Connect with us
Advertisement

OPINI

Membahasakan Silaturahmi Saat Idulfitri

DETAIL.ID

Published

on

Silaturahmi Saat Idulfitri

DI TAHUN INI, suasana Idulfitri memang sedikit berbeda. Meskipun pandemi Covid-19 berlangsung di tengah Hari Raya, silaturahmi tetap bisa dijalankan. Meski mudik dilarang, silaturahmi bisa dilakukan kapan saja, di mana saja, dan kepada siapa saja dengan memanfaatkan teknologi.

Perayaan Idulfitri setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa biasanya diwarnai dengan kegiatan mudik untuk bersilaturahmi dengan sanak keluarga dan kerabat. Namun di tengah pandemi Covid-19 ini aktivitas ‘rutin’ saling mengunjungi tersebut ‘terpaksa’ tidak dilakukan demi mencegah penyebaran virus.

Harus diakui, bersilaturahmi dalam suasana Lebaran di tengah kondisi pandemi Covid-19 terasa agak berbeda. Biasanya ada gelak tawa, cerita-cerita seru di perantau, salam dan pelukan hangat dari kerabat hingga sahabat. Demi memutus rantai persebaran Covid-19, kita bisa ‘merekayasa’ dan memanfaatkan teknologi informasi dalam melakukan hal ini.

Mudik bisa saja disekat, jalan bisa ditutup, tapi silaturahmi di era digital ini tak bisa disekati oleh apa pun dan dalam keadaan apa pun. Silaturahmi harus tetap dilakukan untuk menjaga persaudaraan dan membangun hubungan baik. Jarak dan waktu bukanlah penghalang untuk menjalin silaturahmi, media sosial bisa menjadi salah satu sarana silaturahmi yang komunikatif.

Itulah silaturahmi digital, salah satu gaya hidup yang berubah di saat pandemi Covid-19. Silaturahmi dapat dilakukan dengan memaksimalkan kemajuan teknologi informasi. Hal ini membuat orang yang tidak bisa mudik berkesempatan untuk bersilaturahmi secara langsung, bisa tetap melakukannya.

Dalam konteks pandemi, tradisi bersalaman dan saling mengunjungi dalam selama Idulfitri diganti dengan silaturahmi secara daring. Diketahui, silaturahmi itu memang memiliki nilai kemuliaan, tradisi baik untuk dilakukan, tapi kita lebih baik mementingkan pencegahan persebaran Covid-19 yang bisa mengancam nyawa anggota keluarga lainnya

Sebagai manusia yang memiliki potensi untuk berbuat salah dan khilaf, maka saat Idulfitri, kita membuka diri untuk memaafkan dan menyadari kesalahan dan bersilaturahmi untuk merajutkan kembali hubungan dengan orang lain. Niat baik ini harus dibahasakan, kalau kita bertemu, lalu diam, maka silaturahmi tidak akan terjadi.

Idulfitri di tengah pandemi justru menjadi ujian bagi kita untuk menunjukkan karakter takwa dan sosial yang sesungguhnya. Wabah korona membuka tabir betapa niat baik kita untuk ketemu ‘disekat’, bukan berarti kita tidak bisa menunaikan niat baik itu. Mari kita bahasakan niat baik itu agar semua keluarga bahagia.

[jnews_element_newsticker newsticker_title=”Baca Juga” newsticker_icon=”empty” enable_autoplay=”true” autoplay_delay=”2500″ newsticker_animation=”vertical”]

Kita harus sepakat, pandemi Covid-19 tidak mengubah makna Idulfitri, hanya beberapa tradisi yang berubah seiring dengan dilarangnya mudik demi niat baik untuk mencegah penyebaran Covid-19 ini. Idulfitri dalam masa pandemi seolah-olah akan menghilangkan kultur yang sudah berakar bertahun-tahun, jangan sekali-kali kita merasa kehilangan makna dan hakikat dari Idulfitri kali ini. Padahal, tetap bisa dilakukan dengan cara yang berbeda.

Apalah gunanya bersilaturahmi langsung, tetapi menularkan virus yang membahayakan orang lain, bukan itu sejatinya silaturahmi. Alangkah lebih baiknya kita menghadirkan kebahagiaan kepada orang lain dengan mengganti pertemuan secara fisik dengan bersilaturahmi daring melalui media sosial, WhatsApp (WA), video call, dan aplikasi daring lainnya.

