Connect with us
Advertisement

OPINI

Menolak Islamic Center, Menolak Identitas Jambi: Sebuah Pilihan yang Merugikan

DETAIL.ID

Published

on

ISLAMIC Center adalah sebuah pusat yang dirancang untuk menjadi tempat berkumpul dan beraktivitas bagi komunitas Muslim di suatu wilayah, dengan tujuan utama memperkuat kehidupan spiritual, sosial, dan pendidikan mereka. Tempat ini biasanya dibangun secara terpadu, menyediakan fasilitas-fasilitas seperti masjid untuk ibadah, ruang kelas untuk pendidikan Islam, perpustakaan, ruang pertemuan, dan fasilitas lain yang mendukung berbagai kegiatan.

Dalam perannya sebagai pusat keagamaan, Islamic Center menyediakan tempat bagi umat Muslim untuk melaksanakan ibadah seperti salat berjamaah, salat Jumat, dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya. Fasilitas masjid yang ada di dalamnya tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah rutin, tetapi juga menjadi wadah bagi peringatan hari-hari besar Islam dan kegiatan lainnya yang memperkuat spiritualitas umat. Selain fungsi ibadah, Islamic Center juga berperan penting dalam edukasi, dengan menawarkan kelas-kelas dan program pendidikan seperti pengajaran Al-Quran, hadis, fiqh, dan pengetahuan agama lainnya, serta bahasa Arab.

Lebih dari sekadar tempat ibadah dan pendidikan, Islamic Center berfungsi sebagai pusat kegiatan sosial dan kemanusiaan yang memungkinkan komunitas Muslim untuk saling membantu dan memberikan dukungan bagi yang membutuhkan. Di sini, kegiatan-kegiatan sosial seperti zakat, sedekah, dan bantuan kemanusiaan diorganisir dan disalurkan kepada masyarakat yang memerlukan. Selain itu, Islamic Center juga seringkali menjadi wadah bagi pertemuan budaya, di mana umat Muslim dapat merayakan dan mengenalkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat sekitar, termasuk kepada non-Muslim.

Islamic Center, dengan segala fasilitas dan kegiatan yang diselenggarakannya, bukan hanya sekadar bangunan, tetapi juga simbol kehadiran Islam di tengah-tengah masyarakat. Di tempat ini, umat Muslim tidak hanya dapat memperkuat identitas keagamaan mereka, tetapi juga membangun solidaritas, berdiskusi, dan bekerja sama untuk menyelesaikan berbagai tantangan sosial, memperkuat rasa persaudaraan, serta memberikan kontribusi yang positif bagi masyarakat luas.

Di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah, prinsip “Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah” telah menjadi pedoman hidup masyarakat sejak lama. Prinsip ini mengandung makna mendalam bahwa adat dan syarak (ajaran agama) tidak bisa dipisahkan; keduanya saling memperkuat dan berjalan beriringan dalam mengatur kehidupan sosial, budaya, dan keagamaan masyarakat. Dalam konteks ini, keberadaan Islamic Center menjadi sangat relevan karena berperan sebagai pusat yang memperkuat integrasi antara nilai-nilai Islam dan adat setempat, menjadikannya tidak hanya sebagai pusat keagamaan, tetapi juga sebagai penjaga nilai-nilai kearifan lokal yang berlandaskan pada ajaran Kitabullah.

Islamic Center di wilayah Jambi berfungsi sebagai ruang yang mendukung penerapan “Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah.” Di sini, komunitas tidak hanya berkumpul untuk beribadah, tetapi juga untuk mempelajari dan menerapkan ajaran Islam yang selaras dengan nilai-nilai adat, yang telah lama menjadi landasan moral masyarakat. Melalui pendidikan agama, pengajaran Al-Quran, serta diskusi keislaman, Islamic Center menanamkan ajaran yang mendasari pentingnya hidup sesuai dengan syarak dan adat yang telah diwariskan oleh para leluhur. Dengan adanya pembelajaran yang intensif mengenai Al-Quran dan nilai-nilai Islam, Islamic Center berperan melestarikan prinsip bahwa adat harus berlandaskan pada syarak yang diajarkan dalam Kitabullah.

