Connect with us
Advertisement

OPINI

Kaleidoskop Politik Jambi 2019 dan Proyeksi Politik Jambi 2020

Published

on

Politik Jambi

SAYA ingin 5, 10 atau 15 tahun lagi, apabila masyarakat Jambi ingin mengetahui apa-apa saja dinamika politik yang terjadi di tahun 2019, jejak tinta digital ini akan bisa menceritakannya. Saya akan coba memotret kejadian-kejadian menarik ganasnya pertarungan para politisi di tahun politik.

Sudah sepantasnya memang tahun 2019 disebut sebagai tahun politik, karena untuk pertama kalinya penyelenggaraan pemilu dilaksanakan serentak antara pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan legislatif (pileg), bangsa ini pun dibuat riweuh dengan hiruk pikuk para politisi yang sedang merayu hati rakyat. Lembaran awal tahun 2019, Januari sampai Juni saat itu memasuki tahapan kampanye, pencoblosan dan pasca pemilu.

Jatah waktu kampanye 6 bulan sejak ditetapkannya Daftar Calon Tetap (DCT) pada September 2018 tidak dimanfaatkan sepenuhnya oleh para kontestan pemilu. Baru sebulan terakhir menjelang pencoblosan 17 April 2019 hiruk pikuk kampanye terasa, Alat Peraga Kampanye (APK) bertebaran dan strategi kampanye terbatas lebih diminati dari pada model kampanye akbar.

Pada pemilu serentak 2019 suasana kampanye pilpres lebih dominan dari pada kampanye pileg. Hal ini terjadi karena banyaknya berita hoaks dan politisasi SARA yang menimbulkan polarisasi dukungan “Cebong & Kampret” yang sangat tajam di pilpres, sehingga energi media pun lebih besar mengulas pilpres.

Meskipun tergolong sepi namun suasana kampanye caleg pada pemilu kelima sejak reformasi ini tetap menarik, drama pemeriksaan KPK pada sejumlah anggota DPRD yang terlibat kasus “ketok palu” dan banyaknya caleg petahana yang mengundurkan diri, memberikan angin segar bagi caleg-caleg pendatang baru.

Hasilnya lebih dari separuh anggota DPRD Provinsi tersingkir dan hanya 14 petahana yang mampu mempertahankan kursinya. Berikut jumlah kursi parpol hasil pemilu 2019 DPRD Provinsi Jambi; PDIP 9 kursi, Golkar, Gerindra, Demokrat dan PAN masing-masing 7 kursi, PKS 5 & PKB 5 kursi, PPP 3 kursi, NasDem 2 kursi serta Hanura, Perindo, Berkarya masing-masing 1 kursi. Untuk unsur pimpinan Ketua Edi Purwanto, Wakil Ketua I Rocky Candra, Wakil Ketua 2 Pinto Jaya Abadi dan Wakil Ketua 3 Burhanuddin Mahir.

Untuk perebutan kursi di Senayan (DPR & DPD), puluhan caleg dari 16 partai politik bertarung sengit, hasilnya lima caleg petahana kembali lolos yaitu Sutan Adil Hendra, H Bakri, Zulfikar Ahmad, Ihsan Yunus dan Saniatul Lativa. Sedangkan pendatang baru yang lolos yaitu mantan Gubernur Jambi Hasan Basri Agus yang mendapatkan terbanyak kedua se-Indonesia di Partai Golkar sehingga dianugerahi medali platinum dari DPP Partai Gokar, Hasbi Ansori dari NasDem, dan Sofyan Ali dari PKB.

Sementara itu, 4 orang dari 20 orang calon DPD yang berhasil duduk di Senayan adalah Ria Mayang Sari putri Gubernur Jambi, M Syukur satu-satunya petahana yang bertahan, Elviana senator luar biasa yang jeli mengambil peluang dan bisa duduk 4 kali di Senayan, serta Sum Indra. Sementara dua petahana Daryati Uteng dan Abu Bakar Jamalia harus tersingkir.

