Connect with us
Advertisement

LINGKUNGAN

Pertama Kali, Atraksi Puluhan Satwa Buas di Alam Desaku

Published

on

DETAIL.ID, Muaro Jambi – Hary yang biasanya lincah energik mendadak diam. Tangannya gemetaran kala melihat puluhan ular beragam jenis dan ukuran. Binatang melata tidak dilepas namun dipajang di beberapa tempat.

“Kalau sudah lihat ular, saya takut nian. Jangankan sebesar itu, lihat ular kecil saja rasanya geli,“ kata pria berusia 35 tahun itu kepada detail, Rabu (27/2/2019). Hary mengaku fobia terhadap ular sejak kecil.

Padahal Hary bukan kali ini saja datang ke tempat itu – sebuah Wisata Alam Desa yang berada di Desa Pudak, Kecamatan Kumpe Ulu, Kabupaten Muaro Jambi. Ia sudah ke sekian kalinya datang. “Pokoknya sudah seringlah saya ke sini,” ujarnya.

ATRAKSI: Komunitas S3 tengah beratraksi di depan ratusan pengunjung. (DETAIL/LP2LH)

Sikap Hary justru kontras dengan Andi yang tampak akrab dengan seekor ular piton sepanjang 2 meter lebih. Andi mengalungkan ular itu di lehernya. Maklum, Andi adalah Ketua Sumatran Snake Show (S3) – sebuah komunitas pencinta hewan khusus ular.

Atraksi Andi bersama ular merupakan rangkaian acara Animals Exhibition and Gathering 2019 yang digelar oleh Lembaga Pemantau Penyelamat Lingkungan Hidup (LP2LH) di Wisata Alam Desaku tersebut.

LP2LH tidak sendirian. Selain melibatkan S3, lembaga pegiat lingkungan itu juga menggandeng Jambi Parrot Lovers (JPL), Jambi Musang Lovers (Jamur), Mamalia Jambi Reptile (MJ Reptile), dan Saudara Tak Sedarah (STS).

Cuaca memang gerimis tapi tak mengendurkan semangat kelima komunitas itu. Mereka beratraksi sambil memamerkan koleksi hewan peliharaannya. Ada yang beratraksi dengan buaya, burung, musang.

ATRAKSI: Komunitas S3 tengah beratraksi di depan ratusan pengunjung. (DETAIL/LP2LH)

Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) LP2LH, Tri Joko Purwanto sekaligus pengelola Wisata Alam Desa berkata acara Animals Exhibition and Gathering 2019 ini terbuka untuk umum. Tujuannya, agar pengunjung bisa melihat langsung dan bercengkerama dengan hewan-hewan yang dipamerkan. Niat pria yang akrab disapa Joko tersebut, acara itu dapat memotivasi pengunjung agar mencintai hewan yang dilindungi.

“Ini merupakan salah satu cara membangun komunikasi antara manusia dan hewan. Jika komunikasi telah terbangun, tentu akan timbul rasa kecintaan,” kata pria berusia paruh baya itu.

Selama ini, cerita Joko, sering terjadi konflik manusia dengan hewan. Misalnya, konflik manusia dengan gajah, harimau ataupun buaya dan beragam satwa buas lainnya.

Joko punya solusi. Salah satu cara mengurangi konflik adalah membangun komunikasi di antara keduanya. “Lama kelamaan akan timbul rasa kecintaan. Kalau sudah begitu tentunya saling jaga. Nah, otomatis memperkecil konflik manusia dengan hewan,“ ujar pegiat lingkungan ini.

Tidak hanya itu, lembaga yang dipimpin Joko telah beberapa kali menyelamatkan hewan yang sekarat. Sebagian besar hewan itu kategori dilindungi. “Setelah luka parah baru diserahkan sama kita. Ya, kita obati, kita karantina kemudian kita kembalikan ke habitatnya,“ ucap Joko.

ATRAKSI: Komunitas S3 tengah beratraksi di depan ratusan pengunjung. (DETAIL/LP2LH)

Kembali ke acara tadi, Jefri dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jambi memberi acungan jempol. “Ini salah satu kegiatan upaya memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang satwa liar,” kata Jefri.

Jefri bertutur BKSDA kini sedang gencar-gencarnya menangani konflik satwa dengan manusia maupun konflik lahan. Sepanjang tahun 2018, pihaknya telah menanggulangi konflik hewan dengan manusia lebih dari 300 kali. Mulai dari konflik manusia dengan beruang, harimau, gajah dan lainnya.