Lebih dari sekadar tempat ibadah dan pendidikan, Islamic Center di Jambi juga menjadi pusat bagi kegiatan sosial dan kemanusiaan, mencerminkan semangat gotong royong dan kepedulian yang diwarnai oleh nilai adat dan syarak. Di sini, penggalangan zakat, sedekah, serta bantuan sosial dilakukan dengan prinsip bahwa setiap tindakan sosial memiliki dasar spiritual dan moral yang kuat. Seperti halnya dalam adat Jambi yang mengajarkan kepedulian terhadap sesama, Islamic Center memperkuat komitmen ini dengan melaksanakan kegiatan yang membawa manfaat bagi seluruh anggota masyarakat, terlepas dari latar belakang mereka.

Sebagai simbol kehadiran Islam di Jambi, Islamic Center turut menjaga dan memperkuat identitas masyarakat yang mengakar pada adat dan syarak. Di sinilah peran “Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah” benar-benar terlihat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jambi. Islamic Center menjadi wadah bagi umat untuk berpegang teguh pada ajaran Islam sekaligus menghormati nilai-nilai adat yang diwariskan oleh leluhur, menjadikannya pilar utama yang membentuk karakter masyarakat Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah.

Islamic Center yang berperan sebagai simbol penting dalam memperkuat identitas masyarakat Jambi melalui nilai-nilai adat dan syarak kini justru menjadi sorotan dalam diskusi politik.Debat terbuka calon wakil gubernur Jambi pada segmen kelima berlangsung panas ketika cawagub 01, Sudirman, menyampaikan pandangannya mengenai pembangunan fasilitas publik. Dalam tanggapannya, Sudirman menyatakan bahwa membangun hal-hal seperti sport center dan Islamic Center adalah bentuk pengeluaran yang tidak penting, yang menurutnya tidak memiliki urgensi untuk diprioritaskan dalam anggaran pemerintah daerah. Pernyataan ini menimbulkan reaksi dari berbagai pihak, baik dari calon lawan maupun masyarakat yang menilai kedua fasilitas tersebut justru memiliki nilai strategis bagi pembangunan sosial dan budaya Jambi.

Pernyataan ini menimbulkan kontroversi karena Islamic Center tidak hanya dianggap sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat edukasi agama, sosial, dan budaya bagi masyarakat Jambi, khususnya mereka yang menjunjung tinggi nilai “Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah.” Bagi banyak pihak, keberadaan Islamic Center adalah simbol dari identitas dan keberagaman nilai-nilai Islam yang telah mengakar di tanah Jambi. Sebagai fasilitas yang dapat memperkuat jati diri masyarakat, penolakan terhadap pembangunan Islamic Center seolah mengabaikan kebutuhan spiritual dan kultural yang dirasakan oleh sebagian besar masyarakat.

Pernyataan calon pemimpin yang menolak pembangunan Islamic Center di Provinsi Jambi menunjukkan kurangnya apresiasi terhadap nilai-nilai dan kebutuhan budaya serta keagamaan masyarakat Jambi. Penolakan ini mencerminkan pandangan yang seolah-olah mengabaikan pentingnya pusat keagamaan seperti Islamic Center, yang selama ini berperan besar dalam memperkuat identitas masyarakat Muslim Jambi dan mendukung prinsip “Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah.” Dalam perspektif ini, penolakan terhadap Islamic Center dapat dipahami sebagai bentuk ketidaksensitifan terhadap akar budaya masyarakat yang sangat menghargai tradisi Islam dan adat sebagai satu kesatuan.