Karena silaturahmi jarak jauh, maka bahasakan dengan santun penuh kebahagiaan, keceriaan, sambil mendoakan keselamatan agar dijauhkan dari ganasnya wabah Covid-19. Kalau bisa kirim ‘sesuatu’ yang diperlukan, maka sebenarnya, itulah ’’silaturahmi”.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membahasakan silaturahmi, yakni kesantunan, dengan memilih diksi yang membuat bahagia, ceria, penuh dengan tata karma, senyum sapa dan saling mendoakan. Bahasanya  mudah dimengerti, tidak berbelit belit, responsif sehingga seolah olah bertemu langsung

Jadi, kesantunan bersilaturahmi merupakan cara untuk menghilang sekat-sekat fisik yang terkendala larangan mudik dengan kehalusan dalam menggunakan bahasa, saling menghargai, memperhatikan lawan bicara dan mengandungi nilai-nilai hormat yang tinggi.

Kesantunan merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kecerdasan emosional penutur dan mitra tutur karena di dalam komunikasi, tetapi harus tetap berkomitmen untuk menjaga keharmonisan hubungan. Pentingnya kesantunan dalam bersilaturahmi yaitu dapat menciptakan komunikasi yang efektif antara penutur dan mitra tutur (Rakasiwi, 2014:3).

Kita harus mencontoh Nabi Muhammad SAW dalam berkomunikasi: tuturan Rasulullah selalu menggunakan sedikit kata, tetapi sarat dengan makna. Perkataannya tidak dibuat-buat dan hampir tidak pernah melakukan kesalahan. Kata-kata yang digunakan juga sangat sederhana dan lebih suka tidak berlama-lama bicara.

Dalam berkomunikasi Rasulullah senantiasa penuh persiapan dan tidak bersifat spontan. Di dalamnya, beliau selalu mengedepankan keindahan dan kasih sayang. Ritme pertuturannya pun sangat seimbang, tidak terlalu cepat dan juga terlalu lambat. Substansi tuturnya tidak pernah menekan dan mencela, perkataannya tidak dibesar-besarkan/dipanjang-panjangkan dan juga tidak terkena gagap. Selain itu Rasulullah selalu santun dalam berbicara dan senantiasa lembut dalam menyampaikannya. (Musthofa Shodiq ar-Rafi’I, 1990).

Seperti yang banyak diriwayatkan, Nabi senantiasa bertutur dengan baik dan sopan. Beliau sangat hati-hati dalam bicara, selalu bertutur yang baik, bahkan beliau menganjurkan ketika seseorang tidak dapat bicara hal yang baik, lebih baik diam.

Dalam komunikasi Rasulullah sangat memperhatikan. Pertama: Tingkat jarak sosial (distance rating) antara penutur dan lawan tutur yang ditentukan berdasarkan perbedaan umur, jenis kelamin, dan latar belakang sosiokultural. Bagaimana Rasulullah bertutur pada orang yang lebih tua, kepada kaum perempuan, dan orang-orang asing yang berbeda dengan sosiokultural beliau.

Kedua: Tingkat status sosial (power rating) yang didasarkan atas kedudukan sosial. Gaya tuturan beliau kepada istrinya tentunya akan berbeda dengan gaya bertutur beliau kepada para sahabatnya. Karena itu, perlu dilihat kapan posisi beliau sebagai ayah, kakek dari cucunya, sebagai sahabat, sebagai pemimpin, sebagai utusan Allah dsb.

Ketiga: Tingkat peringkat tindak tutur (rank rating) yang didasarkan atas kedudukan relatif tindak tutur. Dalam hal ini, Rasulullah berbicara tegas dalam urusan tauhid, dll. (diadopsi dari Leech).

Berat memang untuk tidak mudik apalagi bagi yang berkesempatan untuk bertemu dengan keluarga tercinta, tapi keselamatan dan kesehatan jauh lebih utama.

Selamat Idulfitri 1442 Hijriah, Mohon Maaf Lahir dan Batin!

