Connect with us
Advertisement

DAERAH

Pesantren Kauman Muhammadiyah: The International School of Quran, Science, and Technology – Merajut Sejarah, Turats, dan Teknologi untuk Melahirkan Generasi Pemimpin Peradaban

DETAIL.ID

Published

on

DETAIL.ID – Di tengah hiruk-pikuk dunia modern, pesantren seringkali terjebak dalam stereotip: lembaga yang kolot, tertutup, dan terasing dari denyut nadi zaman. Namun, dari jantung Kota yang sejuk yaitu tepatnya di kota Padang Panjang, Pesantren Kauman Muhammadiyah telah hampir seabad berdiri tegak mematahkan semua stigma itu. Berdiri sejak 1928, pesantren ini bukan hanya menjadi saksi bisu sejarah pergerakan kebangsaan dan keislaman, tetapi telah melahirkan tokoh-tokoh nasional yang mewarnai Indonesia. Dengan bangga memegang tagline “The International School of Quran, Science, and Technology”, pesantren ini dengan tegas menyatakan posisinya di garda depan pendidikan global yang mengintegrasikan spiritualitas, sains, dan teknologi. Kini, dengan semangat yang sama seperti para pendirinya dulu, pesantren ini menjadi pelaku aktif dan Pusat Keunggulan Tamaddun (Peradaban) Islam yang modern. Ia membuktikan bahwa kesalehan tradisi dan kecakapan modern bukanlah dua kutub yang bertolak belakang, melainkan dua sayap yang akan membawa para santri terbang tinggi menjemput zamannya.

The International School of Quran, Science, and Technology: Sebuah Manifesto Visi Global
Tagline ini bukan sekadar slogan, melainkan sebuah pernyataan sikap dan manifesto dari visi pendidikan Pesantren Kauman. Setiap kata dalam tagline tersebut dipilih dengan penuh makna:

“The International School”: Menegaskan komitmen pesantren untuk melampaui batas-batas geografis. Kurikulum, perspektif, dan jaringan dibangun dengan standar global. Bahasa Inggris dan Arab dikuatkan tidak hanya sebagai mata pelajaran, tetapi sebagai alat komunikasi internasional. Pesantren membuka wawasan santri pada isu-isu global dan mempersiapkan mereka untuk berkontribusi di kancah dunia.

“of Quran”: Menjadi pondasi utama yang tidak tergoyahkan. Al-Qur’an tidak hanya diajarkan sebagai bacaan (tilawah), tetapi sebagai sumber ilmu, etika, dan panduan hidup (way of life). Penghafalan (tahfiz), pemahaman (tafsir), dan pengamalan Al-Qur’an menjadi ruh yang menjiwai seluruh aktivitas pembelajaran.

“Science”: Mewakili semangat ijtihad dan eksplorasi terhadap ayat-ayat kauniyah (alam semesta). Sains diajarkan secara integratif, di mana hukum fisika, keindahan biologi, dan logika matematika dilihat sebagai tanda-tanda kebesaran Allah. Santri didorong untuk menjadi ilmuwan Muslim yang mampu berkontribusi pada perkembangan sains modern dengan landasan iman.

“and Technology”: Merupakan alat ampuh untuk berdakwah dan memudahkan kehidupan umat. Teknologi tidak dilihat sebagai ancaman, tetapi sebagai anugerah yang harus dikuasai dan dimanfaatkan untuk kebaikan.

Pemrograman, robotika, dan media digital diajarkan dengan dilandasi etika Islam, mencetak santri menjadi generasi yang melek digital dan kreatif.

Tagline ini dengan sempurna merangkum esensi dari pola “pembelajaran berkemajuan” ala Muhammadiyah: menjadi Muslim yang kokoh akidahnya, unggul dalam sains, dan menguasai teknologi untuk berdaya saing global.

1. Warisan Kepemimpinan Buya Hamka: Fondasi Keulamaan dan Kemodernan

Sebelum menjadi nama besar yang dikenang sepanjang masa, Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah, atau Buya Hamka, telah meletakkan pondasi kokoh bagi Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang sebagai Mudir (Direktur) pertamanya. Jejak intelektual dan spiritual Buya Hamka menjadi DNA yang terus mengalir dalam denyut nadi pesantren hingga hari ini. Sebagai ulama-ensiklopedis yang menguasai turats klasik sekaligus sastrawan produktif dan pemikir modern, Buya Hamka telah menjadi role model nyata dari tagline “The International School of Quran, Science, and Technology” jauh sebelum konsep itu populer.

