Connect with us
Advertisement

PENJURU

Sting Penuhi Permintaan Terakhir Polisi yang Sedang Sekarat

Published

on

detail.id/, Jakarta – Musisi legendaris dengan nama panggung Sting memenuhi permintaan terakhir dari penggemarnya, seorang polisi di New York yang sedang sekarat.

Fakta ini terungkap dalam unggahan di akun Instagram milik Humans of New York, blog foto karya Brandon Stanton.

Belakangan, Humans of New York sedang merilis seri foto warga New York dengan kisah-kisah unik mereka, salah satunya adalah anak tiri seorang petugas kepolisian New York.

Ia bercerita bahwa ayahnya menderita sklerosis ganda, penyakit gangguan saraf akut yang menyerang mata, otak, dan tulang belakang.

“Di hari-hari terakhirnya, kami melihat kembali semua barang dia, satu per satu. Dia mengatakan kepada saya kepada siapa saja barang itu harus diberikan,” tulis anak tersebut.

Cerita itu berlanjut, “Saya mengeluarkan lukisan Sting dari kotak lama dan bertanya, ‘Apa yang harus saya lakukan dengan ini?’ Ia langsung menanggapi, ‘Berikan kepada Sting.’ Kami semua langsung tertawa.”

Namun, ayahnya tak ikut tergelak. Ekspresinya sangat serius. Ia lantas menatap nanar ke arah sang putri tiri yang berdiri di sampingnya.

“Ia melihat saya dan berkata, ‘Berikan kepada Sting.’ Jadi saya rasa itu tugas terakhir saya,” tulis anak itu.

Menurut perempuan tersebut, ayahnya melukis sendiri gambar Sting itu sebelum didiagnosis mengidap sklerosis.

Saat itu, ayahnya membangun studio seni kecil di dalam rumah. Lukisan Sting tersebut merupakan karya pertamanya di dalam studio itu.

Lihat postingan ini di Instagram

“I was five when he became a person in my world. I didn’t know exactly who he was. I just knew that there was someone around that was making my mother smile. I had to look way up to see him. I’d never met someone so strong. He’d tell me to hold onto his wrist, and he’d lift me into the sky with one hand. He worked at an auto shop, airbrushing designs onto the side of vans. I think he dreamed of being an artist. But he needed something more stable. So after he decided to marry my mom, he became a cop. He never lost touch with his creative side. He was always building things around the house—making things look fancier than we could afford. He built my first bike from scraps. He encouraged me to read. He encouraged me to write. He loved giving me little assignments. He’d give me a quarter every time I wrote a story. Fifty cents if it was a good one. Whenever I asked a question, he’d make me look it up in the encyclopedia. One day he built a little art studio at the back of our house. And he painted a single painting—a portrait of Sting that he copied from an album cover. But he got busy with work and never used the studio again. He was always saying: ‘when I retire.’ ‘I’ll go back to art, when I retire.’ ‘I’ll show in a gallery, when I retire.’ But that time never came. Dad was a cop for twenty years. He was one of the good ones. The kind of cop you see dancing on the street corner. Or skateboarding with kids. But in 1998 he was diagnosed with MS. First there was a little weakness. Then there was a cane. Then there was a wheelchair. It got to the point where he couldn’t even hold a paintbrush. We did his hospice at home. He seemed to have no regrets. He’d been a wonderful provider. He’d raised his daughters. He’d walked me down the aisle. During his final days, we were going through his possessions, one by one. He was telling me who to give them to. I pulled the Sting painting out of an old box, and asked: ‘What should I do with this?’ His response was immediate. ‘Give it to Sting,’ he said. All of us started laughing. But Dad grew very serious. His eyes narrowed. He looked right at me, and said: ‘Give it to Sting.’ So I guess that’s my final assignment.”

Sebuah kiriman dibagikan oleh Humans of New York (@humansofny) pada

Setelah itu, sang polisi sangat sibuk dan tak bisa membuat karya baru. Ia berjanji akan kembali ke kesenian setelah pensiun.

“Namun, waktu itu tak pernah datang,” tulis anaknya.

Tulisan panjang ini akhirnya sampai ke putri Sting, Mickey Sumner. Ia lantas menghubungi anak polisi tersebut untuk memastikan lukisan itu sampai ke tangan Sting.

Tak lama setelah itu, Sumner menulis di kolom komentar, “Berita baru: Kami sudah terhubung! Sekarang sedang mengatur logistiknya.”

Advertisement Advertisement

PENJURU

ASEAN Paragames Thailand, Bayu Raih 5 Medali

DETAIL.ID

Published

on

DETAIL.ID, Bangkok – Atlet disabilitas asal Kabupaten Sarolangun, Bayu Putra Yuda, berjaya di ASEAN Paragames Thailand. Atlet tunadaksa binaan National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) ini berhasil menyumbangkan lima medali dari cabang olahraga renang.

