PENJURU
Tiga Negara Kritik Vaksin COVID-19 Sinovac
detail.id/, Jakarta – Vaksin Sinovac buatan perusahaan farmasi asal China menuai kritik di sejumlah negara yang memesannya. Kritik tersebut datang dari Brasil, Filipina, dan Kamboja.
Hingga saat ini, belum diketahui data keamanan dan efikasi (kemanjuran) dari uji klinis tahap ketiga vaksin Sinovac. Hal ini berbeda dari Pfizer yang telah mengeluarkan data efikasi yaitu 90 persen efektif, dan Moderna dengan klaim tingkat efektifitas hingga 94,5 persen.
Padahal, tingkat efikasi menjadi unsur penentu bagi pihak berwenang untuk mengeluarkan izin penggunaan darurat.
Sejauh ini, negara-negara yang menyatakan kesediaan untuk menggunakan vaksin itu yakni Indonesia, Brasil, Turki, Kamboja, dan Filipina.
[jnews_element_newsticker newsticker_title=”Baca Juga ” newsticker_icon=”empty” enable_autoplay=”true” number_post=”7″ post_offset=”1″]
Sinovac sendiri telah melakukan uji klinis di Indonesia dan Brasil.
Dilansir dari CNNIndonesia, Di Indonesia, Sinovac menggelar uji klinis fase ketiga sejak Agustus 2020. Sudah ada 1.620 relawan yang mendapatkan suntikan pertama dan 1.610 yang disuntik kedua. Uji klinis tersebut berlangsung di Bandung, Jawa Barat.
Sementara di Brasil, Sinovac bekerja sama dengan Institut Butantan di Sao Paulo. Institut Butantan adalah pusat penelitian biomedis dan pembuat vaksin di Brasil.
Uji klinis tahap 3 diikuti oleh sekitar 13 ribu relawan. Setelah hasil uji klinis diumumkan, Brasil akan mulai melakukan vaksinasi pada akhir Maret mendatang.
Namun upaya penggunaan vaksin Sinovac bukan tanpa tantangan. Muncul pro dan kontra atas pembelian vaksin tersebut.
Otoritas kesehatan Brasil, Anvisa, pada Senin 14 Desember menuduh Sinovac menggunakan kriteria yang “tidak transparan” untuk mendapatkan persetujuan atas penggunaan vaksin CoronaVac.
“Kriteria yang diterapkan China untuk memberikan otorisasi penggunaan darurat (vaksin) di China tidak transparan,” kata Anvisa dalam sebuah pernyataan.
Anvisa, yang awal Desember lalu sempat mengirim tim untuk mengunjungi pabrik Sinovac di Beijing, juga memperingatkan soal pengaruh geopolitik terkait vaksin itu.
Selain mendapatkan tuduhan oleh Anvisa, Sinovac juga tak luput dari pusara konflik di Brasil. Vaksin itu telah menjadi sumber perseteruan antara Presiden Jair Bolsonaro, Gubernur Sao Paulo Joao Doria, dan pemerintah China.
Bolsonaro bahkan meremehkan vaksin itu dengan menjulukinya “vaksin China Joao Doria”.
Sementara di Filipina, pemerintah setempat menuai kritik dari parlemen lantaran tengah merampungkan kesepakatan pembelian 25 juta dosis vaksin Sinovac.
[jnews_element_newsticker newsticker_title=”Baca Juga ” newsticker_icon=”empty” enable_autoplay=”true” number_post=”7″ post_offset=”1″]
Kepala Gugus Tugas Penanggulangan Covid-19 Filipina, Carlito Galvez Jr. mengatakan pengadaan vaksin itu rencananya akan berlangsung pada Maret 2021 mendatang.
Dilansir Philippines Lifestyle, Kamis 17 Desember, kritik itu disampaikan oleh Senator Risa Hontiveros. Dia mengatakan seharusnya pemerintah Filipina membeli vaksin yang terbukti ampuh secara ilmiah ketimbang alasan politis.
“Ada beragam permasalahan yang ada di sekitar vaksin yang ditawarkan China, termasuk keterbukaan data dan hasil uji klinis, efek samping seperti yang kita lihat di Peru dan bahkan sejarah tindak pidana suap yang dilakukan perusahaan itu,” kata Hontiveros melalui pernyataan pers.
Surat kabar The Washington Post melaporkan bahwa direktur Sinovac mengakui dirinya melakukan tindak pidana suap. Bahkan, Hontiveros juga menyinggung sikap Presiden Rodrigo Duterte terhadap China yang dinilainya kerap bias.
“Jangan korbankan kesehatan rakyat Filipina dengan sikap Presiden yang bias terhadap China, yang terus menerus menolak keputusan Mahkamah Internasional di Den Haag (soal klaim kepemilikan Laut China Selatan) dan melanggar perairan kita,” ucap Hontiveros.
Perdana Menteri Kamboja Hun Sen mengatakan negaranya belum akan menggunakan vaksin Sinovac untuk vaksinasi warganya.
Menurut Hun Sen, negaranya tidak akan menerimavaksin corona yang tidak disertifikasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
[jnews_element_newsticker newsticker_title=”Baca Juga ” newsticker_icon=”empty” enable_autoplay=”true” number_post=”7″ post_offset=”1″]
Padahal sudah kesepakatan antara Kamboja dan China untuk pengadaan vaksin Sinovac.