Islamic Center, dengan berbagai fasilitas dan kegiatan keagamaannya, memainkan peran penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jambi, yang memadukan adat dan syarak sebagai pedoman hidup. Dengan menolak pembangunannya, calon pemimpin ini terkesan mengabaikan kebutuhan masyarakat untuk memiliki ruang bersama yang bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan sosial dan edukasi yang berbasis nilai-nilai Islam. Tanpa adanya Islamic Center, masyarakat akan kehilangan salah satu wadah utama untuk memperdalam pemahaman agama dan mengembangkan budaya mereka yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Penolakan ini juga bisa ditafsirkan sebagai sikap yang kurang memperhatikan pentingnya pelestarian tradisi lokal yang berlandaskan agama. Islamic Center adalah salah satu bentuk dukungan nyata bagi masyarakat untuk terus menjalankan adat dan syarak dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, sikap menolak pembangunan Islamic Center berpotensi merusak kesinambungan prinsip-prinsip luhur yang menjadi identitas masyarakat Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah.

*Ketua Forum Masyarakat Peduli Pilkada Jambi (FMP2J)

Advertisement Advertisement

OPINI

Jakarta “Tenggelam” Lagi: Mengapa Banjir Subuh Terus Berulang?

DETAIL.ID

Published

on

JAKARTA – Bagi warga Jakarta, suara hujan di dini hari dalam sepekan terakhir bukan lagi pengantar tidur, melainkan alarm peringatan akan lumpuhnya aktivitas kota. Fenomena hujan yang konsisten turun pada waktu subuh hingga pagi hari ini memang bukan kebetulan. Merujuk pada analisis BMKG, dinamika atmosfer yang sangat aktif di wilayah barat Indonesia memicu penumpukan uap air yang tumpah tepat saat warga memulai kesibukan.

Memasuki Jumat siang (23/1/2026), situasi ini mencapai titik kritis. Data terbaru dari pusat informasi kebencanaan menunjukkan eskalasi genangan yang sangat cepat; dari yang semula hanya beberapa titik, kini meluas hingga merendam 143 RT dan memutus akses di 16 ruas jalan protokol utama. Dampaknya signifikan, urat nadi trDocansportasi ibu kota lumpuh akibat banyak kendaraan terjebak di jalur utama yang tidak lagi bisa ditembus.

Kondisi paling mengkhawatirkan terpantau di kawasan Rawa Buaya, Jakarta Barat. Melansir keterangan resmi BPBD DKI Jakarta, ketinggian air di wilayah tersebut telah menyentuh 150 sentimeter. Operasi evakuasi besar-besaran pun terus dilakukan petugas gabungan menggunakan perahu karet untuk menyelamatkan warga yang terisolasi di dalam rumah. Hingga saat ini, laporan lapangan mencatat sedikitnya 387 jiwa telah mengungsi ke posko darurat karena hunian mereka tidak lagi layak ditinggali.

Pertanyaan besarnya adalah: sampai kapan kondisi ini akan bertahan? Proyeksi cuaca memperingatkan bahwa puncak musim hujan diprediksi masih akan berlangsung hingga akhir Februari atau awal Maret 2026. Artinya, ancaman banjir masih akan menjadi risiko harian warga setidaknya untuk sebulan ke depan.

Krisis ini kembali menegaskan bahwa banjir Jakarta bukan sekadar masalah air kiriman, melainkan belum optimalnya sistem drainase kota dalam menampung curah hujan lokal yang ekstrem. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa pembenahan infrastruktur kita masih berkejaran dengan intensitas perubahan iklim dan penurunan muka tanah yang kian nyata.

Sudah saatnya kebijakan publik tidak hanya fokus pada solusi jangka pendek seperti pengerahan pompa atau evakuasi darurat. Diperlukan keberanian untuk mengevaluasi total tata ruang dan mempercepat integrasi sistem kendali air secara menyeluruh. Selama hujan masih dianggap sebagai “kejutan” tahunan, banjir akan terus menjadi identitas pahit yang melekat pada wajah ibu kota.

Puteri Nazwa Layla, Mass Communication Student, Binus University.

Continue Reading

OPINI

Hidup Terasa Mulia Dimulai dari Hormati Guru

Oleh: Ramadhani*

DETAIL.ID

Published

on

GURUKU pahlawanku, guruku orangtua keduaku. Kata itu pengingat peristiwa yang pernah aku alami tahun 1990 sampai 2000an, ketika dunia pendidikan masih tegak lurus dengan adab dan etika. Hubungan guru, siswa, dan orang tua masih dijiwai oleh rasa hormat. Jauh berbeda dari sekarang.

