NASIONAL
Di Sidang, Abang Klaim Bakir Rachman Bongkar Kasus Sambo Alasannya Ayah
Hal tersebut diungkap kakak Arif Rachman, Arief Riadi Arifin dalam lanjutan persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis, 19 Januari.
Sang ayah yang merupakan purnawirawan jenderal bintang dua itu, kata dia, meminta supaya Arif melawan mantan Kadiv Propam Polri Ferdy Sambo dengan mengungkap peristiwa yang bantu-membantu di paras persidangan. Sang ayah juga meminta agar Arif tak takut untuk melakukan hal tersebut.
Saat peristiwa pidana itu terjadi, Arif Rachman yakni Wakaden B Biro Paminal Propam Polri.
“Yang jelas kami semua tetap mendukung, dan ayah aku berpesan pada adik aku, buka semua kalau memang kau dijerumuskan atau kau dibohongi maka lawan tidak perlu takut itu,” kata Arif dalam persidangan di pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (19/1).
“Berarti memang setelah mendapat perintah lawan baru melawan gitu ya?” kata penasihat aturan Arif.
Arif mengatakan usai adiknya mendapat perintah itu dari sang ayah, barulah Arif Rachman mempunyai keberanian untuk mengungkap perkara tersebut.
“Ya sehabis dia mendapat perintah musuh, baru ia membuka diri untuk melawan,” ujarnya.
Ia juga menyebut masalah yang menjerat adiknya itu menjadi pukulan berat bagi keluarga. Pasalnya, anggota keluarga mereka sebelumnya tak pernah terlibat problem aturan.
“Tidak ada dari kami yang pernah terlibat dengan persoalan hukum. Tentunya ini sungguh berat sekali kami hadapi. Apalagi adik aku ini ialah kebanggaan kami semua. Jadi ini berat buat kami semua,” kata Arif.
Arief Riadi Arifin dihadirkan di sidang obstruction of justice pembunuhan Brigadir J selaku saksi a de charge atau saksi merenggangkan untuk terdakwa Arif Rachman Arifin.
Arif Rachman Arifin didakwa melaksanakan obstruction of justice atau perintangan penyidikan terkait penanganan masalah praduga pembunuhan berencana Brigadir J.
Tindak pidana itu dilaksanakan Arief bantu-membantu dengan Ferdy Sambo, Hendra Kurniawan, Agus Nurpatria, Irfan Widyanto, Chuck Putranto, dan Baiquni Wibowo.
Atas perbuatannya itu, Arif Rachman Arifin didakwa melanggar Pasal 49 juncto Pasal 33 subsider Pasal 48 ayat (1) juncto Pasal 32 ayat (1) UU ITE Nomor 19 Tahun 2016 dan/atau Pasal 233 KUHP subsider Pasal 221 ayat (1) ke 2 juncto Pasal 55 KUHP.
Ferdy Sambo dituntut hukuman pidana seumur hidup lantaran dinilai jaksa terbukti secara sah dan meyakinkan melaksanakan pembunuhan berniat terhadap Brigadir J serta merusak barang bukti elektronika terkait pembunuhan Brigadir J.
Dia dinilai terbukti melanggar Pasal 340 kitab undang-undang hukum pidana juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP serta Pasal 49 juncto Pasal 33 Undang-Undang No 19 Tahun 2016 perihal Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 ihwal Informasi dan Transaksi Elektronik juncto pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.
NASIONAL
Malam yang Menyatukan Budaya, Seni, dan Persaudaraan di De Britto
DETAIL.ID, Yogyakarta – Di bawah cahaya lampu yang hangat dan iringan gamelan yang mengalun lembut, lapangan dan halaman pasturan Kolese De Britto Yogyakarta berubah menjadi ruang perjumpaan lintas budaya pada Gala Dinner Kongres XI World Union of Jesuit Alumni (WUJA) 2026 pada Jumat, 31 Juli 2026 untuk menyambut delegasi alumni Jesuit dari 30 negara.
Malam istimewa ini bukan sekadar jamuan makan malam bagi para tamu dari berbagai negara, melainkan sebuah persembahan budaya yang memperlihatkan wajah pendidikan Jesuit Indonesia: berakar pada tradisi, terbuka pada dunia, dan bertumbuh melalui kolaborasi.
