Connect with us
Advertisement

PERKARA

Mantan Calon Bupati Tebo Bantah Danai Pembakaran

Published

on

DETAIL.ID, Tebo – Sidang kasus pembakaran rumah komisioner KPUD Tebo, Riance Juskal kembali digelar, Selasa (6/2/2018). Menariknya, sidang ini digelar malam, sejak pukul 19.00 hingga berakhir pada jam 23.30 WIB.

Sidang dipimpin langsung oleh Partono, SH, MH dan hakim anggota: Andri Lesmana, SH, MH dan Cindar Bumi, SH, MH dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Tito, SH dan Zainal Muthaqin, SH.

Kali ini, JPU menghadirkan enam orang saksi yakni Hasan (tetangga korban), Basri (Ketua KPUD Tebo), Hamdi (mantan Wakil Bupati Tebo), dr Ferdi Fernando, Agusman Marbun, dan Sofyan alias Mamat. Keempat saksi terakhir disebut-sebut dalam dakwaan JPU.

Sidang mulai mencekam ketika saksi ketiga, Sofyan alias Mamat – merupakan relawan pasangan Hamdi – Harmain menceritakan kesaksiannya. Mamat berkata, dua pekan sebelum rumah Riance dibakar, dirinya ditelepon oleh Syarif yang mengaku sedang berada di Jakarta. Lewat telepon, Syarif berkata, “Ini ada Abang kita yang mau cakap.” Kepada hakim, Mamat mengaku bahwa suara yang bicara selanjutnya ditelepon adalah “Bang Hamdi”. Suara yang sangat dikenal Mamat.

“Lur, ado rekening dak?” “Ada rekening BPD,” kata Mamat. Kemudian, Mamat bertanya, “Ada apa, Bang?”. “Saya mau transfer uang untuk ongkos saksi-saksi ke Mahkamah Konstitusi,” ujar Mamat menirukan ucapan Hamdi.

Lantaran rekening BPD Mamat tidak bisa ditarik sebanyak Rp15 juta, akhirnya Hamdi menanyakan apakah ada rekening lain, lalu dijawab Mamat, nanti dicari, karena saat itu Mamat masih di dalam mobil, perjalanan pulang dari Tabir menuju Kota Tebo.

Singkat cerita, Mamat bertemu dengan dr Ferdi dan Agusman Marbun. Ia meminjam rekening dr Ferdi untuk menerima transfer uang dari Hamdi. Mamat langsung mengirim pesan pendek ke seluler Syarif. Hanya berselang beberapa menit, uang langsung ditransfer sebanyak Rp15 juta dan langsung diambil dr Ferdi dan diserahkan kepada Mamat.

Baca Juga: Terdakwa Pembakar Rumah Komisioner KPU Dibayar Rp15 Juta

Sesuai perintah Syarif, uang tersebut langsung diserahkan Mamat kepada Slamat, salah satu pelaku pembakaran. Setelah itu, Mamat mengaku tidak tahu menahu lagi. Ia hanya mendengar aksi pembakaran rumah Riance yang menghebohkan pada 29 Maret 2017.

“Dua hari setelah rumah Riance dibakar, saya diminta Hamdi untuk melihat apakah benar rumah Riance dan rumah Pj Bupati terbakar, karena pada pemberitaan sangat heboh,” kata Mamat.

Mamat langsung bergerak melihat situasi rumah Riance. Setelah melihat situasi dan kondisi rumah Riance, Mamat melaporkan situasi dan kondisinya pada Hamdi. Mamat melaporkannya tepat saat berada di depan Rumah Dinas Wakil Bupati. “Oh kalau gitu, berita dan laporan warga itu tidak benar,” kata Hamdi pasca Mamat melaporkannya.

Sejak saat itu, Mamat tidak pernah lagi berhubungan dengan Hamdi, hingga akhirnya Mamat baru tahu kalau Slamat yang menerima uang Rp15 juta tersebut adalah salah satu pelaku pembakaran rumah Riance Juskal.

Kesaksian Mamat ini hampir seluruhnya dibantah Hamdi. Calon Bupati Tebo yang kalah ini membantah keras soal transfer uang Rp15 juta ke rekening dr Ferdi. Hamdi juga mengaku tak pernah menghubungi ataupun berbicara melalui telepon dengan Mamat, apalagi sampai mengirimkan uang Rp15 juta untuk saksi-saksi ke Mahkamah Konsitusi.