Suatu siang, aku pulang sekolah dengan wajah kusam. Saat mau masuk rumah, bertemu Papa sedang menjahit di mesin jahit.

“Pa, aku dipukul guru. Pa, rambut aku dipotong guru,” aku sambil menangis.

Sejenak Papa berhenti, matanya sedikit melotot seolah mencari jawaban. Tanpa menunjukkan kemarahan, hanya bertanya tanpa tahu kesalahanku, “Pakai apa dia pukul?”

“Pakai mistar, Pa,” jawabku. Papa kemudian berdiri.

Aku pikir Papa pasti membela diriku dan besok akan datang ke sekolah. Tanpa banyak bicara, Papa langsung mengambil mistar di dekatnya, membuat hatiku bertanya.

Bukan membela aku sebagai anak dari darah dagingnya, justru memukul lebih keras dari guruku. Lalu mengambil gunting membotaki rambut. Aku menyesal sudah memberitahunya. Ternyata jauh lebih menyakitkan.

Peristiwa itu terpatri dalam ingatan hingga sekarang. Setelah puluhan tahun berlalu dan aku telah memiliki keluarga sendiri. Bukan sebagai kenangan pahit, tapi sebagai kenangan indah

Seorang guru tak akan mau mengambil tindakan seperti memukul atau memotong rambut muridnya jika bukan karena murid tersebut telah melanggar aturan dengan sengaja dan mengabaikan peringatan.

Istilah guru sebagai orang tua kedua bukan sekadar omong kosong. Mereka tak hanya memberi ilmu pengetahuan dari buku pelajaran, tapi juga membentuk adab, etika, dan kedisiplinan, menjadi pondasi bagi masa depan.

Lihatlah sekeliling kita yang sekarang menjadi pegawai sukses di berbagai perusahaan, tentara menjaga keutuhan negara, anggota polisi yang melindungi keamanan masyarakat, dokter serta insinyur.

Semua itu karena siapa? kalau bukan karena otak dan hati diasah dengan penuh kesabaran oleh para bapak dan ibu guru yang tak pernah mengenal lelah.

Bapak dan ibu kita di rumah memang mencintai sepenuh hati. Tapi mereka tak akan mungkin mampu mengajarkan semua dibutuhkan untuk menghadapi dunia luar, mulai dari kemampuan berpikir kritis, kerja sama tim, hingga nilai-nilai kehidupan seperti kejujuran, tanggung jawab, dan rasa empati terhadap sesama.

Asal tahu saja, menjadi guru tak segampang dibayangkan. Mereka datang ke sekolah sejak jam 7 pagi bahkan lebih awal, hanya untuk mempersiapkan materi pembelajaran. Terkadang harus mengoreksi tugas dan ujian, pulang pun malam.

Waktu berharga dihabiskan bukan untuk anak di rumah. Melainkan untuk anak-anak orang yang baru dikenal.

Harapan mereka sama persis dengan harapan bapak dan ibu di rumah, agar tumbuh menjadi orang berguna bagi diri sendiri, keluarga, dan negara.

Ketika menjadi orang dihormati, gubernur sekalipun, dia tak akan pernah meminta sedikit pun imbalan. Dia juga tak akan pernah mengingatkan tentang apa yang telah diajarkan.

Namun, perbedaan zaman sekarang terasa jauh berbeda. Aku tak ingin menyalahkan siapa-siapa, tapi aku sebut saja sebagai “untul-untul” atau sakit kepala.

Begitu bodoh jika orangtua melihat anaknya mendapat hukuman maupun teguran dari guru, otak mereka langsung bereaksi kotor tanpa mengetahui kesalahan sebenarnya.

Ada lagi, menjadikan guru sebagai musuh dengan melaporkan ke aparat penegak hukum. Lebih parah, ada murid keroyok gurunya.

“Kalau kau benar-benar mampu mengajarkan semua hal yang dibutuhkan anakmu sendiri, mulai dari matematika, bahasa, ilmu pengetahuan, hingga kedisiplinan dan nilai-nilai hidup, sebaiknya kau ajarkan saja anakmu di rumah.”

