Connect with us
Advertisement

LINGKUNGAN

Ismet Raja Tengah Malam, Seniman Sekaligus Aktivis Jambi

Published

on

Dari seni hingga aksi, Ismet tak ingin rakyat ditelanjangi di kampung halaman sendiri. Melalui musik ia sampaikan kritik, dengan aksi kamisan pun ia menyiratkan pesan. Hingga Ismet pun sempat dituding Provokator.

ISMET berang. Acara nonton bareng film “Bara Dwipa” karya Watchdoc di Sarolangun mendadak dibatalkan. Panitia penyelenggara melaporkan kepadanya bahwa acaranya tidak jadi sebab tidak ada yang datang.

Orang-orang ketakutan. Salah satu pemilik tambang batu bara di Sarolangun yang merupakan salah satu pejabat tinggi pemerintahan di Sarolangun disebut-sebut jadi dalangnya.

“Kalau seperti itu lama-lama mereka akan ditelanjangi di kampung halaman sendiri. Mengapa sudah menghirup udara kotor malah diam tak mau melawan, sama saja hanya menjadi penonton atas perusakan lingkungan yang terus-terus berlangsung dan mengaminkan hal tersebut,” tutur Ismet dengan nada sedikit meninggi, kepada detail pada Sabtu 20 November 2021.

Ismet menyebut bahwa kontribusi batu bara sebenarnya minim. Menurutnya, dari sekian banyak perusahaan tambang yang berada di Provinsi Jambi sama sekali tidak berdampak banyak terhadap kesejahteraan masyarakat. “Karena uangnya enggak berputar di Jambi malah berputarnya di luar, yang menikmatinya pun hanya segelintir elite lokal yang tidak peduli terhadap persoalan yang timbul di masyarakat,” keluhnya.

Meski tak menampik bahwa batu bara berkontribusi besar terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), namun dampak lingkungan yang disebabkan oleh tambang batu bara merupakan hal serius. Dengan tegas ia katakan, seberapa penting hal itu jika dibandingkan dengan hak lingkungan yang sehat bagi masyarakat dalam jangka panjang?

“Jujur saya katakan saya tidak pro pada tambang batu bara, kalau kita bicara kesejahteraan. Buktinya apa? Kembalikanlah kepada fitrahnya Jambi, kepada pertanian, perkebunan. Karena ini (batu bara) merupakan kenikmatan sesaat, begitu ia sudah habis dikeruk dan lingkungan sudah terlanjur rusak parah warga Jambi juga yang merasakan berbagai macam dampak yang akan timbul,” ujar Ismet.

Anak Petani di Desa yang Belum Teraliri Listrik

Ismet menghabiskan masa kecilnya di Desa Sekaladi, Kecamatan Batang Asai, Kabupaten Sarolangun, Jambi. Kala di desanya belum tersentuh listrik, Ismet kecil masih asyik bermain di hutan, membantu orang tuanya yang berprofesi sebagai petani.

Bakat Ismet kecil perlahan mulai terlihat. Awalnya ia menyukai musik daerah. Musik dengan genre melayu serta dangdut. Jika ada acara pesta di kampung halamannya, ia kerap mengajukan diri untuk tampil menyanyikan lagu dangdut.

“Tahun 2002 aku sudah mengenal musik punk, semenjak pindah ke Jambi baru menekuni aliran punk,” kata pria dengan nama panggung, Ismet Raja Tengah Malam pada Sabtu, 20 November 2021.

Dari aliran musik dangdut, melayu kemudian Ismet yang merantau ke Jambi pada tahun 2002 ini mulai mengenal musik beraliran punk. Ia pun mulai tampil sebagai sosok anak punk, rambut mohawk, dengan anting besar menghiasi penampilannya. Kecintaannya pada musik punk membulatkan tekad untuk menjelajahi nusantara, berkelana sambil manggung di berbagai tempat di kota-kota di Indonesia.

“Waktu itu (2002) sudah banyak aliran yang jumpa, tapi aku masih sekadar suka aja, saat pindah ke Jambi aku kenal music punk, aku nyetreet keliling Sumatra modal numpang, paling jauh itu udah pernah nyetreet sampai ke Lombok,” ujar pria kelahiran 39 tahun silam ini.

Band Rancid menjadi salah satu musik punk yang sering didengar oleh Ismet, kemudian band-band lokal seperti Marginal, Superman Is Dead, dan berbagai band lain. Pengalaman hidup Ismet memunculkan niatannya untuk mencoba mendirikan suatu band Punk bernama “Blog Head” di masa kuliahnya di Fakultas Hukum Universitas Negeri Jambi.

