Connect with us
Advertisement

OPINI

Siklus Destruktif: Narkoba, Seks Bebas, dan Kualitas Pemimpin Mantan Pecandu Narkoba

DETAIL.ID

Published

on

NARKOBA dan seks bebas merupakan isu kompleks yang melibatkan berbagai faktor psikologis, sosial, dan biologis. Dari sudut pandang psikologis, penggunaan narkoba sering kali dipicu oleh faktor-faktor seperti stres, trauma, atau gangguan mental, yang membuat individu mencari pelarian dari realitas. Ketika berada di bawah pengaruh narkoba, individu cenderung kehilangan kemampuan untuk membuat keputusan rasional, sehingga lebih mudah terjebak dalam perilaku seks bebas yang berisiko.

Secara sosial, lingkungan di mana seseorang berada dapat sangat mempengaruhi perilaku mereka. Dalam banyak kasus, narkoba dan seks bebas saling terkait dengan budaya atau subkultur tertentu yang mendorong perilaku hedonistik. Misalnya, pesta, klub malam, dan komunitas yang terbuka terhadap penggunaan narkoba sering kali menjadi tempat di mana perilaku seksual berisiko berkembang. Tekanan dari teman juga dapat mempengaruhi individu untuk terlibat dalam perilaku tersebut, meskipun mereka menyadari risikonya.

Dari perspektif biologis, penggunaan narkoba dapat mempengaruhi sistem saraf pusat dan neurotransmitter yang mengatur emosi dan perilaku. Narkoba tertentu dapat merangsang pelepasan dopamin, neurotransmitter yang terkait dengan perasaan senang dan reward, sehingga mendorong individu untuk mencari lebih banyak pengalaman yang menyenangkan, termasuk dalam konteks seksual. Akibatnya, individu yang menggunakan narkoba lebih cenderung untuk mengambil risiko dalam hubungan seksual, seperti berhubungan tanpa perlindungan atau dengan banyak pasangan.

Kombinasi dari faktor-faktor psikologis, sosial, dan biologis ini menciptakan suatu siklus di mana narkoba dan seks bebas saling mempengaruhi. Individu yang terlibat dalam perilaku ini berisiko tinggi terhadap berbagai konsekuensi negatif, termasuk penularan penyakit menular seksual, dampak psikologis, serta masalah hubungan sosial.

Hasil penelitian menunjukkan terdapat korelasi antara mengkonsumsi narkoba dengan perilaku seks bebas. Semakin terjerat dalam mengkonsumsi narkoba maka perilaku seks bebas semakin tinggi. Hal ini disebabkan oleh efek narkoba yang menurunkan kontrol diri dan kemampuan pengambilan keputusan, sehingga seseorang lebih cenderung terlibat dalam perilaku berisiko, termasuk seks bebas.

Pengaruh narkoba, terutama yang bersifat depresan dan stimulan, dapat membuat individu kehilangan kesadaran akan norma dan tanggung jawab pribadi. Selain itu, penggunaan narkoba di lingkungan sosial seperti dunia malam juga sering kali menjadi pemicu utama perilaku seks bebas, karena suasana yang mendukung perilaku impulsif dan melupakan konsekuensi jangka panjang, seperti risiko penyakit menular seksual atau dampak psikologis. Kombinasi antara penurunan inhibisi, euforia sementara, dan tekanan sosial memperbesar kemungkinan seseorang terjebak dalam siklus perilaku destruktif ini, yang pada akhirnya berdampak negatif pada kesehatan fisik, mental, dan hubungan sosial.

Dr. Seth Kalichman, seorang psikolog klinis dan profesor di University of Connecticut, yang telah mempelajari hubungan antara penggunaan zat, perilaku seksual berisiko, dan infeksi HIV. Kalichman juga meneliti tentang efek penggunaan narkoba terhadap pengambilan keputusan dalam konteks perilaku seksual. Dalam penelitiannya, Kalichman menemukan bahwa penggunaan zat seperti alkohol, kokain, dan methamphetamine dapat secara signifikan mengganggu kemampuan seseorang untuk membuat keputusan rasional, terutama dalam situasi yang melibatkan risiko kesehatan, seperti hubungan seksual tanpa pengaman.

