Connect with us
Advertisement

OPINI

Wacana Liar, Jokowi Tiga Periode

DETAIL.ID

Published

on

DALAM negara demokrasi, menyuarakan pendapat merupakan hal yang sah-sah saja. Sepanjang bisa diterima akal sehat dan tidak menentang norma-norma sosial maupun hukum, orang-orang Indonesia bebas mengungkapkan apa yang terdapat di dalam kepalanya.

Belakangan, kebebasan berpendapat dimanfaatkan oleh sejumlah pihak untuk mendengungkan wacana Jokowi TIGA Periode. Tak hanya dari kalangan politisi senayan, ribuan Kepala Desa dari berbagai penjuru NKRI yang tergabung dalam ormas juga tak mau kalah, dengan lantang mereka menyuarakan, Jokowi Tiga Periode.

Ya. Nama ormasnya, Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) yang dipimpin oleh Surtawijaya. Dalam acara yang bertajuk “Silaturahim Nasional Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) 2022” di Istora Senayan, Jakarta, Selasa 29 Maret 2022.
Ormas yang terdiri dari ribuan kepala desa seluruh Indonesia ini dengan bangganya memberi dukungan bagi Jokowi untuk menjabat sebagai Presiden RI satu periode lagi.

Namun, setelah sukses mengebohkan jagad media massa dengan dukungannya terhadap masa jabatan pakde Jokowi (sapaan akrab beliau). Ormas Kepala Desa yang di dalamnya terdapat nama “lord LBP” dalam susunan kepengurusannya, diterpa pemberitaan negatif.

Menurut, Bahtiar selaku Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri. Apdesi Jokowi 3 periode merupakan ormas yang tidak berbadan hukum, waduh.

Namun terlepas dari adanya kepentingan kelompok tertentu dalam peristiwa Apdesi lalu. Berbicara soal Jokowi 3 Periode maupun penundaan Pemilu 2024, terdapat sejumlah hal yang perlu diperhatikan.

Dua periode pemerintahan Jokowi memang masih tergolong lama untuk berakhir, namun memberi penilaian terhadap pemimpin merupakan hal yang wajar. Sebagai warga yang hidup di negara demokrasi ini, tentunya dapat menilai Pemerintahan Jokowi lewat
pencapaiannya sejauh ini.

Pengesahan Omnibus Law serta pengeluaran Perpres yang telah membentangkan karpet merah untuk investasi mungkin merupakan salah satu prestasi Jokowi sejauh ini, meski terdapat banyak sekali penolakan. Pemimpin negeri yang katanya Demokratis ini tak mau ambil pusing, dengan tegas pemerintah tetap mengesahkan UU CK dengan segudang persoalannya. Tok.. Tok.. Tok.. (Sah).

Dengan klaim, akan membuka lapangan pekerjaan dalam jumlah yang banyak sehingga angka pengangguran dapat ditekan. Seiring dengan pengesahan UU CK berbagai persoalan baru pun muncul. Satu tahun setelah disahkan, hasil uji Formil Mahkamah Konstitusi terhadap UU CK memutuskan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja Inkonstitusional secara bersyarat.

Namun putusan MK tersebut tidak serta merta membatalkan UU CK, Mahkamah Konstitusi masih membuka kesempatan. Yaitu dengan memerintahkan kepada pembentuk undang-undang untuk melakukan perbaikan dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun sejak putusan diucapkan. Apabila dalam tenggang waktu tersebut tidak dilakukan perbaikan, maka UU Cipta Kerja dinyatakan inkonstitusional secara permanen.

Kembali ke wacana “Jokowi 3 Periode” sebenarnya bukan isu baru lagi, jika dilakukan penelusuran isu ini sudah berputar-putar hilang timbul selama periode kedua Presiden Jokowi. Namun sejauh penelusuran dari penulis, terhadap isu terbaru yang dicanangkan oleh sejumlah tokoh-tokoh politik sejauh  ini, belum ada jawaban tegas dari Jokowi sendiri.

“Tetapi yang jelas, konstitusi kita sudah jelas. Kita harus taat, harus patuh terhadap konstitusi ya,” kata Jokowi dalam keterangan pers setelah meninjau Candi Borobudur, Rabu 30 Maret 2022, dikutip dari detik.com.