“Tahun 2004 aku coba buat band punk bernama “Blog Head” artinya manusia bodoh. Karena manusia bodoh adalah manusia yang tidak bisa menggunakan pikiran mereka dengan positif, kenapa kamu dibodohi dengan pikiran kamu sendiri, sedangkan pikiran adalah untuk membuka wawasan kamu,” kata ayah dua anak ini.

Pria dengan nama asli Ismet Isnaini, yang menyandang nama Ismet Raja Tengah Malam ini menjelaskan bahwa kata Raja Tengah Malam yang ia pakai sebagai nama panggungnya merupakan terdiri dari berbagai paduan arti. Raja adalah kependekan dari rakyat jantan dan tengah malam merupakan waktu untuk ia menyendiri untuk menenangkan pikiran, menurutnya tengah malam adalah waktu yang tepat untuk merenung dan bahkan dengan pohon ia pernah berbicara.

Bagi Ismet, bernyanyi dan bermain musik adalah berdoa dua kali, kita memberi semangat dan harapan untuk para petani untuk tetap semangat dalam perjuangannya. Karena kita hidup untuk berjuang, dan berproses kemudian berjuang lagi.

Sebagai sosok seniman yang selalu vokal menyuarakan kritiknya lewat alunan lagu-lagunya, perbincangan dengan Ismet sangat banyak mengkritisi kondisi Jambi hari ini dan juga kondisi negeri ini, suatu kegundahan mungkin melihat kebobrokan dan kebobrokan terus-menerus dipraktikkan oleh para pemimpin di sana.

Baginya, hidup itu harus berani. Berangkat dari fakta itu, ia menuangkannya ke dalam lirik lagu. “Hidup bukan sebatas hidup, hidup itu berjuang berproses, aku dak mau diam, teman jangan diam, jangan jadi pendiam, jangan jadi generasi pendiam, jangan jadi pecundang, anjing!”

“Kita lihat keadaan di negeri kita sendiri, kita lihat Jambi, begitu bodoh kamu menghancurkan diri sendiri, kok ada gitu orang yang mencuri uang negara sendiri, itu kan namanya manusia yang goblog. Itu merupakan asal usul penamaan band kita dulu (blog head),” ujar Ismet.

Kecintaannya pada musik punk pun ia aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya saat pentas atau manggung. Di kampus pun ketika sedang kuliah ia tetap menerapkan prinsip-prinsip punk. Namun, berbicara punk tentu tak lepas dari citra negatif yang merupakan pandangan bagi sebagian masyarakat. Menanggapi hal tersebut Ismet berpendapat bahwa citra negatif di kalangan masyarakat tersebut merupakan ulah dari oknum yang gagal dalam mengartikan punk yang sebenarnya, sehingga mengarah kepada kebebasan yang tak mengakui aturan, menjadi kriminal.

“Untuk menangkis citra tersebut, arti lantunan lagu punk perlu dimengerti. Jadi kita jangan hanya menilai dari passion punk lagi, tapi pemikirannya gitu,” kata Ismet.

Sebelum kuliah dirinya yang sudah menekuni dunia punk merasa bahwa pemikiran dan pengetahuannya dari segi keilmuan perlu diperluas, dan benar saja sewaktu menempuh Pendidikan tinggi di Fakultas Hukum Universitas Jambi ia menemukan hikmah bahwa tujuan kuliah bukan hanya untuk memperoleh ijazah namun lebih dari itu adalah untuk mengamalkan ilmu yang diperoleh dan bisa bermanfaat bagi masyarakat secara umum.

“Jadi kuliah bukan berbicara sebagai proses sebelum berkarier di dunia pekerjaan lagi atau berbicara ijazah lagi tapi mempertanggungjawabkan ilmu yang diperolehnya untuk diterapkan di dunia setelah selesai kuliah, itu yang harus ditekankan,” kata Ismet.

Hijau Biru, Cerita Tentang Hak Petani, Buruh, dan Lingkungan

Album pertama Ismet diberi nama Hijau dan Biru. Sebuah album yang menceritakan tentang hak petani, buruh, dan lingkungan. Belakangan Ismet tengah sibuk untuk menyelesaikan album keduanya yang akan ia beri nama “Rimba Terakhir”.

