OPINI
Hijrah di Tengah Pandemi
TANGGAL 1 Muharram bagi umat Islam diperingati sebagai Tahun Baru. Substansi dari 1 Muharram tidak hanya diperingati sebagai pergantian tahun, tetapi menjadi penanda atas peristiwa besar yang paling mempengaruhi arah sejarah peradaban Islam: hijrahnya Nabi Muhammad dan para pengikutnya dari Mekkah ke Madinah. Hijrah ini sebagai langkah strategis untuk membangun basis kekuatan baru.
Peristiwa hijrah memiliki makna pragmatik bagi umat Islam. Peristiwa itu pertanda lahirnya ‘konteks baru’ untuk membumikan pesan-pesan spiritualitas menuju kehidupan yang lebih baik, lebih prospektif.
Dari perspektif pragmatik, hijrah dilakukan untuk melindungi, menyelamatkan dan membebaskan umatnya dari suasana ‘ketidaknyamanan” dan dalam upaya untuk membangun kehidupan baru demi membebaskan manusia dari segala bentuk penindasan (termasuk penyakit) dan sebagai “titik awal” kebangkitan moralitas spiritual umat manusia.
Istilah pragmatik merupakan salah satu kajian linguistik yang menekankan pada penggunaan bahasa dalam konteksnya. Konteks merupakan kata kunci dalam kajian ini. Konteks berhubungan dengan keseluruhan faktor atau variabel yang berada dalam suatu peristiwa (Leech). Konteks tersebut mempengaruhi makna dari peristiwa itu.
Salah satu konteks dalam peristiwa hijrah adalah Nabi Muhammad SAW. Karena Nabi Muhammad SAW itulah membuat makna hijriah menjadi sebuah peristiwa besar. Sedangkan konteks hijriah perpindahan dari ‘alam ketidaknyamanan’ (Mekkah) ke ‘alam ukhwah’ (Medinah) menjadi salah satu tren kehidupan, kalau kita menghadapi suatu kejadian yang kita tidak sanggup melakukan atau mengatasinya, sudah saatnya kita hijrah.
[jnews_element_newsticker newsticker_title=”Baca Juga ” newsticker_icon=”empty” enable_autoplay=”true” number_post=”7″ post_offset=”1″]
Makna pragmatik dalam perspektif tahun baru hijrah secara holistik ditujukan untuk mengingatkan kaum muslimin untuk memosisikan peristiwa hijrah ini pada konteksnya dengan cara menghubungkan semua masalah kehidupan (ibadah, keluarga, kesehatan, pendidikan, sosial kemasyarakatan, dan lain-lain) dengan momentum tahun baru hijriah untuk kemaslahatan bersama.
Menurut Muhammad Iqbal, pengertian hijrah sesungguhnya dapat dianggap sebagai suatu proses pembebasan untuk mengekspresikan universalitas Islam dari dominasi yang akan memasung lahirnya kreativitas peradaban Islam. Dalam hal ini hijrah tidak saja migrasi fisik. Pesan moralnya adalah upaya untuk mewujudkan komunitas etis-spiritual yang mengandung visi pembebasan dan ketundukan atas nilai-nilai etis-spiritual.
Secara kontekstual, hijrah dapat direalisasikan ke dalam bentuk aktivitas konkret pembebasan diri dari kondisi ketidakadilan, ketidaknyamanan, kemiskinan, kebodohan dsb. ke kondisi yang lebih kondusif untuk menjalani kehidupan. Jadi hijrah dimaknai sebagai berpindah dari suatu keadaan kepada situasi yang lebih baik, situasi yang lebih menguntungkan untuk memberdayakan segala potensi diri, sehingga hidup dan kehidupan kita lebih bermakna.
Alquran memasang kata hijrah dengan jihad: Q.S al-Baqarah (2): 218 dan Q.S. al-Tawbah (9): 20. Secara konteks, inti makna hijrah dan jihad dalam kedua ayat tersebut adalah hijrah itu bukan perkara biasa, membutuhkan tekad kuat dan kesungguhan hati untuk keluar dari kondisi yang tidak kondusif. Tekad pantang menyerah dan kesungguhan hati dimaknai sebagai bentuk jihad. Oleh karena itu, tidak ada peristiwa hijrah tanpa jihad. (Muhammad Thahir Ibnu Asyur)
Motivasi utama hijrah adalah ingin memperoleh rida Allah. Menjelang hijrah kaum muslimin berada pada posisi yang lemah dan teraniaya, namun karena keyakinan yang kuat bahwa Allah akan menolong dan membantu mereka, pertolongan Allah pasti akan datang, dan mereka pasti akan memperoleh kemenangan. (Muhammad Husain Haekal, 2009)
[jnews_element_newsticker newsticker_title=”Baca Juga ” newsticker_icon=”empty” enable_autoplay=”true” number_post=”7″ post_offset=”1″]
Oleh karena itu, hijrah di saat pandemi perlu usaha serius, dibutuhkan pengorbanan total dan maksimal. Hijrah juga memerlukan pengerahan segala daya dan potensi yang dimilikinya, tenaga, pikiran, sikap dan materi bahkan jiwa dan raga. Ini menunjukkan hijrah di saat pandemi bertujuan untuk memutus hubungan dengan Covid-19, yang sudah banyak merugikan kita semua.