Kelima medali tersebut berupa dua emas, dua perak, dan satu perunggu.

Medali perunggu diperoleh hari ini dari nomor 50 meter gaya dada putra SM10.

Sehari sebelumnya dia meraih dua medali perak dari nomor 50 meter gaya kupu-kupu dan 100 meter gaya dada.

Beberapa hari sebelumnya, atlet yang juga menjabat sekretaris NPCI Kabupaten Sarolangun ini meraih dua medali emas di 200 meter gaya bebas dan nomor 200 meter medley.

Kepada media ini, Bayu mengaku sangat sangat bersyukur atas pencapaian prestasinya di ASEAN Paragames Thailand.

“Alhamdulillah, berkat dukungan semua pihak, khususnya istri dan anak saya, prestasi ini bisa saya raih,” ujar Bayu, Minggu, 25 Januari 2026.

Ia berharap atlet disabilitas Jambi lainnya juga bisa berprestasi seperti dirinya.

“Pasti bisa, asal punya kemauan keras, berjuang keras, dan disiplin,” ujarnya.

Rencananya, tambah Bayu, usai ASEAN Paragames Thailand, dirinya akan pulang ke Sarolangun, Jambi. (***)

Continue Reading

PENJURU

ASEAN Paragames Thailand, Bayu Raih Emas Kedua

DETAIL.ID

Published

on

DETAIL.ID, Bangkok – Atlet renang binaan National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Bayu Putra Yuda kembali menorehkan prestasi gemilang di ajang pertandingan olahraga disabilitas tingkat Asia Tenggara, ASEAN Paragames Thailand. Ia meraih medali emas keduanya melalui nomor pertandingan 200 meter individual medley putra S10.

Sehari sebelumnya, Bayu juga mempersembahkan medali emas untuk kontingen Indonesia di nomor pertandingan 200 meter gaya bebas putra S10.

“Alhamdulillah, berhasil meraih medali emas, ini emas yang kedua,” kata Bayu Putra Yuda kepada ini usai Upacara Penghormatan Pemenang (UPP) di Swimming Pool, Sports Authority of Thailand, Bangkok pada Jumat, 23 Januari 2026.

Atlet tuna daksa asal Kabupaten Sarolangun ini mengaku sangat bahagia. Menurutnya, tidak sia-sia dia berlatih keras. Setahun terakhir, Bayu mengikuti program Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) di Solo, Jawa Tengah.

Bayu mengaku masih akan mengikuti tiga nomor pertandingan lagi. Dia berharap di tiga nomor tersisa dirinya kembali mempersembahkan medali untuk kontingen Indonesia.

Ketua NPCI Provinsi Jambi Mhd Yusuf, SE mengaku bangga atas raihan prestasi atletnya. “Dia berlatih keras, tidak meninggalkan program Pelatnas, bahkan ketika di Jambi ada even Pekan Paralimpiade Provinsi atau Peparprov, Bayu tetap di Solo untuk mengikuti Pelatnas. Hasil tidak membohongi usaha dan kerja kerasnya,” ujar Yusuf.

Yusuf berharap pemerintah memberikan penghargaan kepada Bayu. “Dia disabilitas, berprestasi tingkat internasional, sudah sepantasnya pemerintah memberikan penghargaan khusus kepada Bayu, misalnya diangkat menjadi Aparatur Sipil Negeri,” ucapnya. (*)

Continue Reading

PENJURU

Bayu Raih Medali Emas Perdana di ASEAN Paragames Thailand

DETAIL.ID

Published

on

DETAIL.ID, Bangkok – Atlet renang asal Kabupaten Sarolangun, Bayu Putra Yuda, berhasil menorehkan prestasi gemilang di ASEAN Paragames Thailand. Dia mempersembahkan medali emas untuk kontingen Indonesia.

“Alhamdulillah, dapat medali emas. Alhamdulillah,” kata Bayu Putra Yuda, usai pertandingan di Swimming Pool, Sports Authority of Thailand (SAT), Bangkok pada Kamis, 22 Januari 2026.

Atlet binaan National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kabupaten Sarolangun ini mempersembahkan medali emas di nomor 200 meter gaya bebas putra S10.

Nomor ini merupakan nomor pertama kali dipertandingkan di ASEAN Paragames. Bayu mencatatkan waktu 2.18.22.

Bayu mengalahkan perenang tuan rumah yang harus puas dengan medali perak. Sementara medali perunggu diperoleh atlet Myanmar.

Catatan waktu yang diperoleh Bayu langsung dicatat sebagai rekor ASEAN Paragames.

Bayu menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mensupport perjuangannya.

‘Terutama kepada istri dan anak saya. Terima kasih telah memberikan support hingga di titik ini,” ujarnya. (*)

Continue Reading
Advertisement Seedbacklink

Dilarang menyalin atau mengambil artikel dan property pada situs