OPINI
Pentingnya Integritas Seorang Pemimpin Perguruan Tinggi
INTEGRITAS adalah kata yang sering dan memang layak digunakan untuk menilai kualitas yang sesungguhnya dari seseorang. Terlebih lagi bila orang tersebut merupakan calon pemimpin atau pemimpin.
Sebagai contoh, dalam berbagai ajang kampanye calon pemimpin, sering ditemui bahwa secara pengetahuan, kemampuan, maupun visi kualitas calon pemimpin hanya berbeda tipis. Namun, ketika para kandidat tersebut diukur berdasarkan integritasnya, di situlah tampak perbedaannya.
Selain sebagai ukuran pembeda, integritas juga diyakini akan memberikan pengaruh besar terhadap kemajuan institusi. Pengetahuan, keahlian dan visi memang diperlukan, tapi tanpa integritas.
Semua itu hanyalah hiasan yang bisa jadi dimanfaatkan untuk mengelabui orang lain karena seperti sudah menjadi suatu keharusan dalam berbagai ajang pemilihan pemimpin, isu-isu terkait integritas biasanya merebak. Mulai dari hal-hal kecil seperti ucapan dan tindak tanduk hingga hal-hal besar seperti korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) dan standar moral. Hal ini semua membuktikan bahwa integritas benar-benar faktor yang sangat penting dalam menilai kualitas sesungguhnya dari seorang pemimpin.
Pemilihan rektor Unpad yang lalu, telah mengundang perhatian nasional karena salah satu calon rektor ditengarai memiliki problem moralitas (tindakan KDRT ). Tidak kurang dari Komnas Perempuan, Ombudsman dan Menristekdikti telah memberikan pendapatnya. Pihak Ombudsman telah menyampaikan pandangan agar Majelis Wali Amanah (MWA) Universitas Padjadjaran meninjau kembali calon rektornya.
Komnas Perempuan telah mengirim surat kepada Presiden untuk menolak calon rektor terkait. Menristekdikti mensinyalir ada tahapan proses yang diabaikan dan meminta MWA untuk mengulang proses pencalonan rektor.
Fenomena seperti ini tidak hanya saat ini saja muncul di permukaan. Faktor moralitas di ranah publik cenderung diabaikan. Para pejabat publik di legislatif, eksekutif maupun yudikatif boleh dibilang sangat meremehkan faktor moral.
Bila pejabat di negara lain sudah mengundurkan diri hanya ketika kelakuan buruk mereka terungkap di publik, di sini nyaris tidak ada pejabat yang mengundurkan diri. Mereka selalu beralasan bahwa belum ada sanksi hukum yang berkekuatan tetap.
Seperti yang diberitakan radarjambi.co.id pada Kamis, 28 Mei 2015 dengan judul berita “Syarat Umur dan Moral Ganjal Kandidat Rektor IAIN STS Jambi” yang diikuti oleh empat kandidat kuat yang bakal bertarung termasuk incumbent Hadri Hasan, yang dinilai gagal dalam mereformasi birokrasi dilingkup IAIN STS Jambi.
Pengelolaan keuangan yang kacau balau dan kental dengan aroma KKN. Selain masalah umur, hal lainnya yang mengganjal bakal calon rektor yakni masalah moral dan integritas. Sebab, salah satu kandidat dikabarkan punya rekam jejak moral yang buruk. Oleh karena itu moral selalu menjadi penyaring pertama dalam setiap pemilihan pejabat. Prinsip imperatif ini tercermin dalam UU Nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, Keputusan Direktur Jenderal Nomor 7293 tahun 2015 tentang Pedoman Penjaringan, Pemberian Pertimbangan dan Penyeleksian Rektor/Ketua Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri Pada Kementerian Agama dan UU Nomor 05 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, yang menempatkan soal integritas moral, iman dan takwa berada di permulaan apa pun yang berkaitan dengan kualitas manusia.