Kalichman menunjukkan bahwa narkoba mempengaruhi area otak yang mengatur kontrol diri dan kesadaran terhadap konsekuensi jangka panjang. Ketika seseorang berada di bawah pengaruh narkoba, mereka lebih mungkin untuk terlibat dalam hubungan seksual tanpa perlindungan atau dengan banyak pasangan, yang pada akhirnya meningkatkan risiko penularan penyakit menular seksual, termasuk HIV. Penggunaan narkoba ini sering kali dikombinasikan dengan tekanan sosial dan lingkungan, seperti dunia malam, yang mendukung perilaku impulsif dan mengurangi rasa tanggung jawab.

Selain itu, Kalichman juga menemukan bahwa terdapat hubungan erat antara prevalensi HIV dan penggunaan narkoba di beberapa kelompok populasi, terutama di kalangan pengguna narkoba suntik. Penyalahgunaan narkoba bukan hanya memperbesar kemungkinan perilaku seksual berisiko, tetapi juga memperparah dampak kesehatan masyarakat secara keseluruhan, terutama dalam konteks penularan penyakit seperti HIV.

Berdasarkan penelitian Dr. Seth Kalichman, jika seorang pemimpin atau calon pemimpin di suatu daerah adalah pecandu atau mantan pecandu narkoba, hal ini memiliki dampak serius terhadap kepercayaan publik, integritas kepemimpinan, dan kualitas pengambilan keputusan. Dalam konteks kepemimpinan, seorang pemimpin atau calon pemimpin yang merupakan pecandu atau mantan pecandu narkoba menghadapi berbagai tantangan serius yang dapat mempengaruhi efektivitas dan kepercayaan publik terhadapnya. Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Seth Kalichman menunjukkan bahwa penyalahgunaan narkoba dapat mengganggu kemampuan individu untuk mengambil keputusan yang rasional. Ketidakmampuan ini bisa berdampak pada pembuatan kebijakan yang tidak hanya tidak efektif, tetapi juga berpotensi merugikan masyarakat.

Kehilangan kredibilitas adalah salah satu konsekuensi yang tak terhindarkan. Publik cenderung menilai pemimpin melalui perilaku dan moralitasnya, sehingga seorang pemimpin yang memiliki latar belakang sebagai pecandu narkoba dipandang tidak layak untuk memimpin. Ketika masyarakat kehilangan kepercayaan pada pemimpin mereka, hal ini bisa menghambat dukungan yang dibutuhkan untuk menjalankan pemerintahan yang efektif.

Ketidakstabilan emosional dan perilaku impulsif juga menjadi tantangan tersendiri. Pemimpin yang terpengaruh oleh narkoba bisa mengalami perubahan suasana hati yang drastis dan perilaku yang tidak terduga. Ini tidak hanya mempengaruhi kinerjanya, tetapi juga menciptakan suasana kerja yang tidak stabil, berpotensi menimbulkan konflik dengan anggota tim atau masyarakat.

Lebih lanjut, ada potensi untuk eksploitasi dan korupsi. Seorang pemimpin dengan latar belakang penyalahgunaan narkoba bisa rentan terhadap pengaruh luar yang merugikan, seperti tekanan dari individu atau kelompok berkepentingan. Dalam situasi seperti ini, mereka terlibat dalam praktik korupsi atau penyalahgunaan kekuasaan yang pada akhirnya merugikan masyarakat.

Dampak negatif ini juga menjangkau generasi muda. Pemimpin yang adalah mantan pecandu narkoba dapat memberikan contoh yang salah kepada anak-anak dan remaja, seolah-olah penyalahgunaan narkoba dapat diterima. Jika mereka tidak mampu mengubah perilaku atau berkomitmen pada proses rehabilitasi yang sukses, hal ini bisa mengirimkan pesan berbahaya yang merusak harapan masa depan generasi muda.