Jawaban seperti ini rasanya, seakan iya tapi tidak. Karena dapat ditafsirkan jika Jokowi akan selalu taat terhadap konstitusi (UUD 1945) yang saat ini membatasi jabatan Presiden selama 5 tahun dan dapat dipilih kembali untuk periode ke dua dengan masa jabatan yang sama.

Menjadi pertanyaan, ketika MPR dan DPR sepakat dilakukan amandemen Konstitusi, untuk memperpanjang masa jabatan presiden dan memungkinkan presiden menjabat selama 3 periode.

Apakah Jokowi akan kembali Nyapres?

Kalau iya, maka pilihan kembali ke tangan rakyat. Tentunya Pemerintahan Jokowi sejauh ini telah banyak menuliskan sejarah, baik itu positif ataupun sebaliknya. Namun di samping semua itu, perlu diingat, siapapun Presidennya, akan selalu ada kelebihan dan kekurangan.

Namun sosok pemimpin yang hanya mengutamakan pemodal dan mengesampingkan rakyat kecil, rasanya dia bukanlah pemimpin suatu negeri yang menjunjung tinggi nilai-nilai demokratis, melainkan lebih mendekati Humas Pemodal.

*Wartawan, kadang nulis Opini.

Advertisement Advertisement

OPINI

Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang: Merangkul Zaman dengan Iman, Ilmu, dan Inovasi

Oleh: Taufikkurahman*

DETAIL.ID

Published

on

DI JANTUNG Kota Padang Panjang yang berhawa sejuk dan kental dengan nuansa intelektual Islam, Pesantren Kauman Muhammadiyah telah berdiri tegak selama puluhan tahun. Institusi yang lahir dari semangat tajdid (pembaruan) Muhammadiyah ini tidak hanya menjadi penjaga tradisi pesantren, tetapi juga pelopor pendidikan integratif. Dalam arus perubahan zaman yang begitu deras, pesantren ini tidak sekadar bertahan; ia aktif menjawab tantangan zaman dengan formula yang khas: memadukan keteguhan akidah dengan kelincahan beradaptasi.

Tantangan yang dihadapi dunia pesantren hari ini multidimensi. Mulai dari pesatnya perkembangan teknologi digital yang mengubah gaya hidup dan cara belajar, maraknya informasi (dan disinformasi) yang membanjiri generasi muda, degradasi nilai-nilai moral, hingga tantangan global seperti krisis lingkungan, intoleransi, dan kesenjangan ekonomi. Di tingkat lokal, pesantren juga dituntut untuk tetap relevan bagi masyarakat sekitarnya dan mampu bersaing dalam ekosistem pendidikan nasional.

Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang menjawab tantangan-tantangan ini bukan dengan menara gading, melainkan dengan langkah-langkah konkret dan strategis:

Integrasi Kurikulum “Double-Helix”: Pesantren merancang kurikulum layaknya untaian DNA “double-helix”, di mana satu untai adalah ilmu-ilmu keislaman murni (Al-Qur’an, Hadits, Fiqh, Akidah Akhlak, Bahasa Arab) dan untai lainnya adalah ilmu pengetahuan umum, sains, teknologi, dan ketrampilan. Keduanya saling melilit dan memperkuat. Pembelajaran kitab kuning tetap berlangsung di pagi hari, sementara di siang dan sore hari, santri didorong menguasai komputer, bahasa asing (selain Arab), sains eksperimen, dan kewirausahaan. Ini adalah jawaban atas tantangan dikotomi agama-sains.

Pesantren Digital, Bukan Sekedar Pengguna: Menghadapi gelombang digitalisasi, pesantren tidak hanya mengajarkan santri menggunakan teknologi, tetapi juga memahami dan menciptakan konten yang bermanfaat. Dibentuknya unit broadcasting, pelatihan desain grafis, coding dasar, dan media sosial management bertujuan melahirkan “dai digital” yang cakap. Literasi digital kritis juga diajarkan untuk membentengi santri dari hoaks dan radikalisme online. Infrastruktur IT yang memadai dengan pengawasan yang proporsional menjadi penyeimbang.

Ekopesantren dan Kemaslahatan: Menjawab tantangan ekologis, pesantren mengembangkan konsep “Ekopesantren”. Program penghijauan, pengelolaan sampah mandiri, bank sampah, pertanian organik di lahan pesantren, dan penghematan energi diterapkan dalam keseharian. Hal ini tidak hanya mengajarkan teori, tetapi praktik langsung menjaga alam sebagai bagian dari iman. Pesantren juga menjadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar melalui koperasi santri, pelatihan UMKM, dan pasar hari raya.

