OPINI
Mengidentifikasi Calon Pemimpin Profetik dalam Pilkada Serentak
MEMILIH adalah bagian dari hidup. Di hadapan kita selalu ada pilihan, mulai dari hal yang terkecil sampai hal yang terbesar, mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. Kita tidak bisa lari dari tindakan memilih, karena hanya dengan cara seperti itu bisa terlepas dari tuntutan moral dan tanggung jawab.
Memilih adalah sebuah tanggung jawab dan sebuah kewajiban mulia. Memilih merupakan sikap untuk menentukan arah jalannya sejarah, sekecil apa pun dan apa pun pilihan itu. Memutuskan untuk memilih atau tidak akan membawa akibat yang panjang, meski tidak terasa secara langsung. Apalagi jika pilihan itu menyangkut nasib bangsa atau masyarakat. Karena itu, dalam menentukan pilihan harus dilakukan dengan cerdas, penuh kewaspadaan dan tanggung jawab serta kesadaran akan implikasinya.
Kesalahan kita dalam memilih calon pemimpin berarti petaka bagi bangsa ini. Sebaliknya, jika kita mengerahkan segenap daya dan upaya untuk mengetahui rekam jejak (track record) calon pemimpin untuk mengetahui siapa yang terbaik di antara mereka, untuk kemudian memilihnya, merupakan ciri-ciri pemilih cerdas dan merupakan angin surga bagi perbaikan bangsa ini.
Untuk itu, pilihlah pemimpin sesuai dengan konteks mentransformasi kesejahteraan masyarakat, yaitu pemimpin yang visi dan misinya menyentuh ‘akar-rumput’ persoalan umat, yang programnya bisa diimplementasikan dan dirasakan oleh setiap anak bangsa dimana pun dia berada tanpa ada diskriminasi.
Saat pilkada serentak kali ini, cerdas dan kritislah terhadap calon pemimpin yang mudah mengobral janji. Seorang calon pemimpin yang banyak memberikan janji jangan langsung dipercaya. Jika akan memilih pemimpin, lebih baik pilihlah orang-orang yang sepanjang hayatnya memberikan bukti daripada yang hanya bisa memberikan janji.
Untuk itu, jangan menentukan pilihan didasarkan pada afiliasi partai politik, kesamaan etnisitas, pragmatisme politik. Pragmatisme ini bisa muncul karena banyak hal, seperti politik uang, kedekatan dengan kandidat, dan sebagainya.
Tapi tentukan pilihan karena visi, misi dan program dan yang penting integritas kandidat. Pemilih harus cerdas dalam memilih pemimpin ke depan yang mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik bagi rakyat. Kecerdasan pemilih akan diuji dalam Pilkada Serentak mendatang, khususnya analisis kritisnya dalam menerjemahkan visi-misi yang pro-rakyat,
Yang ‘paling ideal’ bisa dilakukan pemilih adalah meyakinkan diri bahwa memilih pemimpin itu ibadah yang tak terhitung pahalanya. Supaya ‘ibadah’ ini tidak kehilangan arah, pemilih harus mencari ‘seorang figur’, seorang suri teladan yang menjadi acuan pemilih dalam ‘ibadah’ itu. Figur yang ideal yang bisa dicontoh pada setiap kondisi adalah model pemimpin para Nabi, yang disebut kepemimpinan profetik.
[jnews_element_newsticker newsticker_title=”Baca Juga” newsticker_icon=”empty” enable_autoplay=”true” autoplay_delay=”2500″ newsticker_animation=”vertical”]
Kepemimpinan profetik adalah model kepemimpinan yang digali dari konsep dan praktik kepemimpinan Rasulullah Saw dalam membangun masyarakat baru yang berdasarkan keyakinan ilahiyah dan prinsip-prinsip ajaran Islam. Kepemimpinan profetik membawa misi kemajuan moral dan spiritual manusia, menanamkan motif-motif kehidupan yang lebih tinggi dan agung, yaitu berupa kualitas kebaikan, keindahan, keadilan, kedermawanan, kehalusan, dan sifat-sifat agung lainnya. Berbekal sifat dan karakter tersebut, maka semua nabi dan rasul sukses membawa perubahan dan kemajuan membangun sikap hidup pengikut dan masyarakatnya sesuai dengan zamannya masing-masing (Mujtahid, 2011).