Selain semua itu, masalah kesehatan mental sering menyertai pecandu narkoba. Gangguan seperti depresi, kecemasan, dan stres pascatrauma dapat mengganggu kemampuan mereka untuk menjalankan tanggung jawab kepemimpinan dengan baik. Ketidakmampuan untuk mengatasi masalah ini bisa menciptakan tantangan tambahan yang berujung pada kinerja yang tidak optimal.

Secara keseluruhan, kehadiran seorang pemimpin atau calon pemimpin yang merupakan pecandu atau mantan pecandu narkoba bisa membawa dampak negatif yang signifikan bagi kepercayaan publik, pengambilan keputusan, dan kesehatan masyarakat. Tantangan yang dihadapi individu tersebut tidak hanya mempengaruhi dirinya, tetapi juga bisa berdampak luas pada stabilitas pemerintahan dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Oleh karena itu, penting untuk mengevaluasi dampak ini dengan cermat dalam konteks kepemimpinan dan pengaruhnya terhadap kebijakan publik serta kesejahteraan masyarakat. Pilihlah pemimpin yang bebas dari narkoba.

*Ketua Forum Masyarakat Peduli Pilkada Jambi (FMP2J)

Advertisement Advertisement

OPINI

Krisis Ekologis di Aceh, Sumut, dan Sumbar: Bencana yang Kita Ciptakan Sendiri

Oleh: Nazli (Budak Dusun)

DETAIL.ID

Published

on

BANJIR bandang, longsor, dan meluapnya sungai di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat kembali memperlihatkan kenyataan yang selama ini dihindari: sebagian besar bencana hidrometeorologis di negeri ini bukanlah peristiwa alamiah yang datang tiba-tiba, melainkan buah dari kerusakan ekologis yang dibiarkan berlangsung selama puluhan tahun. Ketika hulu dieksploitasi, DAS dirusak, dan kawasan lindung diubah menjadi area produksi, maka bencana hanyalah konsekuensi logis.

Selama ini, kita terlalu nyaman berlindung di balik narasi “cuaca ekstrem” atau “ini musibah”. Padahal penyebab strukturalnya sudah jelas: deforestasi masif, tata ruang yang longgar, serta lemahnya pengawasan dan penegakan hukum. Bencana ini bukan sekadar fenomena alam, tetapi refleksi dari tata kelola lingkungan yang gagal.

Tutupan Hutan yang Menyusut dan Fungsi Lindung yang Hilang
Aceh, Sumut, dan Sumbar merupakan kawasan dengan topografi sensitif yang sangat bergantung pada stabilitas hutan alam. Namun dalam 5 – 10 tahun terakhir, tutupan hutan di tiga provinsi itu menurun drastis akibat ekspansi perkebunan dan kegiatan pertambangan. Hilangnya vegetasi penahan air memperbesar limpasan permukaan, mempercepat sedimentasi sungai, dan membuat lereng semakin rentan longsor.
Ketika fungsi lindung menghilang, tanah kehilangan kemampuan menahan air. Sungai kehilangan ruang alirnya. Pada akhirnya masyarakat di hilir menjadi korban keputusan yang tidak mereka buat.

Tumpang Tindih Perizinan dan Pengawasan yang Terlambat
Salah satu sumber masalah terbesar adalah tumpang tindihnya izin lahan. Banyak konsesi diberikan tanpa pertimbangan matang terhadap bentang alam dan kapasitas ekosistem. Lebih parah lagi, mekanisme pengawasan pada banyak kasus tidak berjalan efektif. Pemerintah sering kali baru hadir setelah rumah-rumah hanyut atau korban berjatuhan.
Pendekatan reaktif semacam ini tidak lagi relevan. Dengan frekuensi bencana yang semakin meningkat, negara harus bergerak sebagai pengelola risiko, bukan sekadar responsor darurat.