Beberapa catatan menarik lainnya dari perhelatan pemilu serentak terumit sedunia ini adalah pertama; timbulnya petaka banyak penyelenggara tewas akibat kelelahan, secara nasional 554 petugas KPU, Bawaslu dan Polri tewas.

Di Jambi tercatat 2 orang KPPS meninggal 89 sakit, dan dari Bawaslu 6 orang sakit 12 pingsan. Kedua, munculnya sengketa proses pemilu yang merupakan kasus yang terjadi pertama kali di Indonesia dimana caleg dari Kabupaten Sarolangun dan Merangin yang pindah parpol tetap masuk dalam DCT dan beberapa orangnya terpilih kembali dan akhirnya dilantik menjadi anggota DPRD.

Setelah hiruk pikuk pemilu selesai, semester kedua 2019 dimulai dengan drama sengitnya pengisian kekosongan posisi wakil Gubernur Jambi yang tak kunjung selesai, bahkan sampai tulisan ini dibuat pun (2020) partai koalisi pengusung belum mufakat siapa nama 2 orang yang akan diserahkan ke DPRD untuk diparipurnakan mendampingi Fachrori. Melihat alotnya kompromi partai koalisi, dipastikan Fachrori akan sendirian sampai akhir masa jabatan.

Menjelang akhir tahun 2019 kondisi politik Jambi mulai hangat kembali, kasak-kusuk Pilgub mulai menyeruak, orang-orang mulai membicarakan siapa bakal calon yang akan bertarung di Pilgub 2020 nanti? Beberapa nama mulai digadang-gadang maju. Ada yang terang-terangan menyatakan diri ada yang masih malu-malu. Namun akhirnya para pendekar politik mulai menampakkan keseriusannya dengan mendaftar di penjaringan yang dibuka oleh parpol.

Beberapa tokoh yang siap bertarung, didominasi kepala daerah dua periode, hal ini dikarenakan secara aturan mereka cukup cuti dan tidak perlu mundur dari jabatannya sehingga aturannya ini menguntungkan mereka, sebaliknya ASN dan anggota dewan yang maju wajib mundur.

Beberapa bakal calon yang serius dan telah mendaftar ke parpol adalah Wali Kota Jambi Syarif Fasha, Wali Kota Sungai Penuh AJB, Bupati Sarolangun Cek Endra, Bupati Merangi AL Haris, Bupati Tanjung Jabung Barat Safrial, Gubernur Petahana Fachrori Umar, Usman Ermulan Mantan Bupati Tanjung Jabung Barat, Ketua HKK Ramli Taha dan H. Bakri Anggota DPR RI dari PAN.

Beberapa nama lain juga didorong masyarakat untuk maju namun menyatakan tidak bersedia yaitu Hasan Basri Agus (HBA) dan Kapolda Jambi yang juga putra daerah dari Kabupaten Batanghari Irjen Pol Muchlis A.S. Dengan tidak majunya HBA diprediksi pertarungan sangat berimbang dan terbuka lebar bisa sampai tiga pasangan calon.

Hasil survei terakhir yang dirilis oleh Charta Politica menempatkan elektabilitas Syarif Fasha di posisi teratas 16 persen, Fachrori Umar 10,4 persen, Cek Endra 9,4 persen, Al Haris 8,6 persen, AJB 5,3 persen, Safrial 4,8 persen dan H Bakri 3,1 persen. Tentunya hasil survei ini mendapatkan tanggapan pro dan kontra dari masing-masing kandidat.

Akhir tahun 2019 ditutup dengan berbagai manuver politik para bakal calon gubernur, masing-masing kandidat rajin blusukan ke 11 kabupaten kota untuk membuat jaringan dan mendekati para tokoh-tokoh politik, tokoh agama dan tokoh masyarakat. Perang baliho pun juga semakin sengit, para balon dengan slogan masing-masing coba mencitrakan dirinya untuk menaikkan popularitas dan elektabilitas, karena faktor utama partai memberikan restu adalah bagi balon yang memiliki elektabilitas paling tinggi.

