4. Airin Mikaila RTS khaira Shafana.

Juara 2 Ekskul Tari 028 dari SDN 028 dengan penari: 1. Adzikia Ikhwatunnisa, 2. Novita Dewi, 3. Renata Stevani.

Juara 3 Perempuan Dance dari MIN 1 Bangko dengan penari: 1. Assyha Ainaya Rediti, 2. Fatthiya Rahma, 3. Fatimah Azzahra

Kategori SMA/Sederajat
Juara 1 Sanggar SMANel dari SMAN 5 dengan penari: 1. Bias Cinta Jefina, 2. Wahyu Setiawati, 3. Silviani Azzuhra, 4. Fike Zivilia Zahra.

Juara 2 Sanggar SMANDEIArt dari SMAN 8 dengan penari: 1. Istiarani, 2. Intan Wirda Putri, 3. Izzatun Nisak, 4. Bunga Lestari, 5. Aurelda Putri Yulianti.

Juara 3 Smandubel Dance ART dari SMAN 12 dengan penari: 1. Delita Ulfah, 2. Na’afi Rahmawati, 3. Safa Dini Febiani Saskia Lira Ansyari.

Continue Reading

DAERAH

Pesantren “Hybrid” Pertama: Kisah Ijtihad Pendidikan di Ranah Minang

Oleh: Taufikkurahman*

DETAIL.ID

Published

on

DI TENGAH bentang budaya Minangkabau yang teguh memegang adat, di kota kecil yang dijuluki “Serambi Mekkah”-nya Sumatera Barat, tumbuh suatu laboratorium pendidikan Islam yang unik. Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang bukan sekadar tempat mengaji, melainkan sebuah eksperimen besar—sebuah ijtihad atau usaha penalaran mandiri—dalam dunia pendidikan.

Ia adalah sintesis hidup dari dua hal yang kerap dianggap berseberangan: tradisi pesantren yang kokoh dan semangat modernisasi Muhammadiyah yang progresif. Inilah kisah pesantren “hybrid” pertama, yang berani mendobrak dikotomi untuk menjawab tantangan zaman.

Lahir di bawah naungan Muhammadiyah—organisasi yang sejak 1912 gencar membawa pembaruan (tajdid)—Pesantren Kauman justru memilih untuk tidak menanggalkan jubah tradisi. Di sini, para santri masih setia mendalami kitab kuning dengan metode ceramah umum dan baca individual di hadapan guru. Suara lantang membaca nadham (syair berbahasa Arab) masih menggema di waktu fajar, sebuah pemandangan klasik khas pesantren.

Namun, di ruang sebelahnya, santri-santri itu dengan lincah mengoperasikan laptop, merancang presentasi, atau berdiskusi tentang sains dan teknologi. Mereka mengikuti kurikulum nasional di sekolah formal Muhammadiyah yang terintegrasi, mengasah keterampilan wirausaha di koperasi pesantren, dan bahkan terlibat dalam proyek sosial. Inilah “hibridisasi” sejati: bukan pencampuran yang setengah-setengah, tetapi perpaduan organik di mana kedua unsur saling memperkuat. Ijtihad mereka sederhana namun mendalam: tradisi bukanlah beban, melainkan fondasi; modernitas bukan ancaman, melainkan alat.

Keunggulan pesantren hybrid ini terletak pada kurikulumnya yang responsif. Ia tidak mengadopsi model impor secara mentah, tetapi merancang pendekatan yang sensitif terhadap dua konteks utama: nilai Minangkabau dan tuntutan global.

Merangkul Adat dan Syara’: Di tanah matrilineal, pesantren ini dengan cerdas mengintegrasikan pemahaman tentang adat “adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah” (adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Al-Qur’an). Pendidikan gender yang seimbang dan penghormatan pada peran perempuan dalam masyarakat Minang menjadi bagian dari diskusi. Santri diajak untuk tidak melihat agama dan budaya lokal sebagai musuh, tetapi sebagai mitra dialektis.

Melampaui Batas Dinding Pesantren: Santri tidak dikurung dalam menara gading. Mereka dilibatkan dalam khalwat (kontemplasi) sekaligus mu’amalah (interaksi sosial). Mulai dari bimbingan masyarakat sekitar, penyuluhan kesehatan, hingga program pemberdayaan ekonomi, ilmu yang didapat di kelas dan musholla diuji di lapangan. Kemandirian dan jiwa wirausaha—yang juga selaras dengan semangat “alam takambang jadi guru”—ditanamkan melalui unit usaha pesantren.

Metode Belajar yang Membebaskan: Berbeda dengan stereotip pesantren yang kaku, metode di sini partisipatif dan mendorong berpikir kritis (ijtihad). Diskusi hangat tentang tafsir kontemporer, debat masalah sosial, dan penelitian sederhana adalah menu sehari-hari. Laptop dan internet bukan musuh, tetapi gateway untuk mengakses khazanah keilmuan global, sekaligus alat untuk mempresentasikan pemahaman mereka terhadap kitab klasik.

Jalan menjadi pesantren hybrid tidak mulus. Pesantren ini menghadapi skeptisisme dari dua kubu: kalangan tradisionalis yang curiga terhadap “virus modernitas”, dan kalangan modernis yang menganggap tradisi pesantren sebagai masa lalu. Tantangan keuangan, tekanan untuk mengikuti standar nasional yang kadang kaku, dan menjaga keseimbangan di tengah arus perubahan sosial yang deras adalah ujian berkelanjutan.

Namun, keteguhan pada komitmen awal—menjadi jembatan—membuat mereka bertahan. Kunci keberhasilannya adalah kepemimpinan visioner yang memahami kedua dunia, serta komunitas santri dan asatidz yang bangga menjadi bagian dari eksperimen unik ini. Mereka adalah bukti bahwa seorang santri dapat fasih membahas konsep ushul fiqh di pagi hari, dan merancang proposal bisnis digital di sore hari.

Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang mungkin tidak pernah ingin disebut “pertama” atau “terbaik”. Namun, ketidakmauannya untuk dikotakkan justru menjadikannya pelopor. Ia adalah contoh nyata bahwa pendidikan Islam di Indonesia tidak stagnan.

Warisan terbesarnya adalah paradigma: bahwa kita tidak perlu memilih antara menjadi “kolot” atau “kebablasan”. Bahwa kesalehan tradisional dan kecakapan modern dapat bersenyawa dalam diri seorang muslim. Bahwa ijtihad tidak hanya berlaku untuk masalah fikih, tetapi juga untuk mendesain masa depan pendidikan.

Di lereng Gunung Marapi dan Singgalang, pesantren hybrid ini terus berdiri, merawat warisan nenek moyang sambil menyiapkan anak bangsa untuk dunia yang terus berubah. Ia adalah monumen hidup bahwa di ranah Minang, semangat “duduak surang basampik-sampik, duduak basamo balapang-lapang” (duduk sendiri berdesakan, duduk bersama berlapang-lapang) terejawantahkan dalam harmoni pengetahuan. Di sini, masa lalu dan masa depan tidak berdebat, tetapi berjabat tangan.

*Tim Humas Pesantren Kauman Padang Panjang

Continue Reading
Advertisement Advertisement
Advertisement ads

Dilarang menyalin atau mengambil artikel dan property pada situs