“Jujur dengan acara ini, kami sangat terbantu. Kami berharap dengan adanya kegiatan ini, masyarakat semakin sadar dan konflik antara hewan liar dan masyarakat semakin berkurang,” ujarnya.

Jefri berharap kepada LP2LH juga menyediakan tim medis khusus satwa. Alhasil, kata Jefri, BKSDA bisa bergandengan tangan dengan LP2LH untuk bekerja sama merehabilitasi hewan-hewan dilindungi sebelum dilepas liarkan.

Bupati Muaro Jambi, Masnah Busro melalui Staf Ahli Bupati Muara Jambi, Suparmo berharap acara Animals Exhibition and Gathering 2019 bisa meningkatkan pengetahuan dan kecintaan manusia terhadap hewan.

“Kalau dahulu, manusia takut dengan penghuni hutan (satwa liar) seperti harimau, buaya, dan ular. Sekarang malah diburu. Padahal yang diburu itu sebagian adalah hewan yang dilindungi. Dengan acara ini, mudah-mudahan masyarakat lebih mengenal hewan-hewan mana yang dilindungi,” kata Suparmo. (DE 01/DE 02)

LINGKUNGAN

Perkumpulan Hijau Desak Pemerintah Evaluasi Tata Kelola Karhutla

DETAIL.ID

Published

on

DETAIL.ID, Jambi – Perkumpulan Hijau menilai tingginya hotspot pada Agustus 2026 menjadi alarm bagi pemerintah untuk mengubah pendekatan penanganan karhutla. Dari total 6.806 hotspot yang tercatat sejak awal tahun hingga 29 Agustus 2026, sebanyak 4.404 hotspot tercatat hanya dalam periode 1–29 Agustus.

Feri menilai penanganan karhutla tidak boleh berhenti pada pemadaman ketika api telah muncul. Menurutnya, kebijakan harus diperkuat melalui pencegahan, perlindungan ekosistem, pengawasan perizinan, penegakan hukum, serta pemulihan lingkungan.

“Kalau setiap tahun kita hanya menunggu api muncul, mengirim pasukan, melakukan pemadaman, lalu setelah api padam persoalan dianggap selesai, maka kita sebenarnya sedang mengulang siklus yang sama. Yang harus dipadamkan bukan hanya apinya, tetapi juga sumber kerentanan ekologis dan tata kelola yang memungkinkan kebakaran terus berulang,” katanya.

Desak Pemerintah Evaluasi Tata Kelola Karhutla

Atas kondisi tersebut, Perkumpulan Hijau mendesak Pemerintah Provinsi Jambi dan pemerintah kabupaten/kota memperkuat sistem pencegahan dan pengawasan karhutla.

Perkumpulan Hijau meminta pemerintah menjadikan data hotspot sebagai instrumen peringatan dini yang segera diikuti verifikasi lapangan.

Pemerintah juga didesak melakukan audit dan evaluasi terhadap wilayah berizin yang memiliki konsentrasi hotspot maupun luasan karhutla. Selain itu, perlindungan ekosistem gambut dinilai perlu diperkuat melalui pendekatan berbasis Kesatuan Hidrologis Gambut dan pemulihan fungsi hidrologis.

Pemerintah juga diminta memastikan pemegang izin menjalankan kewajiban pencegahan dan pengendalian karhutla secara nyata dan terukur, membuka data serta hasil investigasi kepada publik, memperkuat peran masyarakat, dan melakukan penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti bertanggung jawab berdasarkan proses investigasi dan pembuktian.

“Jambi tidak kekurangan data. Yang kita pertanyakan adalah keberanian dan keseriusan negara menjadikan data sebagai dasar tindakan. 6.806 hotspot dan 2.335,98 hektare luas karhutla bukan sekadar angka. Di balik angka itu ada ekosistem yang rusak, ada karbon yang terlepas, ada ruang hidup yang terancam, dan ada masyarakat yang harus menanggung dampaknya,” ujar Feri.

Ia menegaskan, karhutla harus ditangani dari sumber persoalannya, bukan hanya ketika api sudah membesar.

“Karhutla harus dihentikan dari hulunya. Negara harus hadir untuk memastikan ruang ekologis tidak terus dikorbankan atas nama kepentingan ekonomi jangka pendek.