Proyeksi Politik Jambi 2020

Berdasarkan PKPU 16/2019 pendaftaran paslon tanggal 16-18 Juni, 8 Juli penetapan calon dan 23 September 2020 hari pencoblosan. Masih ada waktu 6 lagi bagi para kandidat untuk meracik strategi dan menentukan pasangan, enam bulan ke depan para kandidat akan sibuk dengan beberapa hal; pertama terus menaikkan popularitas dan elektabilitas dengan semakin masif memasang baliho dan mendekati tokoh-tokoh didaerah, mencari celah untuk mendapatkan “perahu” partai politik dan melakukan lobi-lobi untuk mendapatkan pasangan calon wakil gubernur yang satu chemistry.

Menarik untuk disimak apakah Jambi nanti akan menjadi semakin Mantap/Berkah/Maju/Bangkit/Unggul/Juara?

 

*Ketua Komunitas Peduli Pemilu dan Demokrasi (KOPIPEDE) Provinsi Jambi dan Akademisi Universitas Jambi

OPINI

Mendidik Meneguhkan Karakter Generasi Penerus

DETAIL.ID

Published

on

DI TENGAH derasnya arus globalisasi dan transformasi digital, generasi Z dan Alpha tumbuh dalam dunia yang serba cepat, instan, dan penuh distraksi. Informasi hadir tanpa batas di genggaman, namun ruang untuk merenung justru semakin sempit. Dalam situasi ini, pendidikan tidak lagi dapat dimaknai sekadar sebagai proses transfer ilmu pengetahuan, melainkan sebagai fondasi peradaban yang memanusiakan manusia secara utuh. Pendidikan sejati bukan hanya mencerdaskan akal, tetapi juga menumbuhkan nurani, membentuk karakter, dan mengarahkan manusia pada makna hidup yang lebih luhur. Filsuf pendidikan John Dewey pernah menegaskan, “Education is not preparation for life, education is life itself.” Pendidikan bukan sekadar persiapan hidup, melainkan proses kehidupan itu sendiri yang membentuk keutuhan pribadi manusia.

Kesadaran ini menjadi semakin relevan ketika kita melihat bahwa kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi atau kekuatan ekonomi, tetapi oleh kualitas karakter generasi penerusnya. Dalam konteks Indonesia, pendidikan berbasis nilai Pancasila dan semangat P4 (Pedoman, Penghayatan, dan Pengamalan Pancasila) menemukan urgensinya kembali. P4 bukan sekadar dokumen historis, melainkan kompas moral kebangsaan yang membimbing generasi muda agar tidak kehilangan arah di tengah krisis nilai, polarisasi sosial, dan budaya pragmatis yang kian menguat. Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang unggul secara teknologi, tetapi juga bangsa yang kokoh secara moral, sosial, dan spiritual.

Menghidupkan kembali pendidikan karakter berbasis Pancasila di sekolah berarti meneguhkan jati diri bangsa di tengah arus global. Kurikulum boleh adaptif terhadap perkembangan zaman digital, tetapi nilai tidak boleh dikompromikan oleh perubahan zaman. Sejalan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara, “Pendidikan adalah tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak.” Artinya, pendidikan harus membimbing, bukan sekadar mengarahkan secara mekanis. Pendidikan yang tercerabut dari akar kebangsaan berisiko melahirkan generasi cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara moral dan identitas.