Sejak para tamu mulai berdatangan, mereka disambut alunan kerawitan Gangsa Kulila yang dibawakan para siswa SMA Kolese De Britto. Gending gamelan Jawa menghadirkan suasana teduh sekaligus menjadi simbol keramahan masyarakat Yogyakarta dalam menyambut para sahabat dari berbagai belahan dunia. Penampilan tersebut menjadi pembuka yang memperlihatkan bahwa kebudayaan lokal tetap memiliki tempat penting di tengah perjumpaan internasional.
Nuansa kebudayaan semakin terasa ketika satu siswa menampilkan Tari De Britto, sebuah tarian khas yang lahir dari semangat dan identitas sekolah, bahwa tarian ini mencerminkan “Indonesia Mini”. Gerak yang dinamis, penuh energi, dan sarat makna menggambarkan karakter pelajar De Britto yang berani melangkah, menghargai keberagaman, sekaligus tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan. Penampilan tersebut kemudian dilanjutkan dengan Tari Caping Kula, yang menghadirkan keindahan budaya Jawa melalui harmoni gerak dan musik tradisional, sekaligus menjadi penghormatan terhadap kearifan lokal yang terus dirawat oleh generasi muda.
Dalam sambutannya, Romo Agustinus Sugiyo Pitoyo, SJ, selaku Rektor Yayasan De Britto, menyampaikan bahwa perjumpaan para alumni Jesuit dari berbagai negara menjadi kesempatan berharga untuk memperkuat persaudaraan universal. Pendidikan Jesuit, menurutnya, tidak hanya membentuk manusia yang cerdas, tetapi juga pribadi yang mampu membangun dialog, melayani sesama, dan menghadirkan harapan bagi dunia yang semakin beragam.
Puncak acara malam itu hadir melalui pementasan drama musikal hasil kolaborasi siswa SMA Kolese De Britto bersama mahasiswa Universitas Sanata Dharma. Selama hampir satu jam, para penampil mengajak para tamu menyaksikan kisah yang memadukan musik, tari, teater, dan tata artistik dalam satu pertunjukan yang memukau. Kolaborasi lintas jenjang pendidikan tersebut menunjukkan bahwa kreativitas tumbuh subur ketika talenta, kerja sama, dan semangat berbagi dipertemukan dalam satu panggung.

Kepala SMA Kolese De Britto, Robertus Arifin Nugroho, dalam sambutannya mengungkapkan rasa syukur karena sekolah dipercaya menjadi bagian dari penyelenggaraan WUJA 2026. Menurutnya, keterlibatan para siswa dalam seluruh rangkaian acara merupakan pengalaman belajar yang sangat berharga. Mereka tidak hanya menampilkan kemampuan seni, tetapi juga belajar menjadi tuan rumah yang ramah, terbuka, dan mampu membangun komunikasi dengan masyarakat dunia.
Menjelang penghujung malam, suasana berubah semakin hangat ketika band siswa De Britto mengambil alih panggung. Berbagai lagu, mulai dari karya internasional hingga nuansa lokal seperti Koyo Jogja Istimewa, menghidupkan suasana dan mengundang para tamu menikmati kebersamaan tanpa sekat bahasa maupun kebangsaan. Musik menjadi bahasa universal yang menyatukan seluruh hadirin dalam kegembiraan.
Gala Dinner WUJA 2026 akhirnya menjadi lebih dari sekadar rangkaian hiburan. Malam itu menghadirkan sebuah pesan bahwa pendidikan Jesuit bukan hanya tentang ruang kelas, melainkan tentang membangun manusia yang mampu merawat budaya, menghargai keberagaman, dan menciptakan persaudaraan lintas bangsa. Melalui seni, kolaborasi, dan keramahan yang ditampilkan para siswa, SMA Kolese De Britto kembali menunjukkan bahwa sekolah adalah ruang tempat nilai-nilai kemanusiaan dipelajari, dihidupi, dan dibagikan kepada dunia. (*)
NASIONAL
Fadli Zon Resmikan Museum Sriwijaya Dharmakirti di KCBN Muaro Jambi, Sorot Revitalisasi hingga Stokpile Batu Bara
DETAIL.ID, Jambi – Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon meresmikan Museum Sriwijaya Dharmakirti di Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muarojambi, Jumat, 31 Juli 2026. Peresmian tersebut dihadiri unsur Forkopimda Provinsi dan Kabupaten juga sejumlah pejabat Kementerian Kebudayaan.
Fadli Zon berharap keberadaan museum menjadi pusat edukasi dan kebudayaan yang memperkuat nilai sejarah KCBN Muarojambi. Kawasan seluas sekitar 4.000 hektare itu merupakan cagar budaya nasional yang telah masuk daftar tentatif Warisan Dunia Unesco.