Kalau kita merasa sedih, cemas, tidak nyaman dan takut terpapar karena sebuah kondisi, misalnya pandemi, berhijrahlah. Hijrah tidak harus pindah lokasi, pindah rumah atau meninggalkan tanah kelahiran, saudara dan juga harta benda yang mereka miliki, tapi hijriah dengan melakukan sesuatu untuk menghindari hal-hal yang bisa menambah rasa sedih, rasa cemas dan takut.
Pandemi Covid-19 yang terjadi di seluruh dunia, secara pragmatik, meminta kita untuk hijrah dengan lebih berhati-hati dalam menjalankan aktivitas, hijrah untuk lebih menjaga kebersihan, hijrah untuk lebih patuh mengikuti anjuran pemerintah. Kita harus hijrah dengan mengambil makna lebih mendalam dari peristiwa Covid-19 ini, kita harus menyadari bahwa ada kekuasaan yang lebih besar yang mengendalikan sebuah kejadian yang terjadi di bumi pertiwi ini, yaitu Allah SWT.
Hijrah di tengah pandemi ini bukan berarti lari dari daerah, kampung, desa, RT kita, atau menyendiri tidak bergaul dengan orang lain, tetapi berikhtiar untuk mewujudkan kondisi lebih baik. Menjalani anjuran medis dan kebijakan pemerintah dalam melawan Covid-19, terus bergerak ke arah lebih baik dengan komitmen dan konsekuensi yang harus dilakukan untuk berpindah dari keadaan yang buruk menjadi keadaan yang baik, dari kondisi yang sudah baik menjadi kondisi yang lebih baik, itulah hijrah di tengah pandemi.
Hijrah tidak boleh salah kaprah, hijrah bukanlah milik orang tertentu. Namun, hijrah adalah keharusan, milik semua orang untuk terus-menerus memperbaiki diri. Memperbaiki cara berpikir, cara berucap, serta bersikap, dan menggunakan media sosial sehingga dengan berhijrah kita menyelamatkan diri sendiri dan juga orang lain.
Pada saat pandemi sekarang ini, hijrah bisa juga dilakukan dengan berkomunikasi santun dengan semua pihak, di tengah kepanikan akibat banyak informasi tentang Covid-19, diperlukan pola komunikasi yang bisa menyejukkan semua pihak, komunikasi untuk menambah semangat menghadapi Covid-19 yang belum berakhir.
[jnews_element_newsticker newsticker_title=”Baca Juga ” newsticker_icon=”empty” enable_autoplay=”true” number_post=”7″ post_offset=”1″]
Hijrah saat pandemi mesti ditunjuk dengan hal-hal yang sederhana, yakni istiqomah menerapkan protokol kesehatan 5 M dan 1 D: 1) mencuci tangan; 2) memakai masker; 3, menjaga jarak; 4) menjauhi kerumunan; 5) mengurangi mobilitas dan Doa. Ini kelihatan mudah dan sudah biasa dilakukan tapi pada saat pandemi ini bisa memberatkan dan mengganggu aktivitas.
Selamat Tahun Baru 1443 Hijrah. Mari hijrah untuk kehidupan yang lebih baik dengan terlebih dulu ‘menundukkan’ Covid-19. Amin!
*) Penulis adalah Pendidik di Madrasah
OPINI
Mendidik Meneguhkan Karakter Generasi Penerus
DI TENGAH derasnya arus globalisasi dan transformasi digital, generasi Z dan Alpha tumbuh dalam dunia yang serba cepat, instan, dan penuh distraksi. Informasi hadir tanpa batas di genggaman, namun ruang untuk merenung justru semakin sempit. Dalam situasi ini, pendidikan tidak lagi dapat dimaknai sekadar sebagai proses transfer ilmu pengetahuan, melainkan sebagai fondasi peradaban yang memanusiakan manusia secara utuh. Pendidikan sejati bukan hanya mencerdaskan akal, tetapi juga menumbuhkan nurani, membentuk karakter, dan mengarahkan manusia pada makna hidup yang lebih luhur. Filsuf pendidikan John Dewey pernah menegaskan, “Education is not preparation for life, education is life itself.” Pendidikan bukan sekadar persiapan hidup, melainkan proses kehidupan itu sendiri yang membentuk keutuhan pribadi manusia.
