Connect with us
Advertisement

PENJURU

Bikin Bangga, Pria Kerinci ini Diangkat Sebagai Panglima di Malaysia

Published

on

detail.id/, Selangor – WARGA Kerinci yang tinggal perantauan, khususnya di negeri jiran Malaysia patut berbangga diri. Betapa tidak, karena ada warganya yang pernah mendapatkan kepercayaan memegang jabatan penting di sana.

Tidak tanggung-tanggung, jabatan penting tersebut yakni jabatan sebagai panglima perang di sebuah kerajaan Selangor Malaysia. Jabatan itu, pernah diemban oleh Abdullah Hukum, tokoh Kerinci yang berasal dari Desa Sungai Abu, Kecamatan Air Hangat Timur.

Seperti dikisahkan oleh Kepala Desa Sungai Abu, Antony Rozi. Dia mengatakan berdasarkan sejarah, ada warga asal Sungai Abu yang menjabat sebagai panglima di Malaysia.

“Sebagai orang Kerinci Tentu kita bangga. Ini menunjukkan warga Kerinci punya kemampuan meski berada jauh dari tempat asal mereka,” kata pria yang akrab disapa Rozi, Minggu, 25 September 2022.

Bagi masyarakat Sungai Abu lanjutnya, sosok Abdullah Hukum sampai saat ini masih menjadi buah bibir dan kebanggaan, terutama bagi warga yang merantau di Malaysia.

“Sebagian besar warga kami merantau ke Malaysia untuk bekerja. Beberapa di antaranya sering bertemu dengan keturunan Abdullah Hukum di sana,” ujarnya.
Untuk diketahui, Abdullah Hukum sendiri dianggap berjasa dalam perkembangan negara Malaysia, sehingga namanya menjadi nama sebuah kampung, nama apartemen, dan stasiun MRT.

Abdullah Hukum, juga merupakan pendiri Kampung Nanas, yang menjadi kampung Melayu pertama di Kuala Lumpur. Nama asli Abdullah Hukum adalah Muhammad Rukun dan kemudiannya digelar mengikut adat sebagai Arya Jaya. Abdullah Hukum juga dikenal dengan gelaran anugerah Sultan Datuk Dagang Dianjuk.

Dia dilahirkan pada 1835 di Kerinci, dan menghadap ilahi sekitar 1930. Ayahnya bernama Sekancing, artinya “kunci pintu” dan bergelar Tuk Pangku. Namanya ditukar kepada Haji Abdul Rahim, semasa berada di Padang Arafah.

Ahli Lembaga Pengarah dan Pengurusi Biro Sosial Budaya Dunia Melayu Islam, Prof. Datuk Abdul Latiff, mengatakan Abdullah Hukum menjadi sosok yang berpengaruh dalam pembangunan Malaysia, khususnya Kuala Lumpur.

“Kami tidak ingin generasi muda sekarang melupakan jasa orang Kerinci dalam pembangunan Malaysia. Orang Kerinci adalah orang melayu. Kami tidak ingin menyebut orang Kerinci sebagai warga pendatang,” katanya ketika ditemui di Malaysia.

Seperti yang tertulis dalam sejarah kerajaan Malaysia, kedatangan warga kerinci ke negeri tersebut tidak hanya di satu tempat saja. Namun tersebar di beberapa wilayah, mulai dari Kuala Lumpur, Selangor, Melaka, Johor, Perak, dan bahkan sampai ke Thailand bagian Selatan.

Sejarah kampung Abdullah Hukum sendiri, berawal ketika Sultan Abdul Samad menghadiahkan sebidang tanah dengan luas seperempat hektare kepada Abdullah Hukum.

Hadiah ini atas penghargaan dan jasanya yang sudah membantu Sultan Selangor sebagai panglima perang, saat terjadinya peperangan Selangor dengan Pahang.

Abdullah Hukum dikenal sebagai seorang yang alim dan taat beragama. Selain itu ia juga dikenal sebagai sosok yang sakti. Tongkat Abdullah Hukum akan mengeluarkan asap, jika jarak musuh sudah mencapai 100 meter.

Selain mendapatkan hadiah tanah, Abdullah Hukum juga diberikan kuasa penuh untuk menyelesaikan semua persoalan yang terjadi di kawasan tersebut. Sejak itulah Abdullah Hukum menjadikan kawasan itu sebagai tempat tinggalnya.

“Di Kuala Lumpur Ketika itu, terdapat lima penghulu yang berasal dari lima suku bangsa. Satu diantaranya adalah Abdullah Hukum,” beber sesepuh asal Kerinci-Malaysia, Asril.

Abdullah Hukum sempat tinggal selama 85 tahun di Kualalumpur, yakni 24 tahun di bawah kepemimpinan Raja Melayu (1850-1874), dan selebihnya di bawah pemerintahan Inggris (1874-1935). Ia meninggal dunia pada usia 125 tahun, di Kampung Abdullah Hukum, Kuala Lumpur.

Nama Abdullah Hukum termasuk orang yang pertama kali membuka kawasan Kualalumpur. Dia menjadi ketua pembukaan kawasan Pudu (Bukit Bintang).
Dan membuka Kebun Bukit Nenas (Tempat berdirinya menara kuala Lumpur), dan membuka kawasan Sungai Putih (Jalan Bangsar) yang hingga saat ini masih dipertahankan sebagai Kampung Abdullah Hukum.