Micheal H. Hart menempatkan Nabi Muhammad SAW dalam urutan pertama di antara seratus tokoh yang paling berpengaruh. Pilihan ini bukan tanpa alasan. Nabi Muhammad SAW berhasil mengubah sendi-sendi kehidupan manusia. Perubahan yang dilakukan olehnya masih terasa sampai saat ini. Ajarannya senantiasa dilaksanakan terus-menerus oleh umatnya tanpa perubahan apa pun. Bukan janji belaka tetapi bukti nyata yang dapat diterima oleh semua manusia
Idealnya pemilih mempertimbangkan 7 (tujuh) ayat tentang karakteristik pemimpin profetik yang bisa dilakukan yang diadaptasi dari (Mujtahid, 2011):
Pertama, shidiq (jujur). Pemimpin yang profetik mengedepankan integritas moral (akhlak), satunya kata dan perbuatan. Pemimpin yang “shiddiq” selalu bekerja pada kebenaran, tulus, adil, serta menghormati kebenaran yang diyakini pihak lain, bukan merasa diri atau pihaknya paling benar. Dalam memimpin, dia jujur menggunakan model, desain, pendekatan, strategi, metode, prosedur sesuai dengan karakteristik daerah dan masyarakat.
Kedua, amanah. Pemimpin yang profetik mengutamakan nilai-nilai tanggung jawab, dapat dipercaya, dapat diandalkan, jaminan keberhasilan, profesional dalam melaksanakan tugasnya. Dalam bekerja, dia dipercaya, diandalkan karena dia selalu memberi yang terbaik untuk rakyatnya, selalu bertanggung jawab atas amanah yang diberikan dan kerjanya selalu memuaskan semua pihak.
Ketiga, tabligh. Pemimpin yang profetik berinteraksi dan berkomunikasi dengan efektif, memiliki visi, inspirasi dan motivasi yang jauh ke depan. Dia ‘orator’ sejati, bahasanya simpel, mudah dipahami, diamalkan, dan dialami oleh masyarakat. Apa yang disampaikan kepada rakyat selalu menjadi motivasi untuk berkarya.
Keempat, fathanah (cerdas). Pemimpin yang profetik itu punya kecerdasan majemuk: intelektual, emosional dan spiritual. Pemimpin ini tidak pintar tapi cerdas. Pemimpin ini adalah pemimpin pembelajar, mampu mengambil hikmah dari pengalaman, percaya diri, cermat, inovatif dan bermotivasi tinggi. Setiap kata yang keluar dari ‘mulut’ pemimpin selalu membuat masyarakat bahagia.
Kelima, istiqamah (konsisten). Pemimpin yang profetik berprinsip selalu ingin berubah ke arah yang lebih baik. Pemimpin yang istiqamah adalah pemimpin yang taat peraturan, tekun, disiplin, pantang menyerah, bersungguh-sungguh. Dia selalu bekerja cerdas untuk menyejahterakan rakyatnya, dia tidak pernah menyerah.
Keenam, ijtihad. Pemimpin yang profetik selalu berpikir. Setiap permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat, dijadikan media untuk berijtihad mencari solusi terbaik, win-win solution: tidak pihak yang dirugikan, dan tidak ada pula pihak yang memanfaat permasalahan ini untuk keuntungan pribadi.
Ketujuh, muhasabah (intropeksi diri). Pemimpin yang profetik berprinsip tulis apa yang dikerjakan dan kerjakan apa yang ditulis dalam rangka menjadi bahan untuk introspeksi diri. Dia selalu belajar dari kesalahan dan tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Dia bermuhasabah dan berpikir kritis untuk mencari alternatif meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.
Jadi, karakter seperti Nabi inilah yang semestinya dijadikan referensi dalam memilih pemimpin. Kita memang tidak akan ‘pernah’ menjadi manusia layaknya seorang Nabi, tetapi kita bisa “mengarahkan” dirinya seperti layaknya Nabi khususnya dalam mencari pemimpin.
Mari kita mulai mengidentifikasi mana calon pemimpin yang karakter profetik. Lihat apa dia katakan, perhatikan apa yang pernah dikerjakan, lalu cocokkan, baru menentukan pilihan. Mari mencoba.
*) Penulis adalah seorang pendidik di Madrasah
OPINI
Mendidik Meneguhkan Karakter Generasi Penerus
DI TENGAH derasnya arus globalisasi dan transformasi digital, generasi Z dan Alpha tumbuh dalam dunia yang serba cepat, instan, dan penuh distraksi. Informasi hadir tanpa batas di genggaman, namun ruang untuk merenung justru semakin sempit. Dalam situasi ini, pendidikan tidak lagi dapat dimaknai sekadar sebagai proses transfer ilmu pengetahuan, melainkan sebagai fondasi peradaban yang memanusiakan manusia secara utuh. Pendidikan sejati bukan hanya mencerdaskan akal, tetapi juga menumbuhkan nurani, membentuk karakter, dan mengarahkan manusia pada makna hidup yang lebih luhur. Filsuf pendidikan John Dewey pernah menegaskan, “Education is not preparation for life, education is life itself.” Pendidikan bukan sekadar persiapan hidup, melainkan proses kehidupan itu sendiri yang membentuk keutuhan pribadi manusia.