Kesadaran ini menjadi semakin relevan ketika kita melihat bahwa kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi atau kekuatan ekonomi, tetapi oleh kualitas karakter generasi penerusnya. Dalam konteks Indonesia, pendidikan berbasis nilai Pancasila dan semangat P4 (Pedoman, Penghayatan, dan Pengamalan Pancasila) menemukan urgensinya kembali. P4 bukan sekadar dokumen historis, melainkan kompas moral kebangsaan yang membimbing generasi muda agar tidak kehilangan arah di tengah krisis nilai, polarisasi sosial, dan budaya pragmatis yang kian menguat. Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang unggul secara teknologi, tetapi juga bangsa yang kokoh secara moral, sosial, dan spiritual.
Menghidupkan kembali pendidikan karakter berbasis Pancasila di sekolah berarti meneguhkan jati diri bangsa di tengah arus global. Kurikulum boleh adaptif terhadap perkembangan zaman digital, tetapi nilai tidak boleh dikompromikan oleh perubahan zaman. Sejalan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara, “Pendidikan adalah tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak.” Artinya, pendidikan harus membimbing, bukan sekadar mengarahkan secara mekanis. Pendidikan yang tercerabut dari akar kebangsaan berisiko melahirkan generasi cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara moral dan identitas.
Dalam perspektif humanis, pendidikan pada hakikatnya adalah proses memanusiakan manusia. Paulo Freire dalam gagasannya tentang pendidikan pembebasan menyatakan bahwa “pendidikan harus menjadi praksis pembebasan, bukan penindasan”. Pendidikan yang memerdekakan tidak mencetak manusia yang patuh secara pasif, tetapi membentuk pribadi yang sadar, kritis, dan reflektif. Generasi Z dan Alpha bukan generasi yang kekurangan informasi, melainkan generasi yang membutuhkan makna. Oleh karena itu, proses belajar tidak boleh berhenti pada hafalan dan capaian akademik semata, tetapi harus menyentuh pengalaman, refleksi, aksi, dan evaluasi. Dari pengalaman lahir refleksi, dari refleksi lahir kesadaran, dan dari kesadaran lahir tindakan yang bernilai.
Hakekatnya, pendidikan karakter yang kuat tidak dapat dilepaskan dari peran guru sebagai ujung tombak pendidikan. Di tengah perubahan zaman, martabat guru menghadapi tantangan yang kompleks. Status profesional dan sertifikasi tidak otomatis menjamin kepercayaan publik jika tidak disertai keteladanan. Aristoteles pernah mengatakan, “Educating the mind without educating the heart is no education at all.” Pernyataan ini menegaskan bahwa pendidikan tanpa pembentukan hati dan karakter hanyalah kecerdasan yang kehilangan arah. Guru tidak cukup hanya menjadi pengajar, tetapi harus menjadi inspirator, fasilitator, dan pemimpin pembelajaran yang humanis.
Karakteristik generasi Z dan Alpha yang adaptif, terbuka, dan melek teknologi menuntut pendekatan pendidikan yang relevan dan bermakna. Mereka hidup dalam budaya digital yang cepat, namun sering kali kurang ruang refleksi dan kedalaman makna. Dalam konteks ini, keteladanan menjadi metode pendidikan karakter yang paling efektif. Murid mungkin lupa teori yang diajarkan, tetapi mereka akan selalu mengingat sikap, nilai, dan integritas gurunya. Seperti yang diungkapkan oleh Albert Schweitzer, “Example is not the main thing in influencing others. It is the only thing”, bahwa teladan bukanlah hal utama dalam memengaruhi orang lain, tetapi teladan adalah satu-satunya hal yang penting.
Lebih jauh, pendidikan sejatinya adalah proses kepemimpinan diri. Prinsip “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani” menegaskan bahwa pendidikan adalah seni mendampingi manusia agar bertumbuh secara otentik. Pendidikan yang humanis akan melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan tanggung jawab moral. Dalam perjalanan pendidikan, baik bagi murid maupun guru, selalu terdapat dimensi batin: proses belajar, berjuang, gagal, dan bangkit kembali merupakan ruang pembentukan kedewasaan diri. Friedrich Nietzsche pernah menulis, “He who has a why to live can bear almost any how.” Pendidikan yang bermakna membantu manusia menemukan “mengapa” dalam hidupnya, bukan sekadar “bagaimana” untuk sukses.