Indonesia Corruption Watch yang dilansir Pikiran Rakyat pada Selasa 1 November 2016 menemukan setidaknya 12 pola korupsi yang sering terjadi di kalangan perguruan tinggi. Selain dalam pemilihan rektor seperti yang disebut KPK beberapa waktu terakhir, korupsi di dunia pendidikan rentan terjadi pada pengadaan barang dan jasa, bangunan yang mangkrak, anggaran internal, dana hibah pendidikan dan CSR, pemilihan dan penempatan pejabat dan dosen di internal perguruan tinggi, penjualan aset perguruan tinggi yang hasilnya tidak masuk ke kampus, korupsi dalam pembagian beasiswa dan praktik pungutan liar dengan segala variannya.
Belum lagi, sampai saat ini tidak banyak kampus yang transparan pada pengelolaan keuangan, padahal undang-undang telah mengatur tentang keterbukaan informasi publik yang menyatakan bahwa sudah menjadi tugas badan publik untuk memberikan informasi. Hal ini terdapat dalam Undang-undang Nomor 14 tahun 2008.
Sehingga, berdasarkan Undang-undang tersebut, maka mahasiswa dan khalayak umum memiliki hak untuk mendapatkan informasi ke mana saja dana yang diperoleh sebuah lembaga pendidikan tinggi atau kampus dialokasikan.
Berdasarkan penelitian ICW menemukan 37 kasus dugaan korupsi di perguruan tinggi selama 10 tahun terakhir. Temuan ini berdasarkan hasil pemantauan ICW yang dilakukan pada Oktober 2016. Adapun dari 37 kasus korupsi di perguruan tinggi yang berhasil terpantau diduga melibatkan sedikitnya 65 pelaku yang merupakan civitas akademika, pegawai pemerintah dan pihak swasta. Pelaku paling banyak adalah pegawai atau pejabat struktural di fakultas maupun universitas yaitu sebanyak 32 orang. Rektor atau Wakil Rektor adalah pelaku terbanyak kedua dengan jumlah 13 pelaku.
Terjadinya deal-deal politik dalam usung mengusung calon rektor dan mantan rektor untuk menutup-nutupi suatu kasus dengan mengorbankan suatu pihak. Dan ini akan bertambah jika badan-badan pemeriksa keuangan dan KPK masuk secara serius ke lingkungan pendidikan tinggi.
Berdasarkan kasus-kasus korupsi di atas, sudah saatnya KPK, para penegak hukum dan para penggiat gerakan anti korupsi bahu-membahu menyelamatkan dana-dana yang terkumpul dari berbagai sumber yang disalurkan kepada lembaga pendidikan tinggi dan menyelamatkan pendidikan tinggi di Indonesia agar pendidikan kita selamat dari moralitas jelek “ilmuan-ilmuan maling” yang dipercaya untuk menduduki posisi-posisi strategis di lembaga pendidikan tinggi.
Agar mampu bersaing dengan lulusan-lulusan luar negeri serta gempuran tenaga-tenaga kerja asing. Semoga pemimpin perguruan tinggi yang akan datang memiliki integritas moral yang tinggi, bebas dari budaya KKN, transparan, tidak anti kritik, tidak bersifat arogan dan diskriminatif serta komitmen dengan visi misinya. Semoga.
*Akademisi UIN STS Jambi
OPINI
Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang: Merangkul Zaman dengan Iman, Ilmu, dan Inovasi
Oleh: Taufikkurahman*
DI JANTUNG Kota Padang Panjang yang berhawa sejuk dan kental dengan nuansa intelektual Islam, Pesantren Kauman Muhammadiyah telah berdiri tegak selama puluhan tahun. Institusi yang lahir dari semangat tajdid (pembaruan) Muhammadiyah ini tidak hanya menjadi penjaga tradisi pesantren, tetapi juga pelopor pendidikan integratif. Dalam arus perubahan zaman yang begitu deras, pesantren ini tidak sekadar bertahan; ia aktif menjawab tantangan zaman dengan formula yang khas: memadukan keteguhan akidah dengan kelincahan beradaptasi.