Ketika Kepentingan Ekonomi Mengalahkan Kepentingan Ekologis
Dalam sejumlah kasus, kebijakan tata ruang dan perlindungan lingkungan tergerus oleh kepentingan ekonomi jangka pendek. Hubungan yang terlalu dekat antara pengambil kebijakan dan pemilik modal membuat banyak keputusan strategis kehilangan perspektif ekologis. Akibatnya, kawasan rawan tetap dieksploitasi dan risiko bencana terus meningkat.
Selama kebijakan lingkungan dapat dinegosiasikan, selama itu pula masyarakat akan tetap berada dalam ancaman bencana yang sebenarnya bisa dicegah.

Apa yang Harus Dilakukan?

1. Moratorium Izin di Kawasan Rawan
Pemerintah perlu memberlakukan moratorium total terhadap izin baru di hulu DAS, lereng curam, dan kawasan rawan bencana. Moratorium harus diikuti audit menyeluruh terhadap konsesi yang sudah berjalan.
2. Audit Lingkungan yang Transparan dan Dapat Diakses Publik
Semua hasil audit harus dipublikasikan, termasuk siapa yang melanggar, apa pelanggarannya, dan bagaimana tindak lanjut penegakannya. Transparansi adalah fondasi akuntabilitas.
3. Penegakan Hukum Tanpa Kompromi
Pelanggaran lingkungan harus diperlakukan sebagai kejahatan serius. Penegakan hukum yang konsisten dan tidak tebang pilih adalah langkah penting untuk menghentikan budaya pembiaran.
4. Rehabilitasi DAS dan Reforestasi Berbasis Sains
Restorasi lingkungan harus dilakukan secara terukur, bukan sekadar seremonial. Prioritasnya meliputi stabilisasi lereng, pemulihan resapan, penguatan bantaran sungai, dan peningkatan tutupan vegetasi.
5. Penataan Ulang Tata Ruang
Tata ruang di ketiga provinsi itu perlu dikaji ulang secara ilmiah dengan mempertimbangkan faktor geologi, hidrologi, dan proyeksi risiko bencana. Kebijakan tata ruang tidak boleh lagi tunduk pada tekanan ekonomi jangka pendek.

Penutup
Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar bukanlah kejadian yang tak terelakkan. Ia adalah akumulasi dari kebijakan yang mengabaikan keseimbangan ekologis. Setiap musim hujan kini menjadi pengingat bahwa kita sedang membayar mahal keputusan yang keliru.

Sudah saatnya negara mengembalikan keberpihakan pada keselamatan warganya dan keberlanjutan lingkungan hidup. Jika tidak, tragedi yang kita saksikan hari ini akan terus berulang dan sejarah akan mencatat bahwa bencana itu sebenarnya bisa dicegah.

Continue Reading

OPINI

Politik Hukum dalam Pembentukan Undang-Undang: Meneguhkan Prinsip Negara Hukum atau Menegaskan Dominasi Kekuasaan?

Oleh: Juwika Pasaribu (P2B125067)*

DETAIL.ID

Published

on

DALAM idealitas konstitusi, hukum berada di atas kekuasaan. Namun dalam praktik politik hukum Indonesia, garis itu kerap kabur. Legislasi yang seharusnya menjadi wujud kehendak rakyat justru sering berubah menjadi instrumen politik kekuasaan. Pertanyaan mendasarnya pun muncul: apakah politik hukum Indonesia hari ini meneguhkan prinsip negara hukum atau justru menegaskan dominasi kekuasaan?

Secara konseptual, politik hukum adalah arah kebijakan hukum nasional yang menentukan bagaimana hukum dibentuk, diterapkan, dan ditegakkan dalam suatu negara. Mahfud MD (2009) mendefinisikannya sebagai kebijakan hukum yang akan atau telah dilaksanakan untuk mencapai citacita bangsa. Dengan kata lain, politik hukum adalah kompas yang seharusnya menuntun pembentukan undang-undang agar selaras dengan nilai-nilai konstitusi, bukan sekadar kepentingan penguasa.