“Kamboja bukan tempat sampah dan bukan tempat untuk uji coba vaksin,” ujarnya dikutip dariNikkei Asia merujuk pada kesepakatan antara Kamboja dan China terkait kerja sama vaksin Sinovac.
WHO sejauh ini memang belum menyetujui kandidat vaksin Covid-19 mana pun, termasuk Sinovac.
PENJURU
ASEAN Paragames Thailand, Bayu Raih 5 Medali
DETAIL.ID, Bangkok – Atlet disabilitas asal Kabupaten Sarolangun, Bayu Putra Yuda, berjaya di ASEAN Paragames Thailand. Atlet tunadaksa binaan National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) ini berhasil menyumbangkan lima medali dari cabang olahraga renang.
Kelima medali tersebut berupa dua emas, dua perak, dan satu perunggu.
Medali perunggu diperoleh hari ini dari nomor 50 meter gaya dada putra SM10.
Sehari sebelumnya dia meraih dua medali perak dari nomor 50 meter gaya kupu-kupu dan 100 meter gaya dada.
Beberapa hari sebelumnya, atlet yang juga menjabat sekretaris NPCI Kabupaten Sarolangun ini meraih dua medali emas di 200 meter gaya bebas dan nomor 200 meter medley.
Kepada media ini, Bayu mengaku sangat sangat bersyukur atas pencapaian prestasinya di ASEAN Paragames Thailand.
“Alhamdulillah, berkat dukungan semua pihak, khususnya istri dan anak saya, prestasi ini bisa saya raih,” ujar Bayu, Minggu, 25 Januari 2026.
Ia berharap atlet disabilitas Jambi lainnya juga bisa berprestasi seperti dirinya.
“Pasti bisa, asal punya kemauan keras, berjuang keras, dan disiplin,” ujarnya.
Rencananya, tambah Bayu, usai ASEAN Paragames Thailand, dirinya akan pulang ke Sarolangun, Jambi. (***)
PENJURU
ASEAN Paragames Thailand, Bayu Raih Emas Kedua
DETAIL.ID, Bangkok – Atlet renang binaan National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Bayu Putra Yuda kembali menorehkan prestasi gemilang di ajang pertandingan olahraga disabilitas tingkat Asia Tenggara, ASEAN Paragames Thailand. Ia meraih medali emas keduanya melalui nomor pertandingan 200 meter individual medley putra S10.
Sehari sebelumnya, Bayu juga mempersembahkan medali emas untuk kontingen Indonesia di nomor pertandingan 200 meter gaya bebas putra S10.
“Alhamdulillah, berhasil meraih medali emas, ini emas yang kedua,” kata Bayu Putra Yuda kepada ini usai Upacara Penghormatan Pemenang (UPP) di Swimming Pool, Sports Authority of Thailand, Bangkok pada Jumat, 23 Januari 2026.
Atlet tuna daksa asal Kabupaten Sarolangun ini mengaku sangat bahagia. Menurutnya, tidak sia-sia dia berlatih keras. Setahun terakhir, Bayu mengikuti program Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) di Solo, Jawa Tengah.
Bayu mengaku masih akan mengikuti tiga nomor pertandingan lagi. Dia berharap di tiga nomor tersisa dirinya kembali mempersembahkan medali untuk kontingen Indonesia.
Ketua NPCI Provinsi Jambi Mhd Yusuf, SE mengaku bangga atas raihan prestasi atletnya. “Dia berlatih keras, tidak meninggalkan program Pelatnas, bahkan ketika di Jambi ada even Pekan Paralimpiade Provinsi atau Peparprov, Bayu tetap di Solo untuk mengikuti Pelatnas. Hasil tidak membohongi usaha dan kerja kerasnya,” ujar Yusuf.
Yusuf berharap pemerintah memberikan penghargaan kepada Bayu. “Dia disabilitas, berprestasi tingkat internasional, sudah sepantasnya pemerintah memberikan penghargaan khusus kepada Bayu, misalnya diangkat menjadi Aparatur Sipil Negeri,” ucapnya. (*)
PENJURU
Bayu Raih Medali Emas Perdana di ASEAN Paragames Thailand
DETAIL.ID, Bangkok – Atlet renang asal Kabupaten Sarolangun, Bayu Putra Yuda, berhasil menorehkan prestasi gemilang di ASEAN Paragames Thailand. Dia mempersembahkan medali emas untuk kontingen Indonesia.
“Alhamdulillah, dapat medali emas. Alhamdulillah,” kata Bayu Putra Yuda, usai pertandingan di Swimming Pool, Sports Authority of Thailand (SAT), Bangkok pada Kamis, 22 Januari 2026.
Atlet binaan National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kabupaten Sarolangun ini mempersembahkan medali emas di nomor 200 meter gaya bebas putra S10.
Nomor ini merupakan nomor pertama kali dipertandingkan di ASEAN Paragames. Bayu mencatatkan waktu 2.18.22.
Bayu mengalahkan perenang tuan rumah yang harus puas dengan medali perak. Sementara medali perunggu diperoleh atlet Myanmar.
Catatan waktu yang diperoleh Bayu langsung dicatat sebagai rekor ASEAN Paragames.
Bayu menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mensupport perjuangannya.
‘Terutama kepada istri dan anak saya. Terima kasih telah memberikan support hingga di titik ini,” ujarnya. (*)