Dalam perspektif humanis, pendidikan pada hakikatnya adalah proses memanusiakan manusia. Paulo Freire dalam gagasannya tentang pendidikan pembebasan menyatakan bahwa “pendidikan harus menjadi praksis pembebasan, bukan penindasan”. Pendidikan yang memerdekakan tidak mencetak manusia yang patuh secara pasif, tetapi membentuk pribadi yang sadar, kritis, dan reflektif. Generasi Z dan Alpha bukan generasi yang kekurangan informasi, melainkan generasi yang membutuhkan makna. Oleh karena itu, proses belajar tidak boleh berhenti pada hafalan dan capaian akademik semata, tetapi harus menyentuh pengalaman, refleksi, aksi, dan evaluasi. Dari pengalaman lahir refleksi, dari refleksi lahir kesadaran, dan dari kesadaran lahir tindakan yang bernilai.

Hakekatnya, pendidikan karakter yang kuat tidak dapat dilepaskan dari peran guru sebagai ujung tombak pendidikan. Di tengah perubahan zaman, martabat guru menghadapi tantangan yang kompleks. Status profesional dan sertifikasi tidak otomatis menjamin kepercayaan publik jika tidak disertai keteladanan. Aristoteles pernah mengatakan, “Educating the mind without educating the heart is no education at all.” Pernyataan ini menegaskan bahwa pendidikan tanpa pembentukan hati dan karakter hanyalah kecerdasan yang kehilangan arah. Guru tidak cukup hanya menjadi pengajar, tetapi harus menjadi inspirator, fasilitator, dan pemimpin pembelajaran yang humanis.

Karakteristik generasi Z dan Alpha yang adaptif, terbuka, dan melek teknologi menuntut pendekatan pendidikan yang relevan dan bermakna. Mereka hidup dalam budaya digital yang cepat, namun sering kali kurang ruang refleksi dan kedalaman makna. Dalam konteks ini, keteladanan menjadi metode pendidikan karakter yang paling efektif. Murid mungkin lupa teori yang diajarkan, tetapi mereka akan selalu mengingat sikap, nilai, dan integritas gurunya. Seperti yang diungkapkan oleh Albert Schweitzer, “Example is not the main thing in influencing others. It is the only thing”, bahwa teladan bukanlah hal utama dalam memengaruhi orang lain, tetapi teladan adalah satu-satunya hal yang penting.
Lebih jauh, pendidikan sejatinya adalah proses kepemimpinan diri. Prinsip “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani” menegaskan bahwa pendidikan adalah seni mendampingi manusia agar bertumbuh secara otentik. Pendidikan yang humanis akan melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan tanggung jawab moral. Dalam perjalanan pendidikan, baik bagi murid maupun guru, selalu terdapat dimensi batin: proses belajar, berjuang, gagal, dan bangkit kembali merupakan ruang pembentukan kedewasaan diri. Friedrich Nietzsche pernah menulis, “He who has a why to live can bear almost any how.” Pendidikan yang bermakna membantu manusia menemukan “mengapa” dalam hidupnya, bukan sekadar “bagaimana” untuk sukses.

Pada akhirnya, masa depan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan karakter yang ditanamkan hari ini di sekolah. Jika pendidikan hanya berorientasi pada capaian akademik, maka kita mungkin menghasilkan generasi cerdas namun kehilangan arah. Sebaliknya, jika pendidikan berlandaskan nilai Pancasila, humanisme, dan refleksi, maka akan lahir generasi yang berprinsip, berintegritas, dan berbelarasa. Pendidikan bukan sekadar soal apa yang diajarkan, tetapi siapa yang dibentuk. Ketika pendidikan mampu memerdekakan pikiran, menumbuhkan karakter, dan memanusiakan manusia, maka di sanalah pendidikan menjalankan misi sejatinya untuk menjaga martabat manusia sekaligus menyelamatkan peradaban.

*Guru SMA Kolese De Britto Yogyakarta

Continue Reading

OPINI

Jakarta “Tenggelam” Lagi: Mengapa Banjir Subuh Terus Berulang?

DETAIL.ID

Published

on

JAKARTA – Bagi warga Jakarta, suara hujan di dini hari dalam sepekan terakhir bukan lagi pengantar tidur, melainkan alarm peringatan akan lumpuhnya aktivitas kota. Fenomena hujan yang konsisten turun pada waktu subuh hingga pagi hari ini memang bukan kebetulan. Merujuk pada analisis BMKG, dinamika atmosfer yang sangat aktif di wilayah barat Indonesia memicu penumpukan uap air yang tumpah tepat saat warga memulai kesibukan.