Namun, praktik politik hukum Indonesia belakangan menunjukkan kecenderungan sebaliknya. Contoh konkretnya dalam Revisi Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK), pengesahan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Perppu Cipta Kerja hingga pembentukan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2022 tentang Ibu Kota Negara memperlihatkan kecenderungan kuat bahwa politik hukum lebih banyak diarahkan untuk memperkuat struktur kekuasaan ketimbang mewujudkan keadilan sosial dan aspirasi masyarakat.

Revisi Undang-Undang KPK pada penerapannya dinilai akan melemahkan independensi lembaga antikorupsi, Undang-Undang Cipta Kerja disahkan secara tergesa tanpa partisipasi publik yang memadai dan bahkan dinyatakan inkonstitusional bersyarat oleh Mahkamah Konstitusi, sementara UU IKN dinilai terburu-buru dan lebih mencerminkan kehendak politik pemerintah pusat daripada aspirasi rakyat.

Asas keterbukaan sebagaimana diatur dalam Pasal 5 huruf g UU Nomor 12 Tahun 2011 hanya dijalankan sebatas formalitas administratif tanpa makna substantif. Publik memang diundang dalam forum konsultasi, tetapi ruang partisipasinya terbatas dan tidak berpengaruh signifikan terhadap hasil akhir. Proses legislasi seperti ini menggeser makna hukum dari instrumen keadilan menjadi alat legitimasi kebijakan yang pada akhirnya rakyat hanya menjadi penonton dalam drama hukum yang disutradarai oleh kekuasaan.

Kondisi ini mengikis prinsip dasar negara hukum sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 1 ayat (3) UUD 1945. Negara hukum mensyaratkan supremasi hukum atas kekuasaan, perlindungan hak asasi, serta adanya partisipasi publik dalam proses legislasi. Ketika proses pembentukan undangundang lebih menonjolkan kepentingan politik jangka pendek, maka prinsip negara hukum terdegradasi menjadi sekadar slogan konstitusional. Pemerintah dan DPR kerap berdalih bahwa percepatan legislasi dibutuhkan untuk kepastian hukum dan efisiensi kebijakan.

Namun, kepastian hukum yang tidak dilandasi legitimasi publik justru menimbulkan ketidakpastian sosial. Kepastian hukum yang dibangun di atas dominasi politik adalah kepastian semu, stabil di permukaan tetapi rapuh di dasar. Padahal, menurut Satjipto Rahardjo, hukum seharusnya mengandung dimensi moral dan sosial yang berpihak pada keadilan, bukan sekadar mengabdi pada logika kekuasaan formal.

Dalam pandangan teori responsive law yang dikemukakan oleh Philip Nonet dan Philip Selznick, hukum ideal adalah hukum yang peka terhadap nilai-nilai masyarakat dan mampu beradaptasi terhadap tuntutan keadilan sosial. Artinya, pembentukan hukum harus partisipatif dan terbuka agar produk hukum tidak hanya sah secara formal, tetapi juga sah secara moral dan sosial. Karena itu, tantangan politik hukum Indonesia ke depan bukan hanya soal memperbanyak produk legislasi, tetapi menata kembali orientasinya. Hukum harus kembali menjadi instrumen moral untuk menegakkan keadilan, bukan alat taktis kekuasaan. Pemerintah dan DPR perlu mengembalikan fungsi legislasi sebagai ruang deliberatif yang mengutamakan dialog, transparansi, dan akuntabilitas.

Partisipasi publik harus dihidupkan kembali secara bermakna, bukan sekadar diundang dalam dengar pendapat, tetapi benar-benar dilibatkan dalam penyusunan kebijakan sejak tahap perencanaan hingga evaluasi. Asas keterbukaan tidak boleh berhenti di meja administratif, melainkan menjadi ukuran kualitas demokrasi hukum. Tanpa pembenahan arah politik hukum, Indonesia berisiko terus melahirkan undang-undang yang sah secara formal namun kehilangan legitimasi sosial.

