ADVERTORIAL
Bersama Danrem dan Kepala BI, Edi Purwanto Sampaikan Bantuan Motor Trail untuk Orang Rimba
detail.id/, Jambi – Ketua DPRD Provinsi Jambi Edi Purwanto, bersama Danrem 042/Garuda Putih Brigjen TNI Supriono, dan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jambi Suti Masniari Nasution melakukan kunjungan ke lokasi Orang Rimba di Dusun Sungai Terab, Desa Jelutih, Kecamatan Batin XXIV, Kabupaten Batanghari, Senin 28 Maret 2022.
Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan Menteri Sosial Tri Rismaharini pada 16 Maret lalu, dimana saat itu salah satu Temenggung Orang Rimba menyampaikan bahwa mereka membutuhkan sepeda motor sebagai alat transportasi.
“Waktu kunjungan Bu Menteri kemarin, Temenggung Ngelembo menyampaikan ke saya, saya tanya apa yang dibutuhkan, katanya butuh motor, waktu itu Temenggung minta 10, tapi kita kasih 2 dulu dak ? Ini dibawa oleh yang banyak sen (duit, red) ko,” kata Edi Purwanto sambil menunjuk kepada Kepala Perwakilan BI Jambi Suti Masniari Nasution.
Edi yang juga merupakan Ketua DPD PDI Perjuangan provinsi Jambi ini menyampaikan bahwa saat Presiden Jokowi datang melihat Suku Anak Dalam (SAD) adalah bukti bahwa Presiden memiliki komitmen yang besar untuk mendorong peradaban SAD yang berada di dalam hutan bisa memiliki masa depan yang sama seperti masyarakat pada umumnya.
“Itu tugas Bapak Temenggung bagaimana 20 tahun ke depan Gubernur Jambi bisa dari orang rimba (suku anak dalam, red), bupati juga, semuanya bisa, kami juga dari dusun, orang-orang dusun,” ujar Edi.
Sementara Danrem 042/Garuda Putih Brigjen TNI Supriono menyampaikan bahwa setelah sebulan menjadi Komandan Korem, dirinya belum pernah ke wilayah lain, kunjungan ke orang rimba ini menjadi wilayah kerja terjauhnya.
“Saya datang untuk menemui saudara-saudara saya, suku anak dalam, mudah-mudahan kehadiran saya ini bisa memberikan semangat bagi prajurit kami di lapangan,” kata Supriono
“Disini ada beberapa kodim, diantaranya adalah Kodim Jambi, yang membawahi kabupaten Batanghari, disana ada Danramil, babinsa, diantaranya 2 orang aktif mengajar (anak-anak orang rimba, red), pak Teguh, dan pak Giman, jadi anggota kita juga kita libatkan berperan aktif disini,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama Kepala Perwakilan Bank Indonesia provinsi Jambi, yang juga Ketua Badan Musyawarah Perbankan Daerah (BMPD) Provinsi Jambi, Suti Masniari Nasution menyampaikan bahwa Bank Indonesia hadir dan turut berkontribusi dalam membantu memecahkan masalah sosial ekonomi yang dihadapi masyarakat, antara lain melalui penyaluran bantuan Program Sosial Bank Indonesia (PSBI).
“Pada kesempatan ini, sebagai bentuk kepedulian kepada warga SAD Sungai Terab, Kantor Perwakilan Bank Indonesia provinsi Jambi menyerahkan bantuan 100 paket bahan pokok, alat tulis dan bingkisan untuk anak,” ujar Suti.
“Selain itu, Bank Indonesia bersinergi dengan BMPD provinsi Jambi juga memberikan bantuan berupa 2 unit motor trail untuk warga SAD Sungai Terab,” ucap Suti.
Selain pemberian bantuan, ada juga pemberian penghargaan dari KKI Warsi kepada dua orang Babinsa, Teguh dan Giman.
Kegiatan juga diisi dengan Edukasi Cinta, Bangga dan Paham Rupiah oleh Bank Indonesia.
Turut hadir dalam kegiatan kunjungan ke Orang Rimba ini, Sekwan DPRD Provinsi Jambi Amir Hasbi, Kadinsosdukcapil Provinsi Jambi Arif Munandar, Perwakilan Pemerintah Kabupaten Batanghari, Dandim Jambi Kolonel Sriyanto, Wakapolres Batanghari dan Robert dari KKI Warsi.