Pada akhirnya, masa depan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan karakter yang ditanamkan hari ini di sekolah. Jika pendidikan hanya berorientasi pada capaian akademik, maka kita mungkin menghasilkan generasi cerdas namun kehilangan arah. Sebaliknya, jika pendidikan berlandaskan nilai Pancasila, humanisme, dan refleksi, maka akan lahir generasi yang berprinsip, berintegritas, dan berbelarasa. Pendidikan bukan sekadar soal apa yang diajarkan, tetapi siapa yang dibentuk. Ketika pendidikan mampu memerdekakan pikiran, menumbuhkan karakter, dan memanusiakan manusia, maka di sanalah pendidikan menjalankan misi sejatinya untuk menjaga martabat manusia sekaligus menyelamatkan peradaban.
*Guru SMA Kolese De Britto Yogyakarta
OPINI
Jakarta “Tenggelam” Lagi: Mengapa Banjir Subuh Terus Berulang?
JAKARTA – Bagi warga Jakarta, suara hujan di dini hari dalam sepekan terakhir bukan lagi pengantar tidur, melainkan alarm peringatan akan lumpuhnya aktivitas kota. Fenomena hujan yang konsisten turun pada waktu subuh hingga pagi hari ini memang bukan kebetulan. Merujuk pada analisis BMKG, dinamika atmosfer yang sangat aktif di wilayah barat Indonesia memicu penumpukan uap air yang tumpah tepat saat warga memulai kesibukan.
Memasuki Jumat siang (23/1/2026), situasi ini mencapai titik kritis. Data terbaru dari pusat informasi kebencanaan menunjukkan eskalasi genangan yang sangat cepat; dari yang semula hanya beberapa titik, kini meluas hingga merendam 143 RT dan memutus akses di 16 ruas jalan protokol utama. Dampaknya signifikan, urat nadi trDocansportasi ibu kota lumpuh akibat banyak kendaraan terjebak di jalur utama yang tidak lagi bisa ditembus.
Kondisi paling mengkhawatirkan terpantau di kawasan Rawa Buaya, Jakarta Barat. Melansir keterangan resmi BPBD DKI Jakarta, ketinggian air di wilayah tersebut telah menyentuh 150 sentimeter. Operasi evakuasi besar-besaran pun terus dilakukan petugas gabungan menggunakan perahu karet untuk menyelamatkan warga yang terisolasi di dalam rumah. Hingga saat ini, laporan lapangan mencatat sedikitnya 387 jiwa telah mengungsi ke posko darurat karena hunian mereka tidak lagi layak ditinggali.
Pertanyaan besarnya adalah: sampai kapan kondisi ini akan bertahan? Proyeksi cuaca memperingatkan bahwa puncak musim hujan diprediksi masih akan berlangsung hingga akhir Februari atau awal Maret 2026. Artinya, ancaman banjir masih akan menjadi risiko harian warga setidaknya untuk sebulan ke depan.
Krisis ini kembali menegaskan bahwa banjir Jakarta bukan sekadar masalah air kiriman, melainkan belum optimalnya sistem drainase kota dalam menampung curah hujan lokal yang ekstrem. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa pembenahan infrastruktur kita masih berkejaran dengan intensitas perubahan iklim dan penurunan muka tanah yang kian nyata.
Sudah saatnya kebijakan publik tidak hanya fokus pada solusi jangka pendek seperti pengerahan pompa atau evakuasi darurat. Diperlukan keberanian untuk mengevaluasi total tata ruang dan mempercepat integrasi sistem kendali air secara menyeluruh. Selama hujan masih dianggap sebagai “kejutan” tahunan, banjir akan terus menjadi identitas pahit yang melekat pada wajah ibu kota.
Puteri Nazwa Layla, Mass Communication Student, Binus University.
OPINI
Hidup Terasa Mulia Dimulai dari Hormati Guru
GURUKU pahlawanku, guruku orangtua keduaku. Kata itu pengingat peristiwa yang pernah aku alami tahun 1990 sampai 2000an, ketika dunia pendidikan masih tegak lurus dengan adab dan etika. Hubungan guru, siswa, dan orang tua masih dijiwai oleh rasa hormat. Jauh berbeda dari sekarang.
Suatu siang, aku pulang sekolah dengan wajah kusam. Saat mau masuk rumah, bertemu Papa sedang menjahit di mesin jahit.