Jasa guru tak bisa digantikan. Coba bayangkan ketika guru hanya fokus pada mata pelajaran saja, tanpa ada sentuhan kasih sayang. Pasti ilmu diberikan terasa hampa.

Untuk seluruh guru yang membaca tulisan ini, tetap kobarkan tugas muliamu. Jangan lelah untuk mencetak generasi penerus bangsa. Hanya Allah SWT, Tuhan Maha Esa, yang mampu membalas semua kebaikan dan pengorbanan kalian. Hai para murid-murid, cintailah gurumu!

*warga Provinsi Jambi

Continue Reading

OPINI

Warisan Buya Hamka di Padang Panjang: Ketika Seorang Penulis Besar Menjadi “Arsitek Jiwa” Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang

Oleh: Taufikkurahman*

DETAIL.ID

Published

on

DI BALIK gegap gempita modernisasi pendidikan Islam di Indonesia, tersembunyi sebuah permata warisan intelektual yang terpatri dalam dinding-dinding sederhana di Kota Serambi Mekkah, Padang Panjang. Di sinilah, Buya Hamka—seorang sastrawan, ulama, dan pemikir besar—tidak hanya meninggalkan jejak berupa karya tulis, melainkan juga menyelami peran fundamental sebagai mudir (direktur) pertama sekaligus “arsitek jiwa” bagi para santri di Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang.

Padang Panjang di awal abad ke-20 adalah kota pendidikan yang dinamis, tempat pergumulan ide-ide keislaman modern dan tradisi Minangkabau berpadu. Pada tahun 1927, benih pendidikan modern itu ditanam dengan berdirinya Tabligh School di pusat kota Padang Panjang—sebuah sekolah yang menjadi cikal bakal pesantren. Sekolah ini didirikan oleh Muhammadiyah Cabang Padang Panjang sebagai respons terhadap kebutuhan kaderisasi dan dakwah yang sistematis.

Keberadaan sekolah ini memiliki latar geografis yang unik dan historis: ia berdiri di atas lahan yang merupakan lokasi Hotel Merapi di Padang Panjang, sebuah properti yang pada masa itu dimiliki oleh Johanes Paulus Stephanus Rox, seorang tokoh masyarakat. Fakta ini mengungkap dinamika sosial menarik di Padang Panjang masa kolonial, di mana terdapat interaksi dan kemungkinan bentuk dukungan lintas komunitas terhadap pendidikan Islam. Tabligh School inilah yang menjadi embrio dan fondasi fisik awal bagi berdirinya Pesantren Kauman Muhammadiyah.

Kembalinya Hamka ke kota ini pada 1950-an bukan sekadar nostalgia, melainkan sebuah panggilan untuk membentuk institusi yang sudah berdiri puluhan tahun itu. Saat itu, Tabligh School telah melalui perjalanan panjang sejak didirikan pada 1927. Atas kepercayaan dan kebutuhan untuk mentransformasi serta memperkuat visi lembaga, Hamka kembali menjadi pengajar di lembaga ini. Peran ini menempatkannya bukan hanya sebagai figur pengajar, tetapi sebagai pengarah utama visi, kurikulum, dan karakter lembaga yang telah memiliki sejarah nyaris tiga dekade. Dari tangan dinginnyalah, warisan Tabligh School yang telah ada disempurnakan dan diperkaya dengan nilai-nilai yang lebih dalam, sehingga lembaga ini semakin kokoh sebagai pusat pendidikan yang integratif.

Sebagai pemimpin pertama dan “arsitek jiwa,” Hamka mengajarkan bahwa pendidikan agama bukanlah sekadar menghafal teks, melainkan proses memahami diri, masyarakat, dan Tuhan dengan pikiran yang jernih dan hati yang sensitif.