Memasuki Jumat siang (23/1/2026), situasi ini mencapai titik kritis. Data terbaru dari pusat informasi kebencanaan menunjukkan eskalasi genangan yang sangat cepat; dari yang semula hanya beberapa titik, kini meluas hingga merendam 143 RT dan memutus akses di 16 ruas jalan protokol utama. Dampaknya signifikan, urat nadi trDocansportasi ibu kota lumpuh akibat banyak kendaraan terjebak di jalur utama yang tidak lagi bisa ditembus.

Kondisi paling mengkhawatirkan terpantau di kawasan Rawa Buaya, Jakarta Barat. Melansir keterangan resmi BPBD DKI Jakarta, ketinggian air di wilayah tersebut telah menyentuh 150 sentimeter. Operasi evakuasi besar-besaran pun terus dilakukan petugas gabungan menggunakan perahu karet untuk menyelamatkan warga yang terisolasi di dalam rumah. Hingga saat ini, laporan lapangan mencatat sedikitnya 387 jiwa telah mengungsi ke posko darurat karena hunian mereka tidak lagi layak ditinggali.

Pertanyaan besarnya adalah: sampai kapan kondisi ini akan bertahan? Proyeksi cuaca memperingatkan bahwa puncak musim hujan diprediksi masih akan berlangsung hingga akhir Februari atau awal Maret 2026. Artinya, ancaman banjir masih akan menjadi risiko harian warga setidaknya untuk sebulan ke depan.

Krisis ini kembali menegaskan bahwa banjir Jakarta bukan sekadar masalah air kiriman, melainkan belum optimalnya sistem drainase kota dalam menampung curah hujan lokal yang ekstrem. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa pembenahan infrastruktur kita masih berkejaran dengan intensitas perubahan iklim dan penurunan muka tanah yang kian nyata.

Sudah saatnya kebijakan publik tidak hanya fokus pada solusi jangka pendek seperti pengerahan pompa atau evakuasi darurat. Diperlukan keberanian untuk mengevaluasi total tata ruang dan mempercepat integrasi sistem kendali air secara menyeluruh. Selama hujan masih dianggap sebagai “kejutan” tahunan, banjir akan terus menjadi identitas pahit yang melekat pada wajah ibu kota.

Puteri Nazwa Layla, Mass Communication Student, Binus University.

Continue Reading

OPINI

Hidup Terasa Mulia Dimulai dari Hormati Guru

DETAIL.ID

Published

on

GURUKU pahlawanku, guruku orangtua keduaku. Kata itu pengingat peristiwa yang pernah aku alami tahun 1990 sampai 2000an, ketika dunia pendidikan masih tegak lurus dengan adab dan etika. Hubungan guru, siswa, dan orang tua masih dijiwai oleh rasa hormat. Jauh berbeda dari sekarang.

Suatu siang, aku pulang sekolah dengan wajah kusam. Saat mau masuk rumah, bertemu Papa sedang menjahit di mesin jahit.

“Pa, aku dipukul guru. Pa, rambut aku dipotong guru,” aku sambil menangis.

Sejenak Papa berhenti, matanya sedikit melotot seolah mencari jawaban. Tanpa menunjukkan kemarahan, hanya bertanya tanpa tahu kesalahanku, “Pakai apa dia pukul?”

“Pakai mistar, Pa,” jawabku. Papa kemudian berdiri.

Aku pikir Papa pasti membela diriku dan besok akan datang ke sekolah. Tanpa banyak bicara, Papa langsung mengambil mistar di dekatnya, membuat hatiku bertanya.