“Kita kembali ke sejarah bahwa negara kita, Jambi ini adalah negeri agraris. Kita tidak terlahir dari tambang, kita terlahir dari orang tua kita petani dan nelayan. Ini yang menghidupkan kita,” kata Ismet.

Dirinya pun menceritakan sebuah lagu yang baru saja selesai ia ciptakan. Sebuah lagu yang menceritakan tentang kisah masa lalu dan pergolakan yang dihadapi oleh para petani saat ini.

“Ada lirik lagu yang baru selesai aku buat. Aku dilahirkan oleh Tuhan di rahim perempuan yaitu ibuku, aku dibesarkan dan tumbuh bersama seorang lelaki itu ialah ayahku. Bapakku petani, ibuku petani, nenekku petani, kakekku petani, sampai leluhurku adalah petani. Aku hidup dan mati dari tanah ini, dari itu aku menghargai petani karena hari ini petanilah yang menjadi salah satu penyokong kehidupan bangsa ini, setelah semua itu kenapa kita harus munafik? Kenapa kita mengkhianati petani?” kata Ismet kesal.

Ketika disinggung terkait persoalan “Food Estate” yang sedang ramai jadi topik perbincangan. Menurutnya petani akan dijadikan komoditi, akan dijadikan sebagai bisnis oleh orang-orang yang mendapatkan keuntungan. Apakah akan berdampak positif terhadap petani? Tidak. Petani dijadikan kambing hitam, pemerintah hari ini melihat bahwa petani adalah sebuah Komoditi yang pasar. Akhirnya timbul “Food Estate” padahal kalau kita lihat ke belakang, Suharto pernah gagal, itu cukup menjadi bukti bahwa “Food Estate” tidak cocok dengan Indonesia yang di mana adalah negara agraris, negara yang masyarakatnya mayoritas berprofesi sebagai petani.

“Ada hak-hak petani yang dirampas oleh korporasi, tanah-tanah mereka dirampas oleh pihak perusahaan. Namun sebelum korporasi beraksi, tentu ada izin atas lokasinya. Nah yang memberi izin kepada perusahaan kan pemerintah, hari ini berapa banyak kondisi di mana tanah masyarakat dirampas? Berarti pemerintah memberi izin untuk korporasi merampas tanah-tanah masyarakat,” ujarnya.

Beberapa waktu lalu bertempat di Gedung DPRD Kabupaten Sarolangun, di depan para wakil rakyat serta para pejabat pemerintahan ia dengan lantang menyanyikan lagu Tolak Peti, Hanya Air Mata, dan Sarolangun Betuah. Ismet mengatakan bahwa lagu-lagu itu sengaja dibawakan untuk mengingatkan para wakil rakyat agar bekerja untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Karena menurutnya, para wakil rakyat seharusnya memperjuangkan aspirasi rakyat, namun dalam kenyataannya malah terbalik wakil rakyat berbanding terbalik dengan kondisi di lapangan.

Sungai Batanghari Kian Tercemari

Setelah petani dan tambang batu bara kini giliran Sungai Batanghari yang menjadi bahan perbincangan. Kondisi sungai Batanghari yang makin hari makin memprihatinkan tak bisa dipungkiri harus segera mendapat perhatian dan pembenahan dari pemerintah.

“Kembali pada sejarah, Sungai Batanghari adalah urat nadi peradaban. Kalau kita bicara urat nadi begitu dekat dengan jiwa kita, berapa kehidupan yang menggunakan kehidupan tersebut. Hari ini sungai Batanghari sedang mengalir dari kejayaan menuju kerusakan. Apabila kita anak muda, masyarakat, semuanya abai. Sungai Batanghari bisa tinggal sejarah, tinggal sebuah lagu, cuman sebatas cerita nanti untuk anak cucu kita. Apakah kita mau hal itu terjadi?” katanya.

Makanya, lanjut Ismet, nanti 25 November kita berencana untuk mengadakan aksi, itu bertepatan juga dengan hari pohon. Kita akan adakan aksi bersama teman-teman NGO, bersama teman-teman mahasiswa. Suara dari hilir memperingati hari pohon kemudian 100 hari Wo Haris menjabat Gubernur Jambi untuk mendorong pemerintah dan seluruh elemen. Ayo bersama-sama kita kembalikan sungai Batanghari bersih seperti sediakala.