Pencegahan harus menjadi kebijakan utama, bukan sekadar slogan ketika asap sudah memenuhi ruang hidup masyarakat,” kata Feri Irawan. (*)

Continue Reading

LINGKUNGAN

Karhutla di Jambi 2.335,98 Hektare, Perkumpulan Hijau Soroti Krisis Tata Kelola Lahan

DETAIL.ID

Published

on

DETAIL.ID, Jambi – Perkumpulan Hijau menyoroti tingginya angka kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi sepanjang 2026. Berdasarkan analisis data Perkumpulan Hijau, tercatat 6.806 hotspot di Jambi sepanjang periode 1 Januari hingga 29 Agustus 2026.
Hotspot tersebut tersebar hampir di seluruh wilayah kabupaten/kota. Sarolangun menjadi daerah dengan jumlah hotspot tertinggi, yakni 1.833 titik, disusul Muarojambi sebanyak 1.195 titik, Tanjungjabung Barat 886 titik, Batanghari 854 titik, dan Tebo 780 titik.

Kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan jika melihat data khusus periode Agustus. Dalam rentang 1–29 Agustus 2026, Perkumpulan Hijau mencatat 4.404 hotspot di Provinsi Jambi.

Sarolangun kembali menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 1.359 titik, kemudian Batanghari 695 titik, Tebo 599 titik, Muaro Jambi 587 titik, dan Tanjungjabung Barat 520 titik.

Direktur Perkumpulan Hijau, Feri Irawan, mengatakan tingginya jumlah hotspot tidak seharusnya hanya dipandang sebagai persoalan teknis pemadaman api.

“Karhutla harus dibaca sebagai persoalan ekologis dan tata kelola ruang. Ketika ribuan hotspot terus muncul dan terkonsentrasi di wilayah tertentu, pertanyaan kita bukan hanya bagaimana api dipadamkan, tetapi mengapa kebakaran terus berulang dan bagaimana negara mengelola ruang hidup masyarakat serta kawasan ekologis yang rentan,” kata Feri pada Selasa, 1 September 2026.

Luas Karhutla Capai 2.335,98 Hektare

Selain data hotspot, analisis Perkumpulan Hijau juga menunjukkan luas karhutla yang mencapai 2.335,98 hektare pada periode 1 Januari hingga 27 Agustus 2026.

Sarolangun menjadi kabupaten dengan luas karhutla terbesar, yakni 1.085,59 hektare atau 46,5 persen dari total luas yang tercatat. Selanjutnya Batanghari 712,88 hektare, Muarojambi 365,63 hektare, Tanjungjabung Timur 110,79 hektare, dan Tanjungjabung Barat 61,08 hektare.

Berdasarkan fungsi kawasan, luas karhutla terbesar tercatat pada Hutan Produksi Tetap sebesar 1.144,31 hektare dan Hutan Produksi Terbatas sebesar 713,91 hektare.

Selain itu, karhutla tercatat pada Area Penggunaan Lain seluas 347,64 hektare, Taman Hutan Raya 92,75 hektare, Hutan Lindung 37,09 hektare, Taman Nasional 0,23 hektare, serta Hutan Produksi yang Dapat Dikonversi sebesar 0,04 hektare.

Feri mengatakan data tersebut menunjukkan bahwa persoalan karhutla tidak dapat dilepaskan dari kondisi ekologis kawasan dan tata kelola ruang.

“Kita harus berhenti melihat hutan hanya sebagai ruang produksi. Ketika kawasan hutan mengalami kebakaran dalam skala besar, maka yang dipertaruhkan bukan hanya tegakan pohon, tetapi fungsi ekologis, keanekaragaman hayati, tata air, penyimpanan karbon, dan keselamatan masyarakat di sekitar kawasan,” ujarnya.

Karhutla Terdeteksi di Sejumlah Wilayah Berizin

Perkumpulan Hijau juga menyoroti keberadaan hotspot dan luas karhutla pada wilayah yang berada dalam areal perizinan.

Data menunjukkan 1.404,33 hektare luas karhutla berada dalam izin PBPH atau perizinan berusaha pemanfaatan hutan. Sementara itu, 361,50 hektare berada dalam wilayah izin Minerba dan 0,11 hektare berada dalam HGU.

Pada sebaran hotspot, tercatat 1.514 titik berada dalam izin PBPH, 410 titik dalam izin Minerba, dan 497 titik dalam HGU.

Feri menegaskan, data tersebut tidak serta-merta dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa pemegang izin merupakan penyebab kebakaran. Namun, keberadaan hotspot dan luasan karhutla dalam wilayah berizin dinilai perlu ditindaklanjuti melalui verifikasi dan investigasi.

“Kami tidak sedang melakukan generalisasi bahwa kebakaran yang terdeteksi di dalam wilayah izin pasti disebabkan oleh perusahaan. Secara metodologis, hotspot adalah indikator, bukan bukti tunggal mengenai penyebab kebakaran. Tetapi justru karena itu pemerintah harus melakukan verifikasi dan investigasi secara transparan. Jangan sampai data hanya berhenti sebagai angka tanpa tindak lanjut,” kata Feri.