Hadir juga empat Temenggung Orang Rimba, Temenggung Ngelembo, Temenggung Ngelambu, Temenggung Nyenong, dan Temenggung Ngirang.
ADVERTORIAL
Jember Jadi Poros Ekonomi Baru, Rp 207 Miliar Mengalir Setiap Bulan ke Desa-desa
DETAIL.ID, Jember – Kabupaten Jember kini tengah bertransformasi menjadi pusat perputaran ekonomi baru di Jawa Timur melalui implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dalam peninjauan langsung pada Kamis, 16 April 2026, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, bersama Bupati Jember, Muhammad Fawait atau Gus Fawait, mengungkap fakta bahwa program ini bukan sekadar urusan piring makan siswa, melainkan sebuah “suntikan” ekonomi yang diproyeksikan mencapai Rp4 triliun per tahun bagi rakyat Jember.
Gus Fawait menegaskan bahwa kehadiran MBG adalah jawaban nyata atas lesunya harga komoditas pertanian di tingkat bawah.
Ia mengambil contoh nyata dari para petani jeruk di Semboro yang sebelumnya menjerit karena harga anjlok di angka Rp4.000 per kilogram, namun kini setelah program MBG berjalan dan menyerap hasil panen lokal, harga melonjak stabil di angka Rp10.000 per kilogram.
Gairah ini memicu efek domino positif di mana warga kini kembali berlomba-lomba menggarap lahan mereka, sekaligus menepis isu miring di media sosial mengenai ancaman inflasi berbahaya.
“Sekarang warga di sini nanam jeruk semua,” ucap Gus Fawait sembari tersenyum dengan dampak positif program MBG.
Menurut Gus Fawait, pergerakan uang yang masif ini adalah benteng pertahanan Jember dalam menghadapi potensi krisis ekonomi global.
“Kalau ada krisis di dunia, selama MBG jalan, terutama di Kabupaten Jember, InsyaAllah tidak akan berpengaruh pada perekonomian di Kabupaten Jember,” katanya.
Untuk memastikan keberlanjutan program secara presisi, Pemkab Jember bahkan melibatkan akademisi dari Universitas Airlangga guna memantau dampak ekonomi dan pengentasan kemiskinan di setiap kecamatan secara ilmiah.
Senada dengan hal tersebut, Dadan Hindayana membeberkan angka-angka strategis yang menunjukkan betapa besarnya aliran dana yang masuk ke desa-desa.
Saat ini, Jember telah mengoperasikan 207 unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dari target 400 unit, di mana setiap satu unit mendapatkan kucuran dana sekitar Rp1 miliar setiap bulannya.
Menariknya, 70 persen dari anggaran tersebut atau setara Rp145 miliar per bulan saat ini, diwajibkan untuk belanja bahan baku kepada petani, peternak, dan UMKM setempat.
Ini berarti, uang negara benar-benar “berhenti” dan berputar di tengah masyarakat lokal, bukan terserap ke distributor besar di luar daerah.
“Uang itu berputar di Jember,” ujarnya.
Namun, di balik optimisme ekonomi tersebut, BGN tetap memasang standar disiplin yang sangat tinggi.
Dadan memberikan peringatan keras bahwa pihaknya telah menghentikan operasional 58 unit pelayanan di daerah lain yang dianggap tidak memenuhi standar fasilitas dan SOP.
Pengawasan berlapis dilakukan untuk menjamin kualitas menu harian, bahkan masyarakat diminta ikut berperan aktif sebagai pengawas melalui dokumentasi foto.
“Kami siapkan sistem pengawasan berlapis. Peran serta masyarakat juga penting untuk memantau kualitas menu harian melalui dokumentasi foto,” tutur Dadan.
ADVERTORIAL
Tekan Gejolak Harga LPG 3 Kg, Bupati Jember Minta Warga Laporkan Pangkalan Nakal
DETAIL.ID, Jember – Pemerintah Kabupaten Jember melakukan langkah preventif guna menjaga stabilitas harga dan stok LPG 3 kilogram yang sempat memicu keresahan warga di berbagai titik.
Melalui koordinasi intensif dengan Pertamina Patra Niaga, Pemkab Jember memastikan akan mengawal distribusi gas melon tersebut agar tetap tepat sasaran dan sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET).
Bupati Jember, Muhammad Fawait atau Gus Fawait, mengungkapkan bahwa persoalan di lapangan saat ini didominasi oleh praktik penjualan di atas harga resmi yang dilakukan oleh oknum pangkalan.
Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan membiarkan masyarakat kecil dirugikan oleh spekulasi harga yang tidak berdasar.
“Yang membuat resah bukan sekadar stok, tapi harga. Banyak pangkalan menjual di atas HET. Kalau hanya sanksi administratif, itu terlalu ringan,” tutur Gus Fawait.
Ia juga menginstruksikan masyarakat untuk aktif melakukan pengawasan mandiri.
“Kalau ada pangkalan menjual di atas Rp18.000, tolong laporkan. Itu sudah melanggar aturan pemerintah. Kami ingin memastikan harga di pangkalan sesuai ketentuan. Maksimal Rp18.000, tidak boleh lebih,” katanya.
Pihak Pertamina Patra Niaga turut memberikan dukungan penuh terhadap langkah tegas Pemerintah Kabupaten.
Pertamina memastikan tidak akan ragu untuk memutus rantai distribusi pangkalan yang terbukti melakukan pelanggaran berat demi menjaga integritas penyaluran subsidi energi.
“Menjual di atas HET adalah pelanggaran berat. Sanksi terberatnya pemutusan hubungan usaha atau penutupan pangkalan,” ucap Ahad Rahedi dari Pertamina Patra Niaga.
ADVERTORIAL
Gus Fawait Bidik Pengentaskan Kemiskinan di Kawasan Hutan dan Perkebunan Jember
DETAIL.ID, Jember – Bupati Jember, Muhammad Fawait, menetapkan kawasan hutan dan perkebunan sebagai titik kritis penanganan kemiskinan saat menjadi narasumber forum Kompas.com Talks di Universitas Jember, Senin, 13 April 2026.
Forum yang berlangsung di Gedung Soedjarwo itu dihadiri akademisi dan pemangku kepentingan.
Diskusi mengulas persoalan kemiskinan di wilayah lahan produktif yang belum tertangani optimal.
Gus Fawait menyebut kemiskinan di Jember masih menjadi persoalan dalam satu dekade terakhir meski angkanya menunjukkan tren penurunan.
Ia menguraikan, wilayah pinggir hutan dan perkebunan kini menjadi fokus utama intervensi.
“Kemiskinan di kawasan pinggir hutan dan kebun menjadi tantangan utama hari ini,” kata Fawait.
Ia menyampaikan target pengentasan kemiskinan ekstrem pada 2029 dengan mendorong keterlibatan berbagai pihak.
Menurutnya, keberadaan BUMN seperti PTPN dan Perhutani perlu diarahkan untuk mendukung upaya tersebut.
“Harapannya sama, zero kemiskinan ekstrem pada 2029, dan Jember sedang berikhtiar ke arah itu,” ucapnya.
Gus Fawait menilai potensi program hutan sosial dengan luasan puluhan ribu hektare dapat dimanfaatkan untuk menekan kemiskinan ekstrem.
“Jika dikelola tepat, hutan sosial bisa menekan angka kemiskinan ekstrem secara signifikan,” ujarnya.
Ia menjelaskan kategori miskin ekstrem merujuk pada masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan harian.
Ia memperkirakan puluhan ribu kepala keluarga berpotensi keluar dari kategori tersebut melalui intervensi yang tepat.
Gus Fawait juga mengulas perlunya distribusi lahan dan kesempatan kerja di kawasan perkebunan agar berpihak pada masyarakat sekitar.
“Prioritas harus diberikan kepada warga miskin ekstrem di sekitar hutan dan kebun,” ucapnya.
Ia menilai lahan tidur milik perusahaan dapat dimanfaatkan untuk mendorong ekonomi sektor informal, namun pemerintah daerah belum sepenuhnya dilibatkan dalam program kehutanan sosial.
“Kami berharap ada koordinasi kuat agar program tepat sasaran dan berbasis data,” katanya.
Sementara itu, Guru Besar FEB Universitas Jember, Prof Muhammad Zainuri, menilai persoalan utama terletak pada kurangnya kolaborasi antar pihak.
“Program sudah ada, tapi berjalan sendiri-sendiri tanpa koneksi,” ujarnya.
Ia menguraikan pentingnya integrasi kebijakan, digitalisasi data, serta penerapan reward dan punishment agar program berjalan efektif.
Ia juga mengingatkan agar bantuan tidak bersifat karitatif semata, melainkan mendorong pemberdayaan berkelanjutan.
“Kolaborasi yang solid membuka peluang percepatan pengentasan kemiskinan di Jember dalam beberapa tahun ke depan,” tuturnya.