Menurutnya, ini merupakan tanggung jawab bersama, pemerintah punya kebijakan, rakyat punya hak. Ayo kita satu padukan. Ayo kita cari solusi. Bicara hari ini bicara ekonomi bicara perut tapi negara, pemerintah tidak bertanggungjawab terhadap perut rakyat, siapa yang salah? Jelas-jelas pemerintah yang salah, kenapa karena pemerintah tidak mampu memberikan kehidupan yang layak terhadap rakyatnya. Bicara air bersih, itu sudah melanggar hak terhadap lingkungan yang sehat. Kita akan gugat pemerintah karena tidak mampu memenuhi hak masyarakat untuk beroleh air bersih, lingkungan yang bersih terhadap rakyat Jambi.

Ketika ditanya pandangan politiknya terhadap pemimpin Provinsi Jambi hari ini ia mengatakan bahwa hari-hari ini Jambi semakin bobrok secara politik, orang Jambi sudah kehilangan jati dirinya. Dalam segi politik idealnya partai adalah perahu bukan menjadi motor untuk mengintimidasi pemimpin, pemimpin bukan alat. Hari ini, baik pemerintah maupun partai politik sama-sama tidak memberikan sebuah solusi konkret terhadap permasalahan yang terjadi, yang ada hanya orientasi pada kekuasaan.

Melihat berbagai persoalan Jambi hari ini, ada pilihan untuk memperbaharui dari dalam dan luar. Namun saat dihadapkan kepada pilihan tersebut, Ismet menjawab untuk tetap memperbaharui dari luar. Ketika ada kesempatan untuk terjun ke dalam politik, ia mengatakan bahwa esensi dari kekuasaan adalah menindas. Tapi kalau melihat kondisi sekarang, Kalau bicara untuk kesejahteraan kemanusiaan kita suatu saat harus terjun ke dalam sistem.

Karena kalau kita tidak terjun ke dalam politik, orang yang tidak baik akan mengisi posisi tersebut dan melancarkan dengan leluasa niatan dan hasratnya. Tapi hari ini kita lihat orang-orang dalam sistem berarti orang-orang di dalam itu semua orang jahat, karena dalam berbagai pembicaraan yang kita temui ya tidak jauh-jauh dari proyek, investasi. Tidak ada perbincangan ke arah kesejahteraan rakyat.

“Bicara hari ini politik sudah banyak yang mengajak saya untuk bergabung tapi saya selalu tolak, apa penting? Ya aku masih nyaman dengan perlawanan-perlawanan yang terus aku lontarkan gitu, karena politik adalah jebakan sebenarnya. Tidak sedikit yang terjebak itu teman-teman kita itu yang di gedung-gedung sana, kita coba kritis menyarankan suatu isu, dia tidak ada. kita ajak diskusi di warung kopi juga tidak ada. mungkin sudah terlalu nyaman dengan AC kantorlah,” ujar Ismet.

Terkait aksi Kamisan yang telah cukup lama berlangsung di Jambi, ia mengatakan bahwa Kamisan bicara tentang semangat untuk memperoleh keadilan bagi warga Jambi, hak atas lingkungan yang sehat. Karena sudah tidak sedikit yang menjadi Korban.

Melalui aksi Kamisan yang setiap hari kamis ia gelar di Simpang 4 BI Telanaipura, ia ingin menyadarkan orang-orang bahwa ada banyak persoalan yang mendera Jambi. Ia ingin agar persoalan itu dituntaskan oleh pemerintah. Masyarakat Jambi sudah tidur dengan berbagai kenyamanan yang tersedia. Jambi masih dalam kondisi berkembang sekarang ini cuman dipaksakan seolah-olah sudah maju,” katanya.

“Saya pernah dituduh memprovokasi suatu pergerakan untuk menentang pemerintah, namun semua itu ia terima dan hadapi dengan kebenaran dan prinsip yang ia pegang teguh. Meski sakit dan pasti ada konsekuensinya ia mengatakan bahwa hidup harus berani,” ujarnya.

Menurut aktivis sekaligus seniman ini, sama seperti Munir, kebenaran memang bernyawa dan kita harus konsisten. Hal seperti somasi maupun ancaman terhadap berbagai aksi dan kritik lantamnya ia anggap sebagai trigger untuk memantapkan diri.

“Mau berhenti atau maju, aku memilih untuk tetap maju dengan kebenaran dan prinsip yang aku pegang. Apa yang kulihat dengan mataku, apa yang kurasakan dengan hatiku akan kujalani dan kuperjuangkan. karena hidup bukan sebatas hidup, hidup itu berjuang, berproses, berjuang dan berproses, sampai mati,” katanya.