Moderasi Beragama yang Aktif: Di tengah ancaman paham keagamaan yang eksklusif dan intoleran, Pesantren Kauman Muhammadiyah meneguhkan kembali jati dirinya sebagai garda moderasi Islam (Wasathiyah). Melalui dialog internal, seminar lintas agama secara virtual, dan penekanan pada fiqh sosial yang kontekstual, santri dibentuk untuk menjadi muslim yang kaffah, berkemajuan, dan mencintai kedamaian. Pesantren menjadi contoh nyata bahwa keberislaman yang tegas dapat berjalan beriringan dengan sikap menghormati perbedaan.

Kemitraan Global dan Jejaring Alumni: Pesantren membuka diri dengan menjalin kemitraan dengan berbagai pihak: universitas dalam dan luar negeri, lembaga riset, dunia industri, dan NGO. Program pertukaran pelajar, kuliah tamu virtual dengan pakar internasional, dan magang bagi santri tingkat akhir adalah upaya untuk membuka wawasan global santri. Jejaring alumni yang kuat juga dimanfaatkan untuk mentoring karier dan pengembangan proyek sosial.

Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang telah membuktikan bahwa dirinya bukanlah monumen yang diam, melainkan laboratorium hidup (living lab) peradaban Islam. Di dalamnya, berbagai eksperimen positif untuk menjawab tantangan zaman dilakukan. Ia menjadi ruang diiman tradisi dan modernitas tidak berbenturan, tetapi bersinergi.

Dengan pendekatan yang dinamis dan berorientasi pada solusi, pesantren ini tidak hanya mencetak santri yang hafal Al-Qur’an dan kitab, tetapi juga calon ilmuwan, entrepreneur, environmentalis, dan negarawan yang berakhlak mulia. Inilah sumbangsih nyatanya bagi bangsa: melahirkan generasi yang tidak gamang menghadapi perubahan karena berpijak pada iman yang kokoh, dan tidak tertinggal karena berbekal ilmu yang relevan.

Menghadapi masa depan, Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang terus berjalan dengan prinsip: “Mengokohkan yang hak, mengadopsi yang baru untuk kemaslahatan umat dan bangsa.” Inilah cara sebuah pesantren menjawab tantangan zaman: dengan tetap setia pada identitasnya, namun berani berinovasi untuk menyambut hari esok yang lebih baik.

*Penulis merupakan anggota Tim humas Pesantren Kauman Padang Panjang

Continue Reading

OPINI

Menuju Satu Abad Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang: Merawat Tradisi, Menyambut Peradaban

Oleh: Taufikkurahman*

DETAIL.ID

Published

on

1 JANUARI 2025, di tengah gegap gempita perkembangan pendidikan Islam di Indonesia, ada sebuah institusi yang telah berdiri tegak bagai pohon beringin yang akarnya menghunjam dalam, sementara dahannya meraih langit. Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang, yang sebentar lagi akan menginjak usia satu abad (100 tahun), bukan sekadar saksi bisu perjalanan zaman, melainkan pelaku aktif yang terus membentuk dan dibentuk oleh denyut nadi sejarah.

Berdiri pada masa pra-kemerdekaan, tepatnya di awal pergerakan Muhammadiyah di Minangkabau, pesantren ini lahir dari rahim semangat pembaruan (tajdid) yang digagas K.H. Ahmad Dahlan. Di Padang Panjang—sebuah kota yang dikenal sebagai “Serambi Mekkah” dan pusat pendidikan Islam tradisional—kehadiran Pesantren Kauman Muhammadiyah membawa angin segar: integrasi antara ilmu agama yang murni dengan pengetahuan umum yang modern.

Selama hampir seabad, pesantren ini telah menjadi “kawah candradimaka” bagi ribuan santri. Prinsip utamanya adalah memadukan kekuatan tradisi pesantren (seperti penghayatan Al-Qur’an-Hadits, kitab kuning, dan kehidupan berasrama) dengan semangat keilmuan Muhammadiyah yang rasional, terbuka, dan berorientasi pada kemajuan. Pendidikan akhlak al-karimah menjadi fondasi, sementara penguasaan sains, teknologi, dan ketrampilan hidup menjadi instrumen untuk berkontribusi di masyarakat.