“Saya hanya meminta bantuan sekali. Pada saat saya di Jakarta mendapat kabar kalau di Tebo terjadi pembakaran dan heboh. Saat itu saya telepon Hipni selaku korlap, tapi Hipni tidak tahu dan handpone diserahkan pada Mamat. Hanya itu saya bicara dengan Mamat,” ujar Hamdi pada Majelis Hakim.

Sidang kasus pembakaran rumah Riance Juskal ini akan kembali dilanjutkan pada Selasa (14/2/2018) mendatang dengan agenda yang sama, mendengarkan keterangan saksi-saksi termasuk saksi ahli bidang perbankan.

“Dari keterangan dr Ferdi yang mengirimkan uang Rp15 juta tersebut adalah LN dan yang mengetahui kode LN itu hanya saksi ahli dari perbankan,” ujar Hakim Ketua saat persidangan. (DE 01) 

PERKARA

‎Komut PT PAL Bengawan Kamto Kembali ke Tahanan

DETAIL.ID

Published

on

DETAIL.ID, Jambi – Terdakwa kasus dugaan korupsi kredit investasi dan modal kerja Rp 105 miliar, Bengawan Kamto kembali ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II Jambi.

‎Bengawan Kamto yang menjabat sebagai Komisaris Utama PT Prosympac Agro Lestari (PAL) sebelumnya berstatus tahanan kota. Namun dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jambi, Kamis 16 April 2026 Majelis Hakim menetapkan perubahan status penahanannya menjadi tahanan rutan.

‎Penahanan tersebut berdasarkan Penetapan Nomor: 02/Pidsus-TPK/2026/PN Jambi tertanggal 16 April 2026. Dalam penetapan itu, Majelis Hakim memerintahkan penahanan selama 10 hari, terhitung sejak 16 April hingga 26 April 2026.

‎Menindaklanjuti penetapan tersebut, Jaksa Penuntut Umum langsung mengeksekusi dengan memasukkan terdakwa ke Rutan Kelas II Jambi. Kasipenkum Kejati Jambi, Noly Wijaya membenarkan langkah penahanan tersebut.

‎”Penahanan ini dilaksanakan berdasarkan penetapan hakim,” ujar Noly Wijaya.

‎Sebagaimana diketahu perkara ini berkaitan dengan dugaan tindak pidana korupsi dalam pemberian fasilitas kredit investasi dan modal kerja dari Bank Himbara kepada PT PAL dengan nilai mencapai Rp105 miliar.

‎Sidang perkara tersebut akan kembali dilanjutkan pada Rabu 22 April 2026 dengan agenda pemeriksaan ahli dari pihak terdakwa dan penasihat hukum.

‎Kejaksaan Tinggi Jambi menegaskan komitmennya untuk mengawal proses hukum secara profesional, transparan, dan akuntabel hingga perkara ini memperoleh putusan berkekuatan hukum tetap.

Continue Reading

PERKARA

‎Enam Bulan Pelarian Alung Kurir Narkoba 58 Kilo, Akhirnya Kembali ke Tangan Polisi

DETAIL.ID

Published

on

DETAIL.ID, Jambi – Enam bulan pelarian M Alung Ramadhan akhirnya kandas. Kurir narkoba 58 kilo tersebut akhirnya kembali ditangkap oleh Polda Jambi di daerah Tanjung Jabung Barat, Kamis dini hari, 16 April 2026.

‎MA yang sebelumnya masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) berhasil diamankan setelah tim melakukan proses pembuntutan (surveillance) terhadap kendaraan yang digunakannya.

‎”Yang bersangkutan ditangkap di jalan raya setelah melalui proses pembuntutan  atau surveillance. Kendaraan yang digunakan berupa satu unit Suzuki Vitara berhasil dihentikan oleh tim,” ujar
‎Kapolda Jambi, Irjen Pol Krisno Siregar, saat memimpin jumpa pers, Kamis sore, 16 April 2026.

‎Saat penangkapan, polisi juga mengamankan 5 orang lainnya yang berada di dalam kendaraan bersama Alung. Kelimanya saat ini masih dalam proses pemeriksaan intensif.

‎Dalam kasus ini, mereka dijerat dengan Pasal 114 ayat 2 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika karena kepemilikan narkotika sintetis di atas 5 gram. Selain itu, penyidik juga menerapkan Pasal 132 ayat 1 terkait dugaan keterlibatan dalam jaringan kejahatan narkotika terorganisir.