Sebanyak 1.822 Hotspot Berada di Kawasan Gambut

Perhatian Perkumpulan Hijau juga tertuju pada ekosistem gambut. Berdasarkan data yang dianalisis, terdapat 1.822 hotspot atau 26,8 persen dari total hotspot yang berada dalam Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG).

Pada periode 1–29 Agustus 2026, beberapa KHG mencatat konsentrasi hotspot cukup tinggi. KHG Batang Tembei–Sungai Merak di Sarolangun mencatat 425 hotspot, KHG Sungai Batanghari–Sungai Air Hitam Laut di Muarojambi sebanyak 279 hotspot, KHG Batang Merangin–Batang Tembesi sebanyak 153 hotspot, serta KHG Sungai Batanghari–Sungai Kampeh sebanyak 150 hotspot.

Menurut Feri, tingginya hotspot pada kawasan gambut perlu menjadi perhatian serius karena gambut memiliki fungsi ekologis penting, terutama dalam pengaturan tata air dan penyimpanan karbon.

“Gambut mempunyai fungsi ekologis yang sangat penting dalam mengatur tata air dan menyimpan karbon. Karena itu, kebakaran gambut tidak boleh diperlakukan sebagai kejadian biasa. Kerusakannya dapat bersifat panjang dan dampaknya tidak berhenti pada lokasi api, tetapi dapat menjalar melalui perubahan tata air, emisi, degradasi ekosistem, hingga persoalan kesehatan masyarakat akibat asap,” ujarnya. (*)

Continue Reading

LINGKUNGAN

Tujuh Tersangka Karhutla Diproses, Ribuan Hotspot Terdeteksi di Area Konsesi Jambi

DETAIL.ID

Published

on

DETAIL.ID, Jambi – Hingga saat ini 7 orang terduga pelaku pembakaran hutan dan lahan tengah diproses aparat penegak hukum. Hal itu disampaikan oleh Menteri Kehutanan RI, Raja Juli saat menghadiri rapat koordinasi pengendalian karhutla di Manggala Agni Jambi pada Selasa, 25 Agustus 2026.

‎Adapun angka tersebut berdasarkan laporan dari Kepolisian dan Kejaksaan yang ia terima.

‎”Tadi sudah disampaikan oleh kepolisian dan kejaksaan sekarang sedang berproses 8 berkas, ada 7 yang sudah jadi tersangka,” ujar Raja Juli.

‎Menurutnya penegakan hukum merupakan bagian integral dari proses pemadaman karhutla sekaligus pencegahan pada masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan lagi.

‎”Saya memohon sekali agar tidak menggunakan masa-masa EL Nino yang sangat kuat ini untuk melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar,” katanya.

‎Di tengah operasi pemadaman yang terus berlangsung, data terbaru mencatat potensi karhutla di Jambi masih cukup tinggi. Kabupaten Sarolangun tercatat sebagai daerah dengan titik panas (hotspot) terbanyak yakni 159 titik. Kemudian Batanghari 78 titik, Tebo 50 titik, Tanjungjabung Barat 48 titik, dan Muarojambi 7 titik.

‎Sementara kalau berdasarkan data yang dihimpun oleh Perkumpulan Hijau, organ masyarakat sipil yang berfokus pada advokasi lingkungan, dari 1 Januari hingga 22 Agustus 2026, tercatat sebanyak 1.771 titik panas (hotspot) yang muncul di dalam area izin sejumlah perusahaan yang beroperasi di Provinsi Jambi.

‎Mulai dari sektor Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH), perkebunan, hingga sektor pertambangan. Sektor PBPH menjadi penyumbang titik panas terbanyak dengan total 1.289 hotspot.

‎Direktur Perkumpulan Hijau Jambi, Feri Irawan pun menegaskan bahwa tingginya jumlah titik panas di kawasan konsesi harus menjadi perhatian serius pemerintah. Menurutnya, persoalan karhutla di Jambi tidak dapat semata-mata dipandang sebagai bencana alam.

‎”Kebakaran hutan dan lahan di Jambi ini adalah tragedi ekologis yang sengaja dipelihara. Data ribuan titik panas di konsesi PBPH, HGU sawit, hingga tambang menjadi bukti sahih bahwa korporasi gagal menjaga bentang kawasannya,” katanya.

Reporter: Juan Ambarita

Continue Reading
Advertisement
Advertisement Seedbacklink

Dilarang menyalin atau mengambil artikel dan property pada situs