Bukan membela aku sebagai anak dari darah dagingnya, justru memukul lebih keras dari guruku. Lalu mengambil gunting membotaki rambut. Aku menyesal sudah memberitahunya. Ternyata jauh lebih menyakitkan.

Peristiwa itu terpatri dalam ingatan hingga sekarang. Setelah puluhan tahun berlalu dan aku telah memiliki keluarga sendiri. Bukan sebagai kenangan pahit, tapi sebagai kenangan indah

Seorang guru tak akan mau mengambil tindakan seperti memukul atau memotong rambut muridnya jika bukan karena murid tersebut telah melanggar aturan dengan sengaja dan mengabaikan peringatan.

Istilah guru sebagai orang tua kedua bukan sekadar omong kosong. Mereka tak hanya memberi ilmu pengetahuan dari buku pelajaran, tapi juga membentuk adab, etika, dan kedisiplinan, menjadi pondasi bagi masa depan.

Lihatlah sekeliling kita yang sekarang menjadi pegawai sukses di berbagai perusahaan, tentara menjaga keutuhan negara, anggota polisi yang melindungi keamanan masyarakat, dokter serta insinyur.

Semua itu karena siapa? kalau bukan karena otak dan hati diasah dengan penuh kesabaran oleh para bapak dan ibu guru yang tak pernah mengenal lelah.

Bapak dan ibu kita di rumah memang mencintai sepenuh hati. Tapi mereka tak akan mungkin mampu mengajarkan semua dibutuhkan untuk menghadapi dunia luar, mulai dari kemampuan berpikir kritis, kerja sama tim, hingga nilai-nilai kehidupan seperti kejujuran, tanggung jawab, dan rasa empati terhadap sesama.

Asal tahu saja, menjadi guru tak segampang dibayangkan. Mereka datang ke sekolah sejak jam 7 pagi bahkan lebih awal, hanya untuk mempersiapkan materi pembelajaran. Terkadang harus mengoreksi tugas dan ujian, pulang pun malam.

Waktu berharga dihabiskan bukan untuk anak di rumah. Melainkan untuk anak-anak orang yang baru dikenal.

Harapan mereka sama persis dengan harapan bapak dan ibu di rumah, agar tumbuh menjadi orang berguna bagi diri sendiri, keluarga, dan negara.

Ketika menjadi orang dihormati, gubernur sekalipun, dia tak akan pernah meminta sedikit pun imbalan. Dia juga tak akan pernah mengingatkan tentang apa yang telah diajarkan.

Namun, perbedaan zaman sekarang terasa jauh berbeda. Aku tak ingin menyalahkan siapa-siapa, tapi aku sebut saja sebagai “untul-untul” atau sakit kepala.

Begitu bodoh jika orangtua melihat anaknya mendapat hukuman maupun teguran dari guru, otak mereka langsung bereaksi kotor tanpa mengetahui kesalahan sebenarnya.

Ada lagi, menjadikan guru sebagai musuh dengan melaporkan ke aparat penegak hukum. Lebih parah, ada murid keroyok gurunya.

“Kalau kau benar-benar mampu mengajarkan semua hal yang dibutuhkan anakmu sendiri, mulai dari matematika, bahasa, ilmu pengetahuan, hingga kedisiplinan dan nilai-nilai hidup, sebaiknya kau ajarkan saja anakmu di rumah.”

Jasa guru tak bisa digantikan. Coba bayangkan ketika guru hanya fokus pada mata pelajaran saja, tanpa ada sentuhan kasih sayang. Pasti ilmu diberikan terasa hampa.

Untuk seluruh guru yang membaca tulisan ini, tetap kobarkan tugas muliamu. Jangan lelah untuk mencetak generasi penerus bangsa. Hanya Allah SWT, Tuhan Maha Esa, yang mampu membalas semua kebaikan dan pengorbanan kalian. Hai para murid-murid, cintailah gurumu!

*warga Provinsi Jambi

Continue Reading
Advertisement Seedbacklink

Dilarang menyalin atau mengambil artikel dan property pada situs