Banyak tokoh bangsa, ulama, cendekiawan, dan profesional yang merupakan alumni dari pesantren ini. Mereka adalah bukti nyata bahwa model pendidikan integral yang diusung Pesantren Kauman Muhammadiyah berhasil melahirkan manusia yang tidak hanya “alim dalam agama” tetapi juga “cerdas dalam dunia.”

Menjelang usia satu abad, tantangan yang dihadapi tentu berbeda dengan era pendiriannya. Dunia yang semakin digital, generasi Z dan Alpha yang berpikir cepat, masalah degradasi moral, serta persaingan global, menuntut pesantren untuk terus berinovasi tanpa kehilangan jati diri.

Beberapa langkah strategis menuju abad kedua dapat dirumuskan:

Penguatan Kurikulum Masa Depan: Mengintegrasikan lebih dalam pendidikan digital, kewirausahaan, literasi data, dan keahlian abad 21 ke dalam kurikulum pesantren, tanpa mengesampingkan pendalaman tafsir, fiqh, dan tasawuf.

Internasionalisasi Jejaring: Memperluas kerja sama dengan lembaga pendidikan dan pesantren modern di dalam dan luar negeri untuk pertukaran ilmu, santri, dan guru.

Pelestarian dan Digitalisasi Khazanah: Mendokumentasikan dan mendigitalkan sejarah, karya ulama, serta tradisi keilmuan pesantren sebagai warisan intelektual untuk generasi mendatang.

Peran Sosial-Ekologis: Memperkuat peran pesantren sebagai pusat pemberdayaan masyarakat, pusat kajian isu-isu kontemporer (seperti lingkungan, moderasi beragama, dan kesetaraan), serta penjaga kemaslahatan umat.

Pemodernan Manajemen: Menerapkan tata kelola yang profesional, transparan, dan akuntabel untuk memastikan keberlanjutan dan kemajuan institusi.

Padang Panjang, dengan identitasnya sebagai kota pendidikan, akan semakin bersinar dengan peran Pesantren Kauman Muhammadiyah yang semakin matang di usia seabad. Pesantren ini diharapkan bukan hanya menjadi penjaga tradisi keilmuan Islam, tetapi juga menjadi engine of change, mesin penggerak yang melahirkan inovator-inovator muslim yang berakhlak, berilmu, dan bermanfaat bagi peradaban.

Menuju satu abad, perjalanan Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang adalah perjalanan dari sebuah sejarah menuju sebuah legasi. Legasi tentang bagaimana sebuah lembaga pendidikan Islam bisa tetap relevan, berkontribusi, dan menjadi mercusuar pencerahan dari generasi ke generasi.

Selamat menuju satu abad, Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang. Teruslah mengukir sejarah, menebar manfaat, dan melahirkan generasi yang “Muhammadiyah” dalam semangat, “Pesantren” dalam spiritualitas, dan “Modern” dalam visi peradabannya.

*Penulis merupakan anggota Humas Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang

Continue Reading

OPINI

Membongkar Stigma Kolot: Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang dan Terobosan ISTEM

DETAIL.ID

Published

on

SELAMA ini, pesantren sering kali dilabeli dengan stigma kuno, tertutup, dan hanya fokus pada ilmu agama (tafaqquh fiddin) semata. Gambaran tersebut diperkuat oleh narasi populer yang mencitrakan pesantren sebagai dunia terpisah dari modernitas, dengan kurikulum yang statis dan minim engagement dengan perkembangan sains dan teknologi. Namun, stigma kolot itu kini harus dihapus dari benak kita. Di tengah arus revolusi digital dan tuntutan abad 21, banyak pesantren justru menjadi garda terdepan dalam inovasi pendidikan, menyinergikan keimanan dengan kecanggihan ilmu pengetahuan.

Salah satu bukti nyata transformasi tersebut hadir dari Sumatera Barat. Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang telah melangkah jauh dengan menerapkan pola ISTEM (Islamic Science Technology Engineering and Mathematics), sebuah terobosan yang tidak hanya mematahkan stigma, tetapi juga menawarkan model pendidikan ideal untuk masa depan.

ISTEM bukan sekadar mengajarkan sains dan matematika di lingkungan pesantren. Esensinya terletak pada integrasi. Setiap konsep sains, teknologi, rekayasa, dan matematika dikaitkan dan dijiwai oleh nilai-nilai Islam serta perspektif Al-Qur’an dan Hadis.