Tantangan yang dihadapi dunia pesantren hari ini multidimensi. Mulai dari pesatnya perkembangan teknologi digital yang mengubah gaya hidup dan cara belajar, maraknya informasi (dan disinformasi) yang membanjiri generasi muda, degradasi nilai-nilai moral, hingga tantangan global seperti krisis lingkungan, intoleransi, dan kesenjangan ekonomi. Di tingkat lokal, pesantren juga dituntut untuk tetap relevan bagi masyarakat sekitarnya dan mampu bersaing dalam ekosistem pendidikan nasional.
Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang menjawab tantangan-tantangan ini bukan dengan menara gading, melainkan dengan langkah-langkah konkret dan strategis:
Integrasi Kurikulum “Double-Helix”: Pesantren merancang kurikulum layaknya untaian DNA “double-helix”, di mana satu untai adalah ilmu-ilmu keislaman murni (Al-Qur’an, Hadits, Fiqh, Akidah Akhlak, Bahasa Arab) dan untai lainnya adalah ilmu pengetahuan umum, sains, teknologi, dan ketrampilan. Keduanya saling melilit dan memperkuat. Pembelajaran kitab kuning tetap berlangsung di pagi hari, sementara di siang dan sore hari, santri didorong menguasai komputer, bahasa asing (selain Arab), sains eksperimen, dan kewirausahaan. Ini adalah jawaban atas tantangan dikotomi agama-sains.
Pesantren Digital, Bukan Sekedar Pengguna: Menghadapi gelombang digitalisasi, pesantren tidak hanya mengajarkan santri menggunakan teknologi, tetapi juga memahami dan menciptakan konten yang bermanfaat. Dibentuknya unit broadcasting, pelatihan desain grafis, coding dasar, dan media sosial management bertujuan melahirkan “dai digital” yang cakap. Literasi digital kritis juga diajarkan untuk membentengi santri dari hoaks dan radikalisme online. Infrastruktur IT yang memadai dengan pengawasan yang proporsional menjadi penyeimbang.
Ekopesantren dan Kemaslahatan: Menjawab tantangan ekologis, pesantren mengembangkan konsep “Ekopesantren”. Program penghijauan, pengelolaan sampah mandiri, bank sampah, pertanian organik di lahan pesantren, dan penghematan energi diterapkan dalam keseharian. Hal ini tidak hanya mengajarkan teori, tetapi praktik langsung menjaga alam sebagai bagian dari iman. Pesantren juga menjadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar melalui koperasi santri, pelatihan UMKM, dan pasar hari raya.
Moderasi Beragama yang Aktif: Di tengah ancaman paham keagamaan yang eksklusif dan intoleran, Pesantren Kauman Muhammadiyah meneguhkan kembali jati dirinya sebagai garda moderasi Islam (Wasathiyah). Melalui dialog internal, seminar lintas agama secara virtual, dan penekanan pada fiqh sosial yang kontekstual, santri dibentuk untuk menjadi muslim yang kaffah, berkemajuan, dan mencintai kedamaian. Pesantren menjadi contoh nyata bahwa keberislaman yang tegas dapat berjalan beriringan dengan sikap menghormati perbedaan.
Kemitraan Global dan Jejaring Alumni: Pesantren membuka diri dengan menjalin kemitraan dengan berbagai pihak: universitas dalam dan luar negeri, lembaga riset, dunia industri, dan NGO. Program pertukaran pelajar, kuliah tamu virtual dengan pakar internasional, dan magang bagi santri tingkat akhir adalah upaya untuk membuka wawasan global santri. Jejaring alumni yang kuat juga dimanfaatkan untuk mentoring karier dan pengembangan proyek sosial.
Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang telah membuktikan bahwa dirinya bukanlah monumen yang diam, melainkan laboratorium hidup (living lab) peradaban Islam. Di dalamnya, berbagai eksperimen positif untuk menjawab tantangan zaman dilakukan. Ia menjadi ruang diiman tradisi dan modernitas tidak berbenturan, tetapi bersinergi.
Dengan pendekatan yang dinamis dan berorientasi pada solusi, pesantren ini tidak hanya mencetak santri yang hafal Al-Qur’an dan kitab, tetapi juga calon ilmuwan, entrepreneur, environmentalis, dan negarawan yang berakhlak mulia. Inilah sumbangsih nyatanya bagi bangsa: melahirkan generasi yang tidak gamang menghadapi perubahan karena berpijak pada iman yang kokoh, dan tidak tertinggal karena berbekal ilmu yang relevan.
Menghadapi masa depan, Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang terus berjalan dengan prinsip: “Mengokohkan yang hak, mengadopsi yang baru untuk kemaslahatan umat dan bangsa.” Inilah cara sebuah pesantren menjawab tantangan zaman: dengan tetap setia pada identitasnya, namun berani berinovasi untuk menyambut hari esok yang lebih baik.
*Penulis merupakan anggota Tim humas Pesantren Kauman Padang Panjang
OPINI
Menuju Satu Abad Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang: Merawat Tradisi, Menyambut Peradaban
Oleh: Taufikkurahman*
1 JANUARI 2025, di tengah gegap gempita perkembangan pendidikan Islam di Indonesia, ada sebuah institusi yang telah berdiri tegak bagai pohon beringin yang akarnya menghunjam dalam, sementara dahannya meraih langit. Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang, yang sebentar lagi akan menginjak usia satu abad (100 tahun), bukan sekadar saksi bisu perjalanan zaman, melainkan pelaku aktif yang terus membentuk dan dibentuk oleh denyut nadi sejarah.
Berdiri pada masa pra-kemerdekaan, tepatnya di awal pergerakan Muhammadiyah di Minangkabau, pesantren ini lahir dari rahim semangat pembaruan (tajdid) yang digagas K.H. Ahmad Dahlan. Di Padang Panjang—sebuah kota yang dikenal sebagai “Serambi Mekkah” dan pusat pendidikan Islam tradisional—kehadiran Pesantren Kauman Muhammadiyah membawa angin segar: integrasi antara ilmu agama yang murni dengan pengetahuan umum yang modern.
Selama hampir seabad, pesantren ini telah menjadi “kawah candradimaka” bagi ribuan santri. Prinsip utamanya adalah memadukan kekuatan tradisi pesantren (seperti penghayatan Al-Qur’an-Hadits, kitab kuning, dan kehidupan berasrama) dengan semangat keilmuan Muhammadiyah yang rasional, terbuka, dan berorientasi pada kemajuan. Pendidikan akhlak al-karimah menjadi fondasi, sementara penguasaan sains, teknologi, dan ketrampilan hidup menjadi instrumen untuk berkontribusi di masyarakat.
Banyak tokoh bangsa, ulama, cendekiawan, dan profesional yang merupakan alumni dari pesantren ini. Mereka adalah bukti nyata bahwa model pendidikan integral yang diusung Pesantren Kauman Muhammadiyah berhasil melahirkan manusia yang tidak hanya “alim dalam agama” tetapi juga “cerdas dalam dunia.”
Menjelang usia satu abad, tantangan yang dihadapi tentu berbeda dengan era pendiriannya. Dunia yang semakin digital, generasi Z dan Alpha yang berpikir cepat, masalah degradasi moral, serta persaingan global, menuntut pesantren untuk terus berinovasi tanpa kehilangan jati diri.
Beberapa langkah strategis menuju abad kedua dapat dirumuskan:
Penguatan Kurikulum Masa Depan: Mengintegrasikan lebih dalam pendidikan digital, kewirausahaan, literasi data, dan keahlian abad 21 ke dalam kurikulum pesantren, tanpa mengesampingkan pendalaman tafsir, fiqh, dan tasawuf.