Kepemimpinannya mewariskan semangat integrasi ilmu yang sempurna: kedalaman tafsir Al-Qur’an (seperti dalam Tafsir Al-Azhar) berpadu dengan apresiasi sains, sastra, filsafat, dan sejarah. Warisan inilah yang membuat Pesantren Kauman tidak pernah melihat dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Semangat Hamka untuk merangkul kemajuan tanpa kehilangan jati diri keislaman menjadi kompas yang tetap menuntun setiap inovasi kurikulum dan pengembangan karakter santri. Setiap santri dididik untuk mengikuti jejaknya: menjadi pribadi yang faqih fid din, luas wawasan dunianya, dan mampu menyuarakan kebenaran dengan pena dan lisan yang bijaksana.

2. Mematahkan Stereotip dengan Akar Sejarah yang Kuat: Lembaga Berkembang Sejak 1928

Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang adalah sebuah living monument. Sejak didirikan pada 1928 dengan kepemimpinan perdana Buya Hamka, ia telah menjadi episentrum pembaruan pemikiran Islam di Sumatera Barat. Berdirinya tidak lepas dari semangat K.H. Ahmad Dahlan untuk memurnikan tauhid dan memerangi kebodohan, yang kemudian diteruskan oleh para tokoh muda Muhammadiyah seperti Hamka. Pada era itu, pesantren ini sudah menjadi pelopor dengan pola “pembelajaran berkemajuan” ala Muhammadiyah—sebuah konsep yang sangat visioner untuk zamannya.

Yang lebih membanggakan, dari balik dinding pesantren inilah lahir para tokoh nasional yang gigih memperjuangkan kemerdekaan dan memimpin bangsa di berbagai bidang. Mereka adalah produk dari pola pendidikan yang menekankan pada integritas, kecerdasan, dan kepedulian sosial. Jejak mereka membuktikan bahwa Pesantren Kauman bukanlah menara gading, melainkan bengkel para pemimpin yang sejak awal telah terlibat aktif dalam membangun peradaban bangsa. Warisan sejarah inilah yang terus memompa semangat para santri hari ini untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi pelaku sejarah di generasinya.

3. Blended Learning: Simfoni Indah Turats dan Modernitas Warisan Para Pendahulu

Jiwa dari inovasi di Pesantren Kauman terletak pada kurikulum blended learning-nya, sebuah simfoni indah yang memadukan khazanah keislaman klasik (turats) dengan ilmu-ilmu kontemporer. Ini adalah penyempurnaan dari pola “pembelajaran berkemajuan” yang telah diwariskan sejak 1928 dan merupakan implementasi nyata dari tagline Science and Technology.

Struktur Kurikulum yang Terintegrasi:
Kurikulumnya dirancang dengan porsi yang seimbang dan saling menguatkan.

Para santri menyelami samudera ilmu agama dengan pendekatan yang mendalam, meneruskan tradisi intelektual Islam yang kaya. Mata pelajaran Tauhid tidak diajarkan sekadar hafalan, tetapi dengan dialog kritis merujuk pada kitab-kitab muktabar seperti Kifayatul Awam dan Aqidatul Awam. Pelajaran Fikih dibedah dari kitab Fathul Qarib dan Kailani, mendorong santri untuk tidak hanya paham hukum tetapi juga memahami filosofi dan konteks sosialnya. Bahasa Arab diajarkan sebagai living language, menggunakan metode amtsilati yang mempercepat pemahaman nahwu dan sharaf, dilengkapi dengan percakapan aktif dan muhadatsah.

Selepas zuhur, atmosfer berubah. Labor komputer dan berbagai macam kegiatan madrasah menemani para santri. Para santri beralih kepada Matematika, Fisika, dan Biologi dengan perspektif integrasi sains dan Islam. Pelajaran Bahasa Inggris difokuskan pada practical communication dan content creation, mempersiapkan mereka untuk berdakwah secara global. Teknologi Informasi diajarkan bukan hanya sebagai keterampilan teknis (programming, desain grafis), tetapi juga dilengkapi dengan etika digital (digital ethics) dan fikih teknologi.