Wilayah Abdullah Hukum mulai dari bagian selatan jalan bangsar, antara stasiun rapid KL Kelana Jaya dan Sungai Klang, temasuk kawasan Megamall. Bahkan, hingga saat ini ada jalan di Kualalumpur, masih menggunakan nama beliau, yakni jalan Abdullah Hukum.

Reporter: Edi Januar

Advertisement Advertisement

PENJURU

ASEAN Paragames Thailand, Bayu Raih 5 Medali

DETAIL.ID

Published

on

DETAIL.ID, Bangkok – Atlet disabilitas asal Kabupaten Sarolangun, Bayu Putra Yuda, berjaya di ASEAN Paragames Thailand. Atlet tunadaksa binaan National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) ini berhasil menyumbangkan lima medali dari cabang olahraga renang.

Kelima medali tersebut berupa dua emas, dua perak, dan satu perunggu.

Medali perunggu diperoleh hari ini dari nomor 50 meter gaya dada putra SM10.

Sehari sebelumnya dia meraih dua medali perak dari nomor 50 meter gaya kupu-kupu dan 100 meter gaya dada.

Beberapa hari sebelumnya, atlet yang juga menjabat sekretaris NPCI Kabupaten Sarolangun ini meraih dua medali emas di 200 meter gaya bebas dan nomor 200 meter medley.

Kepada media ini, Bayu mengaku sangat sangat bersyukur atas pencapaian prestasinya di ASEAN Paragames Thailand.

“Alhamdulillah, berkat dukungan semua pihak, khususnya istri dan anak saya, prestasi ini bisa saya raih,” ujar Bayu, Minggu, 25 Januari 2026.

Ia berharap atlet disabilitas Jambi lainnya juga bisa berprestasi seperti dirinya.

“Pasti bisa, asal punya kemauan keras, berjuang keras, dan disiplin,” ujarnya.

Rencananya, tambah Bayu, usai ASEAN Paragames Thailand, dirinya akan pulang ke Sarolangun, Jambi. (***)

Continue Reading

PENJURU

ASEAN Paragames Thailand, Bayu Raih Emas Kedua

DETAIL.ID

Published

on

DETAIL.ID, Bangkok – Atlet renang binaan National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Bayu Putra Yuda kembali menorehkan prestasi gemilang di ajang pertandingan olahraga disabilitas tingkat Asia Tenggara, ASEAN Paragames Thailand. Ia meraih medali emas keduanya melalui nomor pertandingan 200 meter individual medley putra S10.

Sehari sebelumnya, Bayu juga mempersembahkan medali emas untuk kontingen Indonesia di nomor pertandingan 200 meter gaya bebas putra S10.

“Alhamdulillah, berhasil meraih medali emas, ini emas yang kedua,” kata Bayu Putra Yuda kepada ini usai Upacara Penghormatan Pemenang (UPP) di Swimming Pool, Sports Authority of Thailand, Bangkok pada Jumat, 23 Januari 2026.

Atlet tuna daksa asal Kabupaten Sarolangun ini mengaku sangat bahagia. Menurutnya, tidak sia-sia dia berlatih keras. Setahun terakhir, Bayu mengikuti program Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) di Solo, Jawa Tengah.

Bayu mengaku masih akan mengikuti tiga nomor pertandingan lagi. Dia berharap di tiga nomor tersisa dirinya kembali mempersembahkan medali untuk kontingen Indonesia.

Ketua NPCI Provinsi Jambi Mhd Yusuf, SE mengaku bangga atas raihan prestasi atletnya. “Dia berlatih keras, tidak meninggalkan program Pelatnas, bahkan ketika di Jambi ada even Pekan Paralimpiade Provinsi atau Peparprov, Bayu tetap di Solo untuk mengikuti Pelatnas. Hasil tidak membohongi usaha dan kerja kerasnya,” ujar Yusuf.

Yusuf berharap pemerintah memberikan penghargaan kepada Bayu. “Dia disabilitas, berprestasi tingkat internasional, sudah sepantasnya pemerintah memberikan penghargaan khusus kepada Bayu, misalnya diangkat menjadi Aparatur Sipil Negeri,” ucapnya. (*)

Continue Reading

PENJURU

Bayu Raih Medali Emas Perdana di ASEAN Paragames Thailand

DETAIL.ID

Published

on

DETAIL.ID, Bangkok – Atlet renang asal Kabupaten Sarolangun, Bayu Putra Yuda, berhasil menorehkan prestasi gemilang di ASEAN Paragames Thailand. Dia mempersembahkan medali emas untuk kontingen Indonesia.

“Alhamdulillah, dapat medali emas. Alhamdulillah,” kata Bayu Putra Yuda, usai pertandingan di Swimming Pool, Sports Authority of Thailand (SAT), Bangkok pada Kamis, 22 Januari 2026.

Atlet binaan National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kabupaten Sarolangun ini mempersembahkan medali emas di nomor 200 meter gaya bebas putra S10.

Nomor ini merupakan nomor pertama kali dipertandingkan di ASEAN Paragames. Bayu mencatatkan waktu 2.18.22.

Bayu mengalahkan perenang tuan rumah yang harus puas dengan medali perak. Sementara medali perunggu diperoleh atlet Myanmar.

Catatan waktu yang diperoleh Bayu langsung dicatat sebagai rekor ASEAN Paragames.

Bayu menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mensupport perjuangannya.

‘Terutama kepada istri dan anak saya. Terima kasih telah memberikan support hingga di titik ini,” ujarnya. (*)

Continue Reading
Advertisement Seedbacklink

Dilarang menyalin atau mengambil artikel dan property pada situs