Kesadaran ini menjadi semakin relevan ketika kita melihat bahwa kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi atau kekuatan ekonomi, tetapi oleh kualitas karakter generasi penerusnya. Dalam konteks Indonesia, pendidikan berbasis nilai Pancasila dan semangat P4 (Pedoman, Penghayatan, dan Pengamalan Pancasila) menemukan urgensinya kembali. P4 bukan sekadar dokumen historis, melainkan kompas moral kebangsaan yang membimbing generasi muda agar tidak kehilangan arah di tengah krisis nilai, polarisasi sosial, dan budaya pragmatis yang kian menguat. Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang unggul secara teknologi, tetapi juga bangsa yang kokoh secara moral, sosial, dan spiritual.
Menghidupkan kembali pendidikan karakter berbasis Pancasila di sekolah berarti meneguhkan jati diri bangsa di tengah arus global. Kurikulum boleh adaptif terhadap perkembangan zaman digital, tetapi nilai tidak boleh dikompromikan oleh perubahan zaman. Sejalan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara, “Pendidikan adalah tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak.” Artinya, pendidikan harus membimbing, bukan sekadar mengarahkan secara mekanis. Pendidikan yang tercerabut dari akar kebangsaan berisiko melahirkan generasi cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara moral dan identitas.
Dalam perspektif humanis, pendidikan pada hakikatnya adalah proses memanusiakan manusia. Paulo Freire dalam gagasannya tentang pendidikan pembebasan menyatakan bahwa “pendidikan harus menjadi praksis pembebasan, bukan penindasan”. Pendidikan yang memerdekakan tidak mencetak manusia yang patuh secara pasif, tetapi membentuk pribadi yang sadar, kritis, dan reflektif. Generasi Z dan Alpha bukan generasi yang kekurangan informasi, melainkan generasi yang membutuhkan makna. Oleh karena itu, proses belajar tidak boleh berhenti pada hafalan dan capaian akademik semata, tetapi harus menyentuh pengalaman, refleksi, aksi, dan evaluasi. Dari pengalaman lahir refleksi, dari refleksi lahir kesadaran, dan dari kesadaran lahir tindakan yang bernilai.
Hakekatnya, pendidikan karakter yang kuat tidak dapat dilepaskan dari peran guru sebagai ujung tombak pendidikan. Di tengah perubahan zaman, martabat guru menghadapi tantangan yang kompleks. Status profesional dan sertifikasi tidak otomatis menjamin kepercayaan publik jika tidak disertai keteladanan. Aristoteles pernah mengatakan, “Educating the mind without educating the heart is no education at all.” Pernyataan ini menegaskan bahwa pendidikan tanpa pembentukan hati dan karakter hanyalah kecerdasan yang kehilangan arah. Guru tidak cukup hanya menjadi pengajar, tetapi harus menjadi inspirator, fasilitator, dan pemimpin pembelajaran yang humanis.
Karakteristik generasi Z dan Alpha yang adaptif, terbuka, dan melek teknologi menuntut pendekatan pendidikan yang relevan dan bermakna. Mereka hidup dalam budaya digital yang cepat, namun sering kali kurang ruang refleksi dan kedalaman makna. Dalam konteks ini, keteladanan menjadi metode pendidikan karakter yang paling efektif. Murid mungkin lupa teori yang diajarkan, tetapi mereka akan selalu mengingat sikap, nilai, dan integritas gurunya. Seperti yang diungkapkan oleh Albert Schweitzer, “Example is not the main thing in influencing others. It is the only thing”, bahwa teladan bukanlah hal utama dalam memengaruhi orang lain, tetapi teladan adalah satu-satunya hal yang penting.
Lebih jauh, pendidikan sejatinya adalah proses kepemimpinan diri. Prinsip “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani” menegaskan bahwa pendidikan adalah seni mendampingi manusia agar bertumbuh secara otentik. Pendidikan yang humanis akan melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan tanggung jawab moral. Dalam perjalanan pendidikan, baik bagi murid maupun guru, selalu terdapat dimensi batin: proses belajar, berjuang, gagal, dan bangkit kembali merupakan ruang pembentukan kedewasaan diri. Friedrich Nietzsche pernah menulis, “He who has a why to live can bear almost any how.” Pendidikan yang bermakna membantu manusia menemukan “mengapa” dalam hidupnya, bukan sekadar “bagaimana” untuk sukses.