 

*Penulis adalah Pendidik di Madrasah

OPINI

Politik Hukum dalam Pembentukan Undang-Undang: Meneguhkan Prinsip Negara Hukum atau Menegaskan Dominasi Kekuasaan?

Oleh: Juwika Pasaribu (P2B125067)*

DETAIL.ID

Published

on

DALAM idealitas konstitusi, hukum berada di atas kekuasaan. Namun dalam praktik politik hukum Indonesia, garis itu kerap kabur. Legislasi yang seharusnya menjadi wujud kehendak rakyat justru sering berubah menjadi instrumen politik kekuasaan. Pertanyaan mendasarnya pun muncul: apakah politik hukum Indonesia hari ini meneguhkan prinsip negara hukum atau justru menegaskan dominasi kekuasaan?

Secara konseptual, politik hukum adalah arah kebijakan hukum nasional yang menentukan bagaimana hukum dibentuk, diterapkan, dan ditegakkan dalam suatu negara. Mahfud MD (2009) mendefinisikannya sebagai kebijakan hukum yang akan atau telah dilaksanakan untuk mencapai citacita bangsa. Dengan kata lain, politik hukum adalah kompas yang seharusnya menuntun pembentukan undang-undang agar selaras dengan nilai-nilai konstitusi, bukan sekadar kepentingan penguasa.

Namun, praktik politik hukum Indonesia belakangan menunjukkan kecenderungan sebaliknya. Contoh konkretnya dalam Revisi Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK), pengesahan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Perppu Cipta Kerja hingga pembentukan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2022 tentang Ibu Kota Negara memperlihatkan kecenderungan kuat bahwa politik hukum lebih banyak diarahkan untuk memperkuat struktur kekuasaan ketimbang mewujudkan keadilan sosial dan aspirasi masyarakat.

Revisi Undang-Undang KPK pada penerapannya dinilai akan melemahkan independensi lembaga antikorupsi, Undang-Undang Cipta Kerja disahkan secara tergesa tanpa partisipasi publik yang memadai dan bahkan dinyatakan inkonstitusional bersyarat oleh Mahkamah Konstitusi, sementara UU IKN dinilai terburu-buru dan lebih mencerminkan kehendak politik pemerintah pusat daripada aspirasi rakyat.

Asas keterbukaan sebagaimana diatur dalam Pasal 5 huruf g UU Nomor 12 Tahun 2011 hanya dijalankan sebatas formalitas administratif tanpa makna substantif. Publik memang diundang dalam forum konsultasi, tetapi ruang partisipasinya terbatas dan tidak berpengaruh signifikan terhadap hasil akhir. Proses legislasi seperti ini menggeser makna hukum dari instrumen keadilan menjadi alat legitimasi kebijakan yang pada akhirnya rakyat hanya menjadi penonton dalam drama hukum yang disutradarai oleh kekuasaan.

Kondisi ini mengikis prinsip dasar negara hukum sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 1 ayat (3) UUD 1945. Negara hukum mensyaratkan supremasi hukum atas kekuasaan, perlindungan hak asasi, serta adanya partisipasi publik dalam proses legislasi. Ketika proses pembentukan undangundang lebih menonjolkan kepentingan politik jangka pendek, maka prinsip negara hukum terdegradasi menjadi sekadar slogan konstitusional. Pemerintah dan DPR kerap berdalih bahwa percepatan legislasi dibutuhkan untuk kepastian hukum dan efisiensi kebijakan.

Namun, kepastian hukum yang tidak dilandasi legitimasi publik justru menimbulkan ketidakpastian sosial. Kepastian hukum yang dibangun di atas dominasi politik adalah kepastian semu, stabil di permukaan tetapi rapuh di dasar. Padahal, menurut Satjipto Rahardjo, hukum seharusnya mengandung dimensi moral dan sosial yang berpihak pada keadilan, bukan sekadar mengabdi pada logika kekuasaan formal.