Ketika legitimasi publik hilang, hukum tidak lagi menjadi pemandu kehidupan bernegara, melainkan hanya pelengkap formal dari kehendak kekuasaan. Pada akhirnya, ukuran kemajuan negara hukum bukan terletak pada banyaknya undang-undang yang dihasilkan, melainkan pada sejauh mana hukum benarbenar menjadi penuntun bagi kekuasaan, bukan pelayannya

*Penulis merupakan mahasiswa program Magister Ilmu Hukum Universitas Jambi.

Continue Reading

OPINI

Politik Hukum dalam UU Cipta Kerja: Ekonomi dan Keadilan Konstitusional

Oleh: Okto Simangunsong, S.H*

DETAIL.ID

Published

on

POLITIK hukum pada hakikatnya merupakan kebijakan dasar yang menentukan arah pembentukan dan penegakan hukum suatu negara. Mahfud MD mendefinisikan politik hukum sebagai kebijakan dasar penyelenggara negara dalam bidang hukum yang akan, sedang, dan telah berlaku untuk mencapai tujuan negara.

Definisi tersebut menegaskan bahwa hukum tidak lahir dalam ruang hampa, melainkan merupakan hasil interaksi antara nilai, kekuasaan, dan kepentingan sosial-politik.

Dalam konteks Indonesia, politik hukum sering kali menjadi arena tarik-menarik antara tujuan pembangunan ekonomi dan prinsip keadilan sosial sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945. UU Cipta Kerja menjadi contoh konkret bagaimana arah politik hukum dapat bergeser menuju orientasi efisiensi ekonomi dengan mengorbankan partisipasi publik serta kualitas legislasi.

Metode omnibus law yang digunakan dalam pembentukan UU Cipta Kerja memang dimaksudkan untuk merapikan tumpang tindih regulasi dan mempercepat investasi. Namun, cara dan hasilnya menimbulkan kritik luas karena dinilai mengabaikan asas keterbukaan dan partisipasi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan.

Dasar Teoretis dan Kerangka Regulasi

Secara teoretis, politik hukum merupakan wujud nyata dari policy oriented law making, di mana pembentukan hukum diarahkan oleh agenda politik negara. Menurut Padmo Wahyono (1986), politik hukum adalah kebijakan dasar dalam bidang hukum yang menjadi pedoman bagi pembentukan hukum untuk mewujudkan cita-cita bangsa. Dengan demikian, politik hukum memiliki dua dimensi yakni normatif dan politis.

Dalam kerangka konstitusional, pengawasan terhadap produk politik hukum dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) melalui kewenangan judicial review sebagaimana diatur dalam Pasal 24C ayat (1) UUD 1945. Mekanisme ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa setiap undang-undang selaras dengan prinsip konstitusi, terutama dalam hal keadilan, keterbukaan, dan penghormatan terhadap hak-hak warga negara.

UU Cipta Kerja dan revisinya melalui UU Nomor 6 Tahun 2023 menjadi ujian nyata bagi kedua aspek tersebut, apakah politik hukum pembentukannya masih berada dalam koridor konstitusi, dan sejauh mana MK berperan menjaga keseimbangan antara kekuasaan politik dan supremasi hukum.

Analisis Politik Hukum dalam UU Cipta Kerja

UU Cipta Kerja menunjukkan bahwa politik hukum Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh kekuasaan eksekutif. Pemerintah, dengan dukungan mayoritas politik di DPR, berhasil mendorong lahirnya undang-undang yang mengubah lebih dari 70 undang-undang sektoral sekaligus. Proses legislasi yang cepat, tertutup, dan minim partisipasi publik memperlihatkan bahwa hukum telah dijadikan instrumen kebijakan pembangunan ekonomi.