Pada akhirnya, masa depan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan karakter yang ditanamkan hari ini di sekolah. Jika pendidikan hanya berorientasi pada capaian akademik, maka kita mungkin menghasilkan generasi cerdas namun kehilangan arah. Sebaliknya, jika pendidikan berlandaskan nilai Pancasila, humanisme, dan refleksi, maka akan lahir generasi yang berprinsip, berintegritas, dan berbelarasa. Pendidikan bukan sekadar soal apa yang diajarkan, tetapi siapa yang dibentuk. Ketika pendidikan mampu memerdekakan pikiran, menumbuhkan karakter, dan memanusiakan manusia, maka di sanalah pendidikan menjalankan misi sejatinya untuk menjaga martabat manusia sekaligus menyelamatkan peradaban.
*Guru SMA Kolese De Britto Yogyakarta
OPINI
Jakarta “Tenggelam” Lagi: Mengapa Banjir Subuh Terus Berulang?
JAKARTA – Bagi warga Jakarta, suara hujan di dini hari dalam sepekan terakhir bukan lagi pengantar tidur, melainkan alarm peringatan akan lumpuhnya aktivitas kota. Fenomena hujan yang konsisten turun pada waktu subuh hingga pagi hari ini memang bukan kebetulan. Merujuk pada analisis BMKG, dinamika atmosfer yang sangat aktif di wilayah barat Indonesia memicu penumpukan uap air yang tumpah tepat saat warga memulai kesibukan.
Memasuki Jumat siang (23/1/2026), situasi ini mencapai titik kritis. Data terbaru dari pusat informasi kebencanaan menunjukkan eskalasi genangan yang sangat cepat; dari yang semula hanya beberapa titik, kini meluas hingga merendam 143 RT dan memutus akses di 16 ruas jalan protokol utama. Dampaknya signifikan, urat nadi trDocansportasi ibu kota lumpuh akibat banyak kendaraan terjebak di jalur utama yang tidak lagi bisa ditembus.
Kondisi paling mengkhawatirkan terpantau di kawasan Rawa Buaya, Jakarta Barat. Melansir keterangan resmi BPBD DKI Jakarta, ketinggian air di wilayah tersebut telah menyentuh 150 sentimeter. Operasi evakuasi besar-besaran pun terus dilakukan petugas gabungan menggunakan perahu karet untuk menyelamatkan warga yang terisolasi di dalam rumah. Hingga saat ini, laporan lapangan mencatat sedikitnya 387 jiwa telah mengungsi ke posko darurat karena hunian mereka tidak lagi layak ditinggali.
Pertanyaan besarnya adalah: sampai kapan kondisi ini akan bertahan? Proyeksi cuaca memperingatkan bahwa puncak musim hujan diprediksi masih akan berlangsung hingga akhir Februari atau awal Maret 2026. Artinya, ancaman banjir masih akan menjadi risiko harian warga setidaknya untuk sebulan ke depan.
Krisis ini kembali menegaskan bahwa banjir Jakarta bukan sekadar masalah air kiriman, melainkan belum optimalnya sistem drainase kota dalam menampung curah hujan lokal yang ekstrem. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa pembenahan infrastruktur kita masih berkejaran dengan intensitas perubahan iklim dan penurunan muka tanah yang kian nyata.
Sudah saatnya kebijakan publik tidak hanya fokus pada solusi jangka pendek seperti pengerahan pompa atau evakuasi darurat. Diperlukan keberanian untuk mengevaluasi total tata ruang dan mempercepat integrasi sistem kendali air secara menyeluruh. Selama hujan masih dianggap sebagai “kejutan” tahunan, banjir akan terus menjadi identitas pahit yang melekat pada wajah ibu kota.
Puteri Nazwa Layla, Mass Communication Student, Binus University.
OPINI
Hidup Terasa Mulia Dimulai dari Hormati Guru
GURUKU pahlawanku, guruku orangtua keduaku. Kata itu pengingat peristiwa yang pernah aku alami tahun 1990 sampai 2000an, ketika dunia pendidikan masih tegak lurus dengan adab dan etika. Hubungan guru, siswa, dan orang tua masih dijiwai oleh rasa hormat. Jauh berbeda dari sekarang.
Suatu siang, aku pulang sekolah dengan wajah kusam. Saat mau masuk rumah, bertemu Papa sedang menjahit di mesin jahit.