Dalam pandangan teori responsive law yang dikemukakan oleh Philip Nonet dan Philip Selznick, hukum ideal adalah hukum yang peka terhadap nilai-nilai masyarakat dan mampu beradaptasi terhadap tuntutan keadilan sosial. Artinya, pembentukan hukum harus partisipatif dan terbuka agar produk hukum tidak hanya sah secara formal, tetapi juga sah secara moral dan sosial. Karena itu, tantangan politik hukum Indonesia ke depan bukan hanya soal memperbanyak produk legislasi, tetapi menata kembali orientasinya. Hukum harus kembali menjadi instrumen moral untuk menegakkan keadilan, bukan alat taktis kekuasaan. Pemerintah dan DPR perlu mengembalikan fungsi legislasi sebagai ruang deliberatif yang mengutamakan dialog, transparansi, dan akuntabilitas.

Partisipasi publik harus dihidupkan kembali secara bermakna, bukan sekadar diundang dalam dengar pendapat, tetapi benar-benar dilibatkan dalam penyusunan kebijakan sejak tahap perencanaan hingga evaluasi. Asas keterbukaan tidak boleh berhenti di meja administratif, melainkan menjadi ukuran kualitas demokrasi hukum. Tanpa pembenahan arah politik hukum, Indonesia berisiko terus melahirkan undang-undang yang sah secara formal namun kehilangan legitimasi sosial.

Ketika legitimasi publik hilang, hukum tidak lagi menjadi pemandu kehidupan bernegara, melainkan hanya pelengkap formal dari kehendak kekuasaan. Pada akhirnya, ukuran kemajuan negara hukum bukan terletak pada banyaknya undang-undang yang dihasilkan, melainkan pada sejauh mana hukum benarbenar menjadi penuntun bagi kekuasaan, bukan pelayannya

*Penulis merupakan mahasiswa program Magister Ilmu Hukum Universitas Jambi.

Continue Reading

OPINI

Politik Hukum dalam UU Cipta Kerja: Ekonomi dan Keadilan Konstitusional

Oleh: Okto Simangunsong, S.H*

DETAIL.ID

Published

on

POLITIK hukum pada hakikatnya merupakan kebijakan dasar yang menentukan arah pembentukan dan penegakan hukum suatu negara. Mahfud MD mendefinisikan politik hukum sebagai kebijakan dasar penyelenggara negara dalam bidang hukum yang akan, sedang, dan telah berlaku untuk mencapai tujuan negara.

Definisi tersebut menegaskan bahwa hukum tidak lahir dalam ruang hampa, melainkan merupakan hasil interaksi antara nilai, kekuasaan, dan kepentingan sosial-politik.

Dalam konteks Indonesia, politik hukum sering kali menjadi arena tarik-menarik antara tujuan pembangunan ekonomi dan prinsip keadilan sosial sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945. UU Cipta Kerja menjadi contoh konkret bagaimana arah politik hukum dapat bergeser menuju orientasi efisiensi ekonomi dengan mengorbankan partisipasi publik serta kualitas legislasi.

Metode omnibus law yang digunakan dalam pembentukan UU Cipta Kerja memang dimaksudkan untuk merapikan tumpang tindih regulasi dan mempercepat investasi. Namun, cara dan hasilnya menimbulkan kritik luas karena dinilai mengabaikan asas keterbukaan dan partisipasi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan.

Dasar Teoretis dan Kerangka Regulasi

Secara teoretis, politik hukum merupakan wujud nyata dari policy oriented law making, di mana pembentukan hukum diarahkan oleh agenda politik negara. Menurut Padmo Wahyono (1986), politik hukum adalah kebijakan dasar dalam bidang hukum yang menjadi pedoman bagi pembentukan hukum untuk mewujudkan cita-cita bangsa. Dengan demikian, politik hukum memiliki dua dimensi yakni normatif dan politis.

Dalam kerangka konstitusional, pengawasan terhadap produk politik hukum dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) melalui kewenangan judicial review sebagaimana diatur dalam Pasal 24C ayat (1) UUD 1945. Mekanisme ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa setiap undang-undang selaras dengan prinsip konstitusi, terutama dalam hal keadilan, keterbukaan, dan penghormatan terhadap hak-hak warga negara.

UU Cipta Kerja dan revisinya melalui UU Nomor 6 Tahun 2023 menjadi ujian nyata bagi kedua aspek tersebut, apakah politik hukum pembentukannya masih berada dalam koridor konstitusi, dan sejauh mana MK berperan menjaga keseimbangan antara kekuasaan politik dan supremasi hukum.

Analisis Politik Hukum dalam UU Cipta Kerja

UU Cipta Kerja menunjukkan bahwa politik hukum Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh kekuasaan eksekutif. Pemerintah, dengan dukungan mayoritas politik di DPR, berhasil mendorong lahirnya undang-undang yang mengubah lebih dari 70 undang-undang sektoral sekaligus. Proses legislasi yang cepat, tertutup, dan minim partisipasi publik memperlihatkan bahwa hukum telah dijadikan instrumen kebijakan pembangunan ekonomi.

Kondisi ini memperlihatkan gejala instrumentalization of law  hukum tidak lagi menjadi alat kontrol terhadap kekuasaan, melainkan alat legitimasi kekuasaan itu sendiri. Dalam konteks ini, efisiensi prosedural digunakan sebagai alasan untuk mengesampingkan nilai-nilai demokrasi substantif.

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 91/PUU-XVIII/2020 yang menyatakan UU Cipta Kerja inkonstitusional bersyarat merupakan wujud dari pengawasan konstitusional yang efektif. MK menegaskan bahwa pembentukan undang-undang harus memenuhi asas partisipasi publik yang bermakna (meaningful participation) sebagai bagian dari prinsip negara hukum.

Namun, tindak lanjut pemerintah melalui penerbitan Perppu Nomor 2 Tahun 2022 yang kemudian disahkan menjadi UU Nomor 6 Tahun 2023, memperlihatkan kecenderungan resistensi terhadap koreksi yudisial. Alih-alih memperbaiki proses legislasi, pemerintah justru mengulangi pendekatan serupa dengan dalih mendesak kebutuhan ekonomi nasional. Fenomena ini memperlihatkan bahwa politik hukum di Indonesia masih belum sepenuhnya menghormati prinsip checks and balances.

Secara filosofis, politik hukum seharusnya berorientasi pada rule of law, yakni menempatkan hukum di atas kekuasaan. Namun praktik dalam pembentukan dan perubahan UU Cipta Kerja justru mencerminkan rule by law, yaitu penggunaan hukum sebagai instrumen legitimasi kebijakan politik.
Ketika hukum dikendalikan oleh kekuasaan politik, maka fungsi normatifnya sebagai pelindung keadilan sosial dan lingkungan hidup melemah. Akibatnya, hukum kehilangan legitimasi moral di mata publik.

Politik hukum pembentukan UU Cipta Kerja menunjukkan dua wajah. Di satu sisi, hukum berfungsi sebagai sarana untuk mempercepat pembangunan ekonomi dan investasi. Namun di sisi lain, hukum kehilangan fungsi sosialnya sebagai instrumen keadilan. Keseimbangan antara kepastian hukum dan keadilan substantif menjadi terdistorsi.

Partisipasi publik yang minim dan pengabaian terhadap asas keterbukaan telah menimbulkan defisit legitimasi dalam politik hukum nasional. Ketika hukum tidak lagi dipersepsikan sebagai milik bersama, melainkan sebagai produk elit politik, maka kepercayaan publik terhadap negara hukum pun melemah.

Penutup

UU Cipta Kerja menjadi cermin nyata bagaimana politik hukum dapat bergeser dari orientasi keadilan menuju pragmatisme ekonomi. Dominasi eksekutif, lemahnya partisipasi publik, dan resistensi terhadap pengawasan yudisial menandakan bahwa sistem hukum Indonesia masih rentan terhadap politisasi.

Untuk membangun politik hukum yang konstitusional, dibutuhkan komitmen pada tiga hal pokok; (1). Menegakkan asas partisipasi publik yang bermakna dalam setiap proses legislasi. (2). Menghormati putusan Mahkamah Konstitusi sebagai bentuk kontrol konstitusional, bukan sekadar formalitas hukum. (3). Menempatkan hukum sebagai sarana keadilan sosial, bukan alat legitimasi kebijakan ekonomi.

Hukum yang baik bukanlah hukum yang paling efisien, tetapi hukum yang paling adil. Politik hukum yang berorientasi pada keadilan konstitusional akan memastikan bahwa pembangunan ekonomi tidak mengorbankan hak rakyat dan prinsip negara hukum.