”Kita perkuat lagi. Agar ini bisa menjadi warisan budaya dunia. Nanti kita terus perjuangkan karna menang ada limitasi atau pembatasan dari Unesco,” ujar Fadli Zon.
Menteri Kebudayaan itu menjelaskan bahwa KCBN Muarojambi memiliki lebih dari 100 struktur candi yang telah ditemukan melalui berbagi penelitian arkeologi selama beberapa tahun belakangan. Menurutnya, situs tersebut merupakan pusat pendidikan, kebudayaan, dan peradaban penting di Asia Tenggara pada abad ke-6 hingga ke-13 Masehi yang pernah didatangi para pelajar dari berbagai negara.
”Karena itu museum ini dibangun sebagai pusat edukasi untuk menampilkan berbagai temuan arkeologi sekaligus menjadi pusat kegiatan kebudayaan. Ke depan kami berharap akan semakin banyak festival budaya yang diselenggarakan di sini,” katanya.
Terkait proyek revitalisasi KCBN Muarojambi, Fadli menyebut pekerjaan fisik secara umum telah rampung. Pada 2025, pemerintah memfokuskan penyelesaian pembangunan museum, sementara saat ini memasuki tahap pemeliharaan dan pengelolaan yang akan dilakukan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan.
Ia mengungkapkan nilai anggaran revitalisasi tahun ini mencapai sekitar Rp 180 miliar yang digunakan untuk penataan museum, perbaikan situs cagar budaya, serta peningkatan fasilitas pendukung agar kawasan semakin menarik dikunjungi.
Menanggapi keberadaan stokpile batu bara yang masih berada di zona inti KCBN Muarojambi, Fadli menegaskan pemerintah akan mengambil langkah tegas.
”Soal batu bara sudah kami bicarakan dengan Pak Gubernur. Perusahaan yang masih beroperasi akan kami surati kembali dan pemiliknya akan dipanggil. Kalau tetap membandel, saya usulkan izin usahanya ditutup,” katanya.
Menjawab kritik bahwa revitalisasi bernilai ratusan miliar rupiah belum memberikan dampak signifikan bagi masyarakat sekitar, Fadli mengatakan pembangunan kawasan budaya membutuhkan waktu dan tidak hanya berfokus pada infrastruktur.
”Ekosistemnya harus dibangun, SDM juga harus dipersiapkan. Seperti Borobudur, sudah ada kawasan untuk pasar UMKMnya jadi hidup masyarakat. Muarojambi juga harus dibangun dengan melibatkan seluruh pihak, termasuk masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, seorang warga Muarojambi menilai pelibatan masyarakat dalam pengembangan kawasan masih belum optimal.
”Ya, ada yang dianakemaskan, ada yang tidak. Kami juga kaget tadi tiba-tiba baru ada undangan,” tuturnya.
Warga berharap keberadaan Museum Sriwijaya Dharmakirti dan revitalisasi KCBN Muarojambi benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar, pelaku UMKM, serta komunitas budaya di kawasan tersebut.
Reporter: Juan Ambarita
NASIONAL
Ketika Orang Tua Melepaskan, De Britto Memulai Sebuah Perjalanan
DETAIL.ID, Yogyakarta – Ada keheningan yang sulit dijelaskan ketika seorang ayah atau ibu menyaksikan putranya melangkah memasuki gerbang sekolah baru. Di balik senyum yang mengembang, tersimpan doa, harapan, bahkan sedikit rasa cemas. Namun pada Sabtu, 11 Juli 2026, di Aula SMA Kolese De Britto Yogyakarta, semua perasaan itu bertemu dalam satu keyakinan, setiap anak sedang memulai perjalanan untuk menjadi pribadi yang lebih utuh.
Momentum Penyerahan Siswa Baru dan Pra Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (Pra MPLS) bukan sekadar rangkaian pembukaan tahun ajaran baru. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi simbol dimulainya kemitraan antara keluarga dan sekolah dalam mendampingi para siswa bertumbuh, belajar, dan menemukan jati dirinya.
Ratusan orang tua, tepatnya 284 siswa baru yang hadir dari seluruh penjuru Indonesia memenuhi aula sekolah sejak pagi. Para orang tua hadir bukan hanya untuk mengantar putra-putra mereka, tetapi juga untuk menyerahkan sebuah kepercayaan. Di sekolah inilah, selama tiga tahun ke depan, anak-anak akan belajar bukan hanya tentang ilmu pengetahuan, tetapi juga tentang kehidupan.