Kondisi ini memperlihatkan gejala instrumentalization of law  hukum tidak lagi menjadi alat kontrol terhadap kekuasaan, melainkan alat legitimasi kekuasaan itu sendiri. Dalam konteks ini, efisiensi prosedural digunakan sebagai alasan untuk mengesampingkan nilai-nilai demokrasi substantif.

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 91/PUU-XVIII/2020 yang menyatakan UU Cipta Kerja inkonstitusional bersyarat merupakan wujud dari pengawasan konstitusional yang efektif. MK menegaskan bahwa pembentukan undang-undang harus memenuhi asas partisipasi publik yang bermakna (meaningful participation) sebagai bagian dari prinsip negara hukum.

Namun, tindak lanjut pemerintah melalui penerbitan Perppu Nomor 2 Tahun 2022 yang kemudian disahkan menjadi UU Nomor 6 Tahun 2023, memperlihatkan kecenderungan resistensi terhadap koreksi yudisial. Alih-alih memperbaiki proses legislasi, pemerintah justru mengulangi pendekatan serupa dengan dalih mendesak kebutuhan ekonomi nasional. Fenomena ini memperlihatkan bahwa politik hukum di Indonesia masih belum sepenuhnya menghormati prinsip checks and balances.

Secara filosofis, politik hukum seharusnya berorientasi pada rule of law, yakni menempatkan hukum di atas kekuasaan. Namun praktik dalam pembentukan dan perubahan UU Cipta Kerja justru mencerminkan rule by law, yaitu penggunaan hukum sebagai instrumen legitimasi kebijakan politik.
Ketika hukum dikendalikan oleh kekuasaan politik, maka fungsi normatifnya sebagai pelindung keadilan sosial dan lingkungan hidup melemah. Akibatnya, hukum kehilangan legitimasi moral di mata publik.

Politik hukum pembentukan UU Cipta Kerja menunjukkan dua wajah. Di satu sisi, hukum berfungsi sebagai sarana untuk mempercepat pembangunan ekonomi dan investasi. Namun di sisi lain, hukum kehilangan fungsi sosialnya sebagai instrumen keadilan. Keseimbangan antara kepastian hukum dan keadilan substantif menjadi terdistorsi.

Partisipasi publik yang minim dan pengabaian terhadap asas keterbukaan telah menimbulkan defisit legitimasi dalam politik hukum nasional. Ketika hukum tidak lagi dipersepsikan sebagai milik bersama, melainkan sebagai produk elit politik, maka kepercayaan publik terhadap negara hukum pun melemah.

Penutup

UU Cipta Kerja menjadi cermin nyata bagaimana politik hukum dapat bergeser dari orientasi keadilan menuju pragmatisme ekonomi. Dominasi eksekutif, lemahnya partisipasi publik, dan resistensi terhadap pengawasan yudisial menandakan bahwa sistem hukum Indonesia masih rentan terhadap politisasi.

Untuk membangun politik hukum yang konstitusional, dibutuhkan komitmen pada tiga hal pokok; (1). Menegakkan asas partisipasi publik yang bermakna dalam setiap proses legislasi. (2). Menghormati putusan Mahkamah Konstitusi sebagai bentuk kontrol konstitusional, bukan sekadar formalitas hukum. (3). Menempatkan hukum sebagai sarana keadilan sosial, bukan alat legitimasi kebijakan ekonomi.

Hukum yang baik bukanlah hukum yang paling efisien, tetapi hukum yang paling adil. Politik hukum yang berorientasi pada keadilan konstitusional akan memastikan bahwa pembangunan ekonomi tidak mengorbankan hak rakyat dan prinsip negara hukum.

*Penulis merupakan Advokad dan mahasiswa program Magister Ilmu Hukum Universitas Jambi.

Continue Reading
Advertisement Advertisement
Advertisement ads

Dilarang menyalin atau mengambil artikel dan property pada situs