“Pa, aku dipukul guru. Pa, rambut aku dipotong guru,” aku sambil menangis.
Sejenak Papa berhenti, matanya sedikit melotot seolah mencari jawaban. Tanpa menunjukkan kemarahan, hanya bertanya tanpa tahu kesalahanku, “Pakai apa dia pukul?”
“Pakai mistar, Pa,” jawabku. Papa kemudian berdiri.
Aku pikir Papa pasti membela diriku dan besok akan datang ke sekolah. Tanpa banyak bicara, Papa langsung mengambil mistar di dekatnya, membuat hatiku bertanya.
Bukan membela aku sebagai anak dari darah dagingnya, justru memukul lebih keras dari guruku. Lalu mengambil gunting membotaki rambut. Aku menyesal sudah memberitahunya. Ternyata jauh lebih menyakitkan.
Peristiwa itu terpatri dalam ingatan hingga sekarang. Setelah puluhan tahun berlalu dan aku telah memiliki keluarga sendiri. Bukan sebagai kenangan pahit, tapi sebagai kenangan indah
Seorang guru tak akan mau mengambil tindakan seperti memukul atau memotong rambut muridnya jika bukan karena murid tersebut telah melanggar aturan dengan sengaja dan mengabaikan peringatan.
Istilah guru sebagai orang tua kedua bukan sekadar omong kosong. Mereka tak hanya memberi ilmu pengetahuan dari buku pelajaran, tapi juga membentuk adab, etika, dan kedisiplinan, menjadi pondasi bagi masa depan.
Lihatlah sekeliling kita yang sekarang menjadi pegawai sukses di berbagai perusahaan, tentara menjaga keutuhan negara, anggota polisi yang melindungi keamanan masyarakat, dokter serta insinyur.
Semua itu karena siapa? kalau bukan karena otak dan hati diasah dengan penuh kesabaran oleh para bapak dan ibu guru yang tak pernah mengenal lelah.
Bapak dan ibu kita di rumah memang mencintai sepenuh hati. Tapi mereka tak akan mungkin mampu mengajarkan semua dibutuhkan untuk menghadapi dunia luar, mulai dari kemampuan berpikir kritis, kerja sama tim, hingga nilai-nilai kehidupan seperti kejujuran, tanggung jawab, dan rasa empati terhadap sesama.
Asal tahu saja, menjadi guru tak segampang dibayangkan. Mereka datang ke sekolah sejak jam 7 pagi bahkan lebih awal, hanya untuk mempersiapkan materi pembelajaran. Terkadang harus mengoreksi tugas dan ujian, pulang pun malam.
Waktu berharga dihabiskan bukan untuk anak di rumah. Melainkan untuk anak-anak orang yang baru dikenal.
Harapan mereka sama persis dengan harapan bapak dan ibu di rumah, agar tumbuh menjadi orang berguna bagi diri sendiri, keluarga, dan negara.
Ketika menjadi orang dihormati, gubernur sekalipun, dia tak akan pernah meminta sedikit pun imbalan. Dia juga tak akan pernah mengingatkan tentang apa yang telah diajarkan.
Namun, perbedaan zaman sekarang terasa jauh berbeda. Aku tak ingin menyalahkan siapa-siapa, tapi aku sebut saja sebagai “untul-untul” atau sakit kepala.
Begitu bodoh jika orangtua melihat anaknya mendapat hukuman maupun teguran dari guru, otak mereka langsung bereaksi kotor tanpa mengetahui kesalahan sebenarnya.
Ada lagi, menjadikan guru sebagai musuh dengan melaporkan ke aparat penegak hukum. Lebih parah, ada murid keroyok gurunya.
“Kalau kau benar-benar mampu mengajarkan semua hal yang dibutuhkan anakmu sendiri, mulai dari matematika, bahasa, ilmu pengetahuan, hingga kedisiplinan dan nilai-nilai hidup, sebaiknya kau ajarkan saja anakmu di rumah.”
Jasa guru tak bisa digantikan. Coba bayangkan ketika guru hanya fokus pada mata pelajaran saja, tanpa ada sentuhan kasih sayang. Pasti ilmu diberikan terasa hampa.
Untuk seluruh guru yang membaca tulisan ini, tetap kobarkan tugas muliamu. Jangan lelah untuk mencetak generasi penerus bangsa. Hanya Allah SWT, Tuhan Maha Esa, yang mampu membalas semua kebaikan dan pengorbanan kalian. Hai para murid-murid, cintailah gurumu!
*warga Provinsi Jambi