‎Kapolda menyebutkan berdasarkan hasil interogasi, MA mengakui perbuatannya yakni memanfaatkan kelengahan penyidik saat sebelumnya berhasil melarikan diri dari ruang penyidik pada Oktober 2025 lalu.

‎”Kami sudah mendapatkan keterangan dari yang bersangkutan. Ia mengakui memanfaatkan kelengahan petugas,” katanya.

‎Lebih lanjut, Kapolda menegaskan bahwa pihaknya telah bekerja maksimal dalam menangani kasus ini, termasuk melibatkan pengawasan internal dari Mabes Polri.

‎”Kami dibantu oleh Itwasum Polri yang telah melakukan audit investigasi selama tiga hari di Jambi,” katanya.

‎Meski demikian, untuk hasil audit internal, Kapolda tak membeberkan secara rinci kepada publik, alasannya lantaran bersifat laporan internal.

‎Kapolda pun menekankan bahwa setiap pihak yang terbukti bersalah tentu  diproses sesuai hukum yang berlaku.
‎Ia menambahkan, Polda Jambi berkomitmen mendukung arahan Kapolri dalam pemberantasan tindak pidana narkotika secara tegas dan berkelanjutan.

‎Sebelumnya, Alung merupakan tersangka kasus narkotika yang sempat melarikan diri dari ruang penyidik Ditresnarkoba Polda Jambi pada 9 Oktober 2025.

‎Saat itu, Alung ditangkap bersama 2 rekannya, Agit Putra Ramadhan dan Juniardo. Namun, ketika proses pemeriksaan hendak berlangsung, Alung berhasil kabur akibat kelalaian penyidik  yang meninggalkan ruang pemeriksaan.

‎Polisi kemudian menerbitkan status DPO terhadap MA pada 12 Oktober 2025 dan melakukan pencarian hingga akhirnya berhasil menangkap kembali pada 16 April 2026 di daerah Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

‎Kasus pelarian tersebut sempat menyeret oknum penyidik ke sidang etik dan dijatuhi sanksi berupa mutasi, demosi selama 2 tahun, serta kewajiban menyampaikan permintaan maaf di sidang KEPP.

‎Reporter: Juan Ambarita

Continue Reading

PERKARA

‎Dadang DPO Kasus Perlindungan Anak, Ditangkap Tim Tabur Kejaksaan di Muarojambi

DETAIL.ID

Published

on

DETAIL.ID, Muarojambi – Tim Tangkap Buron (Tabur) Kejaksaan Agung RI bersama Tim Tabur Kejaksaan Tinggi Jambi dan Kejaksaan Negeri Muarojambi berhasil mengamankan satu orang daftar pencarian orang (DPO) pada Rabu, 15 April 2026 sekitar pukul 13.00 WIB.

Terpidana yang diamankan yakni Dadang Saputra bin Kanak, yang telah masuk dalam daftar buronan sejak 2016. Ia ditangkap di kawasan stockpile batubara Talang Duku, Kelurahan Taman Rajo, Kabupaten Muarojambi.

Dadang diketahui merupakan terpidana dalam perkara tindak pidana perlindungan anak, sebagaimana melanggar Pasal 76D jo Pasal 81 ayat 2 Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

‎”Setelah sempat buron selama sekitar 10 tahun, Dadang akhirnya berhasil diamankan tanpa perlawanan oleh tim gabungan,” kata Kasi Penkum Kejati Jambi, Noly Wijaya, dalam rilis persnya.

Selanjutnya, Jaksa Penuntut Umum langsung melaksanakan eksekusi berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri Sengeti Nomor 05/Pid.Sus/2016/PN.Snt tanggal 15 Maret 2016. Eksekusi juga mengacu pada Surat Perintah Pelaksanaan Putusan Pengadilan (P-48) Nomor PRINT-423/L.5.19/Eku.03/04/2026 tertanggal 15 April 2026.

Dalam amar putusannya, terpidana dijatuhi hukuman pidana penjara selama 1 tahun dan 6 bulan serta denda sebesar Rp75 juta. Apabila denda tidak dibayar, diganti dengan pidana kurungan selama 3 bulan.

Saat ini, Dadang Saputra telah dibawa untuk menjalani masa hukuman di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Jambi.

Reporter: Juan Ambarita

Continue Reading
Advertisement Seedbacklink
Advertisement Seedbacklink

Dilarang menyalin atau mengambil artikel dan property pada situs