Integrasi ini menciptakan santri yang tidak gagap agama ketika membicarakan sains, dan tidak gagap teknologi ketika mendalami agama, meneruskan estafet kepemimpinan para alumni pendahulu mereka.

4. Gudangnya Bakat: Lebih dari 57 Ekstrakurikuler untuk Mengasah Potensi Kepemimpinan

Sebagai upaya nyata membentuk insan paripurna sebagaimana para tokoh yang dilahirkannya, Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang menghadirkan sebuah festival talenta melalui lebih dari 57 program ekstrakurikuler. Angka ini bukan sekadar kuantitas, melainkan simbol dari keyakinan pesantren bahwa setiap santri memiliki keunikan dan potensi kepemimpinan yang harus digali.

Ragamnya mencakup segala dimensi kehidupan:

  • Seni dan Budaya: Kaligrafi (Khat), Teater Islami, Seni Tradisional Minang, Seni Musik, dan Sastra.
  • Olahraga dan Bela Diri: Sepakbola, Futsal, Voli, Bulutangkis, Bela Diri Tapak Suci, dan Panahan.
  • Sains dan Teknologi: Robotik, Jurnalistik, Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) dan Programming Club
  • Keterampilan Hidup: Tata Boga (melestarikan kuliner Minang), Jahit Menjahit, Tata Rias, dan Lingkungan Hidup.
  • Kepemimpinan dan Dakwah: Debat Bahasa Arab & Inggris, Public Speaking, Kelas Kepemimpinan, dan Manajemen Organisasi.

Melalui lautan pilihan ini, santri tidak hanya ditempa otaknya, tetapi juga dilatih jiwa kepemimpinannya, diperhalus rasa seninya, dan dikuatkan raganya—mempersiapkan mereka untuk menjadi tokoh nasional berikutnya.

5. Life Skill dan Entrepreneurship: Memakmurkan Bumi Sebagaimana Para Pendahulu Memakmurkan Bangsa

Pesantren Kauman memahami bahwa kemandirian ekonomi adalah bagian dari kesalehan sosial dan pilar penting dalam membangun peradaban. Visinya jelas: Menjadi Pusat Keunggulan Tamaddun Islam.

Berbagai program unggulan life skill ditawarkan:

Entrepreneur adalah kegiatan di mana siswa diajak untuk mengembangkan mindset, sikap, dan keterampilan kewirausahaan langsung dalam lingkungan sekolah.

Tujuannya bukan semata untuk mencetak pedagang, tetapi untuk menanamkan jiwa entrepreneur yang mencakup:

Kreativitas dan Inovasi: Menciptakan ide produk/jasa yang unik.

Kemandirian dan Kepemimpinan: Berani memimpin dan mengambil inisiatif.

Kemampuan Memecahkan Masalah: Mengidentifikasi peluang dan mencari solusi.

Manajemen Risiko: Belajar menghitung untung-rugi dan mengelola modal.

Komunikasi dan Kerja Sama: Mempromosikan produk dan bekerja dalam tim.

Jadi, kesimpulannya adalah entrepreneur merupakan laboratorium praktik untuk membekali siswa dengan kemampuan abad ke-21, yaitu berpikir kreatif, kritis, dan berani menciptakan peluang.

Kriya dan Teknologi Kreatif: Workshop desain grafis, editing video, dan sablon digital untuk membuka usaha mandiri.

Dengan bekal ini, para santri diajarkan untuk mandiri, sehingga kelak jika mereka menjadi pemimpin, mereka memimpin dengan integritas dan tidak bergantung pada others.

6. Digitalisasi Pesantren: Dakwah di Era Digital, Meneruskan Semangat Berkembang

Pesantren Kauman tidak hanya mengajarkan teknologi, tetapi juga menghidupkannya dalam ekosistem pesantren, menjadikannya salah satu penanda keunggulan peradabannya.

E-Learning Platform: Seluruh materi pelajaran dapat diakses santri melalui platform Learning Management System (LMS).

Sistem Informasi Terpadu: Administrasi dan monitoring santri terintegrasi secara digital.

Dakwah Digital: Para santri aktif menghasilkan konten dakwah kreatif di media sosial, menjadi mubaligh digital yang menjangkau khalayak global.