“Pa, aku dipukul guru. Pa, rambut aku dipotong guru,” aku sambil menangis.
Sejenak Papa berhenti, matanya sedikit melotot seolah mencari jawaban. Tanpa menunjukkan kemarahan, hanya bertanya tanpa tahu kesalahanku, “Pakai apa dia pukul?”
“Pakai mistar, Pa,” jawabku. Papa kemudian berdiri.
Aku pikir Papa pasti membela diriku dan besok akan datang ke sekolah. Tanpa banyak bicara, Papa langsung mengambil mistar di dekatnya, membuat hatiku bertanya.
Bukan membela aku sebagai anak dari darah dagingnya, justru memukul lebih keras dari guruku. Lalu mengambil gunting membotaki rambut. Aku menyesal sudah memberitahunya. Ternyata jauh lebih menyakitkan.
Peristiwa itu terpatri dalam ingatan hingga sekarang. Setelah puluhan tahun berlalu dan aku telah memiliki keluarga sendiri. Bukan sebagai kenangan pahit, tapi sebagai kenangan indah
Seorang guru tak akan mau mengambil tindakan seperti memukul atau memotong rambut muridnya jika bukan karena murid tersebut telah melanggar aturan dengan sengaja dan mengabaikan peringatan.
Istilah guru sebagai orang tua kedua bukan sekadar omong kosong. Mereka tak hanya memberi ilmu pengetahuan dari buku pelajaran, tapi juga membentuk adab, etika, dan kedisiplinan, menjadi pondasi bagi masa depan.
Lihatlah sekeliling kita yang sekarang menjadi pegawai sukses di berbagai perusahaan, tentara menjaga keutuhan negara, anggota polisi yang melindungi keamanan masyarakat, dokter serta insinyur.
Semua itu karena siapa? kalau bukan karena otak dan hati diasah dengan penuh kesabaran oleh para bapak dan ibu guru yang tak pernah mengenal lelah.
Bapak dan ibu kita di rumah memang mencintai sepenuh hati. Tapi mereka tak akan mungkin mampu mengajarkan semua dibutuhkan untuk menghadapi dunia luar, mulai dari kemampuan berpikir kritis, kerja sama tim, hingga nilai-nilai kehidupan seperti kejujuran, tanggung jawab, dan rasa empati terhadap sesama.
Asal tahu saja, menjadi guru tak segampang dibayangkan. Mereka datang ke sekolah sejak jam 7 pagi bahkan lebih awal, hanya untuk mempersiapkan materi pembelajaran. Terkadang harus mengoreksi tugas dan ujian, pulang pun malam.
Waktu berharga dihabiskan bukan untuk anak di rumah. Melainkan untuk anak-anak orang yang baru dikenal.
Harapan mereka sama persis dengan harapan bapak dan ibu di rumah, agar tumbuh menjadi orang berguna bagi diri sendiri, keluarga, dan negara.
Ketika menjadi orang dihormati, gubernur sekalipun, dia tak akan pernah meminta sedikit pun imbalan. Dia juga tak akan pernah mengingatkan tentang apa yang telah diajarkan.
Namun, perbedaan zaman sekarang terasa jauh berbeda. Aku tak ingin menyalahkan siapa-siapa, tapi aku sebut saja sebagai “untul-untul” atau sakit kepala.
Begitu bodoh jika orangtua melihat anaknya mendapat hukuman maupun teguran dari guru, otak mereka langsung bereaksi kotor tanpa mengetahui kesalahan sebenarnya.
Ada lagi, menjadikan guru sebagai musuh dengan melaporkan ke aparat penegak hukum. Lebih parah, ada murid keroyok gurunya.
“Kalau kau benar-benar mampu mengajarkan semua hal yang dibutuhkan anakmu sendiri, mulai dari matematika, bahasa, ilmu pengetahuan, hingga kedisiplinan dan nilai-nilai hidup, sebaiknya kau ajarkan saja anakmu di rumah.”
Jasa guru tak bisa digantikan. Coba bayangkan ketika guru hanya fokus pada mata pelajaran saja, tanpa ada sentuhan kasih sayang. Pasti ilmu diberikan terasa hampa.
Untuk seluruh guru yang membaca tulisan ini, tetap kobarkan tugas muliamu. Jangan lelah untuk mencetak generasi penerus bangsa. Hanya Allah SWT, Tuhan Maha Esa, yang mampu membalas semua kebaikan dan pengorbanan kalian. Hai para murid-murid, cintailah gurumu!
*warga Provinsi Jambi