Ismet Berbicara Generasi Milenial

Hidup itu harus berani ya, generasi muda anak-anak muda Jambi harus berani. Berani menyuarakan suatu hal yang tidak baik, berani menyuarakan kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat.

Kalau hari ini tidak diperjuangkan mungkin akan terasa pahit ke depannya. Hidup itu jangan jadi pecundang, tak bisa kamu turun ke jalan kamu berdoa kepada tuhan, jangan jadi generasi masa bodo yang apatis, pasrah pesimis, bunuh diri di Sungai Batanghari. Hidup kok sebatas itu?

Ia juga mengatakan bulan 2 tahun depan “Insya Allah bulan 2 kita ada acara bersama seniman Jerman untuk mengenal musik alam bersama beberapa seniman dari berbagai daerah di Indonesia, nanti kalau selesai, Insya Allah akan ditampilkan di Jerman, nah itu orang Jerman saja sampai mengapresiasi musik kita kenapa kita tidak? Orang luar jauh-jauh ke negeri kita untuk mengetahui itu, miris kan.

Kepada generasi muda ia berpesan, untuk kawan-kawan generasi muda khususnya mahasiswa ayo kita pekalah, ubah mindsetlah terhadap kondisi daerah kita provinsi Jambi ini, seberapa penting sih air itu, seberapa penting sih tambang-tambang itu, seberapa penting itu semua dibanding dengan lingkungan yang sehat bagi kita.

Bicara politik, menurut Ismet kita harus paham politik, kita bukan orang munafik kita juga harus ikut berpartisipasi dalam mengawal perjalanan politik karena apa-apa hari ini dipolitisasi. Apabila kebijakan politik itu tidak dilawan maka politik itu akan menindas kita. Untuk teman-teman ayo kita terus berjuang, jangan jadi generasi pendiam, jangan jadi generasi pecundang, ayo rebut berproses, berjuang setelah itu teman-teman silakan mati. Dalam artian bukan masuk kubur, nikmati dan wariskan hasil perjuangan itu kepada generasi selanjutnya.

Untuk para penguasa ia berpesan, “Teruntuk penguasa, eh loe itu digaji rakyat loe yah, loe adalah pelayan rakyat, loe itu adalah watchdog, loe adalah anjingnya rakyat, tapi kenapa loe malah ngegonggong sama rakyat, harusnya loe sadar, loe harus amanah, loe ingat mati, kematian itu pasti, kematian itu lebih dekat dari segalanya, jadi berubah dan bertobatlah.

Reporter: Juan Ambarita

LINGKUNGAN

Tujuh Tersangka Karhutla Diproses, Ribuan Hotspot Terdeteksi di Area Konsesi Jambi

DETAIL.ID

Published

on

DETAIL.ID, Jambi – Hingga saat ini 7 orang terduga pelaku pembakaran hutan dan lahan tengah diproses aparat penegak hukum. Hal itu disampaikan oleh Menteri Kehutanan RI, Raja Juli saat menghadiri rapat koordinasi pengendalian karhutla di Manggala Agni Jambi pada Selasa, 25 Agustus 2026.

‎Adapun angka tersebut berdasarkan laporan dari Kepolisian dan Kejaksaan yang ia terima.

‎”Tadi sudah disampaikan oleh kepolisian dan kejaksaan sekarang sedang berproses 8 berkas, ada 7 yang sudah jadi tersangka,” ujar Raja Juli.

‎Menurutnya penegakan hukum merupakan bagian integral dari proses pemadaman karhutla sekaligus pencegahan pada masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan lagi.

‎”Saya memohon sekali agar tidak menggunakan masa-masa EL Nino yang sangat kuat ini untuk melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar,” katanya.

‎Di tengah operasi pemadaman yang terus berlangsung, data terbaru mencatat potensi karhutla di Jambi masih cukup tinggi. Kabupaten Sarolangun tercatat sebagai daerah dengan titik panas (hotspot) terbanyak yakni 159 titik. Kemudian Batanghari 78 titik, Tebo 50 titik, Tanjungjabung Barat 48 titik, dan Muarojambi 7 titik.

‎Sementara kalau berdasarkan data yang dihimpun oleh Perkumpulan Hijau, organ masyarakat sipil yang berfokus pada advokasi lingkungan, dari 1 Januari hingga 22 Agustus 2026, tercatat sebanyak 1.771 titik panas (hotspot) yang muncul di dalam area izin sejumlah perusahaan yang beroperasi di Provinsi Jambi.