7. Model Holistik: Pusat Keunggulan Tamaddun Islam yang Melahirkan Generasi Paripurna

Pesantren Kauman Muhammadiyah, dengan segala inovasinya, telah berhasil merajut sebuah model pendidikan Islam yang holistik dan telah teruji sejak 1928. Ia adalah bukti nyata bahwa pesantren adalah tempat yang tepat untuk mencetak pemimpin. Setiap santri dididik untuk menjadi pribadi yang utuh: berakhlak, mendalam agamanya, menguasai sains, mandiri secara ekonomi, dan kaya akan kreativitas.

Mereka adalah generasi penerus para tokoh nasional yang dihasilkan pesantren ini. Mereka adalah calon-calon pemimpin yang siap memimpin peradaban dengan cahaya ilahi, inovasi yang humanis, dan hati yang berbudaya. Mereka bukan hanya siap menghadapi masa depan, mereka adalah masa depan itu sendiri, meneruskan estafet keunggulan yang telah dirintis sejak hampir seabad yang lalu, menjadi bukti hidup dari tagline “The International School of Quran, Science, and Technology” dan mewarisi semangat keulamaan-modern ala Buya Hamka.

Reporter: Diona

Advertisement Advertisement

DAERAH

Disaksikan Wabup Khafidh, PS Merangin Libas PS Tebo 5-1

DETAIL.ID

Published

on

DETAIL.ID, Merangin – Kesebelasan Kabupaten Merangin (PS Merangin) tampil dominan pada laga perdana Grup A turnamen Gubernur Jambi Cup 2026.

Bertanding di Stadion Tri Lomba Juang, Senin, 12 Januari 2026, PS Merangin sukses melibas PS Tebo dengan skor telak 5-1.

Kemenangan ini membawa PS Merangin mengamankan tiga poin penuh sekaligus memuncaki klasemen sementara Grup A.

Diawal babak pertama, jalannya pertandingan yang disaksikan langsung oleh Wakil Bupati Merangin, A. Khafidh itu berlangsung sengit.

PS Merangin membuka keunggulan pada menit ke-15 lewat gol Rizki Husnul setelah memanfaatkan umpan direct dari lini tengah.

PS Tebo sempat memberikan perlawanan dan menyamakan kedudukan menjadi 1-1 pada menit ke-21 melalui eksekusi penalti Rangga Agung Prabowo, menyusul pelanggaran handball di kotak terlarang.

Namun, dominasi Merangin kembali terlihat setelah Rafki Pramulia mencetak gol melalui titik putih pada menit ke-35. Menjelang turun minum, Rizki Husnul mencetak gol keduanya melalui tendangan first-time di menit 40 dan menutup babak pertama dengan skor 3-1.

Memasuki paruh kedua, PS Merangin tidak menurunkan intensitas serangan. Dua gol tambahan tercipta untuk memperlebar jarak.

Attorik Soni mencetak gol keempat pada menit ke 52 setelah memanfaatkan kesalahan lini belakang lawan.

Tujuh menit berselang, Ilham Nuryanto menutup pesta gol melalui sepakan keras dari luar kotak penalti. Skor pun bertahan hingga wasit meniup peluit panjang dengan keunggulan 5-1 untuk PS Merangin.

Ditemui usai laga, Wakil Bupati A. Khafidh mengapresiasi kerja keras tim namun mengingatkan para pemain untuk tidak cepat berpuas diri.

“Saya sampaikan kepada adik-adik, jangan terlalu bereuforia dengan kemenangan hari ini karena masih ada dua laga berat melawan Muaro Jambi dan Kerinci. Kita harus menjaga kondisi dan menghemat tenaga,” ujar Wabup.

Ia berharap konsistensi permainan tetap terjaga di laga-laga berikutnya.

“Alhamdulillah kondisi pemain saat ini prima. Harapan kami, pertandingan kedua dan ketiga bisa dimenangkan kembali,” tuturnya.

Continue Reading

DAERAH

Generasi Milenial di Pesantren Tua: Bagaimana Kauman Muhammadiyah Padang Panjang Tetap Relevan?

Oleh: Taufikkurahman

DETAIL.ID

Published

on

DI LERENG Bukit Barisan, di kota yang dikenal dengan udara sejuk dan tradisi intelektual Islamnya, sebuah pesantren yang telah berdiri sejak era kolonial Belanda menghadapi pertanyaan zaman yang menarik: bagaimana menyelaraskan nilai-nilai kelimuan klasik dengan dinamika generasi milenial yang hidup dalam gempuran digital, individualistik, dan menginginkan relevansi langsung?

Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang bukanlah monumen mati. Ia adalah organisme hidup yang beradaptasi. Jawabannya terhadap tantangan itu tidak dengan menolak modernitas, tetapi dengan menjadi “platform” atau wadah di mana tradisi dan modernitas berdialog secara produktif.

Generasi milenial dan Gen Z yang menghuni asrama Pesantren Kauman saat ini adalah generasi digital native. Mereka terbiasa dengan akses informasi instan, komunikasi horizontal di media sosial, dan menuntut transparansi serta partisipasi. Sementara, pesantren tradisional dibangun di atas fondasi hierarki keilmuan yang jelas, penghormatan mutlak pada guru (ta’dzim), dan kurikulum yang berorientasi pada teks-teks klasik.

Kauman Muhammadiyah memahami jurang generasi ini bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai medan dakwah baru. Kuncinya adalah translasi, bukan penghapusan.

Kitab Kuning dalam Bahasa Metaforis: Pengajian kitab seperti Ta’lim Muta’allim (etika menuntut ilmu) tidak hanya dibaca secara harfiah, tetapi didiskusikan konteksnya dalam dunia modern: “Bagaimana adab kepada guru dalam era pembelajaran online?” “Apa makna ‘ikhlas belajar’ di tengah budaya pencarian likes dan followers?”

Smartphone sebagai Wasilah, bukan Musuh: Dr. Derliana, MA Mudir Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang, “Kami larang smartphone jika mengganggu proses belajar dan ibadah. Tapi kami wajibkan penggunaannya untuk riset, mengakses situs keislaman terpercaya, dan membuat konten dakwah positif. Mereka kami latih membuat video infografis tentang fikih, podcast kajian, dan mengelola media sosial pesantren.”

Ada “Tiga Strategi Utama Pesantren Kauman” agar relevansi ini tetap terjaga, diantaranya:

a. Kurikulum “Dual-Citizenship” Ilmuan:Santri dididik untuk menguasai dua “kewarganegaraan” keilmuan: dunia klasik dan kontemporer. Di pagi hari, mereka belajar ilmu agama dengan pendalaman kitab. Di siang dan sore, mereka terjun ke ilmu umum, kewirausahaan, dan literasi digital. Sebuah proyek kewirausahaan, misalnya, harus disertai analisis hukum Islam (fiqh muamalah) terkait transaksi jual-beli online. Di sini, ilmu tidak dikotomi, tetapi diintegrasikan dalam kasus nyata.

b. Metode Pembelajaran “Dialektis”, bukan Indoktrinatif: Ustadz tidak lagi menjadi satu-satunya sumber kebenaran (sole authority), tetapi menjadi moderator diskusi. Forum bahtsul masail (membahas masalah kontemporer) dihidupkan dengan topik-topik yang dekat dengan generasi muda: “Hukum investasi crypto dalam Islam”, “Mengelola stres ala Rasulullah bagi generasi sandwich”, atau “Etika bermedia sosial berdasarkan konsep ghibah dan fitnah”. Santri didorong untuk mengemukakan pendapat dengan dasar dalil, diajarkan berpikir sistematis (manhaji), bukan sekadar menghafal.

c. Ruang Ekspresi dan Kreativitas Terstruktur: Pesantren Kauman memahami bahwa energi milenial perlu disalurkan. Mereka tidak mematikan kreativitas, tapi mengarahkannya. Lahirlah berbagai unit kegiatan:
Kauman Creative Hub: Tempat santri belajar desain grafis, editing video, dan menulis konten untuk dakwah.
Entrepreneurship Cell: Pelatihan bisnis online yang sesuai syariah, mulai dari pengolahan produk lokal, hingga jasa digital.
Komunitas Literasi: Tidak hanya baca kitab, tapi juga bedah novel, buat blog, dan resensi buku-buku pemikiran Islam modern.

Bagi generasi milenial, pertanyaan kritis adalah: “Apa relevansi ilmu ini untuk hidup saya sekarang dan masa depan?”

Pesantren Kauman menjawabnya dengan dua cara:
Link-and-Match dengan Dunia Nyata: Pembelajaran bahasa Arab tidak hanya untuk membaca kitab, tetapi juga untuk peluang karir di era pasar global dan diplomasi. Tahfizh Al-Qur’an dikembangkan dengan metode yang lebih variatif (seperti tahsin dengan teknologi audio) dan dikaitkan dengan penguatan mental health. Nilai-nilai pesantren seperti disiplin, kemandirian, dan integritas “dijual” sebagai soft skills premium di dunia kerja dan kewirausahaan.