Rangkaian pertemuan dengan suasana hangat dibuka melalui doa yang dipimpin Romo Aloisius Dian Permana, SJ, yang merupakan kepala Campus Ministry, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan perkenalan rektor, direksi sekolah, wali kelas, serta kepamongan yang akan menjadi rekan perjalanan para siswa selama menempuh pendidikan di Kolese De Britto.
Kepala SMA Kolese De Britto, Robertus Arifin Nugroho, S.Si., M.Pd., dalam paparannya mengajak para orang tua memahami filosofi pendidikan yang dihidupi sekolah. Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari nilai rapor ataupun prestasi akademik. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana seorang anak bertumbuh menjadi manusia yang mampu berpikir kritis, memiliki hati nurani yang jernih, peduli terhadap sesama, serta berani mengambil tanggung jawab bagi kehidupan bersama.
“Di De Britto, kami percaya bahwa setiap anak adalah pribadi yang unik. Tugas pendidikan bukan mencetak semua menjadi sama, tetapi membantu setiap siswa menemukan versi terbaik dari dirinya,” menjadi semangat yang terasa sepanjang sesi tersebut.

Momen paling menyentuh terjadi ketika Yohanes Heri Widodo, mewakili seluruh orang tua, secara simbolis menyerahkan para siswa kepada sekolah. Tepuk tangan yang mengiringi prosesi sederhana itu seolah menjadi penanda lahirnya sebuah komitmen baru. Sekolah dan keluarga kini berjalan berdampingan, saling menguatkan demi masa depan anak-anak.
Inspirasi kemudian hadir melalui kisah Prof. Dr. (HC). Ir. Bambang Pramujati, S.T., M.Sc.Eng., Ph.D., IPU, ASEAN Eng., Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya sekaligus alumni SMA Kolese De Britto. Ia berbagi perjalanan hidup yang membuktikan bahwa pendidikan karakter yang diperoleh di bangku sekolah mampu menjadi fondasi ketika menghadapi tantangan kehidupan dan dunia profesional. Baginya, ilmu pengetahuan membuka pintu kesempatan, tetapi karakterlah yang menentukan arah perjalanan seseorang.
Pengalaman tersebut diperkaya dengan kesaksian Yudianto, orang tua siswa Yedija Gayuh Pratama. Ia menuturkan bahwa komunikasi yang erat antara orang tua dan sekolah menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam mendampingi anak selama menempuh pendidikan. Pendidikan, menurutnya, tidak pernah bisa diserahkan kepada satu pihak saja.
Sementara para orang tua mengikuti berbagai sesi mengenai kurikulum, sistem pendampingan, layanan sekolah, administrasi, hingga jejaring dan kehumasan, para siswa mulai memasuki dinamika Pra MPLS di hall lapangan basket.
Para siswa baru ini, diperkenalkan pada rangkaian kegiatan MPLS yang akan berlangsung selama 13–17 Juli 2026 melalui pendekatan informatif, formatif, dan transformatif. Sejak hari pertama, diajak memahami bahwa menjadi bagian dari De Britto berarti siap belajar, hidup bersama, dan bertumbuh sebagai pribadi yang bertanggung jawab.
Menjelang berakhirnya kegiatan, Romo Agustinus Sugiyo Pitoyo, SJ, mengajak para orang tua untuk tetap hadir dalam perjalanan pendidikan putra-putra yang berproses di De Britto. Menurutnya, sekolah tidak dapat berjalan sendiri, karena pendidikan akan menemukan maknanya ketika keluarga dan sekolah saling percaya, saling mendukung, dan terus menjaga komunikasi demi perkembangan setiap anak.
Penyerahan siswa baru dan Pra MPLS akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda tahunan. Momen ini adalah titik awal sebuah perjalanan panjang yang akan membentuk cara berpikir, cara bersikap, dan cara hidup para siswa. Sebab di SMA Kolese De Britto, pendidikan bukan hanya tentang mempersiapkan lulusan yang siap menghadapi masa depan, melainkan juga tentang menghadirkan manusia yang mampu memberi arti bagi kehidupan orang lain. Dari aula pada pagi, lapangan basket dan ruang kelas itu, sebuah perjalanan baru dimulai dengan perjalanan untuk belajar, bertumbuh, dan menjadi pribadi yang membawa harapan bagi dunia. (*)