1. Sastra sebagai Jendela Hikmah: Sebagai mudir, Hamka mengintegrasikan kecintaannya pada sastra ke dalam atmosfer pesantren. Ia kerap membawakan kisah-kisah sastra—dari karya sendiri seperti Tenggelamnya Kapal Van der Wijck hingga hikayat klasik—sebagai cermin untuk merefleksikan nilai akhlak, cinta, dan keadilan. Para santri diajak berdialog dengan kompleksitas kehidupan manusia, jauh dari doktrin yang kaku.

2. Tafsir Al-Azhar di Ranah Minang: Pemikiran tafsirnya yang monumental, *Tafsir Al-Azhar*, juga lahir dan diujikan dalam interaksinya dengan dunia pesantren. Gaya penafsirannya yang kontekstual, merangkum sastra, sejarah, dan filsafat, tercermin dalam cara ia membentuk kurikulum dan membuka nalar kritis santri terhadap Al-Qur’an.

3. Keteladanan Kepemimpinan yang Membumi: Sebagai seorang mudir, Hamka hidup sederhana di tengah santri. Ia tidak memimpin dari balik meja, tetapi mengobrol di serambi, mendengarkan keluh kesah, dan memberikan nasihat yang menyentuh langsung persoalan jiwa. Ia menunjukkan bahwa kebesaran seorang pemimpin pendidikan terletak pada kedekatannya dan keteladanannya langsung di tengah murid-muridnya.

Pengaruh Hamka sebagai mudir pertama di Pesantren Kauman Muhammadiyah tidak berhenti pada masa hidupnya. Jejak kepemimpinannya, yang dibangun di atas fondasi sejarah lembaga sejak 1927 di lahan yang bersejarah itu, terus mengalir dalam:

  • Semangat Literasi yang Kuat: Pesantren ini melahirkan santri-santri yang mencintai buku dan menulis, mengikuti tradisi sang guru besar dan mudir pertamanya.
  • Pemikiran Islam yang Terbuka dan Moderat: Corak Islam yang diajarkan Hamka—yang menolak ekstremisme, menghargai budaya lokal, dan aktif dalam pembangunan bangsa—tetap menjadi fondasi pendidikan di pesantren ini, berakar dari visi yang ia tetapkan sejak awal.
  • Spirit Inklusivitas dan Dialog: Lokasi awal sekolah di lahan milik non-Muslim mencerminkan semangat hubungan sosial yang baik, dan Hamka sebagai mudir mengembangkan ini menjadi pendidikan Islam yang percaya diri, terbuka, dan mampu berdialog dengan realitas sosial yang majemuk.

Di era dimana pendidikan yang sering terjebak pada orientasi material dan sertifikasi, warisan Hamka di Padang Panjang mengingatkan kita akan esensi pendidikan sebagai proses memanusiakan. Perannya sebagai mudir pertama dan “arsitek jiwa” menunjukkan bahwa pemimpin pendidikan sejati adalah yang membangun pondasi institusi sekaligus bangunan karakter, akal, dan hati yang kokoh.

Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang, dengan sejarah panjangnya yang bermula dari Tabligh School pada 1927 di atas lahan Hotel Merapi, dan kemudian dipimpin serta dibentuk oleh seorang Hamka, bukan hanya bagian dari memori masa lalu. Ia adalah monumen hidup yang membuktikan bahwa karya terbesar seorang penulis, ulama, dan pemimpin adalah lembaga dan manusia-manusia yang dibentuknya: generasi yang berilmu, berakhlak, dan mampu merawat warisan pemikiran dengan jiwa yang merdeka.

Sebagaimana Hamka pernah menulis, “Hidup ini bukan untuk mencari hidup, tapi untuk memberi arti hidup” Di Padang Panjang, sebagai mudir pertama yang meneruskan estafet lembaga sejak 1927 dari sebuah lahan yang menyimpan cerita inklusivitas, ia telah memberi arti dan bentuk yang lebih dalam—meletakkan batu pertama sebuah transformasi spiritual-intelektual dan menyentuh setiap jiwa yang diasuhnya, yang hingga hari ini terus menyala dalam cahaya ilmu dan kearifan.

*Tim Humas Pesantren Kauman Padang Panjang

Continue Reading
Advertisement Advertisement
Advertisement ads

Dilarang menyalin atau mengambil artikel dan property pada situs