Aksi Sosial sebagai Praktik Iman: Jiwa sosial milenial disalurkan melalui program-program nyata: bekerjasama dengan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), mengajar anak-anak marginal di learning center, atau kampanye lingkungan. Iman tidak hanya abstrak, tetapi terbukti memberi solusi pada masalah masyarakat.

Proses adaptasi ini tidak mulus. Beberapa tantangan tetap ada, diantaranya:
Digital Divide: Tidak semua ustadz senior nyaman dengan teknologi, menciptakan kesenjangan digital dengan santri.
Tekanan Ekonomi: Banyak santri dari keluarga kurang mampu, yang membuat akses terhadap perangkat dan kuota internet menjadi beban tambahan.
Pergulatan Identitas: Menjaga keseimbangan antara menjadi “cukup modern” untuk relevan, namun “cukup tradisional” untuk tidak kehilangan ruh dan keunikan sebagai pesantren.

Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang tetap relevan karena ia memahami suatu prinsip mendasar: Yang tua bukan untuk ditinggalkan, tetapi untuk diberi napas baru. Yang baru bukan untuk ditakuti, tetapi untuk disaring dan diislamkan.

Mereka tidak sekadar “menampung” generasi milenial, tetapi secara aktif membentuk mereka menjadi “milenial Muslim yang berakar” – generasi yang akidahnya kokoh berdasarkan pemahaman ulama salaf, namun metodologi dan pendekatannya segar, kontekstual, dan solutif.

Di tangan merekalah, kitab kuning tidak berdebu, tetapi terbuka di satu layar, sementara di layar lainnya terbuka peluang dan permasalahan dunia kontemporer. Kauman membuktikan bahwa pesantren tua bisa menjadi inkubator paling strategis untuk melahirkan pemimpin masa depan: yang paham tradisi, tapi tidak gagap zaman; yang melek digital, tapi tidak kehilangan adab; yang hidup di dunia, tetapi punya pijakan yang kuat untuk akhirat. Inilah relevansi sejati yang mereka tawarkan.

Continue Reading

DAERAH

Ucapkan Selamat, Fraksi PAN DPRD Muarojambi Dorong Kinerja Profesional Pejabat Eselon II yang Baru Dilantik

DETAIL.ID

Published

on

DETAIL.ID, ‎Jambi – Robinson Sirait, Ketua Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) DPRD Muarojambi menyampaikan ucapan selamat kepada 10 pejabat eselon II yang baru dilantik. Ia berharap para pejabat tersebut dapat menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab dan bekerja secara profesional demi kepentingan masyarakat.

‎Robinson mengatakan, pelantikan pejabat merupakan bagian dari upaya penguatan organisasi pemerintahan serta peningkatan kualitas pelayanan publik. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya integritas, loyalitas, dan komitmen dalam melaksanakan tugas yang telah dipercayakan.

‎”Selamat kepada para pejabat yang baru dilantik. Amanah ini harus dijalankan dengan sebaik-baiknya, penuh dedikasi, serta mengedepankan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi maupun golongan,” ujar Robinson pada Senin, 12 Januari 2025.

‎Ia juga mengingatkan agar para pejabat mampu beradaptasi dengan dinamika dan tantangan kerja yang semakin kompleks. Menurutnya, kolaborasi, inovasi, serta keterbukaan terhadap masukan menjadi kunci dalam meningkatkan kinerja organisasi pemerintahan.

‎Lebih lanjut, Robinson berharap pelantikan tersebut dapat membawa semangat baru dan mendorong percepatan pencapaian program-program yang telah direncanakan oleh pemerintah daerah. Ia optimistis para pejabat yang dilantik dapat memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan Kabupaten Muarojambi.

‎”Tunjukkan kinerja yang memajukan Kabupaten Muaro Jambi, pro terhadap masyarakat, serta membawa nama baik kepala daerah dan wakil kepala daerah,” ujarnya.

Reporter: Juan Ambarita 

Continue Reading
Advertisement Advertisement
Advertisement ads

Dilarang menyalin atau mengambil artikel dan property pada situs