Islamic: Menjadi fondasi dan lensa. Sebelum mempelajari teori evolusi, pesantren membahas kehendak Allah dalam penciptaan keragaman hayati (QS. Al-An’am: 95). Saat belajar fisika, dibahas ayat-ayat kauniyah tentang gerak, gravitasi, dan alam semesta.

Science: Diajarkan dengan mendalam untuk membangun logika dan cara berpikir ilmiah (scientific reasoning) yang sejalan dengan perintah Allah untuk meneliti dan memikirkan ciptaan-Nya.

Technology & Engineering: Santri tidak hanya jadi pengguna, tapi juga pencipta. Mereka diajak merancang, memprogram, dan merekayasa solusi untuk masalah sekitar, dengan etika Islam sebagai rambu.

Mathematics: Dipelajari sebagai bahasa universal yang memudahkan pemahaman atas keteraturan (sunatullah) di alam semesta.

Penerapan ISTEM di pesantren ini nyata dalam aktivitas sehari-hari:

Kurikulum Terpadu: Mata pelajaran agama dan sains dirancang saling mendukung. Pelajaran Fiqh tentang Thaharah (bersuci) bisa dikaitkan dengan pelajaran biologi tentang mikroba dan kimia tentang air, atau rekayasa sederhana sistem filtrasi.

Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning): Santri bekerja dalam tim untuk membuat proyek seperti robotik sederhana, aplikasi digital untuk pembelajaran Al-Qur’an, sistem hidroponik untuk ketahanan pangan pesantren, atau analisis data sederhana. Setiap proyek dirancang dengan mempertimbangkan manfaat (maslahah) dan dampaknya bagi umat.

Pemanfaatan Teknologi Digital: Penggunaan platform digital, coding, dan media kreatif menjadi bagian dari proses belajar. Santri didorong menghasilkan konten dakwah yang kreatif dan bernalar, bukan sekadar meneruskan informasi.

Lingkungan Belajar Inspiratif: Pesantren dirancang sebagai tempat yang merangsang kreativitas dan penalaran. Perpustakaan dengan akses jurnal ilmiah, laboratorium dasar, dan ruang diskusi menjadi jantung aktivitas.

Memecahkan Stigma: Dari Kolot Menuju Visioner

Dengan pola ISTEM, Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang secara efektif mematahkan tiga stigma utama:

Stigma “Anti-Sains/Teknologi”: Justru, pesantren ini menjadi hub inovasi sains-teknologi yang berlandaskan akidah. Mereka membuktikan bahwa menjadi religius justru berarti harus menguasai sains untuk memahami kebesaran Allah lebih dalam.

Stigma “Tertutup dari Dunia”: Dengan ISTEM, santri justru diajak secara kritis dan aktif menjawab tantangan global—seperti isu lingkungan, kesehatan, dan digitalisasi—dengan perspektif Islam. Mereka connected dan relevan.

Stigma “Hafalan Semata”: Pendidikan di sini menekankan pemahaman, nalar kritis (critical thinking), kreativitas, dan penyelesaian masalah (problem-solving). Menghafal Al-Qur’an tetap penting, tetapi dilengkapi dengan kemampuan menafsirkan dan mengaplikasikan nilainya dalam konteks kekinian.

Konklusi: Masa Depan Pendidikan Indonesia

Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang dengan ISTEM-nya adalah contoh nyata bahwa pesantren bukanlah masa lalu, melainkan masa depan. Ia merajut dua hal yang sering dianggap bertentangan: keimanan yang kokoh dan penguasaan sains-teknologi yang tangguh.

Model ini menjawab kegelisahan banyak orang tua yang menginginkan anaknya tak hanya pintar agama tetapi juga kompetitif di dunia yang semakin digital. Melalui ISTEM, lahir generasi “ulama-intelek” atau “ilmuwan-ulama”: generasi yang paham agama sekaligus mampu mencipta teknologi, yang santun sekaligus inovatif, yang berdiri di atas tradisi namun matanya tertuju ke masa depan.

Stigma kolot telah usang. Saatnya kita melihat pesantren sebagai pusat peradaban Islam modern, tempat dimana iman dan logika bersinergi, melahirkan pemecah masalah umat yang visioner. Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang telah menyalakan obor itu, dan cahayanya patut disambut oleh dunia pendidikan Indonesia.

*Penulis merupakan anggota Humas Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang

Continue Reading
Advertisement Advertisement
Advertisement ads

Dilarang menyalin atau mengambil artikel dan property pada situs