Internasionalisasi Jejaring: Memperluas kerja sama dengan lembaga pendidikan dan pesantren modern di dalam dan luar negeri untuk pertukaran ilmu, santri, dan guru.
Pelestarian dan Digitalisasi Khazanah: Mendokumentasikan dan mendigitalkan sejarah, karya ulama, serta tradisi keilmuan pesantren sebagai warisan intelektual untuk generasi mendatang.
Peran Sosial-Ekologis: Memperkuat peran pesantren sebagai pusat pemberdayaan masyarakat, pusat kajian isu-isu kontemporer (seperti lingkungan, moderasi beragama, dan kesetaraan), serta penjaga kemaslahatan umat.
Pemodernan Manajemen: Menerapkan tata kelola yang profesional, transparan, dan akuntabel untuk memastikan keberlanjutan dan kemajuan institusi.
Padang Panjang, dengan identitasnya sebagai kota pendidikan, akan semakin bersinar dengan peran Pesantren Kauman Muhammadiyah yang semakin matang di usia seabad. Pesantren ini diharapkan bukan hanya menjadi penjaga tradisi keilmuan Islam, tetapi juga menjadi engine of change, mesin penggerak yang melahirkan inovator-inovator muslim yang berakhlak, berilmu, dan bermanfaat bagi peradaban.
Menuju satu abad, perjalanan Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang adalah perjalanan dari sebuah sejarah menuju sebuah legasi. Legasi tentang bagaimana sebuah lembaga pendidikan Islam bisa tetap relevan, berkontribusi, dan menjadi mercusuar pencerahan dari generasi ke generasi.
Selamat menuju satu abad, Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang. Teruslah mengukir sejarah, menebar manfaat, dan melahirkan generasi yang “Muhammadiyah” dalam semangat, “Pesantren” dalam spiritualitas, dan “Modern” dalam visi peradabannya.
*Penulis merupakan anggota Humas Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang
OPINI
Membongkar Stigma Kolot: Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang dan Terobosan ISTEM
SELAMA ini, pesantren sering kali dilabeli dengan stigma kuno, tertutup, dan hanya fokus pada ilmu agama (tafaqquh fiddin) semata. Gambaran tersebut diperkuat oleh narasi populer yang mencitrakan pesantren sebagai dunia terpisah dari modernitas, dengan kurikulum yang statis dan minim engagement dengan perkembangan sains dan teknologi. Namun, stigma kolot itu kini harus dihapus dari benak kita. Di tengah arus revolusi digital dan tuntutan abad 21, banyak pesantren justru menjadi garda terdepan dalam inovasi pendidikan, menyinergikan keimanan dengan kecanggihan ilmu pengetahuan.
Salah satu bukti nyata transformasi tersebut hadir dari Sumatera Barat. Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang telah melangkah jauh dengan menerapkan pola ISTEM (Islamic Science Technology Engineering and Mathematics), sebuah terobosan yang tidak hanya mematahkan stigma, tetapi juga menawarkan model pendidikan ideal untuk masa depan.
ISTEM bukan sekadar mengajarkan sains dan matematika di lingkungan pesantren. Esensinya terletak pada integrasi. Setiap konsep sains, teknologi, rekayasa, dan matematika dikaitkan dan dijiwai oleh nilai-nilai Islam serta perspektif Al-Qur’an dan Hadis.
Islamic: Menjadi fondasi dan lensa. Sebelum mempelajari teori evolusi, pesantren membahas kehendak Allah dalam penciptaan keragaman hayati (QS. Al-An’am: 95). Saat belajar fisika, dibahas ayat-ayat kauniyah tentang gerak, gravitasi, dan alam semesta.
Science: Diajarkan dengan mendalam untuk membangun logika dan cara berpikir ilmiah (scientific reasoning) yang sejalan dengan perintah Allah untuk meneliti dan memikirkan ciptaan-Nya.