‎Mulai dari sektor Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH), perkebunan, hingga sektor pertambangan. Sektor PBPH menjadi penyumbang titik panas terbanyak dengan total 1.289 hotspot.

‎Direktur Perkumpulan Hijau Jambi, Feri Irawan pun menegaskan bahwa tingginya jumlah titik panas di kawasan konsesi harus menjadi perhatian serius pemerintah. Menurutnya, persoalan karhutla di Jambi tidak dapat semata-mata dipandang sebagai bencana alam.

‎”Kebakaran hutan dan lahan di Jambi ini adalah tragedi ekologis yang sengaja dipelihara. Data ribuan titik panas di konsesi PBPH, HGU sawit, hingga tambang menjadi bukti sahih bahwa korporasi gagal menjaga bentang kawasannya,” katanya.

Reporter: Juan Ambarita

Continue Reading

LINGKUNGAN

1771 Titik Panas di Area Konsesi, Perkumpulan Hijau Jambi Desak Evaluasi Total Korporasi

DETAIL.ID

Published

on

DETAIL.ID, Jambi – Provinsi Jambi kembali menghadapi ancaman serius kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan hasil analisis dan pemantauan Perkumpulan Hijau Jambi periode 1 Januari hingga 22 Agustus 2026, tercatat sebanyak 1771 titik panas (hotspot) berada di dalam area konsesi perusahaan sektor kehutanan, perkebunan, hingga pertambangan.

Data tersebut menjadi sorotan Perkumpulan Hijau Jambi. Organisasi lingkungan itu menilai tingginya jumlah titik panas di kawasan perizinan industri memperlihatkan persoalan serius dalam tata kelola lingkungan dan perlindungan ekosistem, khususnya gambut.

Berdasarkan rekapitulasi Perkumpulan Hijau Jambi, sektor Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) menjadi penyumbang titik panas terbanyak dengan total 1.289 hotspot.

Sejumlah perusahaan yang tercatat memiliki jumlah titik panas tertinggi antara lain PT Wirakarya Sakti sebanyak 272 hotspot, PT Alam Lestari Nusantara atau sebelumnya PT Bukit Kausar sebanyak 178 hotspot, PT Restorasi Ekosistem Indonesia sebanyak 171 hotspot, PT Alam Bukit Tiga Puluh sebanyak 166 hotspot, serta PT Sam Hutani sebanyak 160 hotspot.

Selain itu, PT Limbah Kayu Utama tercatat 109 hotspot, PT Mugitriman International 97 hotspot, PT Lestari Asri Jaya 50 hotspot, PT Hijau Artha Nusa 32 hotspot, PT Gading Karya Makmur 12 hotspot, dan PT Buana Sriwijaya Sejahtera sebanyak 10 hotspot. Sementara sembilan korporasi PBPH lainnya tercatat menyumbang antara satu hingga tujuh titik panas.

Di sektor IUP tambang dan mineral, Perkumpulan Hijau Jambi mencatat total 300 hotspot. Di antaranya berada pada wilayah IUP PT Duta Energy Indonesia sebanyak 60 hotspot, PKP2B PT Intitirta Primasakti 55 hotspot, PKP2B PT Sarwa Sembada Karya Bumi 48 hotspot, dan PKP2B PT Karya Bumi Baratama sebanyak 26 hotspot.

Kemudian IUP PT Berlian Mahkota Coal, PT Tebo Agung Internasional, dan PT Globalindo Alam Lestari masing-masing tercatat sebanyak 10 hotspot. Sementara belasan perusahaan tambang lainnya menyumbang sisa titik panas.

Adapun pada kawasan Hak Guna Usaha (HGU) perkebunan kelapa sawit, tercatat total 182 hotspot. PT Eramitra Agrolestari menjadi konsesi dengan jumlah titik panas tertinggi, yakni 144 hotspot.

Selanjutnya Tiga Serumpun atau Koperasi Perkebunan KDA tercatat 21 hotspot, PT Adimulia Palmo Lestari empat hotspot, serta PT Inti Indosawit Subur, PT Megasawindo Perkasa, PT Sawit Harum Makmur, dan PT Sumber Sawit Nusa Indah masing-masing dua hotspot.

Sementara PT Bukit Kausar, PT Citra Sawit Harum, PT Graha Cipta Bangko Jaya, PT Pratama Agro Sawit, dan Serasi Jaya Abadi masing-masing tercatat satu titik panas.

Direktur Perkumpulan Hijau Jambi, Feri Irawan mengatakan tingginya jumlah titik panas di kawasan konsesi harus menjadi perhatian serius pemerintah. Menurutnya, persoalan karhutla di Jambi tidak dapat semata-mata dipandang sebagai bencana alam.

“Kebakaran hutan dan lahan di Jambi ini adalah tragedi ekologis yang sengaja dipelihara. Data ribuan titik panas di konsesi PBPH, HGU sawit, hingga tambang menjadi bukti sahih bahwa korporasi gagal menjaga bentang kawasannya,” kata Feri Irawan, Selasa, 25 Agustus 2026.

Feri menilai persoalan utama yang harus dievaluasi adalah perubahan tata kelola dan sistem hidrologi di kawasan gambut. Ia menyoroti keberadaan kanal-kanal dan sistem pengelolaan air di dalam konsesi yang, menurutnya, berpotensi memengaruhi kondisi hidrologis kawasan di sekitarnya.

“Akar masalah utamanya ada pada monopoli air dan pembongkaran tata air alami gambut. Perusahaan-perusahaan ini membangun kanal-kanal raksasa untuk mengeringkan gambut demi tanaman monokultur,” ujarnya.

Menurut Feri, kondisi gambut yang kehilangan kemampuan menyimpan air akan menjadi sangat rentan ketika musim kemarau tiba. Api yang muncul di permukaan juga dapat merembet ke lapisan bawah tanah sehingga proses pemadaman menjadi jauh lebih sulit.

Perkumpulan Hijau Jambi pun mendesak Presiden Prabowo Subianto membentuk tim khusus penanganan dan pencegahan karhutla di wilayah ekosistem gambut.

Tim tersebut, kata Feri, harus bekerja berdasarkan pendekatan bentang Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) secara menyeluruh dan lintas batas perizinan.

Selain pemerintah pusat, organisasi lingkungan tersebut juga mendesak Gubernur Jambi dan pemerintah daerah membentuk tim independen untuk mengevaluasi kerusakan ekosistem gambut, khususnya di wilayah konsesi perusahaan yang berulang kali terdeteksi memiliki titik panas.

Perusahaan yang terbukti tidak menjalankan kewajiban perlindungan lingkungan, menurut Perkumpulan Hijau Jambi, harus dievaluasi dan dikenai sanksi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Desakan lainnya adalah penataan ulang tata kelola air di kawasan gambut. Perkumpulan Hijau meminta pemerintah melakukan audit terhadap tinggi muka air tanah, sistem kanal, serta infrastruktur pengelolaan air yang berada di dalam kawasan konsesi.

“Pemerintah tidak boleh terus bergantung pada pola pemadaman darurat ketika api sudah membesar. Fokus utama harus bergeser pada pencegahan dini, pemulihan fungsi hidrologi atau rewetting, serta penegakan hukum yang tegas,” kata Feri.

Perkumpulan Hijau Jambi menilai ekosistem gambut memiliki peran penting dalam menyimpan air saat musim hujan dan melepaskannya secara perlahan pada musim kemarau. Namun, perubahan bentang alam dan sistem drainase dinilai dapat menyebabkan muka air tanah turun dan meningkatkan kerentanan lahan terhadap kebakaran.

Gambut yang mengering juga berpotensi mengalami kebakaran bawah permukaan. Kondisi tersebut dapat menghasilkan asap dalam jumlah besar dan berdampak terhadap kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, hingga kualitas lingkungan.

Perkumpulan Hijau Jambi menegaskan, tanpa langkah perbaikan secara menyeluruh terhadap tata kelola kawasan gambut dan pengawasan ketat terhadap pemegang izin, persoalan karhutla dan kabut asap di Jambi berpotensi terus berulang setiap tahun.

Adapun data jumlah titik panas ini bersumber dari hasil analisis serta pemantauan Perkumpulan Hijau Jambi periode 1 Januari hingga 22 Agustus 2026. Titik panas merupakan indikator adanya anomali suhu yang memerlukan verifikasi lapangan untuk memastikan keberadaan dan penyebab kebakaran. (*)

Continue Reading

DAERAH

Kualitas Udara Memburuk, Gubernur Jambi Terbitkan Surat Edaran Antisipasi dan Penanganan

DETAIL.ID

Published

on

DETAIL.ID, Jambi – Gubernur Jambi Al Haris menerbitkan Surat Edaran Nomor 1835/SE/DLH-3/2026 tentang Antisipasi dan Penanganan Dampak Memburuknya Kualitas Udara di Provinsi Jambi.

‎Surat edaran yang ditetapkan di Jambi pada 24 Agustus 2026 tersebut ditujukan kepada seluruh Bupati dan Wali Kota se-Provinsi Jambi, Kepala Perangkat Daerah di lingkungan Pemerintah Provinsi Jambi, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jambi, serta pimpinan instansi terkait.

‎Kebijakan itu diterbitkan menyusul hasil pemantauan Air Quality Monitoring System (AQMS) pada Stasiun Jambi Paal Lima yang menunjukkan peningkatan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU).

‎Dalam surat edaran tersebut, seluruh pemangku kepentingan diminta mengambil langkah cepat, terpadu, terukur dan bertanggung jawab untuk melindungi kesehatan serta keselamatan masyarakat dari dampak penurunan kualitas udara.

‎Pemerintah daerah diminta meningkatkan kewaspadaan dan melakukan pemantauan berkala terhadap perkembangan kualitas udara. Informasi mengenai kondisi udara juga harus disampaikan kepada masyarakat secara benar dan mudah dipahami.

‎Gubernur juga mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama kegiatan yang tidak bersifat mendesak, termasuk olahraga, senam, upacara, dan kegiatan masyarakat lainnya selama kualitas udara berada dalam kategori tidak sehat.

‎”Masyarakat yang harus melakukan aktivitas di luar ruangan agar menggunakan masker yang sesuai untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan asap dan partikulat udara,” dikutip dari Surat Edaran Gubernur Jambi.

‎Selain itu, fasilitas kesehatan diminta meningkatkan pelayanan dan kesiapsiagaan, khususnya untuk mengantisipasi kemungkinan meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) serta gangguan kesehatan lainnya akibat memburuknya kualitas udara.

‎Surat edaran itu juga mengatur langkah yang lebih tegas apabila ISPU meningkat hingga kategori sangat tidak sehat atau berbahaya, kesehatan lainnya yang berkaitan dengan penurunan kualitas udara, agar segera diambil langkah-langkah yang tepat.

‎”Apabila kondisi ISPU meningkat hingga kategori sangat tidak sehat (merah) atau berbahaya (hitam), Bupati/Wali Kota dan Kepala Perangkat Daerah serta Pimpinan Instansi terkait agar segera mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai kewenangan masing-masing untuk melindungi masyarakat dari dampak buruk kualitas udara,” katanya.

‎Bahkan, apabila kondisi kualitas udara telah mencapai tingkat yang berpotensi membahayakan kesehatan peserta didik, pemerintah kabupaten/kota melalui perangkat daerah terkait bersama Kanwil Kementerian Agama dapat memerintahkan penghentian sementara pembelajaran tatap muka atau menerapkan pembelajaran dari rumah.

‎Keputusan tersebut harus mempertimbangkan perkembangan ISPU, rekomendasi instansi teknis dan ketentuan peraturan perundang-undangan.

‎Pemerintah juga dapat menghentikan atau menyesuaikan sementara kegiatan pemerintahan, pendidikan, pelayanan publik maupun kegiatan lainnya yang berpotensi meningkatkan risiko bagi masyarakat apabila kualitas udara telah berada pada tingkat membahayakan kesehatan.

‎Gubernur turut meminta peningkatan koordinasi antara Pemerintah Provinsi Jambi, pemerintah kabupaten/kota, instansi vertikal, fasilitas kesehatan, satuan pendidikan dan seluruh pemangku kepentingan dalam menangani dampak penurunan kualitas udara.

‎Penyebarluasan informasi resmi mengenai perkembangan kualitas udara dan langkah perlindungan kesehatan juga diminta terus diintensifkan melalui kanal komunikasi pemerintah dan media informasi publik.

‎Bupati, Wali Kota, pimpinan perangkat daerah dan instansi terkait diminta memastikan seluruh langkah tersebut dilaksanakan serta dievaluasi secara berkala sesuai perkembangan kondisi kualitas udara di wilayah masing-masing.

Reporter: Juan Ambarita

Continue Reading
Advertisement
Advertisement Seedbacklink

Dilarang menyalin atau mengambil artikel dan property pada situs