*Penulis merupakan Advokad dan mahasiswa program Magister Ilmu Hukum Universitas Jambi.

Continue Reading

OPINI

Pesan Tegas Prabowo dan Cermin Buram Penegakan Hukum Kita

Oleh: Nazli*

DETAIL.ID

Published

on

PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini layak diapresiasi tinggi oleh rakyat. Dalam arahannya, Presiden menegaskan agar aparat penegak hukum tidak berbuat dzalim terhadap rakyat kecil dan tidak menjadikan hukum sebagai alat penindasan.

“Saya ingatkan terus kejaksaan, kepolisian, jangan kriminalisasi sesuatu yang tidak ada. Hukum jangan tumpul ke atas, tajam ke bawah,” ujar Prabowo di kantor Kejaksaan Agung usai menyaksikan penyerahan uang pengganti kerugian kasus CPO di Jakarta pada Senin, 20 Oktober 2025.

Pernyataan tersebut bukanlah basa-basi politik, melainkan tamparan moral bagi institusi penegak hukum yang selama ini dinilai gagal menjaga rasa keadilan publik. Kalimat Prabowo menyentuh inti luka sosial bangsa dan “ketimpangan penegakan hukum”.

Kita tidak menutup mata: hukum di Indonesia masih sering berpihak pada mereka yang memiliki kekuasaan dan kekayaan. Rakyat kecil bisa dijerat karena perkara sepele, ada seorang ibu rumah tangga ditahan karena mencuri kayu bakar, seorang petani dipenjara karena bersengketa dengan perusahaan besar, seorang anak sekolah diseret ke pengadilan karena mencuri ayam.

Namun di sisi lain, pelanggaran besar oleh korporasi perusak lingkungan, pengemplang pajak, atau pelaku korupsi kerap “diselesaikan dengan pendekatan kekeluargaan”.
Inilah wajah hukum yang menakutkan bagi yang lemah, tapi lembek terhadap yang kuat.
Hukum yang tidak lagi menjadi pelindung keadilan, melainkan alat kekuasaan.

Kriminalisasi rakyat kecil bukan hanya masalah hukum, tetapi juga masalah kemanusiaan. Banyak kasus bukan lahir dari niat jahat, tetapi dari kemiskinan yang sistemik. Petani yang menggarap tanah turun-temurun dianggap menyerobot lahan perusahaan; nelayan kecil yang mencari ikan dianggap melanggar izin laut; warga miskin kota yang berdagang di trotoar ditertibkan tanpa solusi.

Inilah bentuk nyata kriminalisasi kemiskinan, ketika hidup sederhana dianggap pelanggaran, dan perjuangan bertahan hidup dianggap kejahatan.

Pesan Presiden Prabowo seharusnya membuka mata para penegak hukum bahwa keadilan tidak bisa diukur dari seberapa banyak orang ditangkap, tetapi diukur seberapa adil hukum ditegakkan.

Kini saatnya aparat hukum membuktikan diri: apakah pesan Presiden hanya akan menjadi hiasan berita, atau benar-benar dijalankan di lapangan. Polisi, jaksa, dan hakim harus mulai bekerja dengan nurani. Karena hukum tanpa empati adalah kezaliman yang dilegalkan.

Bila rakyat kecil bisa diproses cepat, maka pelaku besar juga harus diproses lebih cepat. Bila rakyat miskin bisa diseret ke pengadilan, maka pengusaha dan pejabat yang korup juga harus diseret, tanpa pandang bulu.

Rakyat kecil kini menaruh harapan baru pada Presiden Prabowo. Namun harapan itu hanya akan hidup bila aparat hukum menindaklanjuti pesan beliau dengan tindakan nyata. Karena rakyat sudah terlalu sering mendengar janji keadilan, tapi jarang merasakannya.

Bila hukum masih tajam ke bawah dan tumpul ke atas, maka rakyat akan terus kehilangan kepercayaan. Dan bila kepercayaan rakyat telah hilang, maka hukum kehilangan wibawa, dan negara kehilangan jiwanya.

*Humas DPD Gerindra Jambi

Continue Reading
Advertisement Advertisement
Advertisement ads

Dilarang menyalin atau mengambil artikel dan property pada situs