Technology & Engineering: Santri tidak hanya jadi pengguna, tapi juga pencipta. Mereka diajak merancang, memprogram, dan merekayasa solusi untuk masalah sekitar, dengan etika Islam sebagai rambu.
Mathematics: Dipelajari sebagai bahasa universal yang memudahkan pemahaman atas keteraturan (sunatullah) di alam semesta.
Penerapan ISTEM di pesantren ini nyata dalam aktivitas sehari-hari:
Kurikulum Terpadu: Mata pelajaran agama dan sains dirancang saling mendukung. Pelajaran Fiqh tentang Thaharah (bersuci) bisa dikaitkan dengan pelajaran biologi tentang mikroba dan kimia tentang air, atau rekayasa sederhana sistem filtrasi.
Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning): Santri bekerja dalam tim untuk membuat proyek seperti robotik sederhana, aplikasi digital untuk pembelajaran Al-Qur’an, sistem hidroponik untuk ketahanan pangan pesantren, atau analisis data sederhana. Setiap proyek dirancang dengan mempertimbangkan manfaat (maslahah) dan dampaknya bagi umat.
Pemanfaatan Teknologi Digital: Penggunaan platform digital, coding, dan media kreatif menjadi bagian dari proses belajar. Santri didorong menghasilkan konten dakwah yang kreatif dan bernalar, bukan sekadar meneruskan informasi.
Lingkungan Belajar Inspiratif: Pesantren dirancang sebagai tempat yang merangsang kreativitas dan penalaran. Perpustakaan dengan akses jurnal ilmiah, laboratorium dasar, dan ruang diskusi menjadi jantung aktivitas.
Memecahkan Stigma: Dari Kolot Menuju Visioner
Dengan pola ISTEM, Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang secara efektif mematahkan tiga stigma utama:
Stigma “Anti-Sains/Teknologi”: Justru, pesantren ini menjadi hub inovasi sains-teknologi yang berlandaskan akidah. Mereka membuktikan bahwa menjadi religius justru berarti harus menguasai sains untuk memahami kebesaran Allah lebih dalam.
Stigma “Tertutup dari Dunia”: Dengan ISTEM, santri justru diajak secara kritis dan aktif menjawab tantangan global—seperti isu lingkungan, kesehatan, dan digitalisasi—dengan perspektif Islam. Mereka connected dan relevan.
Stigma “Hafalan Semata”: Pendidikan di sini menekankan pemahaman, nalar kritis (critical thinking), kreativitas, dan penyelesaian masalah (problem-solving). Menghafal Al-Qur’an tetap penting, tetapi dilengkapi dengan kemampuan menafsirkan dan mengaplikasikan nilainya dalam konteks kekinian.
Konklusi: Masa Depan Pendidikan Indonesia
Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang dengan ISTEM-nya adalah contoh nyata bahwa pesantren bukanlah masa lalu, melainkan masa depan. Ia merajut dua hal yang sering dianggap bertentangan: keimanan yang kokoh dan penguasaan sains-teknologi yang tangguh.
Model ini menjawab kegelisahan banyak orang tua yang menginginkan anaknya tak hanya pintar agama tetapi juga kompetitif di dunia yang semakin digital. Melalui ISTEM, lahir generasi “ulama-intelek” atau “ilmuwan-ulama”: generasi yang paham agama sekaligus mampu mencipta teknologi, yang santun sekaligus inovatif, yang berdiri di atas tradisi namun matanya tertuju ke masa depan.
Stigma kolot telah usang. Saatnya kita melihat pesantren sebagai pusat peradaban Islam modern, tempat dimana iman dan logika bersinergi, melahirkan pemecah masalah umat yang visioner. Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang telah menyalakan obor itu, dan cahayanya patut disambut oleh dunia pendidikan Indonesia.
*Penulis merupakan anggota Humas Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang

